Perempuan Itu telah Lupa Namanya

Fashion-Styles-for-Girls-Online

 Penulis: Adi Zamzam

 

Kau akan melihat perempuan itu terus berjalan dan terus berjalan dari satu kota ke kota lain. Tapi ia bukan orang klan Samaale yang terkenal suka mengembara itu. Mungkin suatu ketika kau telah melihatnya di Oddur, di Baidoa, di Baqi, dan ia juga pernah terlihat di rumah sakit Medina—Mogadishu. Saat itu ia bilang, Osman—anak sulungnya—tertembak. Tapi para perawat tak pernah melihat rupa Osman dan di mana perempuan itu meninggalkannya.

Tubuhnya tinggi kurus. Kulitnya hitam legam. Matanya menyerupai buah persik dengan manik hitam menyala di tengahnya. Mata yang selalu memancarkan aura kehidupan. Ia pernah bilang bahwa ia akan terus hidup demi ketiga anaknya. Tapi semua orang yang mendengar pengakuannya itu malah menganggapnya gila karena tak pernah melihat anak-anak itu. Rambut ikalnya yang tergerai masai terlihat kusut tak pernah disisir. Dulu ia juga memakai kerudung, seperti kebanyakan perempuan umumnya. Tapi kerudungnya telah dirampas paksa oleh seorang lelaki entah yang menodongkan senjata ke arahnya. Dan lagi-lagi orang-orang yang mendengarnya tak percaya. Buat apa lelaki bersenjata merampas kerudung? Kain sarung yang melilit di tubuhnya pun amat kotor seperti tak pernah dicuci.

Perempuan itu tak akan menoleh meski kau memanggilnya dengan nama apapun. Pernah suatu ketika ia turut hanyut dalam arus manusia yang merangsek ke Afghoyee. Meski tubuhnya kerempeng, ia masih terlihat gesit menyelinap di antara sekumpulan manusia yang berdesak-desakan demi mengantri bahan makanan. Saat petugas pembagi bahan makanan menanyakan namanya, ia hanya menjawab bahwa ketiga anaknya amat membutuhkan makanan. Si petugas berkeras menanyakan nama perempuan itu dan di mana ia tinggal. Namun perempuan itu masih juga tak mau mengatakan siapa namanya dan terus saja meracau bahwa ia butuh banyak makanan untuk ketiga anaknya yang sudah lama menunggu.

Entah, perempuan itu telah lupa namanya ataukah memang ia sengaja melupakan namanya. Yang jelas, ia tak peduli lagi dengan namanya. Yang bisa membuatnya menoleh dan gegas bangkit hanyalah ketika telinganya mendengar kabar pembagian makanan.

*          *          *

 

Sebuah ledakan membuat suasana kawasan perbelanjaan Khat menjadi kacau-balau. Orang-orang menjerit, berlarian menyelamatkan diri. Debu mengepul, menebarkan aroma mesiu. Ia sudah memperingatkan lelakinya untuk segera membereskan dagangan dan menjauh saja dari tempat itu. Selalu, setiap kali ada sekawanan tentara patroli, bisa dipastikan mulut bahaya menganga menebarkan bencana. Tapi lelakinya tak mau mendengar dan lebih menuruti rasa penasaran.

Ia masih bisa melihat sosok lelakinya ketika berusaha menyeret beberapa jasad yang bergelimpangan. Sebelum akhirnya bom kedua meledak. Hening berdenging sesaat. Air matanya meleleh tanpa diundang. Ia ingat, hari itu Sabtu. Matahari masih mengintip malu-malu. Beberapa orang tampak berlumuran darah saat melarikan diri. Tapi ia tak melihat lelakinya. Airmata semakin menderas ketika ia menemukan potongan tangan—yang amat dikenalnya—terserak di tengah jalanan. Ia berteriak agar orang-orang yang panik tak menginjak potongan tangan itu.

Ia terbangun. Diusapnya keringat yang membasahi leher, sembari mendesiskan rasa syukur karena terbebas dari mimpi buruk yang selalu menguntit malam-malamnya. Saat ia menoleh ke samping, ah, ternyata ketiga anaknya juga turut terbangun.

Ia meminta maaf karena tak sengaja telah membangunkan mereka. Tapi Osman, Omar, dan Saleh, diam tak menyahut dan hanya menunjukkan wajah memelas sembari mendekap perut. Ia menjadi paham kemudian ketika telinganya mendengar suara rintihan. Sepertinya  mereka terbangun karena kelaparan.

