Rapuh

Fashion-Styles-for-Girls-Online

rapuh.gif

Penulis : Ade Oktiviyari

Terkadang, Re tidak mengerti. Pada siapakah ia harus merasa marah?  Pada ayahnya? Ah, Re tidak pernah berjumpa dengannya setelah seorang wanita dengan busana berbelahan dada rendah datang dan merenggut ayahnya dari sisi mereka. 
 Ibu? Memangnya apakah itu masih dapat dikatakan, setelah perempuan itu menjual adiknya Anez dengan harga murah kepada Mami yang membuka "warung" di depan, hanya agar ia dapat meneruskan kontrak rumah kecil mereka?
 Tuhan?
 Entahlah, untuk yang satu ini Re gamang. Ia tidak mempercayaiNya. Dan memutuskan untuk menyalahkan sesuatu yang tidak dia percayai adalah suatu hal yang aneh, absurd.
 Ataukah ia harus menyalahkan sesuatu di luar sana yang membuatnya tidak percaya akan Tuhan?
 Hingga Re menenggelamkan dirinya dalam Karl Marx, ia masih tidak mengerti.


***


 "Kenapa harus Karl Marx, Re?" Ian tidak habis pikir.
 "Ia luar biasa, pemikirannya..." Dengan menggebu-gebu Re menjelaskan. Membuat Ian dan teman di sampingnya hanya dapat saling menatap.
 Aku semakin tak mengenalmu, Re...
 "Tidak ada Karl Marx, Re." tegas Ian. "Kita bukannya sok alim. Tapi Karl Marx, berarti masalah. Dan untukmu Re, kuanjurkan menjauhi masalah. Masalahmu sudah terlampau banyak kan?"
 Kau tidak mengerti kan? Aku hanya tahu Karl Marx. Tapi aku lebih mengenalnya daripada Tuhan.
 Hampa, Re mengangkat bahu. Hilang dalam keramaian kampus yang kian memadat. Hilir mudik persoalan politik dan situasi ekonomi dunia di ruang 13 kampus masih terdengar. Kian panas.


***

Tuhan, mengapa Engkau menjadikan dirimu sulit kumengerti? >Kau memang tidak akan mengerti, Re, sisi hatinya yang lain berbisik.
 Tuhan, mengapa Kau tidak menjadikan segalanya mudah?
 >Bukankah segalanya masih mudah, Re?
 Tidak, jika ini masih mudah, aku tidak akan kehilangan segala kewarasanku.

 Hari ini Re gelisah. Tumpukan surat-surat berkop resmi di mejanya tidak ia acuhkan. Bullshit! Gila! Semua gila! Lalu apa yang tinggal untuk ia cicipi? Rasa tawar dan pahit?
 Ia hanya tahu, Tuhan merenggut semuanya dari dirinya, untuk memperoloknya.
 Kalau seperti ini, Kau senang melihatNya, Tuhan?
 Direnggutnya sebuah kitab suci berlapis debu yang telah lama menjadi ornament indah penghias meja belajarnya. Hanya satu renggutan, lembaran-lembaran itu telah berserakan di lantai. 
 Inikah yang Kau inginkan, Tuhan? Agar aku berlari pada setan?
 Re menggerung, putus asa. Dulu semua tak seperti ini, saat ayahnya masih bekerja, masih seperti seorang ayah. Rumah mereka mewah, makanan mereka lengkap, hingga tumpukan utang menenggelamkan semuanya. Bahkan keluarganya.

 Re merasa bukan laki-laki. Ia hidup dari keringat adiknya yang menempel di lipatan baju laki-laki bajingan di luar sana. Ia menginsyafi dirinya yang tidak mampu menemukan pekerjaan apapun. Tapi ibunya? Malah menjual adiknya dan berlalu bersama desau angin. Meninggalkan Re disergap kesunyian di kontrakan berkamar dua yang dibayar dengan pengorbanan Anez, lagi-lagi Anez. Gaya hidup mengakrabi kartu kredit selama belasan tahun rupanya sulit diubah.

 Pernah ia memukul ayahnya, saat beliau sering pulang malam dengan baju berbau minuman keras. Lalu apa? Hanya air mata Anez yang tinggal saat ia mengelap memar dan biru-biru di sekujur tubuh Re. Padahal hanya satu tinju yang nyaris tidak ada rasanya di pipi ayahnya yang tebal, tapi Re terlalu kerdil untuk melawan. Apalagi untuk menghajar laki-laki yang menggandeng adiknya, yang tiap hari nyaris selalu berganti.
 Re semakin menggerung saat suara mobil berderu di luar. Adiknya tergadai lagi. Tuhan? Masih diam.


