RAJA DIRAJA

Fashion-Styles-for-Girls-Online

Penulis Rihana Adaminata

Akulah yang lebih pantas menjadi raja di negeri ini!” Seru Menteri Renal dengan suara lantang. Lalu beberapa saat kemudian ia berdalih, “tanpaku, negeri ini akan musnah karena serbuan para musuh.”

Kau jangan terlalu angkuh, Menteri Renal! Tanpaku, negeri ini akan tenggelam jauh di dasar bumi!” Balas Menteri Hepar tak kalah sengitnya.

Keduanya terus berseteru. Tak peduli siang maupun di tengah malam pekat mereka terus saling terror. Sampai pada akhirnya kedua menteri itu kelelahan dan tertidur di istana masing-masing.

Rakyat dan prajurit kerajaan yang menyaksikan perseteruan mereka, hanya mampu menggelengkan kepala seraya mencibir tajam.

Bagaimana mereka bisa memikirkan rakyat, jika mereka terus seperti itu? Mereka bahkan tidak tahu, apa yang kita makan setiap hari. Mereka juga tidak bisa menjamin keselamatan kita dari para penjahat. Mereka benar-benar naif!”

Padahal mereka tahu sendiri, Perdana Menterilah yang selama ini tetap berjuang untuk mempertahankan eksistensi negeri ini. Perdana Menteri dan Menteri Pulmo yang selalu terjaga saat semua pejabat di negeri ini tertidur. Bahkan di saat Raja kita tengah terlelap dalam buaian mimpi indah. Seharusnya seorang pemimpin, adalah pelayan untuk rakyatnya. Tapi mereka berdua yang selama ini melayani kita dan memperlakukan kita seperti raja,” sambung yang lain sambil terus berjalan menyusuri lorong sempit nan gelap sambil menggotong berbagai macam beban berat di pundak mereka.

***

Dari gerbang kediaman Perdana Menteri, beberapa prajurit kerajaan tampak tiba di serambi kanan dengan tubuh penuh lebam. Mereka tampak sangat kelelahan membawa upeti dan limbah pabrik yang akan mereka bersihkan di tempat refreshing. Tepatnya di sungai Alveol. Tempat yang paling mereka nanti-nantikan sepanjang perjalanan.

Perdana Menteri dengan tenang mengecek barang bawaan para prajurit sebelum masuk di bilik kanan kediamannya. Saat sedang serius mencatat hasil pekerjaan prajuritnya, wajah Perdana Menteri mulai tampak panik. Ia seperti melihat, ada sesuatu yang kurang pada upeti yang dibawa para prajurit. Tubuhnya bergetar hebat. Ia terlihat gelisah. Lalu ia mencoba menyelidiki apa yang terjadi.

Kenapa kalian tampak pucat? Kenapa barang yang kalian bawa hanya sedikit? Ini tidak akan cukup untuk memenuhi kebutuhan Raja dan pejabat yang lainnya.”

Hanya ini yang kami terima dari istana Menteri Hepar. Sepertinya pegawai di istana Menteri Hepar sedang tidak bekerja karena Raja tidak memberi kita apa-apa.”

Kini, giliran kondisi Perdana Menteri yang semakin melemah. Namun ia tetap memacu semangatnya untuk bekerja tanpa mengeluh sedikitpun.

Kalau begitu nanti kalian yang akan pergi ke istana utama kerajaan. Sampaikan pesan kepada Raja bahwa kalian kekurangan bahan pangan.”

Baik, Tuan Perdana Menteri! Segera kami laksanakan!”

Maka dikirimlah pesan dengan spanduk besar bertuliskan kata ‘LAPAR!’ kepada Raja. Setelah kembali dari kediaman Menteri Pulmo, para prajurit dan pegawai kerajaan kembali ke markas Perdana Menteri untuk menerima job deskripsi masing-masing. Mereka dilepas dari pintu Tol Aorta dan mulai merayap menyusuri jalan sesuai dengan daerah tujuan masing-masing. Mereka hanya akan menyusuri dua jalan untuk kembali ke markas Perdana Menteri. Jalan pergi, Jalan Arteri. Dan jalan pulang, Jalan Vena.

