Rantai

Fashion-Styles-for-Girls-Online


Penulis: Afika Awwaliyah Rozaq


Hey kau, perbuatanmu membuat kau dan aku menjadi saling berhubungan. Ah, sebenarnya aku dapat dengan mudah menemukan kau-kau yang lebih banyak lagi karena perbuatan yang sama. Tapi ada hal-hal yang membuat ikatanku denganmu lebih kuat daripada yang lainnya. Apa kau senang dengan ikatan ini?

Hey kau, aku tidak mengakui bahwa aku adalah orang yang baik. Dan mungkin aku dan kau sama-sama bukan orang yang baik. Tapi aku hanya berpikir, aku yang bukan orang baik pun tidak sampai terpikir melakukan perbuatan yang kau lakukan. Tapi, karenamu, aku sempat berpikir hal yang baru. Kau tahu tidak? Baru saja pikiran setan melintas dalam pikiranku, aku bisa meneruskan rantai itu padamu dengan mudah.

“Ada gerakan, Fan?”

Aku menoleh pada rekanku yang baru datang.

“Belum ada. Tapi aku yakin, dia ada di dalam,”

Rekanku menepuk bahuku dengan tegas.

“Baiklah, tetap bertahan seperti ini. Kita tunggu sampai yang lain datang. Jangan gegabah, dia adalah orang yang cukup sadis,”

Aku hanya tersenyum kaku.

Hey kau, kau ada di dalam rumah itu kan? Rumah kecil bercat putih yang penuh dengan aura kejahatanmu. Aku menghela napas. Kemudian aku melihat gambar sketsa wajah yang ada di genggamanku sedari tadi. Napasku bertambah berat ketika melihat gambar sketsa wajahmu diwarnai dengan bercak darah. Seandainya.... Seandainya aku tidak memiliki ketenangan, aku mungkin bisa langsung membalasmu. Tapi bagaimana perasaanku jika aku bertemu wajahmu langsung, tanpa gambar ini? Apa aku akan kehilangan ketenanganku? Apa yang akan aku lakukan?

Sungguh.... Sungguh aku ingin segera menyudahi misi ini. Sungguh aku ingin menyerah. Aku memang seorang laki-laki. Tapi sungguh aku ingin menangis. Aku ingin menangis di sampingnya. Aku ingin menyerah di sampingnya. Tapi tidak disini. Tidak di depanmu! Aku akan mengakhiri ini segera!

“Aah, lamanya....”

Rekanku tertawa ringan.

“Tunggu sa-....”

“Oke, aku akan bertamu ke rumahnya,” jawabku memotong kalimatnya. Lalu aku merapikan pakaian penyamaranku.

“FAN, JANGAN GEGABAH!” bentaknya sambil menahan lengan kananku.

Aku menatapnya datar. Sebaliknya orang-orang yang ada di warung kecil ini terlihat kebingungan namun beberapa dari mereka menunjukkan tatapan kekhawatirannya terhadap kami. Aku menunjukkan isyarat bahwa kami berdua sedang berada di tempat umum. Rekanku pun mulai mengendurkan cengkeramannya terhadapku.

“Tapi Fan, tetaplah disini sampai....”

“Aku hanya bertamu ke rumah target,” aku tersenyum bermaksud menenangkannya. “Kalau yang lain sudah datang, langsung saja masuk ke dalam. Jangan menunggu sampai aku terbunuh. Maaf,” kataku. Aku pun mulai berjalan.

Rekanku akhirnya membiarkanku pergi. Aku tahu, sudah berapa kali aku telah membuat orang-orang yang aku panggil rekan itu khawatir. Ya, termasuk rekanku yang tadi. Rekan-rekanku harus setia menahanku agar aku tidak gegabah dan nekat. Tapi sudah berapa kali mereka gagal. Aku tetap saja gegabah dan nekat. Aah, bukan seperti itu juga. Aku hanya lelah menunggu. Walaupun begitu, aku masih selamat sampai misi ini, kan?

