Peribahasa yang Berpantun

Fashion-Styles-for-Girls-Online

Penulis: I-One


Ah, keciiil…!” kata gue sambil menjentikkan ibu jari tepat di ujung kuku jari kelingking.

Lo udah belajar?” Mata Rano menatap gue tajam.

Ah… ngapain juga takut! Bahasa Indonesia gitu loh!” jawab gue enteng.

Sombong banget lo! Gue mau liat nilai lo nanti.”

***

Guru bahasa paling rapi jali se-seantero sekolah, Pak Sunarto, berjalan cepat membagikan soal ulangan. Sesaat kemudian, kertas soal itu berada tepat di depan gue. Walaupun ulangan ini adalah ulangan dadakan yang biasa dilakukan oleh Pak Sunarto, tapi gue merasa cuek bebek. Belajar dari pengalaman sebelumnya, paling banter disuruh bikin karangan, kalau enggak membahas Subyek, Predikat dan Obyek. Gampang, kan?!

Ketika semua soal sudah dibagikan, Pak Sunarto mempersilakan kami membuka soal ulangan bahasa Indonesia yang masih tertutup itu. Dengan percaya diri, gue buka soal. Dan jengjeng, degdeg, tarraaa... Seketika jantung gue berhenti berdetak sepersekian detik seakan tak percaya. Mata gue melotot. Mulut gue menganga saking shock-nya. Tidaaaaaaaak!

A. Isilah titik-titik di bawah ini:

  1. Kura-kura dalam perahu, ......…

  2. Gajah mati meninggalkan gading.

Harimau mati meninggalkan belang.

Manusia mati meninggalkan…......

B. Apakah arti peribahasa berikut ini:

3. Bagai katak dalam tempurung.

4. Dibujuk ia menangis, ditendang ia tertawa.

5. Sepandai-pandainya tupai melompat, sekali waktu jatuh juga.

6. Barangsiapa menggali lubang, ia juga terperosok di dalamnya.

7. Bagai pungguk merindukan bulan.

8. Ada padang ada belalang, ada air ada pula ikan.

C. Lengkapilah pantun nasehat berikut ini:

9. Hati-hati menyeberang

Jangan sampai titian patah

Hati-hati di rantau orang

Jangan sampai.........

10. Buat baik berpada-pada

Takut ada berhutang budi

Walau senyum suatu pahala

Jangan sampai..........

Bagaimana... Gampang, kan?” tanya Pak Sunarto, ”Bagi kalian yang mengikuti pelajaran minggu lalu, pasti bisa menjawab semua pertanyaan itu. Ok, kerjakan dengan sejujur-jujurnya, yaaa....,” sambungnya lagi kali ini dengan mimik muka serius.

Arrrggghhh… Pantas saja gue nggak ngerti. Minggu lalu kan gue sakit! Badan gue lemas. Jantung gue naik turun. Ya Allah, ujian apa yang Kau berikan pada hambamu ini?

Gue harus tenang, bisik gue menyemangati diri sendiri. Tarik nafas, hembuskan... Tarik nafas, hembuskan... Tarik nafas, hembuskan... Criiit! *ups, kenapa jadi menghembus lewat lubang belakang, sih? Memalukan!

Pura-pura bodoh dan sok-sok nggak mendengar suara kecil berbau itu, gue pejamkan mata ini sambil mulut gue komat-kamit baca doa. Dalam hati gue ngomong: GUE PASTI BISA NAKLUKIN NIH SOAL. PASTI BISA! PASTI BISA! DOAKAN GUE YA? (Lho?)

Baiklah kita mulai petualangan bersama bahasa Indonesia ini...

Hmmm... Soal pertama bikin gue mikir, ngapain sih nih kura-kura dalam perahu? Mau nyebrang sungai? Ngapain juga naik perahu? Kan bisa nyemplung ke air aja langsung. Repot amat!

Atau jangan-jangan mau sembunyi? Sembunyi dari siapa? Buaya? Kalau gue jadi buaya, ngapain juga makan kura-kura. Udah dagingnya seiprit, mana keras pula. Bisa-bisa gigi gue rontok semua makan tuh cangkang kura-kura!

Terus nih kura-kura ngapain ya, dalam perahu?

Aduh, bau pessiiingggg… Eh salah, pussiiingggg...!