***

"Bolehkah aku membunuh Tuhan, Ian?" Ian menatapnya tajam.
 "Kau baca Nietszhe?"
 Re menggeleng malas. "Kau tahu, aku hanya membaca Karl Marx. Selebihnya, nothing."
 "Idemu sama idiotnya seperti dia."
 "Terserah. Setidaknya aku belum berkata, Kutempelkan jariku pada eksistensiku, seperti apa bentuknya? Baunya? Mengapa aku ada di sini? Mengapa tidak dibicarakan denganku dulu?"
 Sedikit teh di mulut Ian tersembur keluar
 "Kau juga baca Kierkegaard? Kusangka kamu belajar tentang komunisme. Sejak kapan kau mau jadi filsuf?"
 "Sudahlah, An. Kau tahu aku tidak membaca apapun selain Karl Marx."
 "Oke, lagi-lagi kebetulan yang menyenangkan. Nah, jadi apa yang kau baca?"
 "Manifest der Kommunistischen Partei dan Achtzehnte Brumaire."
 "Edisi terjemahan?" 
Saat Re menggeleng, wajah Ian membeku. 
"Jika kau punya waktu untuk membaca dan menerjemahkan buku-buku itu, kenapa kamu tidak sisihkan waktumu untuk kuliah? Hidupmu benar-benar sampah, Re."
 "Terserah. Setidaknya aku tidak minum, mencandu narkotika, dan free sex. Aku masih manusia, An!"
 Ian hanya menatapnya tidak percaya. "Kalau begitu, pikirkan saja cara agar kau tidak DO, Idiot."
 Re hanya menatap ujung kemeja Ian yang melambai-lambai. Ia tidak tahu, apalagi yang harus dipikirkan. Mungkin ia baru saja kehilangan teman satu-satunya.
 Re menghapus Ian dari benaknya. Biarlah.
Ia tidak cinta komunisme, tapi komunisme memihaknya.

 Untuk apa ia kuliah? Otaknya hanya menjadi bubur saat dihadapkan dengan teori-teori kapitalisme itu. Seharusnya dulu aku kuliah teknik, pikir Re. Berhadapan dengan mesin jauh lebih baik dari berhadapan dengan tumpukan kertas sampah aneka warna yang sebenarnya tidak berharga itu. Hanya berharga dengan sedikit gambar dan tanda tangan, pikir Re. Sekarang aku terperangkap!


***

rapuh.gif

Rumahnya sepi ketika ia melangkah masuk. Apa lagi yang bisa dia harapkan? Gamang Re melangkah. Waktu pulang bukan waktu yang ia senangi, tapi ia bisa apa? Kampus yang tidak ramah itu selalu menatapnya sinis tiap satu tapak kakinya menjejak di marmer. Perpustakaan terlalu dingin dan beku. Kantin terlalu hiruk piruk dan melempar jiwanya semakin jauh ke dalam jurang keputusasaan dan umpatan pada Tuhan.
 Mengapa manusia-manusia itu tidak Kau ciptakan untuk peduli? Peduli pada sesosok terasing yang tidak makan dan minum apapun di sudut. Tidak merokok, dan tidak bicara. 
 Dia masuk ke kamarnya. Tertegun di pintu masuk.
 Baju-baju yang berserakan di lantai, darah di seprai, dan Anez meringkuk di pojok kamar.
 Jahanam! Beraninya dia membawa bajingan-bajingan itu ke rumah!
 Ke kamarku lagi.
 Tapi Re tidak sempat mengamuk. Mata Anez yang tertutup rapat dan darah yang terus mengalir dari tubuh bawahnya, segera memberi Re alarm untuk bertindak. Anez butuh pertolongan medis, secepatnya.

 Re segera membopong tubuh adiknya keluar kamar. Dipakaikannya pakaian seadanya ke tubuh Anez. Ia harus mencapai rumah sakit, sebelum malaikat maut mencapai adiknya. Tak dipedulikannya para tetangga yang berbisik ketika ia membopong Anez dan menyetop taksi yang lewat. Bagi mereka, keluarganya hanyalah bahan pergunjingan, padahal di daerah lokalisasi ini, semua orang sama busuk dan munafiknya.
 Tuhan, jika kau mengambil dia, aku tak akan memaafkanMu!


