Rentetan Tembakan

Fashion-Styles-for-Girls-Online

Penulis: Akbar Kasmiati 

 

Suara rentetan tembakan yang terdengar keras itu membangunkanku dari tidur siangku. Seperti ada pertempuran yang terjadi di dalam rumah. Aku menuju ke ruang tengah . Di sana, cucuku biasa bermain game counter strike. Ketika sampai, komputer itu tetap membisu. Baru kuingat, jam segitu cucuku belum datang dari kampus. Mungkin saja rentetan tembakan ini dari area pelatihan tempur dekat kompleks perumahanku. Tapi suaranya seperti sangat dekat. Aku kembali tidur.

Ketika gelap malam menyusup ke ventilasi kamar, aku baru terbangun. Rentetan tembakan itu masih terdengar namun tak sekeras tadi siang. Tidak biasanya para tentara itu latihan hingga malam.

Suara rentetan tembakan itu terdengar sayup namun begitu menganggu. Kunyalakan radio. Berita tentang korupsi menghambur dari sana. Uh, korupsi lagi. Jika aku jadi pemerintah, kubiarkan saja. Negara ini tak akan berjalan tanpa korupsi. Tapi suara radio tak mampu mengalahkan suara rentetan tembakan itu. Kunyalakan tv. Suara radio dan tv bertabrakan. Berita malam kembali mengabarkan pejabat yang kawin siri. Tak usah diributkan, kita semua jangan munafik. Tukang becak pun bila diberi kesempatan kawin siri dengan janda muda tak akan menolak. Tapi suara rentetan tembakan itu masih terdengar sayup.

Security kompleks telah memukul tiang listrik dua kali, tentara itu masih saja memuntahkan peluru. Apakah mereka tak lelah? Ataukah mereka sudah betul-betul tak memperhitungkan bahwa peluru yang mereka hamburkan itu dari uang rakyat? Jika aku masuk menegur mereka, apakah mereka akan berhenti? Bisa jadi mereka hanya akan berkata: seperti bapak tak pernah jadi prajurit saja. Jujur, itulah yang paling kusenangi dulu: menenteng senjata, apalagi menembakkannya. Aku bisa melihat pancaran ketakutan dari mata warga sipil. Mereka harus takut pada kami. Menegur pun mereka harus terima akibatnya.

Seperti yang pernah dialami seorang warga bernama Sunre. Ia menegur anakku yang ugal-ugalan mengendarai motor hingga menyerempet seorang bocah yang sedang belajar bersepeda. Bocah itu jatuh, kepalanya berdarah. Anakku yang tersinggung melapor kepadaku. Aku datang ke rumah Sunre dan pada waktu itu ia sedang makan. Kuseret ia keluar dari rumah. Nasi berceceran di lantai. Istrinya berteriak histeris. Anak-anaknya menjerit menangis.

Aku memberikan tontonan gratis pada warga. Mereka tak bisa berbuat apa-apa. Kuhajar terus Sunre hingga rahangnya bergeser dan tulang hidungnya retak. Tak cukup dengan itu, aku masuk ke rumahnya dan membanting alat-alat elektroniknya. Kaca jendelanya kupecahkan. Kutarik keluar kursi tamunya dan kubakar di teras rumah.

Keesokan harinya warga datang berdemo di kantorku. Aku yakin mereka berani bergerak karena diprovokasi LSM. Komandanku berkata: aku turut prihatin dengan peristiwa ini. Seluruh biaya pengobatan, perawatan dan kerusakan akan ditanggung. Oknum tentara akan kami proses dan bila terbukti melakukan pelanggaran berat akan dipecat. Tapi aku tak pernah ditindak tegas apalagi dipecat. Aku hanya dipindah tugaskan-berpindah tempat tidur-di daerah lain.

Saat terbangun keesokan paginya, suara rentetan tembakan itu masih terdengar. Cucuku pun baru datang.

