RESIKO ORANG CANTIK (DAN JELEK)

Fashion-Styles-for-Girls-Online

 Penulis: Ade mariyati

 

 

 

 


 


 

 



 “Sudah sejam lebih lima belas menit tuh cewek-cewek pasang senyum. Bisa kram itu bibir,” Jeni menggeleng-gelengkan kepala, matanya nggak mau copot dari layar tivi yang menayangkan acara kontes kecantikan mirip ratu sejagat.

“Masa sih?” Sobatnya, Meri, baru saja selesai membersihkan toples dengan memasukkan semua isinya ke dalam mulut. Seperti biasa, dua jomblowati itu sedang menghabiskan malam minggunya dengan nonton tivi bareng semaleman suntuk. Satu-satunya hiburan yang amat sesuai dengan tingkat kesejahteraan mereka. Kelas menengah agak ke bawah dikit.

“Yeee, dibilangin nggak percaya. Perhatiin baik-baik cewek yang berdiri di pojokan sana,” telunjuk Jeni menunjuk ke sudut layar, mata Meri membuntuti. ”Mukanya kelihatan meringis kan, kayak orang lagi sembelit di kamar mandi, kasihan banget sih!” Wajah Jeni menunjukkan keprihatinan yang tidak tulus.

Bisa-bisanya si Jeni aja, pikir Meri dengan mata mendelik ke arahnya. Paling-paling dia cuma sirik sama kecantikan mereka.

“Lo bilang apa tadi?" Meri melonjak kaget, sejak kapan jeni kursus baca pikiran orang sama Cinta Kuya, ya?

“Nggak kok, gue nggak bilang lo sirik," ucap Meri polos.

“Oooh... Jadi itu yang nempel di pikiran lo?” Geram Jeni dengan mata melotot hingga lima senti. ”Jangan sembarangan, ngapain juga gue sirik sama cewek-cewek kecentilan itu!” sembur Jeni. Hujan lokal dari mulutnya menyemprot persis di hidung Meri.

Tapi memang nggak bisa dipungkiri, meski dilipat sampai kecil banget, dibungkus berlapis-lapis, disembunyikan di antara tumpukan perasaan lain di ruangan hatinya yang sempit, hingga dikamuflase pakai kata-kata, faktanya Jeni emang sirik dosis tingkat tinggi dengan orang-orang cantik. Buktinya, dia selalu sinis sama kecantikan seseorang.

Misalnya ini nih...

“Si Miranda itu, menangin lomba cuma gara-gara dia cantik doang!” Ya iyalah, orang lombanya aja pemilihan gadis cover buat majalah “MACAN" aka MAnis dan CANtik.

Atau seperti ini...

“Paling-paling, hidungnya si Sarmila dimancungin pake operasi plastik!” Jelas-jelas Bapaknya Sarmila namanya Sukur Khan, orang India tulen.

”Bisa aja hidungnya emang mirip ibunya, terus biar nggak dikatain, masa iya indo-India hidungnya pesek? Terus dia operasi deh,” prediksi Jeni lagi. Benar-benar fitnah!

Jeni emang nyebelin, tapi dulu nyenengin. Dia cukup percaya diri dan selalu bilang kalau kupingnya yang kelewat lebar adalah ciri khasnya yang terlihat imut, bukan amit amit. Dan kedua buah lubang hidungnya yang super guwede--sampai-sampai kalau dia nggak rajin membersihkannya, orang-orang bisa melihat dengan jelas apa yang nangkring di dalamnya--adalah bukti lancarnya saluran pernapasan hingga jauh dari  penyakit bengek.