Tiba-tiba ia teringat sesuatu. Sesuatu yang menjadi tujuan utamanya saat ini. Sebuah kabar yang didengarnya tadi siang ketika mengemis di pasar Bakara. Akan ada pembagian makanan besar-besaran di Gedo, kota yang berbatasan dengan Kenya dan Eithopia. Kata orang-orang, kehidupan di sana lebih terjamin dibanding Mogadishu yang akhir-akhir ini memanas dan mulai dipenuhi kamp-kamp para pengungsi. Konon, kesempatan melarikan diri ke negeri lain juga terbuka lebar.

Ia segera bangkit. Disuruhnya pula ketiga anaknya. Perjalanan harus secepatnya dilanjutkan. Jika kabar semacam itu sudah tersebar, tak bagus menunda-nunda perjalanan. Apalagi letak Gedo amat jauh. Ia tak mau ketinggalan mengantri lagi seperti kemarin ketika Mogadishu mendapatkan jatah makanan gratis.

Malam amat dingin. Bulan separuh tertutup jelaga tipis. Baobab dan akasia membeku dalam gelap. Bahkan para binatang malam pun seperti tengah bersepakat dengan sepi. Seolah mereka tengah bersembunyi dari sesuatu.

Sesuatu itu muncul tiba-tiba dari semak-semak, membenarkan perasaan tak enak yang menempel di benaknya. Moncong senapan tengah mengarah tepat ke kepalanya.

“Mau ke mana malam-malam kelayapan, ha?! Mau cari rajam?!” wajah lelaki itu terbebat kain hitam.

“Apa kau masih belum puas setelah mencabik-cabik kerudungku?” ia balas bertanya.

 “Tak ada yang boleh meninggalkan kota ini, mengerti?!” ujar yang satunya lagi, yang bertubuh lebih pendek.

“Minggir! Apa kau tak lihat ketiga anakku sedang butuh makanan?! Apa yang sebenarnya kalian perjuangkan?!” bentak perempuan itu, tak peduli apakah dua lelaki bersenjata di hadapannya adalah tentara ataukah para pemberontak.

Tak ada anak kecil di situ. Membuat dua lelaki berpenutup muka kembali saling pandang. Saling berbisik. Saling angguk. Tak tahu mengapa, keduanya lantas menyingkir meninggalkan perempuan sebatang kara itu.

*          *          *

 

Sepanjang perjalanan menuju daerah Gedo, teramat sering telinganya berdenging tanpa sebab. Suara-suara berlintasan bagai angin gurun yang tak pernah berhenti menuju diam. Namun ia tak memedulikan semuanya.

…Presiden Abdullahi Yusuf mencoba memecat Perdana Menteri Nur Hassan Hussein karena usahanya menarik Islamis moderat ke dalam pemerintahan. Namun Parlemen menyatakan pemecatan itu inkonstitusional…

Pemberontak Al Shabab mulai menguasai Baidoa…

…Parlemen akhirnya memilih Sheikh Sharif Sheikh Ahmed sebagai presiden pemerintahan transisi. Dia adalah seorang islamis moderat…

…Presiden Ahmed memilih Abdirashid Omar Ali Sharmarke sebagai perdana menteri. Mantan diplomat yang diharapkan mampu menjadi jembatan antara islamis Somalia dalam pemerintahan dan masyarakat internasional…

…Setelah Mogadishu, Al Shabab kini mengincar Kismaayo yang masih dalam kekuasaan Hizbul Islam…

…Perdana Menteri Sharmarke akhirnya mundur. Kini kedudukannya digantikan oleh Mohamed Abdullahi Mohamed…

Pemungutan suara Parlemen untuk memperpanjang mandat akan dilaksanakan…

Kenya menutup perbatasan setelah terjadi pertempuran antara Al Shabab dan pasukan Pemerintah…

…Bakool dan Shabelle mengalami bencana kelaparan terparah semenjak…

…Setiap hari maut mengintai bocah-bocah Somalia yang busung lapar…

…PBB mengirimkan bantuan makanan ke daerah Gedo dan...

Perempuan itu terus berjalan dan terus berjalan, tak peduli apapun yang ia lihat dan ia dengar; Para petani berbondong-bondong meninggalkan lahan pertanian yang didera kemarau terburuk, orang-orang saling berebut air dan tempat gembala, juga penjarahan yang merajalela. Baginya semua itu tak penting. Ia berhenti hanya jika ada makanan atau lelah merontokkan sendi-sendi tubuhnya.