Orek, demi meminimalisir kepusingan ini, nomor satu gue lewatin dengan bye bye dan wassalam. Lanjut!

Gajah mati meninggalkan gading. Harimau mati meninggalkan belang. Manusia mati meninggalkan…

Aduh, meninggalkan apa ya? Gue mencoba ngebanyangin bokap gue. Kalau misalnya mati, beliau akan meninggalkan apa ya?

Aha... Gue tau jawabannya! Ini mah gampang banget. Ternyata gue nggak bodoh-bodoh amat sama pelajaran Bahasa Indonesia. Dan jawaban gue adalah: Manusia mati meninggalkan… ANAK DAN ISTRINYA! Yayaya, pasti ini jawabannya. PASTI!

Setelah GAGAL sukses dengan nomor dua, gue lanjut ke nomor selanjutnya: Bagai Katak dalam tempurung.

Owowow... Apa pula artinya ini? Aduh… ngapain juga gurusin Katak! Mau dia di kali, di empang, di sungai, di laut... Apa urusannya sama kita? Kecuali kataknya ada dalam pakaian dalam, baru deh kita komplen. Lah ini dalam tempurung!

Ckckck, woooi katak... Ngapain sih lo di dalam tempurung? Lagi main petak umpet, ya? Apa lagi marut kelapa? Ah, gue jawab asal aja: Maksudnya adalah manusia yang selalu berdiam diri (gue mikirnya begini: kalau katak dalam tempurung, berarti dia nggak kemana-mana, dooong? Benar nggak, benar nggak? Benar-benr salah, maksudnya. Huwahaha...

Soal selanjutnya ini makin ngaco. Masa: Dibujuk ia menangis, ditendang ia tertawa. Nggak salah nih soal? Apa ya artinya? Mata gue sampai terpejam memikirkan jawabannya. Eh tapi bukannya mikir, malah gue mau tertidur!

Kalau dibujuk ia menangis, gue masih bisa maklum. Tapi kalau ditendang ia tertawa? Wah, pasti ini orang nggak waras banget, pikir gue.

Akhirnya gue jawab ini soal dengan diplomatis: Belajar lah cara bermain bola yang baik dan benar. (Sori sori, Jek... Masih terjangkit euforia sea games, nih!)

Gue yakin, para pembaca pasti bertanya-tanya, apa gerangan hubungan antara soal ini dengan jawaban gue? Ya jelas donk berhubungan! Kalau sebuah bola dibujuk (biasanya orang ngebujuk kan pakai tangan), so pasti hukumnya hand ball. Dan akan ada yang menangis di belakang sana, yakni pelatih dan para suporter. Kebalikannya, kalau sebuah bola ditendang dan masuk gawang, so pasti nambah angka. Pelatih dan para suporter pun tertawa riang gembira menyambutnya! Ya kan, kan, kan, kan?

Dengan santainya gue senyum-senyum sendiri sambil memuji otak gue yang jenius, eh nggak taunya minus. Ngenesss!

Next question: Sepandai-pandainya tupai melompat, sekali waktu jatuh juga.

Apa? Hewan lagi? Oh, nooooooo...! Tuhan, emang kenapa sih kalau tupainya jatuh? Pernahkah kalian lihat atau dengar, tupai masuk tivi karena jatuh dari pohon?

Pe-mir-sa... Beberapa menit yang lalu seekor tupai jatuh dari pohon setinggi 200 meter dari permukaan bumi. Tupai ini nekat bunuh diri, setelah keinginannya untuk memiliki sebuah biji kenari tidak dikabulkan oleh kedua orang tuanya. Dari informasi yang dikumpulkan, tupai ini bernama Ingki. Akibat insiden ini, terdapat luka memar di sekujur tubuhnya.

A-kan-kah ia dapat selamat dari kecelakaan ini? A-kan-kah kita akan melihat senyum manis Ingki lagi? PEMIRSA, INILAH INSAF INVESTIGASI…!”

Hohoho… Rasanya nggak pernah deh gue dengar berita seperti itu. Ya kan, kan, kan?

Terus, ngapain juga kita ngurusin tupai yang melompat terus jatuh? Akankah kita mengasih nafas buatan buat dia? Nonono... Gue bakal goyang ronggeng seharian kalau sampai disuruh ngasih nafas buatan! Noted: Jangankan ngasih nafas buatan, ngasih kentut beneran aja gue ogah. Jangan-jangan sebelum ngasih nafas buatan, gue udah pingsan duluan lagiii. Nggak sudi!