“Maaf kek, saya harus menginap di rumah teman untuk menyelesaikan tugas kuliah.”

”Tidak apa-apa. Apakah kamu mendengar suara rentetan tembakan?” tanyaku dengan mata panas karena terus terjaga semalaman.

Cucuku menggelengkan kepalanya.

Aku keluar rumah dan bertanya pada tukang bubur, ia tidak mendengarnya. Setiap orang yang kutemui di jalan dalam perumahan, mereka juga tak mendengarnya.

Aku menuju ke dinding beton pembatas perumahan dengan area latihan militer. Kutempelkan telingaku pada dinding itu. Aku masih merasa tak yakin dengan pendengaranku. Kutempelkan kembali telingaku, hingga sepuluh kali di beberapa bagian dinding itu, tetap saja sepi yang terdengar.

Pagi ini, kopi yang biasanya nikmat, kurasakan seperti minum air putih saja. Rentetan tembakan itu seperti merayap pada seluruh syaraf di otakku dan menyeret kenanganku ke berbagai arah: pada tangis bayi di pengungsian perang, pada tangisan perempuan yang suami dan anaknya dibantai, pada tubuh berlumur darah yang sekarat menggelepar seperti binatang yang sudah disembelih.

Aku masih belum percaya perkataan komandan yang ada di area latihan tembak itu. Melalui telepon, ia berkata sudah tiga bulan tak ada latihan menembak. Memang tentara muda itu tak menghargai seniornya.

Hingga tengah hari rentetan tembakan itu masih terdengar. Siapa gerangan orang yang tak lagi memiliki pekerjaan selain terus memuntahkan peluru dari senjatanya. Mungkin orang itu seperti aku ketika pertamakali memegang senjata otomatis. Aku seperti selalu ingin menembakkannya. Dan saat beroperasi di daerah konflik dan menemukan markas milisi bersenjata, kuberondong mereka sambil tertawa terbahak-bahak. Aku baru berhenti ketika dua tubuh milisi itu hancur. Saat itu aku membayangkan diriku sebagai anak kecil yang baru menggunakan pistol air.

Senja telah mengental di luar rumah, rentetan tembakan itu kian brutal. Mungkin telah ratusan peluru yang menghambur ke tanah. Mungkinkah ia menggunakan AK 47? Memang senjata buatan Rusia itu begitu hebat. Aku begitu menyukainya. Selalu kugunakan menghabisi nyawa para pengkhianat. Seperti pada serbuanku pada tengah malam buta di sebuah kampung. Pasukanku menggeledah beberapa rumah yang dianggap menyembunyikan mata-mata musuh. Kami tak menemukan tapi harus ada yang menjadi tumbal. Harus ada pesan berdarah untuk para pengkhianat bahwa kami tak menyerah. Lima orang warga yang tak tahu apa-apa kuseret seperti sapi yang hendak disembelih. Tratatat...tatat, mereka mengapung di atas darah.

Apakah hanya luapan amarah yang membuat orang itu terus menembak? Atau arogansinya karena memegang senjata? Senjata adalah segalanya. Tampaknya tentara hanya serombongan bocah. Karena itulah tiap kali beroperasi di daerah konflik, betapa sepertinya aku algojo yang siap membantai para pemberontak. Secuil saja isu tentang pengkhianat di kalangan warga, kuluapkan amarahku dengan rentetan tembakan. Persetan dengan standar operasional pelaksanaan.

Nanar kutatap telepon genggam yang telah terburai itu. Hanya dengan begitu bisa kulampiaskan amarahku. Memang sejak aku pensiun, putra keduaku itu menganggapku tak ubahnya seonggok kotoran hewan padahal akulah yang membuatnya bisa menjadi ketua partai saat ini. Bukannya peduli malah ia menyuruhku ke dukun.

