Pulang

Fashion-Styles-for-Girls-Online

 

Penulis: Wahyu Ameer

Kepergianku sengaja untuk menutup cerita. Bukan karena luka yang aku alami tetapi aku merasa tugasku telah usai. Kampung halaman telah aku pikirkan masak-masak, walaupun sekarang sudah tak ada lagi Emak dan Bapak. Paling tidak di sana masih ada kehidupan kecilku di masa lalu. Aku mulai paham bahwa pelajaran paling sulit dalam hidup itu ikhlas.

Hidup kita ini hedonisme. Tapi mengapa harus munafik? Tujuan manusia di dunia ini adalah kebahagiaan.  Tak ada yang memilih untuk tidak bahagia. Meski antara satu kebahagian dengan kebahagiaan lain kadang-kadang jadi dilema. Memang bahagia itu pilihan. Kita, aku, engkau, atau dia. Jika tidak bisa kita maka maka harus memilih antara aku, engkau, atau dia yang bahagia. Dalam ajaran agama pun berkorban untuk orang lain adalah hal yang wajar.

Kabar santer kedatangan Gus Huda dari Mesir  kian santer.  Berita itu cukup membuat seisi pesantren Al-Hikam ramai akan percakapan tentang putra bungsu Kiai Nur Kholil itu. Sudah jelas yang lebih geger lagi malah di pesantren putri. Bahkan mereka seolah kehilangan bahan bicaraan lain, selain tibanya Gus Huda di tanah  kelahirannya. Sejak lulus Madrasah Aliyah pemuda tampan itu sudah dikirim abahnya ke Mesir menuntut ilmu Tafsir Quran. Tujuh tahun sudah Gus Huda merantau di negeri Terusan Suez itu. Kini ia kembali membawa sebuah gelar yang tersandang di depan dan belakang namanya, yaitu sebagai Kiai dan sebagai sarjana lulusan luar negeri.

Terasa baru saja kemarin aku menggendong Gus Huda kecil ke ladang jagung. Membawanya bermain petak umpet bersama anak-anak kampung yang lain. Masih terbayang jelas pula Gus Huda kecil yang tertegun-tegun melihat pedagang gulali berjalan di depannya. merengek-rengek saat minta gulali padaku, padahal saat itu aku tak mengantongi receh sama sekali. Meminta pada Abahnya aku tak berani. Maka kuputuskan meminjam uang pada Kang Zuhdi, walau saat itu aku tak tahu apa aku akan bisa mengembalikannya. Tapi kini ia telah benar-benar jadi seorang “Gus”,  putra kiai yang penuh kharisma. Seorang sarjana lulusan luar negeri seberang yang ilmunya tidak sembarangan. Meskipun aku bukan bagian dari keluarga Kiai Nur Kholil, Gus Huda kuanggap saudaraku. Seperti adikku sendiri, kedatangannya seperti hadirnya bagian dari kenanganku yang hilang. Masa kecilku kuhabiskan untuk ngemong calon penerus Kiai Nur kholil itu. Kakak-kakaknya, Gus Idris dan Gus Abbas, lebih memilih keluar dari trah kiai. Mereka telah sukses jadi politikus dan pengusaha besar.

“Rahman, saya harap nanti kamu bisa arahkan Huda, meskipun dia bakal jadi pemimpin yayasan ini tapi dia masih sangat muda. Ilmunya banyak tapi belum ada pengalaman mengamalkannya,” ucap Kiai.

Kepareng matur, Pak Kiai, saya akan berusaha sesuai kemampuan saya. Mohon bimbingan Kiai mawon.

“Kamu sudah lama mengasuh Huda, bahkan aku telah menganggapmu bagian dari keluargaku. Dan Huda pun menganggapmu seperti kakaknya sendiri. Tidak dengan Idris atau Abbas, ia lebih akrab denganmu. Kamu tahu? Di setiap kabar yang ia kirimkan dari Mesir, pasti ada pertanyaan yang menanyakan keadaanmu. Aku sendiri juga heran mengapa hanya denganmu ia bisa begitu akrab. Meskipun saudara kandung, Kangmas-kangmas-nya tidak ada yang sedekat kamu. Arahkan dia agar jadi pemimpin yang baik”

Nyuwun bimbingan, Kiai.” Aku menunduk. Kharisma guruku ini seperti melipat tengkukku. Tiap berbincang yang aku tatap bukan wajahnya, melainkan lantai. Menunduk bukan pertanda takut tetapi inilah bentuk penghormatan seorang murid jika menghadapi gurunya. Umur Kiai Nur Kholil sekitar enam puluhan. Seumuran bapakku jika masih hidup.

