Persaksian Rencong

Fashion-Styles-for-Girls-Online

 

Penulis: Lara Ahmad



Kalender menunjuk angka 1850 ketika kau lahir di tanah Lampadang. Aku masih terlalu ranum saat itu. Ah, bahkan aku belum terbentuk sebagai sebuah nama. Serupa dengan penciptaanmu menuju sempurna yang membutuhkan proses, aku pun demikian pula. Dalam penantianku, aku yang masih terserak dan teronggok di sudut gubuk tak luput mengawasi jalan hidupmu.

Akulah besi putih yang bermimpi bersanding dengan wanita berkilat emas. Ah, kau lebih pantas disebut mutiara. Kurasakan ada sebuah chemistry di antara kita. Dan memang benar, suatu masa nanti, takdir menyatukan kita sebagai pasangan.

Ketika usiamu belum sempurna mekar, darah pejuang kemerdekaan yang mengalir dari ayahmu telah begitu kentara mencuat dalam dirimu. Kau perempuan yang berani, tegas dan tak mudah menyerah. Namun begitu, kelembutan khas kaum hawa tak pudar dari lakumu. Pria manapun atau siapa saja pasti jatuh hati padamu, begitupun denganku.

Usiamu yang semakin menapak kedewasaan, menghantarkanmu pada sebuah pemahaman akan kondisi di sekitarmu. Suasana memburuknya hubungan kerajaan Aceh dan Belanda, semakin mempertebal jiwa patriotmu.

Pernikahanmu dengan Teuku Ibrahim Lamnga, kala kau masih berumur dua belas tahun, kau ikhtiarkan sebagai ibadah dan perjuangan atas tanah kelahiranmu. Kau memang tak sembarang menerima pinangan dari pria. Kau mensyaratkan calon suamimu haruslah seorang yang taat beragama dan gigih membela bangsa. Maka ketika Lampadang diduduki Belanda, kau ikhlas berpisah dengan ayah dan suamimu.

Kau masih terlalu muda kala takdir menetapkanmu sebagai janda. Tahun 1878 di Gle Tarum, suamimu gugur dalam pertempuran melawan Belanda. Meski sedih menggelayuti, kau tak mau berlama-lama terpuruk. Seperti aku mengenalmu, kau memang perempuan yang tangguh.

“Malang sekali nasibnya, ia baru berusia dua puluh delapan,” kata seorang temanku.

“Mungkinkah dia akan menikah lagi?” tanya yang lain. “Dia sangat mencintai suaminya,” imbuhnya.

“Dia bersumpah hanya akan menikah dengan pria yang bersedia membantu perjuangannya melawan Belanda,” sahut yang lainnya.

“Sudah kubilang. Dia adalah perempuan yang hebat,” pungkasku membanggakannya. Semakin tak sabarlah aku ini, menunggu masa dimana takdir akan mempersatukan kami.

***

Dalam penantian, kupersiapkan diri sebaik-baiknya. Kumanfaatkan semaksimal mungkin masa yang berlalu untuk mengokohkan tubuh ini. Hingga saatnya nanti tiba, aku ingin membersamaimu dalam perjuangan panjang yang kutahu tak mudah. Aku tak ingin mengecewakanmu. Maka itu aku harus kuat agar aku pantas bersanding denganmu.

Dua tahun sudah berjalan. Kudengar selentingan kabar bahwa kau telah menikah lagi dengan seorang pria terpilih. Sempat sejenak cemburu menelusupi. Kapan waktuku bersamamu tiba?

Daripada memanjakan kecemburuanku, kuberdoa agar masa itu segera datang. Aku ingin bermanfaat di dunia ini. Aku ingin ikut berjuang bersamamu. Aku akan menjadi pendampingmu. Mengusir penjajah dari Serambi Mekah.

“Kudengar Teuku Umar bekerja sama dengan Belanda,” ujar salah seorang teman kala dingin menyusupi tubuh.

“Aku tak percaya dengan berita itu,” tukasku, pasti.

“Ya, kudengar itu hanya taktik. Kau tahu bukan bahwa suami Cut Nyak Dien adalah seorang yang cerdik,” timpal temanku yang lain seraya menyenggol lenganku sebagai bentuk dukungan terhadap pendapatku.

