Ramadhan Tahun Ini

Fashion-Styles-for-Girls-Online

Penulis: Nikmatus Solikha

 

 

Ramadhan tahun ini masih sama seperti tahun lalu, harusnya aku sudah terbiasa dan rela menerima jika berpuasa tanpa kehadiran Tesar. Sepertinya dia tidak akan datang lagi. Entah ini tahun yang keberapa, aku sudah lupa. Sekian lama menunggunya sepertinya sia-sia, meski dalam hati aku masih berharap. Hingga detik ini aku masih bermimpi Tesar akan datang ke sini, ke tempat yang tak pernah terjamah olehnya lagi sejak dia meninggalkanku di sini seorang diri.

 

Sore hari begini, tak ada yang bisa kulakukan selain duduk di teras. Berharap-harap cemas, kalau saja melihat Tesar menjemputku. Membawaku kembali ke rumah kami.

 

“Ayo, masuk dulu... sudah sore, nanti masuk angin.”

 

Aku menoleh pada Rahmat, lelaki ini selalu baik padaku. Rahmat yang selama ini jadi pengganti Tesar. Menjagaku, yang katanya tulus sepenuh hati. Tapi, sungguh... tak pernah kutemui keikhlasan itu di matanya. Kucegah Rahmat yang siap mendorong kursi rodaku dengan isyarat tangan.

 

“Aku masih ingin di sini.”

 

Rahmat mengangguk meski kudengar decak kesal dari bibirnya. Rahmat memang tidak pernah mencintaiku. Tidak seperti Tesar waktu itu. Tak ada laki-laki lain yang kurasakan kasih sayangnya terhadapku kecuali Tesar yang dulu. Tesar yang selalu mencium kedua pipiku dengan binar mata yang tulus sebelum berangkat bekerja. Tak ada yang lebih kurindukan dari pada momen itu.

 

“Mat...” panggilku. Rahmat baru saja akan masuk ke dalam ketika mendengar suaraku memanggil namanya.

 

“Ya?”

 

“Tesar kok nggak pernah datang ya?” tanyaku. Mungkin Rahmat bosan dengan pertanyaanku yang selalu sama tiap harinya. Tapi aku tak punya topik lain yang kuminati.

 

“Dia kan sekarang tinggal di Jakarta.”

 

Rahmat adalah pembohong besar. Pantaslah setiap hari bertanya, menanti kejujurannya. Tapi, sampai saat ini Rahmat tidak pernah berkata jujur padaku. Rahmat selalu mengatakan kalau Tesar pergi ke Jakarta dengan keluarga barunya. Bohong. Tesar mencintaiku. Dulu, dia sendiri yang selalu mengatakan itu. Jadi, mana mungkin dia pergi ke Jakarta dan meninggalkanku sendiri di sini.

 

Aku masih ingat. Jelas sekali. Tesar paling tidak bisa jauh dariku. Jika ingat masa PPL dulu, yang mengharuskan dia pergi ke luar kota selama dua bulan, hal pertama yang Tesar lakukan sekembalinya dari luar kota adalah memelukku.

 

“Aku kangen,” katanya. Aku masih ingat bagaimana rasanya ketika lengan besarnya melilit tubuhku erat sekali. Seperti jeratan ular piton yang tak rela melepas mangsa. Aku tersenyum membalas peluknya dengan sesekali menepuk-nepuk punggungnya. Meski saat itu aku meledeknya dengan mengatakan. “Cuma dua bulan, kok gayanya kayak nggak ketemu dua abad saja...”  Tapi sungguh, aku senang mengetahui Tesar merindukanku. Saat itu Tesar mencegahku memasak untuknya. Meski lelah, dia mengeluarkan Vespanya dan mengatakan akan mengajakku jalan-jalan saja. Dia butuh waktu refreshing berdua bersamaku katanya.

 

***

 

Orang-orang bilang, aku adalah wanita paling beruntung. Yah, itu semua karena aku mempunyai Tesar. Dia lelaki yang sangat tampan, sopan, pintar dan tentu saja dia sangat menyayangiku. Dia pasti satu-satunya orang yang tersenyum meski aku hanya menyediakan tempe di meja. Meski tahu aku tidak akan menyediakan yang lebih dari yang namanya tempe, dulu Tesar selalu bertanya, “Masak apa nih?” sambil duduk di ruang makan.

 

“Hari ini tempenya di rendang.”