Aku tidak ingat persis kapan aku mulai tinggal dan belajar di pesantren Kiai Kholil. Kemiskinan yang membawa aku ke tempat ini. Maksudku, dulu saat bapak dan emakku masih hidup, kehidupan kami sangat memprihatinkan. Aku yang saat itu baru menginjak tahun keempat di sekolah dasarku, terpaksa berhenti. Sebabnya orang tuaku tak mampu lagi menanggung beban sekolahku dan saudara-saudaraku. Bapak harus menyekolahkan tiga anaknya termasuk aku. Beruntungnya, kedua kakakku telah lulus sekolah menengah pertama semua. Jadi mereka punya ijazah. Aku yang lahir paling terakhir harus membuang jauh cita-cita untuk terus sekolah.

Sampai suatu ketika Bapak bertemu seorang laki-laki yang tak disangkanya itu adalah temannya semasa di pesantren juga. Ya, laki-laki itu Kiai Kholil. Bapak menitipkanku padanya. Untuk memperdalam ilmu agama, kata bapak. Meski tidak bisa belajar ilmu di sekolah umum, ilmu agama lebih berguna kelak untuk pegangan hidup, itu yang aku tangkap.

Aku pun diantar Bapak ke pesantren ini. Saat itu dari sekian santri Kiai Kholil hanya aku yang paling muda. Mungkin sebab aku santri yang paling kecil atau karena Kiai Kholil adalah teman Bapak, aku diizinkan tinggal bersama di ndalem Kiai Kholil. Aku mengaji pagi, sore, dan malam hari. Di sela waktu itu aku menjaga Gus Huda kecil, mengajaknya bermain.

Pernah, kala Gus Huda memasuki hari pertamanya masuk sekolah Kiai Kholil dan Mak Nyai mempercayakanku mengantar Gus Huda ke sekolah. Jarak sekolah dan ndalem kira-kira sepuluh kilo jauhnya, maka aku harus meminjam sepeda jengki tua milik Gus Abbas. Sepeda buatan Jerman, bukan China. Rantainya jika dikayuh akan mengeluarkan bunyi yang tak enak didengar. Jalan menuju ke sekolah Gus Huda belum diaspal seperti sekarang ini. Juga harus membelah persawahan.

Tak kukira di tengah perjalanan langit telah mendung. Semula hujan hanya rintik-rintik. Kelamaan langit makin menyambar. Rintik air berubah menjadi guyuran air yang lebih lebat. Guntur menggelegar di sana-sini. Kilatan petir terlihat menyambar ke tanah. Tak hanya sekali tetapi ada beberapa kilatan yang lain. Di tengah aku mengayuh sepeda yang telah berkarat itu Gus Huda menangis ketakutan. Tak ada tempat berteduh. Hanya ada tadi, hamparan sawah di setiap sudut pandangan mata. Terasa jalan makin panjang saja. Langit menyala-nyala. Kami berdua basah kuyup. Seragam baru Gus Huda yang semula kelihatan putih berubah jadi warna krem dan coklat karena cipratan air yang bercampur tanah dan hujan. Di tengah-tengah sesawahan itu aku terus berpikir agar secepatnya sampai di tujuan. Kalaupun kembali ke rumah lagi, aku merasa tanggung sebab jarak ke sekolah dan jarak kembali ke ndalem lebih dekat ke sekolah. Maka aku terus melaju tak peduli pada langit, guntur, petir, atau bahkan Gus Huda yang mengigil dan ketakutan.