*          *          *

 

Pagi bening pecah. Perempuan itu meraung-raung tatkala sekelompok warga di tepian delta Sungai Giuba menghajarnya beramai-ramai. Sekantung jagung yang ia ambil dari sebuah ladang harus ditebusnya dengan pukulan bertubi-tubi.

“Anak-anakku kelaparan! Anak-anakku kelaparan!” raungnya membela diri. Tak tahu mengapa tadi ia terpikat oleh jagung-jagung yang tampak siap panen. Daerah sepanjang sungai ini kelihatannya tak tersentuh kemarau.

“Mana anakmu, mana?! Jangan coba membohongi kami, hei pencuri tengik!”

“Anak-anakku kelaparan! Mereka sudah lama menunggu!” ia masih saja mengulang-ulang kalimat itu meski orang-orang tak mempercayainya.

Tubuhnya dibiarkan tergeletak begitu saja di tepian ladang jagung. Penuh lebam dan luka berdarah. Mulutnya masih saja mendesis, memanggil satu per satu anaknya. Namun sama sekali tak terdengar sahutan dari mereka. Langit tergenang airmata. Lalu tertutup gelap.

*          *          *

 

Ia terbangun ketika rasa segar merembesi kerongkongannya. Entah bagaimana, perutnya tak lagi terasa melilit-lilit.

Alhamdulillah, akhirnya kau bangun juga,” seorang perempuan paruh baya terlihat masih memegang gelas plastik.

“Aku Aisho. Namamu siapa?” meletakkan gelas. Mengambil dua buah pisang ranum dan lalu mengupasnya.

Namun mulut kering perempuan itu masih tak mau terbuka meski Aisho menyodorkan pisang ke sana.

“Kau terus saja menggumamkan Gedo. Apa anak-anakmu tertinggal di sana?”

Teringat itu tiba-tiba saja dadanya kembali terasa sesak. Kedua matanya menghangat. Perih kembali mencabik-cabik perutnya. Betapa sulitnya membuka mulut yang gemetaran.

“Orang-orang desa memang keterlaluan. Mereka tak pandang bulu meski kau seorang perempuan. Akhir-akhir ini ladang kami sering menjadi sasaran para pencuri. Semua jadi seperti orang yang tak beragama jika sudah berurusan dengan makanan. Jangan kau ulangi lagi perbuatanmu itu.”

Ia berusaha memanggil anak-anaknya dalam ingatan. Tapi yang ada hanyalah kering-kerontang di mana-mana, orang-orang yang saling dorong dan sikut saat mengantri makanan, ledakan demi ledakan, jerit tangis, letusan senapan,  membuat kepalanya serasa mau pecah dan tubuhnya menggigil kedinginan.

“Tubuhmu lemah sekali. Tunggu sebentar. Sepertinya aku masih punya persediaan untuk membuat bubur.”

Perempuan itu menggigil. Udara mendadak dingin. Padahal di jendela, senja tampak cerlang sekali dengan warna jingganya. Sungai Giuba yang letaknya tak jauh dari rumah itu, permukaannya jadi terlihat keemasan.

Perempuan itu berusaha bangkit ketika melihat ketiga anaknya melambai-lambai di ufuk senja. Ah, ternyata di sanalah mereka kini.

Ada sebuah rumah di sana, di ufuk senja itu. Anak-anaknya terlihat riang sekali, ringas melambai-lambai ke  arahnya. Tubuh merekapun tak lagi kurus. Pasti di rumah itu mereka dijamu dengan sangat baik. Kini, tak perlu lagi ia mencarikan makanan untuk mereka.

Payah sekali tubuhnya. Padahal senja perlahan tenggelam dan ketiga anaknya tampak kembali masuk ke rumah senja itu.

Ia tak mau kehilangan mereka lagi. Maka ia putuskan untuk pergi tanpa tubuhnya. Pergi menuju rumah senja yang berangsur tenggelam ditelan gelap.*****

 

Kalinyamatan – Jepara, Agustus 2011.

 

 

Yuk, Jadi ORANGTUA ASUH (OTA) Santri Penghafal Qur'an Askar Kauny! Donasi Rp 150.000,-/bulan. Dapat Majalah Ummi (free ongkir)

Transfer ke Bank Muamalat 335-000-9175 a.n. Yayasan Askar Kauny

Konfirmasi ke 0813 8054 4843 : OTA#Nama#AlamatLengkap#Telp#jumlahtransfer#TanggalTransfer#JamTransfer

Tags:
loading...