 

Tesar tergelak. Aku turut tertawa bersamanya.

 

“Itu kesukaanku,” serunya dengan membalik piring di meja dan meraih sendok. Aku mengambil seentong nasi untuknya sebelum meletakkan sepotong tempe dengan bumbu rendang di atasnya. Dia tidak pernah mengecewakanku yang lelah memasak, karena sekali dia makan masakanku, pasti akan ditelannya dengan tekun hingga tak tersisa lagi sebutir nasi pun di piringnya.

 

***

 

Tesar selalu mencium pipiku sebelum berangkat ke pabrik. Usianya masih 21 tahun saat itu. Masih sangat muda, tapi sangat bersemangat bekerja. Tesar tak pernah lupa mengucap salam dan melambai sebelum melajukan motornya. Aku selalu mengantarnya hingga ke gerbang rumah. Menunggu hingga Vespanya hilang di telan tikungan.

 

Kalau tidak salah, saat itu tahun 2007. Sekembalinya Tesar dari kerja, di mana dia pulang dengan wajah paling cerah sambil berteriak-teriak memanggilku.

 

“Ada apa? Ada apa?” saking penasarannya, aku sampai mengulang pertanyaanku dengan cepat. Saat itu Tesar langsung memelukku.

 

“Aku diterima kerja!” tegasnya membuat mataku berbinar juga. “Kerja di kantor,” imbuhnya. Subhanallah, aku memang yakin Tesar akan berhasil nantinya. Dia hebat dan berbakat. Aku selalu bangga padanya.

 

***

 

Hingga kini, meski Tesar tak pernah menemuiku lagi, aku masih bangga padanya. Masih tetap merindukannya. Yah, meski luka di hatiku masih menyisakan rasa nyarinya hingga saat ini. Luka yang ditorehkannya begitu mendalam, hingga aku bisa membayangkan sebesar apa lubang yang menganga pada luka itu. Hal itu yang hingga kini membuatku bingung, mengapa aku masih setia menunggu kehadirannya di sini meski laki-laki itu sudah menyakiti hatiku?

 

“Nggak usah dipikirin lagi, yang penting sekarang jaga diri. Hidup kan cuma sekali.”

 

Aku sudah bosan mendengar nasihat Rahmat. Perlakuannya itu selalu memerlakukan aku layaknya aku ini anak kecil saja. Aku tahu, dia pasti kesal karena tiap kata-katanya tak pernah kudengarkan.

 

“Aku kangen Tesar.” Malah itu yang sering kuucapkan. Berputar bola matanya tiap kusebut nama Tesar. Rahmat pasti sangat kesal.

 

“Tesar sudah jauh. Di Jakarta sana. Mana ingat dia sama yang di sini?”

 

Aku tahu, Rahmat paling suka memanas-manasi. Dia hanya tidak suka aku membahas Tesar lagi dan Tesar lagi. Yah, mau bagaimana lagi. Aku terlalu menyayanginya, mencintainya yang kuyakin hingga akhir masa, Rahmat tak mungkin bisa mengukur perasaanku terhadap Tesar, tak peduli betapa besar kesalahan Tesar padaku.

 

Kalau diingat saat itu, memang tak ada hal lain yang kulakukan kecuali menangis. Tak dapat kujelaskan bagaimana perasaanku ketika Tesar pulang tanpa salam. Aku memandangnya heran ketika dia main nyelonong langsung ke kamar dan menguncinya. Sakitnya hatiku tak terkira, mungkin tak akan sesakit itu jika Tesar masuk seorang diri. Masalahnya, dia bersama perempuan! Dari pakaiannya yang mini itu, aku yakin dia bukan perempuan baik-baik. Aku memang tidak mengatakan apapun saat itu. Barulah setelah perempuan itu pergi, kuberanikan diri menegur Tesar.

 

“Siapa dia?” tanyaku.

 

“Pacarku,” jawabnya terus terang.

 

“Apa? Jadi perempuan itu pacarmu?” aku tidak menyangka. Bagaimana mungkin Tesar bisa...

 

“Kenapa sih? Aku cinta sama dia.”

 

Aku tidak rela!

 

***

 

Tak ada yang bisa mencegahnya. Tesar tetap menikahi perempuan itu setelah tiga bulan berselang. Setelah pernyataan bahwa perempuan itu hamil anak Tesar. Aku bagai disengat listrik saat itu. Aku merasa mungkin akan lebih baik jika aku benar-benar tersengat listrik saat itu. Karena aku ingin mati saat mendengar berita itu. Aku hancur.