Perdana Menteri mulai merenung ketika ia sadar bahwa pesan yang ia tuliskan untuk Raja bisa menjadi bumerang untuk negeri mereka. Keadaan rakyat bisa menjadi tekanan untuk Raja. Yang paling ia takutkan adalah ketika tekanan itu menyebabkan Raja bertindak di luar batas. Seperti merampas hak bangsa lain, mencuri, merampok bahkan bisa sampai membunuh nyawa makhluk lain. Hal itu akan menjadi aib bagi seluruh negeri. Bahkan akan menjadi negeri yang hina sehina-hinanya.

Perdana Menteri mulai memutar otak, menyusun strategi untuk mengatasi permasalahan yang tengah melanda rakyat sebelum dampaknya meluas ke berbagai pelosok negeri. Ia segera melakukan negosiasi dengan Raja melalui sinyal listrik yang dapat menghubungkannya langsung dengan Raja. Dengan sikap tunduk dan penuh wibawa, Perdana Menteri membuka percakapannya dengan Raja via seluler.

Paduka Raja, maafkan atas kelancangan saya mengatakan hal ini. Karena negeri kita kekurangan bahan pangan, saya rasa kita butuh jalan keluar untuk mengatasinya.”

Apakah Perdana Menteri ada ide untuk masalah ini? Karena, saat ini kita sedang di embargo oleh Negeri Paman Syam dan kroni-kroninya.”

Ampun Paduka Raja, jika Paduka tidak keberatan saya mengusulkan agar kita berpuasa saja. Bukankah hal ini sudah biasa kita lakukan sebelum-sebelumnya? Selain itu juga, jika Paduka tidak punya kas Negara untuk mengimpor makanan bergizi, cukup berikan kami kurma dan madu. Karena kurma dan madu, membuat kami santai saat mengolahnya, tapi memperoleh hasil cadangan energi yang banyak. Perbanyak minum air putih dan makan makanan yang murni berasal dari tanah seperti buah-buahan dan sayur-mayur.”

Raja tersenyum. Senyum itu mengalir begitu tulus. Seperti mata air jernih yang begitu manis dan menyejukkan di saat haus dahaga menggerogoti kerongkongan.

Baiklah, saya rasa itu usul yang bagus.”

Boleh saya minta satu lagi Paduka?”

Silahkan.”

Ajari kami untuk senantiasa bersyukur dan bersabar. Allah yang telah menciptakan kita, maka Dialah yang akan menjaga kita semua. Meskipun saat bekerja kami berzikir dan beribadah setiap saat, tapi setidaknya ajaklah kami untuk mengagungkan kebesaran-Nya. Ajaklah kami untuk sering-sering melihat dan mendengar bacaan Al-qur’an. Sehingga saya bisa memahami makna atas penciptaan-Nya. Dan melakukan tugas saya dengan tenang. Karena Al-qur’an adalah cahaya yang menerangi jalan-jalan Nadi ataupun Vena sehingga para prajurit tetap bekerja dengan baik. Al-qur’an juga adalah obat yang manjur untuk menghilangkan rasa lelah dan jenuh yang kami alami di masa-masa sulit,” ucapnya dengan lembut.

Raja mengangguk tanpa merasa digurui. Ia tahu, tugas Perdana Menteri begitu berat. Tapi terkadang, raja juga merasa bersalah karena sering membuat Perdana Menteri merasa tertekan karena ambisinya dan sikap arogannya. Dalam pemerintahan, Perdana Menteri adalah pejabat yang paling paham kondisi rakyat dan pejabat-pejabat yang lain. Paling cepat bekerja dan paling tanggap atas kondisi kesehatan Raja.

