Pengajian Terakhir

Fashion-Styles-for-Girls-Online

pengajian-terakhir.gif

Penulis : Millatuz Zakiyah

Sebuah dorongan kuat berasal dari arah belakang. Tubuh Lia membentur pintu dengan cukup keras. Hampir ia terjatuh. Untung tangannya masih sempat berpegangan pada seseorang yang berdiri dengan berdesakan di sampingnya. Setelah benar-benar tegak, dia langsung ganti mendorong orang-orang yang berada di depannya. Hari ini benar-benar melelahkan bagi Lia.

Jumlah santri yang mengikuti pengajian malam ini cukup banyak. Hari kemarin juga cukup banyak, namun tidak seperti malam ini. Maklum, malam ini adalah malam terakhir pengajian Ramadhan di pondok Lia. Tentu semua santri juga ingin mendapat tempat paling depan, tempat yang menurut mitos turun temurun sangat "mbarokahi". Hari ini ia harus mendapat tempat paling depan.

Sebab, ini adalah puncak dari semua usahanya di hari kemarin. Setelah sepuluh menit berada dalam lautan manusia, ia berhasil menepi.  Untung, batin Lia. Dia sekarang duduk di deretan paling depan. Meskipun, tubuhnya benar-benar tak bisa digerakkan. Duduknya pun tidak tenang. Bahkan untuk sekadar memaknai kitab pun Lia tidak bisa melakukannya dengan nyaman. Namun, entahlah mengapa dia merasa menjadi orang yang paling beruntung malam ini. Setidaknya, kegelisahan sepanjang shalat tarawih tadi telah benar-benar terbayar.

Tempat terdepan adalah tempat paling bergengsi. Dengan mengaji di tempat terdepan sama artinya mendapat kesempatan memperoleh "barokah" Abah Yai, hal yang paling dicari oleh semua santri dan terlanjur dipercayai santri secara turun temurun. Keyakinan inilah yang selama ini mampu melecut santri untuk berebut tempat terdepan dengan cara apapun. Selain itu., mengaji di tempat terdepan memungkinkan mengaji dengan sempurna. Suara Abah Yai dapat terdengar jelas. Wajah Abah Yai juga dapat dilihat dengan jelas. Entah mengapa, menurut mayoritas santri dengan melihat dan mendengar suara Abah Yai secara lansung muncul sebuah kebahagiaan tersendiri. Mungkin karena kealiman dan kekhusyu an Abah Yai.

Namun, tidak demikian bagi Lia. Dia sama sekali tidak merasakan dan menginginkan semua itu. Hanya satu, dia ingin dianggap alim oleh Abah Yai dan oleh teman-teman santri lain termasuk Ustadz Ahmad. Ustadz Ahmad adalah salah satu ustadz senior di pondok Lia dan merupakan tangan kanan Abah Yai. Selain itu, Ustadz Ahmad adalah ustadz kharismatik yang juga sangat mumpuni ilmu agama. Terakhir, Ustadz Ahmad bisa dibilang idola sebagian besar santriwati. Kembali pada Lia, menurutnya predikat alim itu lebih menarik dari apapun dan salah satu syaratnya memang harus duduk paling depan. Dengan bekal anggapan alim, paling tidak Ustadz Ahmad bersedia memberikan Lia tempat istimewa di hatinya.

Selama ini, ia memang cukup dekat dengan ustadz berwajah tampan dan berhidung mancung tersebut. Namun, kedekatannya hanya disebabkan Lia sering bermasalah dengan pelajaran diniyyah yang diajar Ustadz Ahmad. Bagi Ustadz Ahmad pemahaman Lia terlampau kritis untuk ukuran santri seusianya Sayangnya, kedekatan aneh tersebut tak cukup untuk memenangkan hati Ustadz Ahmad. Membutuhkan hal yang lebih besar, dan jawabannya adalah prilaku "alim". Kata teman-temannya, Ustadz Ahmad mudah kagum dengan santriwati yang alim.Begitulah, tiap hari Lia selalu berusaha untuk mendapat tempat mengaji paling depan dan syukurlah dia selalu mendapatkannya. Meskipun, hampir tiap hari ia tak dapat mengaji dengan tenang. Walaupun tiap shalat tarawih berjamaah dia bisa dibilang tidak pernah tenang. Bayangannya selalu mengacu pada rebutan tempat duduk setelah shalat tarawih selesai. Istiqomah, begitu katanya pada Ana, teman sekamarnya. Namun, itu hanya di mulut. Masalah hati, lain lagi.  "An, imamnya siapa?" tanya Lia tadi maghrib saat akan berjamaah di ndalem.