 

“Kok nangis?” Rahmat mengusap airmataku dengan punggung tangannya. Aku masih terisak hingga tak mampu menjawab pertanyaannya.

 

“Selalu gini kalo keinget Tesar,” keluhnya. “Mending lupain.”

 

Mudah saja berteori. Tapi praktiknya, mana bisa?

 

“Nggak bisalah, Mat. Rasanya sudah mengakar di sini.” Kutepuk dadaku sekuat tenaga. Aku tak sanggup lagi merasakan nyeri di sana. Rahmat memang tak pernah tahu, bagaimana perlakuan Tesar setelah dia menikah dengan perempuan itu.

 

Tak pernah lagi kudengar kata, “aku kangen” darinya meski berbulan-bulan dia dinas di luar kota. Yang diperhatikannya hanya perempuan itu. Tesar tak lagi membagi perhatiannya untukku, apalagi sejak satu kecelakaan yang menimpaku. Membuatku lumpuh terjebak di kursi roda. Itu makin membuatnya terbebani.

 

“Mau ke toilet.” Saat itu, aku harap Tesar mau memapahku seperti biasanya.

 

“Lagi?” Wajah Tesar yang lelah itu cukup menjalaskan, dia sudah malas membantuku ke kamar mandi.

 

“Kebanyakan minum es sepertinya.”

 

“Pakai pampers saja ya, biar nggak capek juga bolak-balik ke kamar mandi.” Nada suaranya tidak hangat lagi. Dia tidak mencintaiku seperti dulu. Perempuan yang berdiri di sampingnya juga sama saja. Dengan menatap matanya saja, rasanya aku bisa menerjemahkan apa yang tersirat di sana, “kenapa tidak pergi saja, sih?” kurang lebih seperti itu.

 

Aku tak pernah peduli soal tatapan sinis perempuan itu. Yang selalu kucoba adalah meyakinkan diri, bahwa perubahan sikap Tesar belakangan hanyalah perasaanku saja. Hingga suatu hari, aku dibuat terkejut ketika Tesar mengeluarkan mobil Kijangnya. Luar biasa gembira hatiku saat itu, Tesar membawaku berjalan-jalan berdua saja. Ini kali pertama Tesar mengajakku jalan-jalan berdua sejak pernikahannya dengan perempuan itu. Aku diajaknya pergi ke tempat yang jauh. Sepanjang perjalanan, yang kulihat adalah pepohonan yang rindang.

 

Tesar menghentikan mobilnya di depan bangunan besar. Dia membantuku turun dan beberapa orang berseragam juga membantuku dengan sambutan yang ramah. Aku tersenyum canggung.

 

“Tempat apa ini?” Tanyaku kala itu. Bingung melihat sekeliling bangunan yang dipenuhi lansia yang duduk melamun di kursi-kursi panjang pelataran.

 

“Bu, maafin Tesar ya... tapi, Tesar sibuk banget sampe nggak sempet ngurus ibu.” Tesar mencium punggung tanganku, lalu kedua pipiku. “Di sini Ibu bakal terus diperhatikan kok,” lanjutnya.

 

Aku merasa lidahku mulai pahit. Aku memang diam, tapi batinku menjerit. Aku tidak menangis saat Tesar berlalu meninggalkanku, tapi hatiku sudah berdarah-darah. Inikah makna kata cinta anak sepanjang galah?

 

 

 

“Kita masuk ya. Ini sudah hampir magrib. Bentar lagi kan buka puasa.”

 

Aku pasrah ketika Rahmat mendorongku menuju ruang makan. Di sana kutemui banyak teman senasib denganku. Orang-orang tua yang kehadirannya tidak diharapkan lagi. setidaknya aku tidak seorang diri.

 

Sekian.

Yuk, Jadi ORANGTUA ASUH (OTA) Santri Penghafal Qur'an Askar Kauny! Donasi Rp 150.000,-/bulan. Dapat Majalah Ummi (free ongkir)

Transfer ke Bank Muamalat 335-000-9175 a.n. Yayasan Askar Kauny

Konfirmasi ke 0813 8054 4843 : OTA#Nama#AlamatLengkap#Telp#jumlahtransfer#TanggalTransfer#JamTransfer

Tags:
loading...