“Ya, ya, ya kami juga yakin bahwa Teuku Umar tak mungkin mengkhianati bangsanya.” Serempak teman-teman segerombolanku berseru.

Tiga tahun --> --> -->, kepercayaan kami itu terjawab. Setelah tiga tahun berpura-pura bekerja sama dengan Belanda, Teuku Umar berbalik menyerang. Ternyata selama ini ia memang bersiasat mendekati penjajah dengan tujuan memperoleh senjata dan perlengkapan perang.

Sayangnya pada tanggal 1899, perjuangan Teuku Umar harus berakhir. Ia gugur di medan pertempuran Meulaboh. Untuk kedua kalinya, kau menjadi janda. Meski aku dan kau berbeda, aku bisa merasakan kesedihannya. Ujian yang kau hadapi memang berat namun aku yakin kau akan mampu melampauinya. Lewat desau angin, siang dan malam kutiupkan kata-kata semangat padamu.

***

Takdir itu akhirnya menyapaku. Di pagi yang masih berembun usai salat subuh, seorang lelaki berumur dengan anak laki-lakinya yang masih muda mendatangi gubuk tempat rombongan kami berada. Tangan keriput lelaki itu menempa kami satu persatu.

Begitu sakit yang kurasa kala itu. Berkali-kali aku disulut api hingga dipukul-pukul sekuat tenaga. Kujalani proses itu dengan ketabahan karena kutahu dia memperlakukanku sedemikian rupa demi mendadani kami. Mempersiapkan kami sebagai pegangan para pejuang.

“Untuk apa kita menempa besi-besi ini, Yah?” tanya anak lelaki itu, lugu. Sambil mengipasi nyala api, ia mendongakkan kepala pada ayahnya.

“Besi-besi ini akan menjadi senjata perjuangan kita melawan Belanda. Ayah akan bergabung dengan pasukan Cut Nyak Dien, mengusir penjajah dari tanah air kita,” jawab lelaki itu tegas. Berita itu tentu saja membahagiakanku yang sudah lama menunggu.

“Aku boleh ikut, Yah?” tanya anak laki-laki berumur sepuluh tahun itu antusias. Sinar matanya menyiratkan suatu tekad yang besar. Ah, semuda itu semangat patriotisme telah menjalari darahnya.

“Belum saatnya, Nak. Untuk sekarang ini kau cukup menggantikan ayah mengubah besi-besi ini menjadi rencong. Jika saatnya tiba, kaulah yang akan menyambung perjuangan kami di medan perang.” Meski agak kecewa pada akhirnya anak itu mengangguk dalam. Sinar matanya terang, dipenuhi gairah perjuangan.

Selang minggu, lelaki tua itu mendatangi rumahmu di Lhok Nga demi menyatakan diri siap ikut berperang. Tak lupa lelaki itu menyerahkan sebilah rencong padamu. Betapa bangganya aku ketika akhirnya terselip di pinggang wanita hebat sepertimu.

***

Tak berselang lama usai ditinggal suami untuk kedua kalinya, kau bangkit dengan kekuatan baru. Kau meneruskan perjuangan Teuku Umar di pedalaman Meulaboh. Meski kau seorang perempuan, tak ada yang meragukan kepemimpinanmu. Pasukan yang kau pimpin berulang kali merongorong dan merecoki kepongahan Belanda.

Pasukan Belanda gerah oleh gebrakan pasukanmu yang gagah berani. Perlawanan yang kau lakukan secara bergerilya itu, tak ayal membuat Belanda ketar-ketir. Mendapat ancaman seperti itu, Belanda tak tinggal diam. Berulang kali Belanda melancarkan upaya menangkapmu namun untungnya usaha itu selalu gagal.

Berkali-kali kegagalan membuat Belanda putus asa hingga akhirnya mengatur strategi baru berupa perjanjian damai. Belanda berharap tawaran manis dapat melumerkan hatimu. Namun mereka salah besar karena kau tak mengenal kompromi. Dengan tegas, kau menolak tawaran yang mungkin bagi orang lain sangat menggiurkan itu.

Kau memilih terus berjuang melawan hingga tetes darah penghabisan. Dan akulah yang selalu menyertaimu. Aku menjadi saksi atas kegigihanmu. Darah-darah penjajah yang melumuri tubuhku adalah sebuah kebanggaan.