Raja juga mengaku pada dirinya sendiri, bahwa ketika Perdana Menteri sakit atau terguncang, ia juga tidak bisa bekerja dengan baik. Ia juga ingat pesan Perdana Menteri beberapa waktu yang lalu saat beberapa Menteri dan pejabat mogok kerja karena marah dengan tindakan raja yang sering mengabaikan kebutuhan mereka yang sering terlambat.

Ampun Paduka! Jika kami ada masalah dan Paduka tidak bisa memenuhi permintaan kami yang begitu mendesak. Paduka bisa langsung berbicara pada kami dengan sentuhan tangan kanan Paduka dan mintalah kebaikan pada Allah untuk kami semua. Insya Allah kami semua akan mengerti bagaimana pedulinya Paduka kepada kami sebagai wujud kasih sayang dan rasa cinta Paduka pada kami.”

Raja tersenyum mengingat semuanya. Ia berjanji akan berbuat yang terbaik untuk seluruh rakyatnya.

***


Kenapa kalian datang terlambat?!”Tanya Perdana Menteri pada beberapa prajurit dan pegawai yang kembali ke markasnya. Suaranya agak sedikit menekan senada dengan kekuatannya yang juga mulai ikut payah atas keterlambatan para prajurit itu.

Maafkan kami, Tuan Perdana Menteri. Kami kehausan, tapi tidak mendapat pasokan air yang banyak. Air yang kami bawa diambil paksa oleh rakyat yang menunggu kedatangan kami di pinggir jalan. Sebagian lagi ikut terbuang bersama kotoran yang kami bawa di kediaman Menteri Pulmo.”

Perdana Menteri mulai panik. Tubuhnya gemetar. Ia segera mengirim pesan kepada Raja melalui kurir Neuron. Dalam pesan itu tertulis kata ‘HAUS’ yang berarti bahwa Raja harus memenuhi kebutuhan 8 gelas air sehari untuk seluruh rakyatnya. Beberapa prajurit dan pegawai kerajaan dikirim guna melakukan demonstrasi dan memblokade daerah Menteri Renal sebagai sinyal tanda bahaya untuk Raja.

Menteri Pulmo yang dapat merasakan raut kegelisahan di wajah Perdana Menteri, mencoba meminta penjelasan dengan masalah yang tengah dialami negerinya.

Ini tidak bisa dibiarkan lebih lama lagi. Keadaan ini bisa membahayakan keadaan seluruh pelosok negeri. Terutama bagi Raja. Semua mesin cuci di kediaman Menteri Renal akan rusak jika masalah ini terus berlanjut. Menteri Renal juga akan berada dalam bahaya jika terus menerus seperti ini. Semoga keadaan ini bisa segera disadari oleh Paduka Raja.”

Hal itu juga tidak baik untukmu, Tuan Perdana Menteri. Para penjahat yang menyusup di pabrik Menteri Hepar sewaktu-waktu juga bisa menutup setiap lorong jalan raya yang dilalui prajurit kita. Kau juga bisa menderita koroner jika perjalanan mereka dihadang para penjahat itu.”

Tapi aku lebih memikirkan kondisi Raja. Selama ini Raja yang paling banyak membutuhkan makanan, oksigen dan air. Jika prajurit terlambat sampai di sana. Raja tidak bisa bekerja dengan baik. Akan banyak pengawal istana yang mati kelaparan. Raja akan dalam bahaya. Bebanmu saat mengimpor Oksigen juga akan semakin berat.”

Menteri Pulmo menghela nafas panjang. Lambat laun ia juga mulai khawatir akan kondisi rakyat dan Raja yang terancam kekurangan persediaan air.

***

Aroma akan adanya kudeta kian merebak saat kondisi negeri semakin kacau. Rencana pemberontakan kian santer terdengar di seluruh penjuru negeri. Apalagi saat para menteri diam-diam mengadakan pertemuan rahasia tanpa sepengetahuan Raja. Mereka memaksa Perdana Menteri untuk merebut tahta kekuasaan Raja.