Dalam kondisi seperti ini, aku begitu merindukan istriku. Betapa telatennya ia meniupkan angin kesabaran ke dalam diriku saat dua putraku membuat amarahku memerah. Mereka hanya terus menghamburkan uang yang dengan susah payah kukumpulkan. Mereka seperti anjing dan kucing. Saat SMA, jika mereka berkelahi, mereka saling kejar-kejaran dengan golok. Setahun lalu, karena masalah perebutan perempuan, mereka bertengkar lagi. Memang perempuan itu sangat cantik. Anak seorang menteri dan pemenang sebuah kontes kecantikan. Awalnya perempuan itu adalah pacar putra keduaku. Ketika ia membawanya ke rumah, putra pertamaku juga jatuh cinta.

Ketika mereka bertengkar, putra pertamaku melepaskan peluru tajam ke arah putra keduaku tapi meleset dan malah menembus jantung istriku. Beruntung saat itu hanya keluarga inti yang ada di rumah sehingga penyebab kematian itu bisa disembunyikan.

Suara rentetan tembakan yang bercampur dengan dengung pendingin ruangan dan kulkas bagai dengung nyamuk di telinga. Pasti orang itu begitu keras kepala. Mungkin semua orang telah menegurnya tapi ia tetap menembak, menembak dan terus menembak. Seperti tak ada lagi yang lebih penting ketimbang menghamburkan peluru. Harus ada yang menghentikannya. Kutelpon rekanku yang sekarang berbisnis senjata. Kuyakin ia punya banyak jaringan atau teman yang bisa menembak mati orang yang terus menembak itu. Tapi ia tak bisa juga membantu malah menawariku pistol spesifikasi terbaru. Buat apa pistol, aku butuh ketenangan dan suara rentetan tembakan itu telah mengobrak-abriknya.

Masih ada satu orang yang kuyakin bisa  dengan mudah menembak batok kepala orang yang terus menembak itu. Dahulu ia adalah anak buahku ketika bertugas menghabisi orang-orang yang merencanakan makar di sebuah wilayah. Saat ini ia menjabat sebagai Menteri Pertahanan dan Keamanan. Namun bukannya bantuan yang kudapatkan malah tawaran jabatan menjadi staf ahlinya.

Memang mudah menjadi staf ahli tapi aku yakin kerjaku akan lebih dari itu. Pasti ia memintaku mengawasi gerak gerik mantan jendral yang berpolitik praktis. Ia khawatir salah satu diantara mereka berkhianat. Mereka harus tetap di bawah kontrol untuk memudahkannya mencalonkan diri jadi presiden. Menurutnya aku sangat cocok dengan pekerjaan itu sebab aku bukan saja ahli taktik tapi juga mahir menggerakkan orang untuk mengeksekusinya. Namun aku tak butuh jabatan tapi ketenangan.

Suara rentetan tembakan itu seperti sudah mengacaukan syaraf-syaraf otakku. Sudah dua hari dua malam aku tidak tidur. Cucuku juga seperti ikut-ikutan gila karena terus mendengar umpatanku.

Pada hari ketujuh, rentetan tembakan itu semakin keji saja. Meski di televisi yang bicara adalah para penyiar berita namun yang kudengar adalah rentetan tembakan. Dari radio pun hanya rentetan tembakan yang terdengar. Kudengar suara rentetan tembakan mengalir dari kran air, dari teriakan penjual sayur, dari suara kendaraan di depan rumah, dari dengung lemari es. Anakku yang menyangka aku telah gila mendatangkan beberapa dokter. Bahkan ada yang dari singapura dengan biaya ratusan juta. Tapi mereka semua berkata bahwa aku baik-baik saja. Bahkan salah satu dari mereka kagum sebab di 70 tahun usiaku, kesehatanku masih prima.