Memasuki ruang kelas Gus Huda dalam keadaan makin menggigil. Mukanya pucat membiru. Matanya sayu. Aku yang saat itu masih menungguinya, bingung harus berbuat apa. Salah satu guru di sekolah Gus Huda menyarankan agar Gus Huda dibawa ke puskesmas saja. Ia tahu jika Gus Huda dalam keadaan sakit. Dahinya panas menyengat. Aku bingung sekaligus waswas. Aku takut jika membawa Gus Huda ke puskesmas tanpa seizin Kiai maka aku akan kena marah. Namun jika Gus Huda tak kunjung dibawa ke puskesmas aku kasihan melihatnya. Maka kuputuskan membawa Gus Huda pulang saja. Waktu itu yang aku temui Mak Nyai. Aku bilang bahwa Gus Huda sakit panas yang mungkin karena kehujanan saat berangkat sekolah. Seperti yang aku duga, aku kena marah habis-habisan. Memang kesalahanku membawa Gus Huda tetap melaju di bawah guyuran hujan lebat yang membawa penyakit itu. Tapi bagaimana lagi, ketika itu aku tak punya pilihan lain. Kuterima saja Mak Nyai menumpahkan amarahnya padaku.

Sepeninggal Gus Huda ke Mesir aku diberi amanah Kiai Kholil mengajar Madrasah Diniyah. Aku yang baru pertama kali mengajar kitab Aqidatul Awwam merasa canggung juga. Untungnya yang aku ajar anak-anak usia SD jadi rasa grogiku tak terlalu kelihatan.

Ternyata kepercayaan Kiai mengantarku pada pertemuan dengan seorang gadis yang juga mengajar di madrasah diniyah itu. Gadis yang berkacamata itu pertama kali bertemu denganku bukan nada suaranya yang sampai padaku. Tapi tatapan mata bening yang bersembunyi di balik kacamata. Senyumnya mendahului sapa suaranya. Kubalas dengan senyuman serupa dan sedikit anggukan. Aku yang seumur-umur belum pernah disapa senyum seorang gadis jadi salah tingkah. Apalagi di pesantren putra, kesempatan melihat santri putri itu sangat jarang. Jika tak sengaja kami melihat santri putri lewat di hadapan kami, seperti tidak pernah melihat makanan selama puluhan tahun. Kami akan tertegun-tegun. Ah, manisnya gadis itu, pikirku dalam hati.

“ Itu Ustadzah Rahma, seperti kamu ia juga baru mengajar di sini,” kata Kang Fatah.

“Lulusan pesantren mana, Kang?”

“Kok lulusan pesantren mana? Lha dia saja masih mondok di pesantren ini, masih kuliah pula.”

“Semester berapa?”

“Baru semester awal, dia ngajar di sini atas usulan Kiai sendiri. Kata Kiai dia bisa praktek ngajar di diniyyah ula untuk pengalaman ngajarnya kelak di sekolahan,” jawab Kang Fatah.

O, jadi ia juga santri Kiai Kholil, calon guru pula. Agak minder juga jika aku harus bercakap lama dengan Ustadzah Rahma itu walau umurku mungkin lebih tua darinya. Dia calon sarjana, ustadzah, cantik pula. Sedangkan aku SD saja tak lulus. Kurasa Ilmu agamaku juga masih dangkal. Tampang juga ngepas, standarlah untuk ukuran orang udik sepertiku. Tak ada bagus-bagusnya.

Menuruti diri untuk mencari kejelekan selalu tak ada habisnya. Apalagi jika tak pernah merasa percaya diri. Apa boleh buat untuk skala perjaka tua sepertiku selalu saja merasa tak nyaman bila bertatap langsung dengan seorang gadis. Rasa tak nyaman itu bukan karena aku punya kelainan orientasi seksual. Lebih tepatnya sebab perasaan yang belum terbiasa melihat dan mengagumi. Aku terus saja mengeluhkannya. Kalau kupahami lagi uacapan Kiai Kholil tempo sore di pengajian. Jika kita mengeluh terus kapan kita akan bersyukur dan mulai berikhtiar?