Terlebih lagi dalam misi ini, aku ingin.... Aku berhenti sejenak. Wajah wanita itu tiba-tiba muncul dalam bayanganku. Kau tahu wanita yang aku maksud? Aku yakin kau akan mengetahuinya walaupun kau tidak tahu namanya. Namanya Gina. Aku juga yakin kau tidak akan mengetahui bahwa Gina sangat pandai melukis. Dan Gina-lah yang melukis sketsa wajahmu. Apa kau terkejut?

“Fan, apa aku harus selalu membawa sekaranjang es batu seperti ini, setelah kamu selesaikan misi?”

Waktu itu aku tidak ingat, apa aku tersenyum atau tidak mendengar pertanyaannya. Gina memang selalu bertanya pertanyaan yang sejenis ketika aku pulang menyelesaikan misi dengan luka lebam dimana-mana. Namun ia tetap meredakan luka-lukaku dengan handuk kecil yang sudah dicelup ke air es yang masih menyisakan gelondongan es batu.

“Berhentilah nekat, Fan. Sudah berapa orang rekanmu memintaku mengingatkanmu, jangan seperti itu. Tapi aku sia-sia saja,”

“Aku nggak akan mati karena misi-misi itu.”

Gina memukul kecil pipiku. Aku hanya terdiam dan membiarkannya. Bukan karena pukulannya itu tidak berasa apa-apa, tapi karena aku tahu bahwa saat itu ia marah.

“Ini bukan soal mati atau nggak. Kematian itu ketentuan Allah, bisa datang kapan saja, bukan hanya di saat kamu sedang menjalankan misi. Berhenti nekat, itu supaya kamu lebih berhati-hati dalam pekerjaan. Supaya kamu nggak membahayakan rekanmu yang lain. Supaya kamu nggak mengacaukan strategi tim.

“Huh, seandainya pikiran kamu bisa seadem air es ini. Jadi senekat apapun kamu, kamu masih bisa berpikir jernih. Kamu bisa mempertimbangkan langkah sebelum kamu bener-bener terluka,”

Aku kembali berjalan. Wajah Gina yang terbayang berangsur-angsur menghilang. Tidak ingin aku membayangkannya. Aku ingin melihatnya secara langsung. Bukan bayangannya. Namun, kata-katanya menyibak tabir kenyataan yang harus aku hadapi.

Aku mengetuk pintu kayunya. Tiga ketukan pertama tidak ada jawaban. Aku mengetuknya lagi. Lagi dan lagi. Aku sangat berharap kau akan melayani ketukan terakhirku tadi. Berhasil. Terdengar olehku suara putaran kunci dan engsel pintu yang bergerak. Dan kau pun muncul di hadapan mataku. Benar-benar wajah yang sama dengan gambar sketsa wajah itu. Mau tidak mau aku harus berterima kasih kepada pelukisnya karena memudahkan kami dalam misi ini.

“Permisi Pak, saya petugas sensus penduduk desa ini. Saya dengar Bapak baru pulang dari perantauan jadi belum sempat mengisi data untuk sensus penduduk,”

Kau terdiam sejenak memperhatikanku.

“Hah, kau terlalu muda untuk bekerja menjadi petugas sensus,” ucapmu sambil tertawa sambil menyilakanku masuk.

Aku langsung mengeluarkan dua lembar form yang harus kau isi. Aku melihat wajah tidak bersalahmu tersenyum dan tertawa. Dan baru kali ini, badan dan pikiranku kaku. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan kali ini. Aku tidak tahu.

“Baiklah Petugas Sensus, aku sudah mengisinya,”

Aku mengambil form yang sudah diisi. Mataku terfokus pada suatu kata. Aku pun tersenyum spontan.

“Bapak lahir di hari selasa? Istriku juga lahir di hari itu,” ujarku.

Aku melihatmu tertawa puas.

“Sungguh kebetulan! Hari selasa adalah hari keberuntunganku. Apa itu hari keberuntugan istrimu juga?”

“Dia bukan tipe orang yang memperhatikan hal seperti itu.”

Baiklah, sekarang apa lagi? Apa lagi yang harus aku lakukan? Dalam misi-misi sebelumnya, aku menyerbu sarang perjudian dan langsung menghajarnya satu per satu. Selain itu, aku juga pernah menerobos kebakaran untuk menyelamatkan pelaku yang ingin bunuh diri di dalamnya. Lalu aku pernah berkelahi di atas truk yang melaju. Dan yang lainnya, adalah kenekatan yang bermodalkan fisik. Saat ini, bagaimana aku menerapkannya?