Ketika usiaku masih 68 tahun, aku masih bisa membantu salah seorang temanku untuk menjadi bupati. Kabupaten yang dikuasainya itu memiliki potensi gas alam, yang menurut hasil penilitian, dua tahun lagi sudah bisa ditambang. Tapi lahan untuk gas alam itu dikelola bersama oleh masyarakat. Sedang temanku itu memiliki investor asing untuk menambangnya. Makanya ia mati-matian hendak menguasainya. Akupun membantunya untuk menciptakan konflik dengan mengadu domba masyarakat agar mereka pecah dan bertikai. Dan temanku itu yang muncul sebagai penengah. Dengan begitu ia meraih simpati masyarakat dan celah untuk menguasai lahan gas bumi itu.

Menurut rekomendasi salah seorang dokter, aku lebih baik dibawa rekreasi. Anakku membawaku ke sebuah vila di atas gunung yang ia beli dari hasil pencucian uang. Sepanjang perjalanan, rentetan tembakan itu terus menghantam telingaku. Alangkah hebatnya orang itu, ia mampu memberondongkan berjuta-juta peluru sambil sembunyi. Apakah ia berada di bawah tanah? Mungkinkah ia pemberontak yang telah membangun kota bawah tanah seperti yang sering kudengar saat masih bertugas dulu? Apakah ia membawa tawanannya lalu menggasaknya dengan beratus-ratus peluru?

Aku tiba malam hari. Setengah hari dalan perjalanan ditambah mataku yang tak pernah terpejam mengakibatkan badanku bertambah pegal. Anakku menyuruhku berbaring tapi aku malah berdiri di balkon. Bulan bersinar sempurna: sebuah benda ganjil di tengah langit yang gelap. Dari arah celah bukit, deru ombak bercampur rentetan tembakan mengalun seperti lagu sendu di tengah perang.

Apakah rentetan tembakan itu berasal dari Palestina, Suriah atau Irak. Pasti senjata milik orang itu teramat canggih: sekali menarik pelatuk, puluhan bahkan ratusan peluru meluncur. Mungkin seperti gunung api yang memuntahkan lava dan piroklastik. Bisa jadi itu senjata spesifikasi baru buatan Rusia atau Israel. Senjata hanya mengkekalkan perang. Tapi bumi ini butuh perang agar senjata tak sia-sia dibuat. Dunia butuh perang agar uang bisa berputar.

Selama di vila itu, aku tetap tidak bisa tidur. Kepalaku bagai digantungi bandul ribuan ton.

Pada dinihari, anakku terpaksa memulangkanku karena aku mengamuk. Sesampai di rumah, aku mengambil pistol yang dihadiahkan padaku. Aku memeluknya dan tanpa sadar aku tidur.

Keesokan paginya, aku kembali dibangunkan oleh rentetan tembakan itu. Rentetan tembakan itu semakin beringas dan aku memutuskan untuk menghentikannya saat ini juga. Sudah begitu banyak orang yang dibunuhnya. Sudah begitu banyak darah yang ia alirkan. Sudah begitu banyak tangis yang ia timbulkan.

Aku memasukkan moncong pistol itu ke dalam mulutku.

Selesai. 

 

 

 

 

Penulis lahir di Kab. Pinrang  Prov. Sulawesi Selatan, 30 Oktober 1986. Cerpen dan puisinya pernah dimuat di annida online, horison online dan harian Fajar. Ebook kumpulan cerpen dan puisinya: masjidku terbakar sepi, bisa diunduh di www [.] 4shared [.] com.

Yuk, Jadi ORANGTUA ASUH (OTA) Santri Penghafal Qur'an Askar Kauny! Donasi Rp 150.000,-/bulan. Dapat Majalah Ummi (free ongkir)

Transfer ke Bank Muamalat 335-000-9175 a.n. Yayasan Askar Kauny

Konfirmasi ke 0813 8054 4843 : OTA#Nama#AlamatLengkap#Telp#jumlahtransfer#TanggalTransfer#JamTransfer

Tags:
loading...