***

Berada satu kantor dengan Ustadzah Rahma membuatku seakan mati kutu. Sendi-sendiku seperti terkunci untuk bergerak leluasa. Lebih-lebih jika tatapan matanya tepat mengena di bola mataku juga. Dianggap berlebihan memang jika aku mengatakan tatapan matanya seakan menjalar ke saraf otak, mengendalikannya dan menggugah adrenalin agar membangunkan bulu kudukku. Harus aku gambarkan bagaimana lagi? Yang aku rasakan ya memang begitu. Tapi apa memang pantas ini disebut terpesona pada pandangan pertama. Aku tak mau menyebutnya cinta, sebab dari orang-orang yang aku tanyai, yang ucapnya pernah jatuh cinta, jawaban mereka berbeda-beda. Tak ada definisi yang pasti tentang cinta. Satu pengertian dengan pengertian yang lain akan berbeda jika ditafsirkan. Malah ada yang bilang jika cinta itu memang tak ada definisinya. Apa perlu ribuan ahli tafsir, filsuf, atau bahkan ilmuan untuk mengkonkretkan dan menjabarkan secara nyata pengertian dari istilah “cinta”.

Sejarah mencatat, kebanyakan pemimpin besar tumbang gara-gara wanita. Ken Arok bertumpah darah gara-gara Ken Dedes yang sudah menjadi istri orang lain. Marie Antoniette “si Madamme Defisitte” membuat Raja Louis bangkrut, sehingga muncul pemberontakan Bastille yang disebut-sebut sebagai pemberontakan terbesar di Perancis. Lalu si Cleopatra yang membuat raja-raja di dunia teradu domba. Juga Bapak manusia, Nabi Adam, harus menerima risiko terlempar dari surga karena ulah Hawa. Seolah-olah wanita itu dekat sekali dengan kehancuran.

Namun wanita yang sedang ada di hadapanku ini tak ada ciri yang menunjukkan kalau dia seperti wanita-wanita yang kusebutkan tadi. Pokoknya ia, ah, aku tak bisa menyebutkannya. Melihatnya seperti membuang catatan negatifku tentang wanita.

“Ustadzah Rahma tidak mengajar?” tanyaku kuberani-beranikan, sekadar basa-basi. Maklum aku tak tahu harus memulai dari mana.

“Masih nanti. Jangan panggil saya ustadzah, Mas, saya belum pantas diberi panggilan itu, saya disini cuma membantu mengajar saja kok”

“Lalu dipanggil apa? Ibu?”

“Jangan juga, Mas, umur saya kan baru delapan belas tahun, baru lulus SMA pula, masak dipanggil ‘ibu’, lagian saya juga belum nikah.”

“Meski belum nikah tapi kan sudah ada calon?” tanyaku kali ini benar-benar memancingnya untuk bicara apakah ia sudah mempunyai seseorang dalam hatinya.

“Maksud Mas Rahman?”

“Pacar atau Calon suami, mungkin?”

“Mas Rahman ada-ada saja, saya tidak berani pacaran mas, apalagi calon suami atau apalah itu, belum terpikirkan, masih lama.”

“Kapan?”

“Mungkin setelah lulus kuliah, empat tahun lagi,” jawabnya dengan menyunggingkan lesung pipit. Aku entah seperti mendapatkan kekuatan dari mana untuk memberanikan nyaliku bercakap dengan Ustadzah Rahma, eh maksudku Dik Rahma. Sedari tadi yang kuingat kata-kata terakhirnya. Empat tahun lagi.

Kedekatan Rahma dengan Diniyyah membuatnya makin dikenal keluarga ndalem. Ia menjadi santri putri yang paling akrab dengan Mak Nyai. Mak Nyai pun menganggapnya seperti putrinya sendiri. Selama ini Mak Nyai memang merindukan mempunyai anak perempuan. Dan kehangatan Rahma membuat Mak Nyai seperti memiliki anak perempuan di tengah-tengah putra-putranya yang jauh dari ndalem.

Tresno jalaran soko kulino, cinta itu datang karena terbiasa. Kerap bertemu dan berbincang dengannya membuat hatiku yang sejak awal menaruh simpati jadi semakin terpedaya. Jika Pak Kyai dan Mak Nyai sowan ke ndalem kyai sepuh di luar kota maka kemungkinan besar aku dan Rahma akan diajak menyertai beliau. Dalam perjalanan itu biasanya kami akan sering bercanda. Membicarakan apa saja yang membuatnya tertarik.