"Ustadz Hamdi" 
"Ustadz Hamdi? lama dong sholatnya. Ustadz Hamdi kan senang membaca surat-surat panjang. Pake ditilawahkan lagi"
"Lho kenapa Li? Kan suaranya Ustadz Hamdi memang merdu? Jadi sholatnya bisa enak meskipun lama."

pengajian-terakhir.gif

"Nggak ah, nanti aku nggak bisa..." ucapannya menggantung. Dia takut Ana berpikir dia tidak ikhlas. Jika sampai Ana berpikir dia tidak ikhlas, dia tidak akan dianggap alim oleh Ana. Bahaya. Meskipun memang benar dia masih belum bisa ikhlas. Kalau sholatnya lama, pasti dia tidak bisa bersiap-siap untuk merebut tempat paling depan. Itu artinya sama dengan ...
"Nggak bisa apa Li?"
Lia hanya tersenyum. 

"Li, kamu hebat. Kata Mbak Aisyah, kamu selalu dapat tempat paling depan ya?" Iffa yang tiba-tiba datang bertanya. Lia tersenyum puas.
"Yah begitulah." Lia menyempatkan diri untuk melihat sekitar. Berharap Ustadz Ahmad tiba-tiba lewat-dan hal itu sangat tidak mungkin, sebab lelaki tidak akan diperkenankan masuk wilayah pesantren putri selain para ustadz pada jam-jam madrasah diniyyah dilangsungkan- atau setidaknya Nia, adik kandung Ustadz Ahmad yang juga mondok di pesantren yang sama dengan Lia, Pesantren Al-Amanah, tanpa disengaja lewat..
"Berarti catatan pengajianmu lengkap dong." 

Lia langsung tersenyum kecut. Catatan? Dia hampir tidak pernah mencatat apapun.
"Bentar ya Fa, An. Aku mau ke kamar dulu." buru-buru dia meninggalkan kedua temannya. Lia malas beralibi lebih jauh.  

Kali ini, Lia benar-benar kesal. Matanya tak dapat diajak kompromi. Kakinya kesemutan. Duduknya pun tak bisa nyaman. Berkali-kali dia melirik jam dinding. Masih pukul sembilan, batinnya. Berarti setidaknya masih kurang satu setengah jam lagi pengajian usai. Berulang kali pula dia membetulkan duduknya yang tidak pernah nyaman. Dia sangat menyesal karena sepanjang siang tadi ia tak beristirahat sedikitpun. Ia malah menghabiskan waktunya untuk mengobrol tidak karuan. Tidak jarang obrolannya malah cenderung ghibah. Menggunjing kesana-kemari.

"Li, jangan gerak-gerak dong!" Nisa, teman yang duduk di sebelahnya berkata dengan ketus."Habis, tempatku sempit sih." jawab Lia sewot.
"Ya iyalah. Duduk di depan ya sempit. Mau longgar, ya ke belakang." 
"Sst.. jangan rame!" Mbak Aisyah, sang ketua pondok mengingatkan agak keras.
Ajaib. Lia dan Nisa langsung diam, namun mata mereka berpandangan. Dipandangnya Nisa dengan wajah cemberut. Dasar Nisa jutek, gitu aja dia sudah marah, batinnya. Nisa membalas dengan pandangan tajam.

Duh, Abah Yai lama sekali ngajinya. Apalagi ini belum masuk khatamannya. Lia menggerutu seperti biasanya. Tahun lalu jika pengajian hari terakhir atau biasa disebut khataman, seusai mengaji akan diteruskan tahlilan dan membaca doa yang dipimpin Abah Yai. Itu artinya waktu pengajian lebih lama. Jika biasanya pengajian berakhir pukul 22.30 berarti kemungkinan besar malam ini lebih lama lagi. Lia pun mulai memperlihatkan sikap gelisah. Kakinya benar-benar tak dapat digerakkan sekarang. Punggungnya mulai terasa sakit dan matanya semakin berat. 