Ba-gai-ma-na?

“Gin, apa itu yang kamu pakai?”

“Ini namanya jil-bab. Sekarang aku sudah bergabung dengan ibu-ibu pengajian. Katanya setiap wanita akan terlihat sangat cantik dengan ini,”

Waktu itu.... Waktu itu aku berkomentar apa?

“Jangan melakukan hal yang aneh-aneh Gin,”

“Itu bukan hal yang aneh, tapi hal yang menentramkan hati. Hari selasa kita datang pengajian berdua ya, Fan?”

Aku.... Aku menggelengkan kepalaku. “Banyak tugas di kantor. Aku juga nggak bisa mengantarmu,”

“Ya sudah, aku akan ke sana sendiri naik bis,”

Kemudian hari selasa yang lalu pun datang. Dengan sebuah berkas kasus yang datang menghampiri mejaku. Seorang penjarah bis yang selalu beraksi setiap hari selasa. Tidak tanggung-tanggung, ia akan melukai siapapun yang menghalanginya. Perasaanku tidak seperti biasanya pada hari itu. Spontan aku menghubungkan penjarah bis itu dan Gina yang akan pergi ke pengajian. Aku belum pernah khawatir pada seseorang sampai seperti itu. Lalu, apa Gina dan rekan-rekanku merasakan hal yang sama sepertiku, perasaan khawatir pada orang yang ia sayangi?

Dan nampaknya hari itu aku merenung terlalu lama. Beberapa jam kemudian, kantor polisi tempatku bekerja heboh karena kasus penjarahan bis terjadi lagi. Korbannya seorang wanita muda yang ditusuk pisau oleh si pelaku. Rekan-rekan kerjaku langsung melihat ke arahku dengan tatapan menyedihkan. Kali ini mereka tidak menenangkanku. Mereka membiarkanku. Bukan karena mereka yakin akan gagal menenangkanku, tapi mereka memahami arti airmataku. Mereka tahu bahwa aku menangis karena korban itu adalah Gina, istriku.

Aku berlari, berlari dan berlari sekencang-kencangnya di rumah sakit. Melihat Gina terbaring lemah adalah rasanya lebih menyakitkan daripada menderita banyak luka lebam di tubuhku sendiri. Pihak operasi sudah mengoperasi Gina namun ia kehilangan banyak darah. Aku yang memiliki golongan darah yang sama langsung mendonorkan darahku.

“Fan, a-ku nggak a-apa a-pa,”

Itu adalah kalimat pertamanya setelah melihat wajahku yang penuh dengan emosi.

“Tangkap dia. Biarkan aku jadi korban terakhir. Tapi itu bukan misi balas dendam karena aku, Fan. Jadi jangan apa-apakan dia,” ucapnya terpotong-potong.

Aku terdiam. Lalu Gina berbicara lagi.

“Putuskan rantai keja-hatannya. Jangan kamu lanjutkan rantainya. Jangan bunuh dia, jangan habisi dia,”

Aku menatapnya tajam. Namun tetesan airmatanya membuat tatapanku meredup tumpul. Aku berpikir, kenapa orang yang aku sayangi berkata seperti itu. Ia memang cukup mengenal sisi temperamen dalam diriku. Tapi bukan itu yang ia takutkan. Ia tidak takut padaku. Dan aku menjadi lemah pada wanita itu. Tidak. Bukan pada Gina. Ada hal-hal yang membuat aku lebih lemah lagi.

“Kita sama-sama ber-juang, Fan. Ka-mu ba-wa dia ke kan-tor poli-si. A-ku ber-juang mengha-dapi sakit ini. Setelah itu.... Skenario ini... terserah,” Airmata Gina bertambah deras. “Allah itu Maha Adil, Maha Pengampun, Maha Segala-galanya. Penyerahan total setelah kita berusaha, itu yang akan kita lakukan Fan,”

Saat itu aku benar-benar tidak dapat menahan tangisku. Ada harapan baru yang tersirat pada kalimat - kalimatnya.

