Pertaruhan

Fashion-Styles-for-Girls-Online



Penulis: Lara Ahmad



Aku mengemasi peralatan jurnalistikku lalu memasukannya ke dalam ransel kembali usai wawancara dengan Kapolda Boyolali. Kuhaturkan pamit dan salam sebelum aku keluar dari ruangannya. Hubunganku dengan Pak Kapolda sudah terjalin akrab sejak aku masih menjadi Reporter magang dari sebuah koran lokal tiga tahun silam hingga kini takdir telah mengantarkanku sebagai Reporter sebuah koran nasional ternama.

Kupacu sepeda motor menuju kantor, berbalap dengan deadline yang mengejar. Searah roda ban yang menggelinding, rentetan kata bergulir merangkai rancangan reportase yang hendak kutulis. Menulis Reportase memang bukan pekerjaan sulit bagiku sekarang ini. Tidak seperti saat masih ingusan dulu, berkali-kali aku harus merevisi reportaseku hingga layak muat.

Aku tengah mereka-reka judul yang pas ketika tiba-tiba sebuah mobil menyalip tanpa memberi tanda lebih dahulu. Shitt … aku mengerem secara mendadak, begitu pun dengan sepeda motor yang ada si sisi kananku. Malang, salah satu sepeda motor yang melaju kencang dari arah belakang terlambat mengerem hingga menabrak cukup keras badan belakang mobil. Menyadari hal itu pengemudi mobil menghentikan mobilnya.  Tak terhindarkan lagi perang mulut pun terjadi di pinggiran jalan.

Pengemudi mobil ngotot menuntut pertanggungjawaban pengendara sepeda motor yang menabrak mobilnya. Kata-katanya yang runcing dibalas tak kalah tajam oleh para pengendara sepeda motor lainnya. Pengemudi mobil masih tetap tak mengakui kesalahannya padahal sudah jelas kalau memang dirinya yang bersalah.

“Bapak sebaiknya minta maaf saja!” kataku menengahi.


“Kamu siapa?” tanyanya lantang.


“Saya wartawan,” ujarku sambil menunjukkan kartu identitasku. Air mukanya langsung berubah.


“Maaf, maaf, memang saya yang bersalah,” katanya, pias.


Aku mengulum senyum, geli. Terkadang kata wartawan memang sangat ampuh pada beberapa situasi genting. Seperti beberapa waktu lalu saat aku menunggu isteriku memeriksa kandungan, secara tak sengaja aku kehilangan ponselku. Berkat menyebutkan profesiku ini, pihak keamanan rumah sakit akhirnya mau membuka rekaman CCTV setelah sebelumnya menolak mentah-mentah.

Namun tak selamanya profesi wartawan dapat melancarkan aktifitasku, beberapa hari yang lalu aku terpaksa menelan ludah karena tak boleh mengkredit barang elektronik dikarenakan pekerjaanku ini. Aku tak tahu pasti apa alasannya, kata karyawan tokonya hal itu sudah peraturan dari toko yang bersangkutan. Apapun untung dan ruginya profesi wartawan, aku telah jatuh hati dengan dunia jurnalistik ini.
***

Sampai kantor segera kutulis reportaseku. Pertama soal pembuangan bayi oleh seorang siswi SMP. Ah, aku tak dapat membayangkan andai adikku yang masih duduk di bangku SMP itu melakukannya. Semoga saja pendidikan pesantren yang kupilihkan, dapat memagari imannya.

Selesai mengedit beberapa tulisan dan EYD yang salah dari reportase pertama, kulanjutkan menulis reportase kedua. Kali ini tentang kasus perselingkuhan aparat pemerintahan. Memang kasus perselingkulan di kalangan birokrat bukan kali ini terjadi namun berita seperti ini selalu menarik untuk dikupas. 

Rampung menyelesaikan reportase yang kedua dalam waktu lima belas menit, aku hendak meneruskan pada reportase ketiga. Aku baru merenggangkan jari-jari tanganku ketika sebuah pesan singkat menyapa ponselku.

Umi sudah masak oseng-oseng pare kegemaran Abi dan tempe goreng. Pesan singkat dari isteriku. Aku tersenyum. Isteriku itu masih saja bandel memasak meski telah berulang kali kularang, mengigat kandungannya yang makin besar.

Sebentar lagi Abi pulang, Mi. Balasku, tak sabar. Nikmatnya nasi hangat dipadu oseng-oseng pare, ditambah tempe goreng yang gurih seakan-akan melambai di depan hidungku. Sejenak air ludahku bergolak.

Mendapat godaan lezat dari rumah, membuatku lebih bersemangat merampungkan reportase. Tak perlu waktu lama, aku sudah merampungkan tugasku. Segera kukemasi peralatanku dan beranjak pulang.

Seperti dugaanku, isteriku menyambut di muka rumah. Dengan takzim, wanita yang tengah mengandung delapan bulan lebih itu mencium tanganku. Bergetar hati ini tiap kali memandang perut buncitnya. Ya, insyallah tak lama lagi aku akan menjadi ayah.