Kami tidak punya pilihan lagi, Tuan Perdana Menteri! Rakyat kita sudah jenuh dengan sikap Raja yang mengabaikan kita tanpa berusaha menyelamatkan kita. Percuma saja kita bekerja keras, jika Raja menyia-nyiakan semua itu dengan bermalas-malasan tanpa mau berusaha mencari nafkah untuk kita. Kami sudah sepakat untuk berhenti bekerja. Sekarang, kami hanya menunggu keputusan Tuan Perdana Menteri dan Menteri Pulmo untuk bekerja sama dengan kami. Bagaimana menurut Tuan?”

Perdana Menteri terdiam. Ia tidak pernah menyangka situasi negerinya akan separah ini.

Kenapa Tuan masih diam saja?!”Seru Menteri Renal seraya menatap Perdana Menteri dengan tajam. Sejenak kemudian ia mengalihkan pandangannya ke arah Menteri Pulmo.”Bagaimana denganmu, Tuan Pulmo?’

Menteri Pulmo terlihat pasrah. Ia merasa gelisah dengan semua tuntutan para Menteri yang melayangkan protes pada Perdana Menteri.

Maafkan saya, Tuan. Saya sudah menyerahkan urusan ini pada Tuan Perdana Menteri. Dan saya tidak berhenti bekerja begitu saja, kecuali jika Tuan Perdana Menteri sudah berhenti bekerja,” jawabnya dengan tegas.

Menteri Renal dan Menteri Hepar tampak sangat kecewa dengan jawaban Menteri Pulmo yang hanya bisa menjadi ekor Perdana Menteri. Apalagi saat melihat sikap Perdana Menteri yang masih teguh dengan pendiriannya untuk tetap setia pada Raja. “Baiklah! Kita lihat saja, apakah kalian berdua masih bisa bekerja tanpa kami!”Dengus Menteri Renal dengan angkuhnya.

Saya benar-benar tidak habis pikir, kalian masih saja setia dengan seorang Raja pecundang seperti dia! Tanpa jasa-jasaku, dia tidak akan bisa jadi Raja!” Sambung Menteri Hepar menyombongkan diri.

Kalian jangan pernah menghina Raja seperti itu!” Tukas Perdana Menteri tiba-tiba.

Para menteri yang hadir terlihat heran dengan reaksi Perdana Menteri. Mereka terpana dan bertanya-tanya dalam hati. Meskipun terkenal tegas dan berwibawa, Perdana Menteri tetap bersikap lembut pada bawahannya. Tapi semua kelembutannya tampak sirna saat itu.

Jika memang seperti itu, mengapa Raja tega melihat kita kelaparan? Kenapa Raja tega melihat kondisi kita yang sedang menyabung nyawa di sini?! Jawab Tuan!” Todong Menteri Renal bertubi-tubi.

Karena Raja tidak ingin menzolimi kita! Raja tidak ingin membiarkan kita bekerja dan hidup dari barang haram. Raja tidak ingin menjerumuskan kita ke dalam neraka,” jawab Perdana Menteri dengan tegas.

Menteri Hepar dan Menteri Renal saling berpandangan. Sejenak kemudian ia menatap tajam kepada Perdana Menteri.

Jika harus memilih penguasa dengan menilai seberapa penting kedudukannya, pengaruhnya, besar jasa-jasanya pada negeri ini, maka kita semua memang pantas menjadi raja. Tapi penguasa sebenarnya adalah rakyat kita sendiri. Karena tanpa rakyat, kita semua tidak akan bisa melakukan apa-apa. Tanpa rakyat, kita tidak berarti apa-apa. Dan tugas Raja adalah menghidupi rakyatnya dengan makanan yang halal agar seluruh negeri ini tidak tumbuh menjadi negeri yang mungkar. Saya tidak bermaksud membela Raja atau menyalahkan tindakan kalian. Tapi saya minta maaf, karena saya tidak bisa berhenti bekerja atas kehendak saya sendiri. Saya akan berhenti jika Dia yang memintanya?”