Coba tadi aku duduk di belakang. Pasti enak. Bisa selonjoran. Tiduran. Bahkan tidur beneran. Kepalanya disandarkan pada teman di depannya. Dia sudah tidak kuat menahan kantuk sekarang.
"Li! Bangun dong! Kepalamu kan berat!" Izzah yang ternyata duduk di depannya berkata dengan berbisik.
"Zah, aku ngantuk!" 
"Iya, tapi jangan nyandar dong! Kan aku ngajinya nggak enak." Izzah menggeser duduknya ke depan. Praktis kepalanya kehilangan sandaran. 
Dasar Izzah pelit. Disandari aja sudah sewot. 

Lia melirik jam sekali lagi. Setengah sepuluh. Masih satu jam lebih lagi. Hh, Lia mengambil nafas dalam. Seandainya...
"Li, ngaji apa tidur?"
Tergagap Lia bangun. Dia ketiduran. Dipandangnya wajah Mbak Aisyah yang berada tepat di depan wajahnya.

"Abah Yai sudah memulai khatamannya. Ayo bangun!" wajah Mbak Aisyah yang teduh membuatnya benar-benar bangun. Tentu dengan malu-malu sebab Izzah dan Nisa tengah memandanginya dengan menahan tawa. Semenit kemudian dipandanginya kitab yang ada di tangannya. Kosong. Hanya ada ukiran-ukiran mirip cacing bekas bulpennya yang waktu dia tidur tadi tanpa sadar bergerak mengikuti tangannya yang terkantuk-kantuk. Padahal kata orang, inti pengajian berada pada permulaan dan khataman. Jika pada kedua waktu itu serius, insyaAllah pengajian yang diikuti akan membawa berkah.


***

 

pengajian-terakhir.gif

"Li, kamu ditimbali Bu Nyai ke ndalem!" Mbak Aisyah menghampirinya seusai pengajian. 
"Kenapa mbak?" Lia bertanya dengan takut-takut. Tak biasanya Bu Nyai memanggilnya. Apakah tadi Bu Nyai tahu aku ketiduran? Atau ... 
"Nggak tahu juga. Kenapa?"
"Apa aku membuat kesalahan ya Mbak? Aku kan nggak pernah ditimbali Bu Nyai." Lia masih bertanya dengan kekhawatiran tingkat tinggi. Mbak Aisyah tersenyum. 
" Nggak apa-apa kok Li. Tadi Bu Nyai menyuruhku memanggilmu tidak dengan nada marah atau bagaimana. Kamu nggak usah khawatir." 

Lia berjalan menuju ndalem dengan perasaan tidak tenang. Dia mengingat-ingat sikapnya beberapa hari ini. Mungkin saja dia berbuat salah. Bu Nyai hampir tidak pernah memanggil santrinya, kecuali pengurus pondok tentunya, jika tidak ada masalah besar. Nina, teman sekelasnya seminggu lalu dipanggil ke ndalem karena dia terbukti sering melanggar.

Ima, teman sekamarnya juga pernah dipanggil ke ndalem karena dia terpilih sebagai siswa teladan di sekolahnya. Bu Nyai memanggilnya khusus untuk memberi ucapan selamat dan hadiah. Jadi, setahu Lia ada dua kategori santri yang dipanggil ke ndalem. Satu, karena kesalahan yang besar dan dua, karena prestasi yang juga besar. Masalahnya, Lia bukanlah santri yang berprestasi. Bisa dibilang, dia santri biasa. Jadi, kemungkinan terbesar dia masuk kategori santri pertama tadi. Memiliki kesahan tingkat tinggi.

"Assalamu alaikum..." Lia mengucap salam di depan pintu kamar Bu Nyai dengan nada sehalus mungkin. Dia benar-benar takut sekarang."Wa alaikum salam." Bu Nyai keluar dan menghampirinya. 

"Oh, Mbak Lia... sini Mbak duduk dulu." Bu Nyai selalu memanggil santrinya dengan panggilan "Mbak". Juga selalu mempersilahkan santrinya duduk dengan ramah. Itulah yang selalu membuat Lia dan kawan-kawanya berusaha bersikap sopan kepada siapapun. Bu Nyai telah mengajarkannya tanpa pernah mengucapkannya. Tetapi langsung dicontohkan kepada santri-santrinya.

