Petaka Tengah Ramadhan

Fashion-Styles-for-Girls-Online

petaka ramadhan.gif

Andromeda Agasa

Duar! 
Trattatt...Trattatt...Trattatt
Duar! Duar!

"Ampun deh! Masih pagi begini udah bikin ribut." omelan terdengar dari mulut Diar. Entah petasan jenis apa yang berbunyi itu, yang pasti selepas sahur telinga Diar sudah disuguhkan orkestra oleh anak-anak kompleks. Enak iya, kalo orkestranya bagus macam di Dvarak Hall, Praha sana, nah ini, udah bikin kuping perih, mau ngaji juga jadi nggak konsen. 

"Gas, bilangin tuh temen-temen kamu! Mainnya jauh-jauh dari rumah kita!"
"Aduh mbak, rumah kita tuh udah jadi tempat paling strategis buat main gituan. Paling pojok, deket lapangan lagi." 
Pembelaan Bagas buat temen-temennya jelas bikin Diar melotot. Diar akhirnya masuk kamar sambil membanting pintu. Berkurang pahala puasa awal Diar gara-gara marah.
Ah ya, bagi anak-anak itu main petasan mungkin bukan hal yang berisik untuk dilakukan. Tinggal disulut pake api, lempar, mereka lari sambil tutup kuping. Dan duar! Senanglah hati mereka kalau petasan itu meledak dengan sukses.

Tapi bagi Diar, petasan inilah momen paling mengganggu di bulan Ramadhan. Anak-anak kompleks itu kayak nggak punya kerjaan lain aja selain main petasan. Nggak pagi, nggak sore, nggak malam. Siang aja mereka absent. Tidur tenang di rumah masing-masing.
Itu berlangsung sepanjang Ramadhan. Hebat, bukan? 

Diar kesel setengah mati. Tapi, dari semua orang di rumah, cuma Diar yang merasa paling terganggu. Mbak Fadia nya fine-fine aja dengan tingkah anak-anak kompleks itu. Hm, iya aja, mbak Fadia kan sibuk terus sepanjang Ramadhan. Rapat ini-itu, i tikaf di masjid kampus, dan apalah-apalah. Jadi tidak merasakan keseluruhan berisiknya bunyi petasan-petasan itu.

Bagas juga. Adiknya itu langsung pasang headset begitu orkestra petasan dimulai. Dengerin musik sambil ngangguk-ngangguk nggak jelas. Ibu apalagi.
"Aduh Bu, pak RT nggak bisa ya mengadili anak-anak biar nggak pada main petasan gitu?" Diar mengeluh saat ibunya membongkar belanjaan dari pasar.
"Ah, kamu. Mengadili gimana? Emangnya anak-anak itu bikin salah apa?"
"Ibu, mereka itu sudah mengganggu ketenangan dan kedamaian orang lain." dengan sabar Diar menjawab.

"Diar, Diar, kamu ini kok lucu sih. Namanya anak-anak ya sukanya main begituan." jawab ibunya membuat Diar hopeless. Ibunya menganggap main petasan adalah hal yang normal? Oh, God! What kind of world that I live in?!

"Cobaan buat kamu tu, biar kamu tambah sabar!" celetuk Rima saat Diar curhat. 
Ah, Rima sih rumahnya di kompleks yang anak-anaknya lebih seneng main PS di rumah daripada main model outdoor. Rumah Rima di kompleks elit sih.
Diar bersungut-sungut terus kalau sudah mengingat masalah petasan itu.

Gara-gara petasan itu ya, nomor satu, Diar jadi gampang kesulut juga. Kesulut amarah tapi. Nomor dua, kuping Diar jadi suka berdenging-denging habis denger bunyi petasan. Sakit pula rasanya. Nomor tiga, mau ngapa-ngapain buat Diar jadi susah konsentrasinya. Bunyi petasan itu suka bikin kaget dan jantung Diar jadi suka loncat-loncat nggak jelas.]

Huah! Someone! Give me a solution!


***


Malam yang tenang bagi Diar. Akhirnya. 
Setelah menemukan sebuah ide yang paling cemerlang dan brillian menurut dirinya. Diar akhirnya membuat satu langkah besar menyiasati masalah petasan itu.

Haha. Diar sekarang mengungsi ke rumah sepupunya di daerah yang jarang anak-anak. Gembira hati Diar karena selepas sahur, kupingnya tak lagi sengsara gara-gara orkestra kaleng rombeng.

Meski kepergiannya mendapat cercaan dari adiknya.
"Curang ni mbak Diar. Kalau aku bilang sih, mengungsi itu bukan solusi. Tapi langkah melarikan diri dari masalah." Bagas berkata saat mengantar ke rumah Fira.

petaka ramadhan.gif

Diar menjitak Bagas. Kayak bocah kelas tiga SMP itu bikin solusi aja buat masalahnya. Gaya banget tu bocah!Ibu sih oke-oke aja. Katanya, sekalian silaturrahmi ke Fira. Lagipula, Fira kan sendirian di kota ini. Kontrakannya cuma dihuni Fira sama satu orang teman kampusnya. Jadi, Fira juga oke-oke aja menerima kedatangan Diar.

Mbak Fadia tidak melepas kepergiannya. Dia pulang telat saat Diar "pindah". Tapi, mbak Fadia lalu mengirimkan sms yang kata-katanya mirip sama yang diomongin Bagas.
Huh, sekongkol pasti mereka.  
Ya, semoga Ramadhan nya jadi lebih indah setelah kepindahan ini.