“Aaaah, aku tidak bisa berpura-pura lagi!” seruku tiba-tiba.

“Siapa kau?”

“Polisi,”

Ya, dan kau? Tertawa.

“Hahahaha, sudah kuduga! Aku sudah pernah mengisi formulir itu bulan lalu,” ucapmu santai sambil mengambil sebilah pisau lipat yang menurutku cukup tajam.

Aku mengangguk singkat.

Langsung. Aku tidak ragu-ragu menyerangmu dengan tendangan. Namun tampaknya kau cukup sigap untuk menghalau tendanganku. Aku tersenyum puas karena sudah lama tidak berkelahi seperti ini. Kau menodongkan pisau ke depan mataku. Namun aku dengan mudah menarik lenganmu dan aku banting sampai ke lantai. Tapi kau tidak juga menyerah. Bahkan dalam posisi seperti itu, kau mampu membuat gerakanku sia-sia. Sampai akhirnya hanya beberapa inci saja ujung pisaumu siap dengan mudah bersentuhan dengan leherku. Aku tidak bergerak.

Dalam keadaan seperti ini, entah sebutan apa yang aku gunakan untuk diriku sendiri. Aku benar-benar gegabah dan nekat, namun tidak mempunyai pertimbangan yang jernih. Emosiku cepat menaik. Mungkin disinilah gunanya tim, aku bertindak sebagai penyerang karena aku jago berkelahi. Aah, tidak juga. Ini buktinya, aku tidak bergerak. Menanti kau menggorok leherku.

Dalam keadaan seperti ini, mungkin aku akan mati. Aku mengingat Gina yang baru-baru ini rajin pergi ke pengajian. Aku juga beberapa kali melihatnya sholat dan mengaji. Itu adalah hal-hal yang sering aku lakukan sewaktu kecil. Sayup-sayup aku mendengar suara almarhum ayah bahwa seorang laki-laki adalah imam bagi keluarganya. Maka, imam seperti apa aku ini? Aku...aku melupakan semua itu. Aku melupakannya seiring dengan rumah tanggaku yang indah, dan pekerjaanku yang bagus. Tapi justru itu, aku sangat bodoh. Kebodohan yang amat sangat keterlaluan, melupakan-Nya.

“INI POLISI !” seru seseorang dengan lantang sembari mendobrak pintu.

Kau sedikit tersenyum.

“Sepertinya kalian ingin anak ini mati ya!” tantangmu pada rekan-rekanku yang tengah menodongkan pisau ke arahmu. Rekan-rekanku terdiam tidak bergerak sama terpojoknya sepertiku.

“Hey, istriku memintaku untuk memutuskan rantai kejahatanmu,” ucapku pelan.

“Apa?”

Aku meninju perutnya dengan sangat kuat. Ia pun terpental sampai beberapa meter hingga menabrak dinding. Rekanku cepat-cepat meringkus kedua tangan dan memborgolnya.

“IRFAAAAAN!!!” teriak seorang rekanku.

Aku hanya tertawa kecil.

“Maaf, maaf,” kataku.

Akhirnya rantai kejahatannya terputus. Tapi ada satu rantai yang justru ingin aku sambungkan lagi. Itu adalah rantaiku dengan-Mu. Sudah berapa kali Kau selalu menyelamatkanku dari misi berbahaya. Kau pun menyelamatkan Gina dari peristiwa hari selasa. Tentunya itu adalah kesempatan dari-Mu. Kesempatanku untuk menggenggam tangan Gina dalam membina rumah tangga atas ridho-Mu. Dan juga kesempatanku merangkul rekan-rekanku untuk menjalani misi-misi selanjutnya atas izin-Mu.

***

Yuk, Jadi ORANGTUA ASUH (OTA) Santri Penghafal Qur'an Askar Kauny! Donasi Rp 150.000,-/bulan. Dapat Majalah Ummi (free ongkir)

Transfer ke Bank Muamalat 335-000-9175 a.n. Yayasan Askar Kauny

Konfirmasi ke 0813 8054 4843 : OTA#Nama#AlamatLengkap#Telp#jumlahtransfer#TanggalTransfer#JamTransfer

Tags:
loading...