“Alhamdulillah….” ucapku selesai makan malam bersama isteriku tercinta.


“Shalat yuk, Bi,” ingat isteriku. Aku mengangguk.

Kubimbing isteriku yang berjalan agak tertatih untuk berwudhu. Usai shalat, kulantunkan bacaan Al-Quran kepada calon bayi kami. Pembiasaan ini telah kami lakukan sejak isteriku dinyatakan hamil. Kuberharap, bayiku sudah mengenal Al-Quran sejak dalam kandungan.

Di tengah ketentraman yang menyelimuti hati kami seiring lantunan Al-Quran, nada panggil ponselku tiba-tiba meraung memecah keheningan. Sudah pasti ini panggilan tugas meliput lagi.

“Abi harus meliput?” tanya isteriku, tampak gurat kecewa di wajah sayunya.


“Iya, Mi,” jawabku datar. Enggan aku berpamitan pada istriku. Meski kesan berat kutinggalkan tergambar jelas di wajahnya, ia mencoba untuk tersenyum sambil mengelus perut buncitnya.


“Abi akan segera pulang. Kalau ada apa-apa langsung hubungi Abi ya?” pesanku padanya. Ia mengangguk.


“Hati-hati, Bi,” katanya saat mengantarku sampai teras. Kali ini aku yang mengangguk.

Kupacu sepeda motorku, memburu waktu ke tempat acara diskusi publik yang diselenggarakan oleh salah seorang calon Bupati.

Baru seperempat perjalanan, sepeda motor bututku rewel. Entah kali ini apa yang bermasalah. Kemarin baru saja aku mengganti oli, sedang dua hari lalu aku terpaksa membeli aki baru. Ah, rasanya sepeda motorku memang sudah waktunya dipensiunkan dan diganti dengan yang baru. Hanya saja masalahnya terbentur pada dana.

Bergegas kuperiksa mesin motor setelah sebelumnya kutuntun sepeda buntut peninggalan bapak itu ke pinggir jalan. Sebenarnya aku tidak begitu mengerti mesin namun kucoba saja menerapkan saran dari tukang bengkel yang berpesan kepadaku agar membersihkan busi bila sepeda motor ngadat.

Saran sederhana dari tukang bengkel langgananku itu ternyata memang ampuh. Motorku dapat mengerang kembali saat kustater. Buru-buru kupacu sepeda motor meski deru mesinnya terdengar terengah-enggah.

Lima belas menit berlalu dari jadwal pembukaan diskusi publik, motor bebekku mendarat di pelataran gedung. Baru kali terjadi dalam sejarah peliputanku, aku terlambat. Sepertinya bulan-bulan ke depan, aku harus menganggarkan membeli sepeda motor baru walau aku tahu itu bukan hal mudah.

Acara diskusi publik berjalan alot. Calon Bupati sering kali membelot dari topik pertanyaan yang mengarah pada kasus korupsi yang pernah membelitnya beberapa tahun silam. Berkali-kali kucoba menahan kantuk dari acara yang mulai membosankan itu dari awal acara hingga akhir.

“Pak Yoga ingin bertemu anda!” kata salah seorang ajudan calon Bupati usai acara diskusi publik.


“Saya?”


“Ya”

Aku menurut ketika digiring ke sebuah ruangan yang agak menjorok ke belakang. Sesudah mengetuk pintu sebuah kamar, ajudan menyuruhku masuk. Di dalam ruang itu aku mendapati calon bupati duduk menghadap meja.

“Saya  minta tolong!”


 “Anda minta tolong pada saya? Kendengarannya sangat janggal,” kataku, lumayan sinis.


“Saya hanya ingin anda menuliskan tentang sisi kebaikan dari saya. Walau sedikit, pasti ada bukan?” ucapnya seraya menebar senyum, “Ini! Kalau masih kurang bilang saja!” imbuhnya dengan senyum makin lebar.


“Maaf, saya terpaksa menolaknya,” ucapku yakin seraya mengembalikan amplop coklat yang dapat kuduga berisi segepok uang.


“Jangan buru-buru menolak! Pikirkan dulu tentang apa saja yang bisa kau lakukan dengan uang itu.”


“Tidak, terima kasih,” tolakku sekali lagi. Kuangkat tubuhku, beranjak meninggalkan ruang.


“Uang itu lebih dari cukup untuk biaya persalinan isterimu. Mungkin kau bisa menggunakan kelebihannya untuk membeli sepeda motor baru,” tukas Pak Yoga, setengah berteriak.

Aku bergeming. Pikiranku menyebrang pada bayangan isteriku yang tengah mengandung. Lalu pikiranku meloncat pada kata-kata dokter dua minggu lalu bahwa isteriku kemungkinan besar harus menjalani operasi karena pinggulnya kecil. Selanjutnya memoriku berlarian pada masalah-masalah lain seperti sewa kontrak yang hampir habis, sepeda motor yang rewel, biaya semesteran adikku dan setumpuk kebutuhan yang butuh pembiayaan.

