Ratu Gosip

Fashion-Styles-for-Girls-Online

Penulis: Arif Yuliani


Nah, ini dia acara yang aku suka. Gosiptainment! Kupencet remote teve untuk memperbesar volume. Wah, gosipnya seru sekali! Si artis ini sedang begini, begitu…

“Udah sholat belum, Vir?”

Aku tak mengacuhkan Kak Bayu yang baru pulang dari shalat berjamaah di masjid.

 

“Belom,” aku menyahut pendek.

Kak Bayu menghentikan langkahnya. Tanpa dapat kucegah, tangannya memencet tombol power teve. Seketika teve mati.

“Yee! Kakak rese amat sih!” aku berteriak, meradang.

“Lebih penting mana gosip sama sholat? Lihat, tuh, jam berapa?”

“Iya, sebentar. Ntar juga sholat!” Aku menyalakan teve lagi dengan cemberut. Nggak bisa banget sih ngelihat orang seneng! Aku ngedumel sendiri.

Selesai acara gossip, akan ada acara lagi yang tak kalah menarik, acara itu mengupas kehidupan selebritis lebih dalam dengan tambahan komentar dari sana-sini. Pasti tambah seru!

Aku buru-buru shalat zuhur setelah melihat ke jam dinding yang menunjuk pukul dua lewat. Habis shalat, yang tidak sampai lima menit, aku nongkrong lagi di depan teve. Sayang kalau acaranya dilewatkan.

Tahu nggak, di sekolah aku selalu dikerubuti temen-temenku yang ingin mendengarkan ceritaku. Nggak nyombong nih, aku kan terkenal di sekolah, sebutanku saja Ratu Gosip. Buatku sih julukan itu nggak masalah. Kan sekarang banyak tuh acara gosip-menggosip di teve. Bahkan artis-artis malah suka digosipin. Pendongkrak popularitas katanya. Mana penyiarnya cakep-cakep lagi. Hmm…aku jadi pengin! Aku bermimpi seandainya saja aku jadi mereka.

 ***

Seperti biasa, dengan lagak sok tahu aku mulai bercerita tentang apa saja yang aku lihat dan aku dengar. Selain menggosipi selebritis, hari ini aku juga punya cerita lain yang tak kalah menarik buat disimak. Tentang tetanggaku yang ditinggalkan suaminya.

“Emang kenapa sampe ditinggalin?” tanya Tika ingin tahu karena tertarik dengan ceritaku. Kalau aku lagi cerita, kata teman-teman aku mirip penyiar infotainment. Asyik abis!

“Kabarnya nih, istrinya suka selingkuh sama banyak laki-laki. Gimana nggak ditinggalin, istrinya ngga bener gitu. Mendingan cari yang lain, yang lebih baik, lebih setia, lebih cantik. Iya, kan?”

Teman-temanku manggut-manggut setuju.

“Emang nama tetanggamu siapa?” tanya Arlia.

“Piyem.”

“Piyem? Kampungan amat!”

“Eh, jangan dilihat namanya. Nama boleh kampungan tapi ngga berarti dia itu lugu. Lihat aja kelakuannya.”

“Bener. Wanita begitu buat apa dipertahanin.”

Aku senang karena teman-temanku terpengaruh dengan ceritaku. Berarti aku punya bakat jadi pembawa acara infotainment dong!

“Anaknya kan sekolah di sini juga.”

“Siapa? Yang mana?” kejar Resty penasaran.

“Itu si Ita, yang jalannya pincang begini,” kataku sambil menirukan cara jalannya, membuat teman-temanku tertawa terbahak-bahak karena lucu.

“Itu yang anak sebelah?”

Aku mengangguk meyakinkan.

“Mungkin itu karma, karena ibunya sering selingkuh,” tambah Tatya.

“Emang karma itu ada?” tanya Silvi.

“Ada. Siapa bilang ngga ada?” kata Erlita.

“Berarti tetanggaku kena karma juga kali ya. Bapak ibunya kan tukang ngutil, kadang ngemis, mintanya maksa lagi, trus anaknya yang jumlahnya enam gila semua!” kata Silvi.

“Masak gila semua?”

“Temenku juga ada yang begini begitu...”

Cerita-cerita mengalir kian seru. Baru ketika lonceng berbunyi semuanya bubar. Aku melirik sekilas ke arah Ita yang lewat di depan kelas. Sorry ya, Ta. Hari ini kamu yang jadi episodenya. Besok siapa lagi ya yang akan aku gosipin?

***

Keesokannya, aku sudah menyiapkan berita terheboh. Aku pastikan teman-temanku nggak akan percaya mendengar ceritaku tapi aku yang akan membuat mereka yakin. Tunggu dulu! Ada yang aneh hari ini. Mereka, sahabat-sahabatku dan teman-temanku yang lain, tak biasanya acuh tak acuh terhadapku. Apa yang terjadi? tanyaku dalam hati.

“Ada apa sih sebenarnya? Sepertinya kalian menghindariku,” tanyaku pada sahabat-sahabatku yang berkumpul di kantin. Mereka, Tatya, Silvi, dan Tika saling lirik dan saling sikut.

“E….ngga apa-apa kok, Vir. Perasaan lo aja kali,” kata Silvi tergagap.

“Ngga mungkin ngga ada apa-apa. Pasti kalian menyembunyikan sesuatu.”

“E..enggak kok. Eh, kita udah selesai nih. Kita ke kelas duluan ya,” Silvi buru-buru menarik tangan Tika dan Tatya menjauhiku, sepertinya aku ini pembawa penyakit yang mematikan.

Pulang sekolah aku mampir ke rumah Tika. Aku harus tahu apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa mereka menghindariku seperti itu.