***

Bertahun-tahun sudah aku menyertaimu dalam perjuangan panjang membebaskan tanah Aceh dari jajahan Belanda. Bergulir waktu, kau makin renta. Kondisi kesehatan menurun drastis. Tubuh yang dulu kuat mulai terserang encok dan penyakit tua. Matamu pun mulai rabun hingga menganggu penglihatan. Kondisi itu diperparah dengan jumlah pasukanmu yang semakin jauh berkurang. Pula oleh pasokan makanan yang bertambah sulit.

Tak tega melihat kondisi seperti itu, Pang Laot berinisiatif menghubungi pihak Belanda agar mengobati keadaanmu. Aku sangat menyesalkan tindakan panglima perang dan orang kepercayaanmu itu. Aku pikir kau pun akan murka bila tahu tindakan itu. Aku paham betul siapa dirimu, dalam kondisi payah seperti apapun kau akan tetap memegang prinsip. Tak pahamkah Pang Laot akan hal itu?

Benar saja. Ketika pasukan Belanda yang dipimpin Letnan Van Vureen tiba untuk membawamu, kau berontak sedemikian rupa. Tak satupun dari pasukanmu yang tersisa membela. Dengan sisa-sisa tenaga, kau mencabutku dari pinggang. Namun apa daya tenagamu tak lagi sekuat dulu, pasukan Belanda berhasil meringkus tanganmu dengan mudah. Terlebih mereka unggul dalam hal jumlah. Aku pun jatuh. Terjerambab ke tanah.

Lelah dan kecewa, kau hanya bisa pasrah akhirnya. Matamu menyiratkan kepedihan namun sama sekali tak tersirat ketakutan. Aku berharap, sangat berharap ada yang memungutku lalu membuat gebrakan. Tapi semua diam, geming di tempatnya berdiri.

Emosiku memuncak kala itu. Aku yang tak punya hati bisa merasakan benar pedih yang kau rasakan. Aku ingin sekali membantumu melawan tapi aku tak bisa melangkahi kodratku sebagai benda mati yang tak akan bergerak jika tak digerakkan.

***

Di hari tuaku, aku masih bisa menyaksikan dari balik kaca laci museum ketika namamu dinobatkan sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional. Lewat SK Presiden RI No.106 Tahun 1964, tanggal 2 Mei 1964 namamu dikukuhkan sebagai salah seorang pahlawan wanita. Aku tahu bukan itu tujuanmu. Perjuanganmu murni. Kau tak tergoda harta atau kenikmatan semata. Dan itu kau buktikan hingga akhir hayatmu.

Saat ini entah sudah berapa tahun aku menghuni bangunan tua yang tak terawat ini. Sedikit saja orang yang datang mengunjungi tempat ini, bahkan kuburan saja mungkin lebih ramai.

Takdirku sebagai rencong, memungkinkanku mengiringi perjalanan bangsa yang dulu kau bela. Dari mulut orang yang masih tertarik mengenal barang-barang peninggalan pejuang kemerdekaan yang datang ke museum ini, aku mendengar kabar dari luar. Tak tega rasanya kukabarkan kepadamu wahai Cut Nyak Dien. Tentang keadaan tanah kelahiran dan bangsamu kini. Tanah yang dulu kau perjuangkan itu, kini kembali dikuasai dengan mudahnya oleh kaum penjajah. Ironisnya anak-cucumu tak menyadari hal itu.***

 

BIODATA PENULIS

Lara Ahmad adalah nama pena dari Endang Sri Sulistiya. Menuntut Ilmu Administrasi di Universitas Sebelas Maret Surakarta. Artikel dan cerpennya beberapa kali dimuat di Solopos, Annida Online dan Serambi Indonesia. Buku-buku antologinya telah diterbitkan oleh berbagai penerbit indie.

 

Yuk, Jadi ORANGTUA ASUH (OTA) Santri Penghafal Qur'an Askar Kauny! Donasi Rp 150.000,-/bulan. Dapat Majalah Ummi (free ongkir)

Transfer ke Bank Muamalat 335-000-9175 a.n. Yayasan Askar Kauny

Konfirmasi ke 0813 8054 4843 : OTA#Nama#AlamatLengkap#Telp#jumlahtransfer#TanggalTransfer#JamTransfer

Tags:
loading...