Ramadhan Jangan Pergi

Fashion-Styles-for-Girls-Online

Penulis: Dwi Puspitasari

Matahari bergerak makin ke barat. Senja perlahan tiba. Entah ke mana perginya burung- burung gereja di depan gedung tua bergaya seni Belanda itu. Semuanya seakan-akan lenyap seiring datangnya senja. Ipin dan Ipul masih terlelap berselimut kain usang bekas spanduk partai. Nyamuk-nyamuk mulai menari-nari di atas kepala dan telinga mereka. Aku heran melihat mereka, apa tidak sedikit juga merasa terganggu desing-desingan binatang kecil pengisap darah itu. Rasanya mereka lebih layak dibilang pingsan daripada tidur. Aku tahu buat mereka tidur adalah satu-satunya cara mengusir segala rasa tidak nyaman dalam hidup mereka.

Begitupun aku.

Lapar.

Dahaga.

Ketakutan akan masa depan tiba-tiba sirna saat tidur menyeret aku ke alam mimpi. Tapi senja ini aku ingin tersadar, aku ingin melihat Ramadhan yang sempurna dalam hidupku. Momen inilah yang sangat aku nanti-nantikan. Aku ingin menghabiskan Ramadhanku dengan makna lain, meskipun kata orang tidur di bulan Ramadhan ibadah tapi aku inginkan ibadah yang lebih baik daripada sekadar tidur. Kututup mushaf kecilku untuk menyempurnakan tilawah Quranku.

"Bangun… bangun! Sebentar lagi buka puasa!”

Aku bersegara menggoyangkan badan kedua temanku itu. Mereka hanya menggeliat malas dan kembali meringkuk dalam selimut.

“Kalian harus ingat, jumlah makanan gratis di mushola sangat terbatas. Terlambat sedikit saja kalian harus menunggu hari esok untuk sekadar merasakan daging,” kataku seraya berjalan menjauh dari mereka.

Selanjutnya saat aku tengok ke belakang, mereka berdua tampak tergesa-gesa mencuci muka dengan sisa air minum dalam botol yang mereka punya, lalu melipat spanduk dan teropoh-gopoh menyusulku. Aku hanya tersenyum kecil melihat tingkah mereka. Buat kami daging adalah makanan yang sangat istimewa yang tidak bisa kami temui di hari-hari biasa.

Indah sekali Ramadhan kali ini untukku. Mushala kecil yang sering diabaikan keberadaannya itu tiba-tiba sesak akan manusia, bersatu tanpa terlihat kesenjangan sosial di antara mereka. Semua tampak sama di hadapan Allah.

Aku duduk-duduk di teras mushala, setelah selesai shalat dan berbuka. Di sebelahku ada dua orang remaja yang sedang berbincang-bincang. Samar-samar pembicaraan mereka terdengar di telingaku.

“Bang, kata Marzuki, Pak Haji Agus itu pelitnya bukan main. Kemarin-kemarin aku lihat pengemis di depan rumahnya dihardiknya karena dianggap menggangu saja,” kata pria keriting itu sangat bersemangat.

“Ah, itu kan kemarin, hari ini aku lihat dia membawa berkantung-kantung sembako. Saat kutanya sopirnya katanya dia mau menyantuni anak-anak yatim di panti asuhan desa sebelah.” Orang yang berkacamata menyahut.

“Ah, gue rasa itu karena sekarang bulan Ramadhan saja.”Si Keriting menjawab lagi sambil mencibir.

“Hey, sudahlah, kalian ini sedang apa? Tak baiklah kalian membicarakan orang di bulan puasa. Batal pula nanti puasa kau berdua.”

Suara berat berlogat Medan  itu mengejutkan mereka berdua. Mereka terdiam menyadari kekeliruan mereka sendiri. Aku tertegun. Tak asing rasanya buatku mendengarkan perkataan semacam itu. Rasanya tak salah kalau aku berpikir menyantuni anak yatim selayaknya dilakukan bukan dalam bulan Ramadhan saja. Dan rasanya tak berlebihan juga bila aku berpikir menggunjing itu tidaklah layak dilakukan di bulan apapun meskipun bukan di bulan Ramadhan.

Kaum dhuafa di lingkungan tempat tinggalku jumlahnya sangat banyak. Deretan rumah- rumah kardus dan rumah-rumah papan yang berderet barantakan di pinggir sungai cukup mampu membuktikan betapa masih banyaknya masyarakat bangsa ini yang hidup di bawah garis kemiskinan. Ironisnya itu semua terjadi di dalam sebuah kota yang dikenal masyarakat sebagai kota metropolitan. Aku terkadang mulai jengah dengan hidupku yang tak kunjung membaik. Itulah yang menjadikan Ramadhan menjadi momen yang sangat berarti buat masyarakat kecil sepertiku.

Allah seolah-olah menurunkan malaikat-malaikat beserta berkantong-kantong rezeki lebih dari hari biasa. Bukan cuma untukku tapi juga untuk beberapa orang di sekelilingku. Ada keteduhan di sini. Ada ketenangan dalam jiwa tiap malam gelap. Lantunan ayat-ayat suci mengalun merdu memecah sepinya malam.

Kadang-kadang aku merasa menyesal pergi ke kota besar ini dengan membawa sejuta mimpi dan harapan yang sampai hari ini belum dapat terwujud. Yang aku hadapi dalam dunia nyata tak seindah yang aku lihat dalam layar kaca. Aku sungguh menyesal kenapa tak dari awal aku pertimbangkan keinginan orangtuaku yang dengan harapan besar memintaku untuk tinggal di kampung. Mengurus ladang dan sawah yang tak lagi mampu lagi mereka urus karena rentanya usia. Tapi apalah artinya penyesalan. Setiap keputusan selalu mengandung risiko, dan yang aku jalani sekarang adalah bagian dari risiko itu.