Dia? Maksud Tuan, dia itu Raja Otaki?” Tanya Menteri Hepar heran.

Bukankah Raja Otaki tidak pernah tahu, apa saja yang kita kerjakan selama ini? Bagaimana dia bisa menghentikan kita?” Sambung Menteri Renal dengan congkak.

Perdana Menteri menggeleng. Tatapannya menerawang jauh ke atas. Menerobos ruang gelap menuju sebuah cahaya benderang yang ada di dalam tabung kaca yang tersimpan apik di sebuah ruangan tersembunyi.

Raja yang menciptakan dan mengatur kita semua tanpa ada satupun bagian yang sia-sia. Raja dari para raja di dunia ini. Dialah Allah. Yang menciptakan manusia untuk beribadah kepada-Nya. Dialah tempat kita bergantung. Dan Raja kita, Raja Otaki diperintahkan untuk mematuhi perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.”

Tapi, mengapa bangsa yang memakan hak orang lain itu tidak dihukum Allah? Kenapa mereka hidup makmur?”

Perdana Menteri tersenyum kecut mengingat sosok yang dipertanyakan Menteri Hepar. Ingatannya melayang saat mereka melakukan kunjungan kerja di negeri adidaya itu. Kadang, ia ingin sekali berteriak sampai ke langit saat melihat kekejaman, kebohongan dan ketidakadilan yang dilakukan secara terang-terangan oleh negeri itu. Bangsa yang seharusnya melindungi dan membela yang benar, justru menjadi perusak di muka bumi. Bangsa yang menggerogoti hak kemerdekaan bangsa lain.

Raja yang memberikan rakyatnya nafkah dari uang haram, dari hasil menindas, merampas dan merampok hak bangsa lain, hidup mereka tidak pernah tenang. Lihat saja, Raja mereka dipenuhi prasangka buruk. Hingga berani menyadap, memata-matai dan selalu ingin tahu rahasia pribadi bangsa lain. Mereka selalu menjelek-jelekkan bangsa lain. Mereka ingkar atas nikmat Allah. Hati mereka tertutup dari kebenaran. Janganlah kalian iri dengan kenikmatan yang mereka dapatkan di dunia yang hanya sementara ini. Biarlah dunia menjadi milik mereka dan akhirat menjadi milik kita.”

Para Menteri terpaku mendengar penjelasan panjang lebar dari Perdana Menteri Qalbu. Mereka tertunduk malu. Pikiran mereka mulai mengais lebih dalam, setiap makna kata-kata yang diuraikan Perdana Menteri. Lebih dalam lagi. Sampai mereka menemukan titik kulminasi berupa pancaran cahaya yang mulai menerangi seluruh penjuru negeri.

Mereka tersadar, bahwa Raja Otaki yang berusaha menjaga mereka dari hal-hal haram yang bisa menenggelamkan mereka semua ke dalam lembah mengerikan bernama neraka. Yang mengingatkan mereka akan tugas yang sebenarnya. Yaitu, beribadah kepada Allah SWT, Tuhan Semesta Alam. Tuhannya manusia. Raja manusia, sembahan manusia. Yang melindungi mereka dari bisikan kejahatan setan yang tersembunyi ke dalam dada manusia, dari golongan jin dan manusia.

Selesai.

Yuk, Jadi ORANGTUA ASUH (OTA) Santri Penghafal Qur'an Askar Kauny! Donasi Rp 150.000,-/bulan. Dapat Majalah Ummi (free ongkir)

Transfer ke Bank Muamalat 335-000-9175 a.n. Yayasan Askar Kauny

Konfirmasi ke 0813 8054 4843 : OTA#Nama#AlamatLengkap#Telp#jumlahtransfer#TanggalTransfer#JamTransfer

Tags:
loading...