Jika tamu-tamu Pak Kiai Kholil sowan, ia menyiapkan suguhan untuk tamu putri sedangkan aku menyiapkan untuk tamu putra. Dapur menjadi tempat yang paling sering bagi kami untuk bertemu.

Pertemuan dengannya terkadang membuatku ingat akan satu hal yang pernah dikatakannya di awal bertemu. Tentang waktu yang membuatnya bertahan untuk tidak menerima pinangan lelaki. Dalam waktu selama itu apakah aku akan tahan untuk tidak mengungkapkan rasa yang aneh ini padanya. Kala berjumpa dengannya yang terlintas dibenakku pasti kata-kata yang sama: “empat tahun lagi”.

 

Aku menunggu-nunggu waktu itu tiba. Aku tidak berani mengungkapkan perasanku sebab aku tahu untuk saat ini waktunya belum tepat. Khawatirnya yang aku dapat malah kecewa. Empat tahunku yang selama ini aku simpan untuk mengungkapkan sesuatu perasaan yang tak bisa aku tuliskan rasanya. Dalam perjalanan ceritaku aku berpikir barangkali aku akan lupa dengan ungkapan “empat tahun lagi” itu. Namun sampai saat ini ada suatu hal yang mencoba menggalang perasaan yang semakin kuat kepada Dik Rahma. Untuk lupa satu hari pun enggan.

***

Gus Huda kembali ke hadapanku seperti dulu. Tak ada yang berbeda dari perawakannya. Ia tampan berkulit putih bersih, humoris, dan selalu menyenangkan lawan bicaranya. Yang berbeda mungkin cuma logat bicaranya yang agak tercampur bahasa Arab.

“Kang Rahman kapan nikah?”

“Menunggu Gus Huda, kalau Gus siap Kang Rahman akan bareng.”

“Tapi aku sudah siap lho kang, apa Kang Rahman benar-benar sudah ada calonnya?” tanyanya meledek.

“Insya Allah, memangnya calon Gus siapa?”

“Itu yang ada di samping  Ummi.” telunjuknya mengarah pada seseorang.

Ya Allah, apa aku tidak salah lihat? Bukankah itu Dik Rahma!

Tak kusanggka empat tahun yang selama ini aku tunggu-tunggu ternyata hanya bisa aku ungkapkan kepada angin dan kesia-siaan. Semoga kamu bahagia, Gus. Kebahagiaan saudaraku adalah kebahagiaanku juga. Aku akan pulang setelah kamu mampu memimpin pesantren ini. Biar saja aku nyatakan perasaanku kepada kampung halamanku. Aku tak berduka, aku hanya kecewa sebab keterlambatanku mengungkapkan perasaanku.

Aku bukan lari dari kenyataan. Justru aku merasa kenyataanku yang sebenarnya bukan di sini. Tapi di sisi lain dari kehidupanku. Dan kutetapkan masa laluku adalah kenyataanku.

Bukankah pulang akan jadi pilihan akhir tiap perjalanan?

 

Semarang, Mei 2010

Glosarium

Hedonisme                   : paham yang mengedepankan kebahagiaan

Kepareng matur            : mohon izin bicara

Nyuwun                       : minta

Mawon                        : saja

Aqidatul Awwam          : kitab yang berisi tentang tauhid kepada Allah

Ndalem                        : rumah Kiai

Bastille                         : nama sebuah penjara di Perancis

Diniyyah ula                  : sekolah Islam tingkatan awal

Yuk, Jadi ORANGTUA ASUH (OTA) Santri Penghafal Qur'an Askar Kauny! Donasi Rp 150.000,-/bulan. Dapat Majalah Ummi (free ongkir)

Transfer ke Bank Muamalat 335-000-9175 a.n. Yayasan Askar Kauny

Konfirmasi ke 0813 8054 4843 : OTA#Nama#AlamatLengkap#Telp#jumlahtransfer#TanggalTransfer#JamTransfer

Tags:
loading...