Kini untuk mampu pulang kampung dan menikmati hijaunya sawah seolah-olah menjadi barang mewah yang sulit aku wujudkan dengan kondisi ekonomi sekarang.

“Din, masih bengong aja…. Lebaran masih jauh!” Dan sekali lagi sebuah tepukan di bahuku mengejutkanku.

Tanpa aku sadari mushala itu telah sepi. Para jamaah telah mulai berangsur-angsur pergi menuju rumah masing-masing setelah menunaikan shalat maghrib hendak memanfaatkan momen indah bersama keluarga. Ah, aku begitu iri.

“Copet!”

“Copet!”

“Kejar… kejar!!” Tiba-tiba kulihat dari kejauhan puluhan orang berlari di jalan dekat mushala. Aku melihat kemarahan yang membara dalam muka-muka mereka. Seorang ibu muda terduduk lemas di teras masjid. Beberapa orang tampak sibuk menenangkannya yang tengah menangis. Ibu muda itu hanya mampu menyeka butiran-butiran air mata yang mengalir dari pelupuk matanya.

Aku mendekat ke arah kerumunan itu.

“Apanya yang hilang, Man?” seorang pemuda berbadan ceking bertanya pada orang di sebelahnya.

“Waktu sholat tasnya diambil pencuri. Di dalam tas itu ada handphone, perhiasan, dan dompet barisi uang satu juta dua ratus ribu rupiah.” Pemuda di sebelahnya menjawab tanpa menoleh ke arah yang bertanya. Mata cekungnya terus menatap korban pencurian itu, seraya selintas membayangkan betapa menderitanya berada di posisi ibu muda itu.

“Huff!!” aku menarik nafas berat. Ada beban yang terasa menyesak di dalam dada melihat peristiwa serupa sering terjadi berulang yang ironisnya dalam bulan yang penuh berkah ini.

Tak kuhiraukan lagi bisik- bisik orang dalam kerumunan itu. Hanya menambah sesak di jiwa. Keindahan Ramadhanku jadi berkurang nilainya.

Saat hendak kulangkahkan selangkah kaki dan hendak beranjak pergi, kudengar suara-suara ribut gerombolan masa yang penuh amarah, menggelandang seorang pria berbaju koyak ke arah korban pencurian.

“Ampun, Pak! Ampun, Pak!” jeritan pria itu terdengar sangat pilu dan menyayat jiwa. Kulihat tetesan darah mulai mengalir dari pelipisnya. Tampak beberapa luka memar membiru menempel di wajahnya.

“Bakar! Bakar!” Tampak beberapa pemuda berkoar-koar mengajukan tuntutan penghakiman masa atas kejahatan itu.

“Sudah…sudah…laporkan ke polisi saja!”

Beberapa orang bapak-bapak mulai berusaha menenangkan kericuhan itu. Menurutku sikap mereka sedikit lebih bijak.

“Ampun…ampun, Pak!” Pria itu terus memohon-mohon. Rambutnya masih berada dalam genggaman orang-orang yang terbakar amarah. Air mata mulai keluar dari sudut matanya.

“Ampun! Ampun, Pak!” pria itu kembali berteriak-teriak histeris berusaha menahan penghakiman masa atas dirinya.

“Saya hanya ingin pulang kampung, Pak!  Ampun...ampun..!”

Degg!! Jantungku mulai berdetak lebih cepat dari biasanya. Pulang kampung? Demi mendengar ucapan pira itu, sedikit redalah amarah pemuda-pemuda itu. Seorang bapak berusia enampuluhan menahan tangan pemuda-pemuda yang terus memukulinya. Bapak itu mendekat dan berusaha menggunakan cara mengintrogasi yang lebih lunak.

“Pulang kampung ke mana, Dik?”

Orang-orang dalam kerumunan itu mulai menatapnya penuh rasa iba.

“Ke Pa..lem..bang, Pak...” suaranya terdengar serak dan terbata-bata.

“Saya sangat menyesal, Pak…Ampun, Pak.. saya belum pernah mencuri sebelumnya. Sumpah Demi Allah.” Isak tangisnya kini mulai diringi tatapan kosong.

“Saya telah menjanjikan penghasilan untuk keluarga saya di kampung, Pak…Lebaran ini saya harus pulang…”

Aku rasanya tak tahan mendengar ucapan pria itu. Terasa sangat pilu dan menyayat jiwa. Aku merasakan apa yang baru saja diucapkannya. Aku pun terbayang istriku dan anakku di kampung. Kepiluan putri bungsuku ketika melihat sebayanya mengenakan baju baru menari-nari di pelupuk mataku.

Aku terbayang perasaan istriku di kampung halaman melihat ibu-ibu lain berbesar hati menerima penghasilan dari tunjangan hari raya yang diperoleh suami mereka. Air mata perlahan mulai mengalir dari sudut mataku.

Perih tersa dalam jiwaku. Teramat perih. Bergegas kutinggalkan kerumunan itu. Dengan gontai kulangkahkan kaki ke gubugku. Demi ketenangan jiwaku di bulan suci. Demi perginya sifat buruk manusia di bulan Ramadhan. Hati kecilku membisikkan sebaris doa. Ramadhan, jangan pergi...

Yuk, Jadi ORANGTUA ASUH (OTA) Santri Penghafal Qur'an Askar Kauny! Donasi Rp 150.000,-/bulan. Dapat Majalah Ummi (free ongkir)

Transfer ke Bank Muamalat 335-000-9175 a.n. Yayasan Askar Kauny

Konfirmasi ke 0813 8054 4843 : OTA#Nama#AlamatLengkap#Telp#jumlahtransfer#TanggalTransfer#JamTransfer

Tags:
loading...