Puasa Arafah Sah Padahal Belum Melunasi Utang Puasa Ramadhan?

Fashion-Styles-for-Girls-Online

Sobat Nida, sebentar lagi kita akan bertemu dengan hari raya umat Islam yang kedua, yaitu Idul Adha. Gimana yang pada berqurban pada tahun ini? Sudah klop semua persiapannya?

Nah, Sob, sebelum bertemu dengan Idul Adha, kita akan terlebih dulu melaksanakan puasa Arafah atau puasa pada tanggal 9 Dzulhijjah yang bertepatan dengan para jamaah haji yang sedang melaksanakan wukuf di padang Arafah.

FYI, Sob, puasa Arafah di tanggal 9 Dzulhijjah ini sangat utama loh. Dari Abu Qotadah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Puasa Arafah (9 Dzulhijjah) dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang. Puasa Asyura' (10 Muharram) akan menghapuskan dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim no. 1162)

Keren banget kan, Sob, keutamaan puasa sunnah Arafah? Tandai kalendermu di tanggal 9 Dzulhijjah ini.

Terus gimana dong, Nid, kalau kita masih punya utang puasa Ramadhan dan belum selesai kita bayar, tapi kita ketemu begitu saja dengan hari Arafah. Apa lebih baik kita nggak usah puasa karena ada yang mengatakan bahwa puasa sunnah tidak akan diterima kalau yang wajib saja belum dituntaskan (qodho' puasa Ramadhan).

Masalah qodho puasa dan puasa sunnah adalah masalah yang menjadi perselisihan.

Ulama Hanafiyah membolehkan melakukan puasa sunnah sebelum qodho puasa Ramadhan. Alasannya karena qodho puasa tidak mesti dilakukan sesegera mungkin.

Ulama Malikiyah dan Syafi'iyah berpendapat tentang bolehnya namun disertai makruh jika seseorang mendahulukan puasa sunnah dari qodho puasa. Karena jika melakukan seperti ini artinya seseorang mengakhirkan yang wajib demi mengerjakan yang sunnah.

Ulama Hanabilah menyatakan diharamkan mendahulukan puasa sunnah sebelum mengqodho puasa Ramadhan. Mereka mengatakan puasa sunnahnya tidak sah karena sudah sepatutnya seseorang mendahulukan yang wajib yaitu mendahulukan qodho puasa.

 

Baca juga: Keutamaan Puasa Arafah

 

Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Disunnahkan menyegerakan mengqodho puasa Ramadhan. Jika ditunda, maka tetaplah sah menurut para ulama muhaqqiqin, fuqaha dan ulama ahli ushul. Mereka menyatakan bahwa yang penting punya azam (tekad) untuk melunasi qodho tersebut.” (Syarh Shahih Muslim, 8: 23).

Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Inilah pendapat terkuat dan lebih tepat (yaitu boleh melakukan puasa sunnah sebelum qodho puasa selama waktunya masih lapang, pen). Jika seseorang melakukan puasa sunnah sebelum qodho puasa, puasanya sah dan ia pun tidak berdosa. Karena analogi (qiyas) dalam hal ini benar. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Barangsiapa yang sakit atau dalam keadaan bersafar (lantas ia tidak berpuasa), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain.” (QS. Al Baqarah: 185). Dalam ayat ini dikatakan untuk mengqodho puasanya di hari lainnya dan tidak disyaratkan oleh Allah Ta’ala untuk berturut-turut. Seandainya disyaratkan berturut-turut, maka tentu qodho tersebut harus dilakukan sesegera mungkin. Hal ini menunjukkan bahwa dalam masalah mendahulukan puasa sunnah dari qodho puasa ada kelapangan.” (Syarhul Mumthi’, Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin, 6: 448). 

Mengenai puasa Arafah dan qodho puasa Ramadhan, Syaikh Utsaimin menjelaskan,"Siapa yang berpuasa hari Arafah atau hari Asyura, padahal ia masih mempunyai utang puasa Ramadhan maka puasa Arafah atau Asyura yang dilakukan sah. Akan tetapi kalau ia berniat membayar uutang puasa Ramadhan pada kedua hari tersebut, maka ia mendapatkan dua pahala sekaligus: pahala puasa hari Arafah dan Asyura di samping pahala qadha (membayar utang puasa). Ini berlaku untuk puasa sunnah yang bersifat mutlak di mana ia tidak terikat dengan Ramadhan. Adapun puasa enam hari di bulan syawal yang terikat dengan Ramadhan di mana ia dilakukan sesudah puasa Ramadhan atau sesudah membayar utang puasa Ramadhan, maka jika dilakukan sebelum meng-qadha utang puasa Ramadhan, pahalanya tidak bisa didapat. Sebab Nabi saw bersabda, "Siapa yang berpuasa Ramadhan lalu menyertainya dengan puasa enam hari di bulan Syawal seolah-olah ia berpuasa ad-dahr."

Kesimpulan dari yang dijelaskan oleh Syaikh Utsaimin, puasa Arafah atau puasa sunnah di awal Dzulhijjah tetap sah meskipun pelakunya masih memiliki utang puasa (qodho puasa), selama yang punya utang puasa bertekad melunasinya.

Allahu a'lam.

 

Referensi: dari berbagai sumber

 

Foto ilustrasi: google

Yuk, Jadi ORANGTUA ASUH (OTA) Santri Penghafal Qur'an Askar Kauny! Donasi Rp 150.000,-/bulan. Dapat Majalah Ummi (free ongkir)

Transfer ke Bank Muamalat 335-000-9175 a.n. Yayasan Askar Kauny

Konfirmasi ke 0813 8054 4843 : OTA#Nama#AlamatLengkap#Telp#jumlahtransfer#TanggalTransfer#JamTransfer

loading...