Tika terlihat kaget mendapatiku sudah menungguinya di depan teras rumahnya. Aku mencegahnya yang hendak buru-buru masuk ke dalam.

“Tik, pliis deh,  apa yang sebenarnya terjadi, kenapa kalian menjauhiku?”

“Nggak ada apa-apa, kok, Vir,” kata Tika masih tak mau mengakui.

“Aku nggak percaya kalo ngga ada apa-apa. Ayolah, Tik, ceritakanlah padaku. Bukannya kita sahabat?”

Tika memandangiku sejenak lalu menunduk.

“Baiklah, aku mau cerita. Tapi, kamu jangan marah ya.”

“Oke. Aku nggak akan marah,” kataku berjanji.

“Ada berita yang mengabarkan bahwa kamu….kamu….mencuri di sebuah swalayan beberapa hari lalu,” kata Tika terbata.

“Apa?!” Bagai disambar petir di siang bolong aku mendengarnya.

“Siapa yang bilang?” tanyaku lagi.

“Kami ngga tahu. Berita itu tersebar begitu aja. Sebenarnya kami juga ngga ingin percaya, tapi berita itu makin hari makin santer terdengar. Dan kami tidak mau mempunyai teman seorang….pencuri!”

Darahku mendidih mendengar penuturannya.

“Itu fitnah! Kamu jangan percaya dengan gosip itu!” suaraku melengking. Aku sudah tak bisa menahan diri lagi untuk tidak marah.

“Maaf, Vir, aku harus masuk.” Tika masuk tanpa mempedulikanku yang histeris dengan berita itu.

Sungguh, tak ada keadaan yang lebih menyiksaku dari keadaan sekarang ini. Semua teman menjauhiku. Jangankan mau bicara, bertemu denganku pun mereka membuang muka atau menyingkir. Malah, ada yang berani terang-terangan menuliskan dengan jelas di tempat pengumuman.

 

VIRLIA NUGRAHENI SEORANG PENCURI! JAUHI DIA ATAU KALIAN AKAN KEHILANGAN SEMUA BARANG-BARANG KALIAN! HATI-HATI DENGANNYA!

 

Aku hanya bisa bersedih dengan keadaanku.

***

Aku menelungkupkan mukaku ke atas bantal. Aku enggan masuk sekolah sejak peristiwa itu.

“Ada masalah apa, Vir? Kenapa kamu tidak mau sekolah?” tanya Kak Bayu pelan. “Mungkin  Kakak bisa membantu.”

Kemudian aku mulai bercerita pada Kak Bayu tentang yang aku alami di sekolah. Kak Bayu mendengarkan ceritaku dengan seksama. Tak terasa air mataku kembali mengalir mengingat peristiwa kemarin.

“Tega sekali mereka melakukan itu sama aku.” Aku menyelesaikan curhatku.

“Bersabarlah, Vir. Berdoalah pada-Nya. Waktu yang akan membuktikan bahwa tuduhan itu tidak benar. Ya, sudah, kakak berangkat kerja dulu. Hati-hati di rumah.” Kak Bayu mengelus rambutku sebelum pergi.

Aku menghela napas menumpahkan kegalauanku yang masih tersisa. Aku turun dari ranjang untuk mematikan televisi yang sedang menyiarkan ceramah agama dan sedari tadi menyala tapi tak ada yang menonton.

Gosip itu termasuk ghibah. Orang yang suka berghibah seperti memakan bangkai saudara sendiri. Percuma kita sholat, puasa, zakat dan beramal soleh kalau tak bisa menjaga lidah kita karena di akhirat kelak tak akan ada gunanya. Itu termasuk dosa yang sangat besar di sisi Allah!

Deg! Jantungku serasa ditonjok. Ceramah itu seperti menyindirku. Aku terpaku di depan televisi. Tiba-tiba air mataku mengalir lagi. Teringat semua yang aku lakukan selama ini. Mungkin saat ini apa yang sedang menimpaku adalah hasil perbuatanku sendiri. Bukankah aku juga melakukan hal yang sama terhadap beberapa orang yang kukenal. Menjadikan mereka sebagai bahan gosip agar aku jadi pusat perhatian. Lidahku menjadi sangat lincah dan tajam jika sudah menyangkut gosip orang lain. Tiba-tiba aku menyesali sikapku selama ini. Ada yang pernah menangis berhari-hari karena malu dan akhirnya pindah sekolah, bahkan ada yang pernah dikeluarkan dengan tidak terhormat dari sekolah karena gosip yang aku buat dengan tidak sengaja. Tapi aku takut untuk mengakuinya.

Ya Allah, betapa jahatnya aku selama ini. Ini baru segini, belum seberapa, bagaimana di akhirat kelak, Vir, tegur nuraniku. Makanya jangan suka menonton acara gosip, udah nggak ada gunanya malah bikin dosa! suara-suara lain menyudutkanku, diiringi penyesalan yang mendalam. Rabbi, ampuni aku, bimbing aku. Jauhkan aku dari perkataan yang tak bermanfaat dan menggunjing orang. Hanya Kau tempat aku memohon. Maafkan dan ampuni aku!

 

 

 

Yuk, Jadi ORANGTUA ASUH (OTA) Santri Penghafal Qur'an Askar Kauny! Donasi Rp 150.000,-/bulan. Dapat Majalah Ummi (free ongkir)

Transfer ke Bank Muamalat 335-000-9175 a.n. Yayasan Askar Kauny

Konfirmasi ke 0813 8054 4843 : OTA#Nama#AlamatLengkap#Telp#jumlahtransfer#TanggalTransfer#JamTransfer

Tags:
loading...