"Begini Mbak, kata Mbak Aisyah sampeyan selalu mengaji bada shalat tarawih paling depan." Lia menghela nafas lega. Ternyata masalah ini. 
"Nah, Abah Yai berniat membukukan pengajiannya selama Ramadhan ini karena kebanyakan santri-santri yang ikut mengaji catatannya kurang lengkap. Maka ketika sampai di rumah, lalu ditanyai orang tua atau tetangga mayoritas kebingungan menjawab." Lia mulai mereka-reka kemana arah pembicaraan Bu Nyai kali ini.

"Berhubung Mbak Lia tiap hari kan mengaji di depan, pasti catatan Mbak Lia cukup lengkap..." Sampai di sini telinga Lia seolah tidak berfungsi dengan baik. Diingatnya catatan yang sempat ditulisnya saat mengaji beberapa waktu lalu. Hampir tiap hari ia tak pernah mencatat. Hanya sepatah-patah penjelasan Abah Yai yang sempat ia tulis, selebihnya ia lelap atau bahkan menghabiskan waktu dengan menggerutu. Yang lebih parah, tidak jarang ia mengeluh dalam hati atau menyakiti teman yang duduk di sekitarnya karena ulahnya.

Yang tidak bisa duduk tenanglah, yang mengantuklah, yang kesempitanlah ... Intinya selama ini, dia hanya duduk bukan mengaji. Duduk di barisan paling depan dengan usaha yang tidak bisa dibilang kecil hanya untuk mendapatkan simpati Ustadz Ahmad. Salah satu Ustadz yang masih lajang dan berparas menawan dan tentunya banyak santri yang berebut simpati darinya. Lebih jauh, selama pengajian berlangsung ia tidak pernah benar-benar mengaji, malah mengeluh dan menggerutu lalu memaki-maki teman dalam hati. Hanya itu. Semua usahanya saat berebut tempat duduk hingga tidak jarang ia harus terbentur tembok atau terjatuh dan seringkali membuat teman yang berebut tempat di sebelahnya jatuh benar-benar tidak ada artinya.

Dia sama sekali tidak paham penjelasan yang diberikan Abah Yai tiap kali ia mengaji apalagi catatan pengajian. Jelas, dia tidak punya. Dan yang lebih parah, kemungkinan besar ia tidak mendapat "barokah" Abah Yai, sesuatu yang seharusnya paling ia cari. Hh ...Lia menghela nafas dalam dan mengatupkan kedua tangannya ke wajah. Semoga Allah masih mengampuniku. Ramadhan kali ini benar-benar dipenuhinya dengan kepamrihan, bukan dengan ibadah-ibadah yang sarat keikhlasan. Seharusnya dia tidak perlu berburu tempat paling depan jika ia malah tidak dapat mengaji dengan tenang. Seharusnya ia juga bisa shalat tarawih dengan khusyu. Seharusnya... Ah terlalu banyak seharusnya yang harus aku lakukan selama ini. 

"Jadi catatannya bisa diberikan pada Mbak Aisyah kapan, Mbak? Biar nanti, Mbak Aisyah yang mengurusnya sampai siap cetak. " Lia langsung tergagap. Dia tersadar dari seluruh lamunannya. Dia hanya bisa diam. Tak tahu harus menjawab apa. Hampir saja air matanya jatuh jika dia tidak ingat tengah berhadapan dengan Bu Nyai. Lia tertunduk dan dengan pelan menganggukkan kepalanya. Bu Nyai kemudian mempersilakan Lia kembali ke asrama. Tanpa bicara Lia pun pergi meninggalkan ndalem Kyai.


Malang, 6 Agustus 2009


Kepada Sahabatku, Ulfiyatun Nimah dan adikku Afidatul Husniyah
Kita pernah bersama dalam masa-masa indah ini..
Catatan:
Ndalem (Jawa): rumah, di lingkungan pesantren biasa dipakai untuk menyebut rumah Kyai 
Ditimbali (Jawa): dipanggil.

Yuk, Jadi ORANGTUA ASUH (OTA) Santri Penghafal Qur'an Askar Kauny! Donasi Rp 150.000,-/bulan. Dapat Majalah Ummi (free ongkir)

Transfer ke Bank Muamalat 335-000-9175 a.n. Yayasan Askar Kauny

Konfirmasi ke 0813 8054 4843 : OTA#Nama#AlamatLengkap#Telp#jumlahtransfer#TanggalTransfer#JamTransfer

Tags:
loading...