Haruskah idealisme yang telah kubangun sejak awal kupertaruhkan sekarang? Terasa ada yang bergejolak di batinku .

Pak Yoga menyelipkan amplop coklat dalam gengaman tangan. Kuelus amplop coklat yang menggelembung saking bertumpuknya uang dengan tangan berkeringat. Calon Bupati tersenyum penuh arti padaku, kubalas dengan senyum getir.
***

Bahagia membucah bagai air langit yang meruah. Sebuah anugerah dari Allah yang Maha Besar atas lahirnya makhluk mungil dari rahim isteriku. Berkali-kali aku masih tak percaya bahwa kini aku telah menjadi seorang Ayah. Kini, aku tidak saja bertanggung jawab atas isteriku, aku punya tanggung jawab baru yang jauh lebih besar. Mendidik dan membesarkan anak yang diamanahkan Allah.

“Dari mana kau dapat uang untuk operasiku, Bi?” tanya isteriku usai perawat yang mengantar makanan keluar dari ruangannya.

“Umi jangan pikirkan itu, ayo makan dulu!”

“Umi tidak akan makan sebelum Umi yakin bahwa uang untuk pembayaran rumah sakit bukan uang haram,” ucap isteriku tegas, wajahnya terlihat pias.

“Astaghfirullah, Umi!” seruku, terperanjat.

“Umi tidak ingin berprasangka buruk pada Abi tapi … Umi lihat sendiri Abi menyelipkan sebuah amplop coklat di antara tumpukan baju di lemari. Karena penasaran Umi membukanya. Dan ternyata….”

“Umi….” Desisku, pelan.

“Abi menerima suap?” tanya isteriku, dengan suara lirih. Kedua bola matanya menelusur mencari jawab jujur dari wajahku.

“Demi Allah, amplop itu kemarin sudah Abi kembalikan melalui kantor!”

“Lalu biaya rumah sakit ini?” kejarnya lagi.

“Abi ambil dari tabungan untuk biaya kuliah S2,” ungkapku.

Subhanallah….” ucap isteriku. Sebutir kristal rontok dari sudut matanya.

“Lebih dari sekedar idealisme, Abi tak ingin anak kita dilahirkan dari uang kotor, Mi,” tukasku, tegas. Isteriku menangis, seperti melepas beban prasangka yang ada di hatinya. Pantas saja wajahnya mendung seminggu terakhir, aku tak tahu ia telah melihat amplop coklat yang kusembunyikan itu.


Kupandangi wajah bening tak berdosa bayi mungilku yang tertidur pulas di box.

“Syukurlah Abi cepat tersadar hingga tak kucorengkan noda hitam di wajahmu itu, Nak,” batinku saat menggendong bayiku. Pertaruhan kali ini telah berhasil kumenangkan, tapi pertaruhan lainnya masih menanti...

Baru saja aku menerima sms dari Pak Yoga, kegeramannya atas tulisanku di media hari ini, dan pasti juga kemarahannya atas kelancanganku mengembalikan amplop pemberiannya.

Aku hanya tak bisa membayangkan, bagaimana pertaruhan yang dihadapi keluarga lainnya. Aku beruntung memiliki istri yang juga menjaga kehalalan rezeki yang kami terima, bagaimana nasib para suami lainnya?

Sekali lagi kuciumi putraku, seraya menghembuskan bisikan ke dalam batinnya. Nak, apapun yang terjadi... jangan pernah pertaruhkan keimananmu hanya untuk dunia!***



*Lara Ahmad adalah nama pena dari Endang Sri Sulistiya. Tinggal di Dukuh Ngrawan Boyolali. Lulusan FISIP Universitas Sebelas Maret ini sudah gemar menulis cerpen sejak duduk di bangku SMP. Beberapa karyanya seperti artikel dan cerpen pernah dimuat di surat kabar Solopos. Buku pertamanya yang berupa Kumpulan Cerpen berjudul “Laraku Olehnya” diterbitkan oleh Hitam Putih Publisher. Sementara buku antologi noveletnya yang berjudul “Lafaz Cinta di Ambang Gerhana” telah diterbitkan oleh Leutika Prio. Email: sulistiya.endang@yahoo.com.  Facebook: Endang Sri Sulistiya.

 

Yuk, Jadi ORANGTUA ASUH (OTA) Santri Penghafal Qur'an Askar Kauny! Donasi Rp 150.000,-/bulan. Dapat Majalah Ummi (free ongkir)

Transfer ke Bank Muamalat 335-000-9175 a.n. Yayasan Askar Kauny

Konfirmasi ke 0813 8054 4843 : OTA#Nama#AlamatLengkap#Telp#jumlahtransfer#TanggalTransfer#JamTransfer

Tags:
loading...