Di setengah petualangan, kepala gue udah ngak mampu lagi berpikir. Akhirnya kepala ini bergerak aktif mencari target sasaran buat menyelesaikan masalah, eh soal ulangan ini. Gue toleh si Rano, yang duduk tepat di sebelah kanan gue. Rano terlihat serius memainkan pulpen di kertas jawabannya. Gue geser badan secara perlahan mendekati Rano sambil membelalakkan kedua mata. SIAL... Gue gak bisa lihat jawabannya!

Ah... Bener-bener makin putus asa. Gantian, gue geser badan ini ke arah Nana, teman sebangku yang duduk di sebelah kiri gue. Perlahan gue naikkan posisi kepala. Yesyesyes, jawaban Nana kelihatan!

Tapi eh tapi... Belum hilang rasa gembira yang menari-nari dalam dada, tiba-tiba dengan cepat bak kilat, Nana menutup kertas jawabannya. Huh, Asem! Dasar pelit! Batin gue.

Gue mikir lagi,Tupai yang pandai aja kalau melompat pasti sekali waktu jatuh juga.Gue gak bisa banyangin,gimana dengan tupai yang bodoh ya? Pasti badannya udah gak berbentuk lagi,karena sering jatuh. Nahas sekali kau, Tupai!

Akhirnya, bismillah... Kertas jawaban gue isi dengan: Berhati-hatilah dalam melompat. (Sedap…!)

Gue tarik nafas sebentar. Beralih ke soal nomor enam: Barangsiapa menggali lubang, ia juga terpelosok ke dalamnya.

Baiklah, sekali lagi gue tegaskan kalau Bahasa Indonesia memang sukses buat gue jadi GIILLLAAA!

Ahhh… Tarik nafas lagi…

Berpikir, berpikir, berpikir…

Apa maksudnya, ya? Gali lubang? Buat apa? Mau menanam singkong, kah? Sepertinya enggak, deh...

Atau jangan-jangan mau gali kuburan? Tapi... Siapa pula yang mati?

Ahhaaa... Pasti mau buang hajat! (Emang kucing, apa ya?!)

Then, ngapain gali lubang segala? PUSIIING!

Di tiga per empat petualangan ini, otak gue yang sebesar biji jambu klutuk pun mengibarkan bendera putih pertanda menyerah. Ampun dah… Susssaaahhh…. BANGET!

Lagi-lagi gue pejamkan mata, komat-kami baca doa demi menenangkan saraf otak yang udah mulai keriting ini. Dan setelah agak tenangan, gue beralih ke pertanyaan nomor tujuh.

Bagai pungguk merindukan bulan. Pungguk... Apaan, tuh? Terus terang gue nggak tau apa itu pungguk. Nama orang, kah? Nama Hewan, kah? Nama tumbuhan, kah? Atau nama sebuah benda? Atau mungkinkah ada salah ketik di sini, seharusnya “punggung” kali yee? Karena suwer, gue baru sekali ini nih dapetin kata “pungguk”.

Siapakah Pungguk ini? Mari berandai-andai…

Kalau dimisalkan pungguk ini adalah seorang nenek sihir, memang ada betulnya juga. Seringkali kita dengar lewat dongeng dan saksikan di telivisi, kalau nenek sihir akan mencari mangsa dan mengobarkan mangsanya pada bulan purnama. Biar kekuatannya bertambah sakti mandraguna. Betul, nggak?

Tapi kini otak gue yang sangat cerdas ini berpikir, bahwa sepertinya pungguk bukanlah nenek sihir, kenapa? Ngak tau kenapa? Feeling aja sih. Hheee…

Di otak gue, pungguk ini pasti nama orang yang sedang jatuh cinta dengan seorang gadis. Yap, sering banget kan, orang zaman dulu menyamakan antara gadis dengan rembulan, walaupun banyak gadis zaman sekarang yang nggak rela disamaikan dengan rembulan. You know lah... Rembulan kan permukaannya bolong-bolong. Mana rela para gadis mukanya dikatain bolong-bolong? Yang ada punggungnya yang bolong seperti sundal bolong! Hehe…

Jawaban ini pun dapat gue jawab dengan mudahnya: Bagai pungguk merindukan bulan adalah CINTA YANG MENGGEBU-GEBU. Gubraaak! (Pingsan sambil kejang-kejang).