***


Entah mengapa, tinggal di rumah Fira ternyata tidak membuat Ramadhan Diar lebih indah. Padahal baru hari kedelapan Ramadhan di rumah Fira. Tapi, Diar sudah merasa ibadahnya menurun drastis.
Target-target ibadahnya melenceng jauh.

Entah karena kebiasaan Fira yang aneh di bulan Ramadhan atau gara-gara dasar Diar nya yang tidak bisa mengendalikan diri, tapi, sebagai contoh, saat seharusnya Diar mendirikan sholat sunnah tarawih, Fira malah mengajaknya menonton vcd yang tadi siang dipinjam dari rental. Mana filmnya drama percintaan ala korea gitu.

Waduh! Dan parahnya, Diar oke-oke saja menontonnya. Membuat Diar harus merapel sholatnya sampai malam.
Sebelum tidur, Fira malah mengajak ngobrol panjang lebar sampai hampir jam dua malam.
Parah banget kan? 
Paginya, orang serumah yang cuma tiga, telat sahur semua!
Ini bukannya menyelesaikan masalah malah memperparah masalah!


***


Back to old home, back to old sound.
Duar! 
Trattatt...Trattatt...Trattatt
Duar! Duar!
Sabar, sabar! Dalam hati, Diar mematrikan kata-kata ini. Dibuka-bukanya majalah punya mbak Fadia dengan tidak lembut.

Bedug maghrib sebentar lagi."Bu, anak-anak itu apa nggak ada kerjaan lain selain main petasan gitu ya?" akhirnya Diar mengalihkan perhatian dengan ngobrol bareng ibunya. Meski topiknya masih sama, yaitu petasan.
"Iya kali. Di rumah pada bosen nonton tv." sahut ibunya. 

Iya, ibu juga. Batin Diar melihat ibunya memencet-mencet tombol di remot, tanpa tujuan tontonan yang jelas.
"Nah, tugas kamu tuh, bikin anak-anak itu biar ada kerjaan." tahu-tahu mbak Fadia nya nongol sambil membawa setumpuk diktat. 
"Apaan?" tanya Diar.
"Yah, apa kek, ngadain tadarus sore, atau belajar bersama. Tuh, mumpung garasi depan nggak dipake." 
Diar mengernyitkan dahi.

"Jadi, petasan jangan cuma bikin kamu marah-marah dan ngeluh terus. Pikirin dong solusi yang menghentikan masalah!"
"Mbak akui, kamu itu adik yang cerdas. Juara parallel di sekolah, IQ oke. Tapi, kalau itu cuma kamu simpan di otak dan nggak kamu amalin mulai sekarang, entah apa jadinya kalau kamu terlilit masalah lagi." 
"Melarikan diri dari masalah." Bagas membisikkan kata-kata itu di telinga Diar.
Diar mendengar sambil lalu saja.
Ah, mbak Fadia sih gampang ngomong gitu.
Duar! Duar!
"Masya Allah!" mbak Fadianya terlonjak kaget.
Huah, anak-anak itu!
Tapi, kata-kata mbak Fadia membuat Diar tercenung kemudian.


***


Sore hari yang tenang.
"Mbak Diar, kalau ini dibacanya apaan?" seorang bocah laki-laki menunjukkan huruf di jilid iqra nya.

"Mbak," "Woi, jangan ngelamun! Ditanyain Fikar tuh!" senggolan mbak Fadianya yang menyadarkan Diar dari lamunan sore yang tenang itu.
"Eh, ya, Fikar, ini huruf ...."

Diar sadar, mengeluh terus soal anak-anak yang main petasan nggak ada gunanya. Apalagi jadi generasi yang NATO alias No Action Talk Only. Talk nya dalam hal ini, marah-marah itu.

Jadi, kata-kata mbak Fadianya yang membuat dia tersadar. Dan kata-kata mbak Fadia membuat mbak Fadia sendiri tersadar dan ikut membantu menghentikan aksi anak-anak bermain petasan di sore hari. Mulai perhatian juga dengan lingkungan tetangga sekitar. Nggak cuma sibuk di lingkungan orang-orang berakademik tinggi aja.

"Mbak Diar, temen Haris mau ikutan ngaji nih," Haris bersama seorang anak lelaki bertubuh lebih kecil masuk ke rumah Diar dengan malu-malu.
"Iya, iya, masuk sini. Tapi," Diar mendekati dua bocah itu.
"Petasan di kantong celana ini, buat mbak Diar aja ya," Diar berkata lembut.
Bocah itu mengangkat muka, melihat ke Diar takut-takut.
"Boleh?" tanya Diar.

Dua bocah itu saling senggol. Tapi, akhirnya mengangguk membolehkan. 
Maka, bertumpuk tinggilah sitaan petasan dari anak-anak kompleks. 
Tapi, rasa-rasanya Ramadhan Diar dan anak-anak sekompleks bakal lebih indah.
Huah! Senangnya!


***

Yuk, Jadi ORANGTUA ASUH (OTA) Santri Penghafal Qur'an Askar Kauny! Donasi Rp 150.000,-/bulan. Dapat Majalah Ummi (free ongkir)

Transfer ke Bank Muamalat 335-000-9175 a.n. Yayasan Askar Kauny

Konfirmasi ke 0813 8054 4843 : OTA#Nama#AlamatLengkap#Telp#jumlahtransfer#TanggalTransfer#JamTransfer

Tags:
loading...