***

Waktu serasa tusukan paku bagi Re. Tiap detik, tiap menit ia berharap. Dalam keheningan pemikirannya, ia terus berpikir.
 Mengapa Anez?
Tidak cukupkah miliknya yang telah diambil?
 Ibu yang tidak pernah ada di rumah. Entah seperti apa ia di luar sana.
 Ayah yang menjejalkan segumpal besar duka ke tenggorokannya.
 Jiwa Anez yang selalu pergi, tiap satu tangan besar mengoyak-ngoyak dirinya.
 Dan sekarang Tuhan, Kau masih inginkan nyawanya?

 Re mondar mandir tak tentu arah. Para petugas medis yang melewatinya hanya melirik sesaat, seolah melihat seorang gila yang tidak seharusnya disana, lalu bergegas pergi. Tidak usah peduli! Teruslah berwajah lilin seperti itu, maki Re. Sekarang ia nyaris hampa tertelan ketegangan, tapi benaknya masih memaki.
 Sekarang, apa? Sampai kapan ia harus menunggu?
 Satu sosok berbaju putih keluar dari ruangan. Ia menatap Re. Wajahnya sepucat tembok rumah sakit.
 "Berdoalah..."
 Berdoa? Untuk apa? Bukankah aku tidak percaya Tuhan?
 Benarkah, Re? Lalu, siapa yang kamu maki setiap hari?
Siapa? Batin Re berulang-ulang. Siapa?
Sekejap, kesadaran menghantamnya. Jika ia tidak percaya Tuhan, mengapa ia sibuk memakinya?
 Dalam gamang, seseorang melewatinya. Berhenti dan memegang pundaknya.
 "Jangan cemas, berdoalah..." Lalu berlalu.
 Re bahkan tidak sempat melihat wajah orang itu. Hilang seperti debu tertimpa tetesan hujan.
 Re merasa akan gila. Secepat kilat, ia berlari. Menerobos tiap pintu. Hingga ke tepi jalan. Suara azan terdengar. Panggilan untuk shalat. Untuk berdoa.
 Ia berlari lagi, menutup telinga rapat-rapat.
 Saat matanya menatap ke langit, sebuah papan iklan besar menghalangi pandangannya. Gambar anak kecil menangkupkan tangan, matanya terpejam. Ia berdoa.
 Dengan panik, Re lari. Ia lari semakin jauh. Tapi segalanya seolah menjelma menjadi suatu doa. Tangan-tangan yang berdoa, suara doa, tulisan doa...Re terus memaki-maki dalam hati.
 Tuhan hanya obat bius yang membuat manusia tertawa di saat susah. Wajah Karl Marx melingkar di benak Re.
 Tuhan sudah mati.
 Tuhan... damned!
 Re bersimbah peluh. Ia masih ingin berlari. Menjauh dari setan-setan gila yang menandak-nandak. Berlari dari ketidaksadarannya. Berlari dari... Tuhan. 
Benak Re penat. Rangkaian neuron di kepalanya mencoba melingkar. Kembali mencari satu tujuan, satu fakta. Mencoba kembali rasional. Satu titik, yang paling berharga dalam hidup... adiknya.
 Anez? Re mengingat akan apa yang ia tinggalkan. Sudah berapa lama ia meninggalkan Anez? 
Apa yang telah kulakukan?
 Re berbalik. Ia harus berpacu dengan waktu. Kembali ke sisi Anez. 
 >Siapa yang bisa menahan Anez jika Tuhan ingin mengambilnya?
 Entahlah...Tapi, jangan!
 >Maka berdoalah, Re.
 Sunyi kembali hadir. Kali ini tanpa kompromi.
 Dan Re berdoa.
 "Tuhan, sejahat apapun Kau, jangan ambil Anez-ku. Atau aku akan marah." Re berhenti, merasa sesuatu kurang dalam doanya.
 "Aku mohon, Tuhan..."
 Darussalam, 28 Desember 2008, 1:06 AM waktu rumah Ade. 
Dalam sunyinya malam, Tuhan melihat.

Yuk, Jadi ORANGTUA ASUH (OTA) Santri Penghafal Qur'an Askar Kauny! Donasi Rp 150.000,-/bulan. Dapat Majalah Ummi (free ongkir)

Transfer ke Bank Muamalat 335-000-9175 a.n. Yayasan Askar Kauny

Konfirmasi ke 0813 8054 4843 : OTA#Nama#AlamatLengkap#Telp#jumlahtransfer#TanggalTransfer#JamTransfer

Tags:
loading...