Lanjut lagi: Ada padang ada belalang. Ada air ada pula Ikan.

Yaiyalaaah... Ngapain juga sih ditanyain? Dimana-mana ya seperti itulah keadaannya! Nggak mungkin kan ada padang ada ikan, ada air ada pula belalang. Kecuali:

1.Ikan:

  • Ikannya udah mati terus dimakan sama petani di padang

  • Ikannya lagi rekreasi di daratan

  • Ikannya lagi mencari pekerjaan di padang

  • Ikannya udah bosan hidup

  • Ikannya lagi cari sensasi

  • Ikannya sudah menjalani operasi pengangkatan insang dan diganti dengan paru-paru.(Ini banci apa ikan, sih?)

2.Belalang:

  • Lagi mandi

  • Stres dan mencoba bunuh diri dengan nyemplung ke air.

  • Belalangnya lagi diving (menyelam)

  • Lagi main serialnya Spongebob (Ah, sumpe lo?)

Sebenarnya gue malas jawab soal ini, karena menurut gue tergolong dalam jenis soal yang nggak perlu dijawab. Kan sudah benar... Belalang ada di padang,ikan ada di air. Nah, berhubung gue orangnya menghargai nih soal, gue jawablah dengan sangat bijaksana: Syukurilah nikmat yang telah diberikan kepada kita. (Duhduh... Baru nyadar ternyata gue cocok banget jadi ustadz. Ustadz yang ngaur tapinya. Haha.)

Tolooong... Gue rasanya makin susah digerakkin lagi saking tegangnya. Menoleh sekeliling, gue kaget! Teman-teman sudah banyak yang keluar kelas. Rano dan Nana sudah get out dari bangku mereka. Ahhh, gue harus cepat kerjain nih soal. SEMANGAT!

Hati-hati menyeberang

Jangan sampai titian patah

Hati-hati dirantau orang

Jangan sampai…

Nih soal gampang banget sih! Nggak ada yang lebih susah lagi apa ya? (baca=sombong kuadrat). Untuk membuktikan omongan gue barusan, soal ini gue bantai secara mengenaskan. Dan jawabannya adalah: KESASAR. (Bagaimana?Hebat kan gue? Yaiyalah, Iwan gitu looooh! Huwahaha.)

Buat baik kepada-pada

Takut ada berhutang budi

Walau senyum suatu pahala

Jangan sampai…

Jawaban gue yang kesepuluh ini melengkapi kebodohan si Iwan, Yang menandakan gue harus ke psikiater sekarang juga!

Mau tau jawaban gue yang LUAR BIASA ini? Okeh, jawaban gue adalah... jawaban gue adalah... jawaban gue adalah...: SENYUM-SENYUM SENDIRI. (Hohoho… gue emang pintar, yaaa... Pintar ngarang maksudnya).

Setelah mengisi pertanyaan kesepuluh, langsung gue kumpulkan itu kertas jawaban. Sumpedeee... Gue pengen cepat keluar dari kelas ini. Kepala gue udah mau pecah. Gue takut kepala gue akan menjadi bom atom yang menewaskan seruruh siswa di SLTP gue ini. Badan gue sempoyongan, perut gue mules, gue pengen muntah.

Oh, Bahasa Indonesia... betapa sulitnya mempelajarimu. Tuhan, ampunilah dosa hamba-Mu ini. Beneran nggak bisa nggak belajar kalau mau ujian. Karena penyesalan selalu datang belakangan. Waspadalah... Waspadalah... Waspadalah...!

 

 

 

 



 

 

Yuk, Jadi ORANGTUA ASUH (OTA) Santri Penghafal Qur'an Askar Kauny! Donasi Rp 150.000,-/bulan. Dapat Majalah Ummi (free ongkir)

Transfer ke Bank Muamalat 335-000-9175 a.n. Yayasan Askar Kauny

Konfirmasi ke 0813 8054 4843 : OTA#Nama#AlamatLengkap#Telp#jumlahtransfer#TanggalTransfer#JamTransfer

Tags:
loading...