Atau dia juga bilang kalau giginya yang kelewat mancung daripada hidungnya itu, adalah pembawa hoki dengan mencontohkan artis-artis yang sukses semacam Nar*i Cag*r, Om*s, Mand*ra, dan sejenisnya. Dua tahi lalat jumbo di kedua pipinya pun ia anggap sebagai pemanis alami bukan buatan. Jeni juga nggak sudi beli krim pemutih untuk kulitnya yang menurutnya hitam manis--meskipun orang-orang sering ngatain Jeni dengan julukan Si Hitam. Itu karena dia saking nggak tau dirinnya. Udah muka item,  Jeni sering banget pakai kerudung item, baju item, rok item, kaos kaki dan sepatu item!

“Warna favorit gue,” kata jeni sambil nyengir kuda. ”Lagian kalo pake warna hitam, justru kulit kita bakal keliatan lebih putih, kan?!” Boro boro. Yang ada tuh gigi mancung lo makin kinclong. Silau, Meeeeen! kata Meri dalam hati.

Intinya, dulu Jeni hepi dan pede-pede aja dengan ciri-ciri fisiknya itu. Motto hidupnya adalah: "I am beautiful no matter what they say," nyanyinya dengan suara yang sama nggak bagusnya dengan mukanya.

***

Semua yang terjadi pada Jeni, tak lain dan tak bukan adalah gara-gara cowok telenovela itu, Armando Mendengus (soalnya hidungnya ngendus-ngendus tiap beberapa detik sekali). Ngaku-ngakunya indo-Venezuela, padahal yang kawin sama orang Venezuela itu adalah nenek nenek nenek dari nenek buyutnya. Jadi, amat sangat jelas bukan kalau nggak ada secuil pun warisan kegantengan yang diturunkan mbah mbah mbah moyangnya itu pada diri Armando Mendengus.

Dan parahnya lagi, si Armando ini mengingkari kenyataan yang terang benderang dengan mengakui kalau dirinya adalah jiplakan pemeran Armando Mendoza dalam telenovela jadul, Bety la PA yang nggak cantik itu lho... Dan perkataan Armando itu benar banget, kalau diliat pakai sedotan dari puncak monas sama orang yang matanya minus 9,5 yang kacamatanya keburu jatoh duluan!

Tapi suatu hari, entah apakah dia baru aja nemuin bahwa ada cermin di dunia ini, lalu ngaca dan  terpaksa menerima kenyataan pahit yang sebenarnya, atau ada alasan lain, ia akhirnya memutuskan untuk memilih pasangan yang sepadan dengannya .Hari itu, Armando menyambangi Jeni ke rumahnya dengan dandanan lengkap. Seikat kembang di tangan, setelan jas dan dasi kupu-kupu, gaya berjalan sebelah kaki digoyang-goyang persis orang kebelet pipis.

“Jeni my beautiful girl...,” ucapnya dramatis (Sekarang namanya berubah jadi Armando Mendusta).

“Mi amor, Jeni, maukah kau menjadi gadisku?” Mohonnya sambil berlutut.

Sebenarnya Jeni bercita-cita memiliki pasangan yang bisa memperbaiki keturunan, tapi apa daya wajah tak sampai. Jeni akhirnya menerima Armando dan kembang yang disodorkan sampai ke lubang hidungnya. Huh, ter-la-lu!

Semua berjalan lancar-lancar aja sampai mereka berdua sepakat untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih serius. Tapi , suatu hari lagi, Armando kembali mendatangi Jeni. Kali ini dengan muka sendu yang dibuat-buat.

“Maafkan aku, Jeni... Sepertinya kita, maksudnya kau, harus menjalani takdir kasih tak sampai...,” ucapnya tetap dramatis.

“Wooot? Maksud lo?" Lengking Jeni tinggi, mulut dan matanya sama sama membelalak.

“Yah, bagaimana lagi...,” lirihnya pasrah. ”Apalah daya bagi seorang lelaki flamboyan seperti aku ini (pasti cerminnya udah pecah) menolak hadirnya seorang gadis yang kelewat jauh cantikannya melebihi dirimu. Maka kita akhiri saja kisah kasih di bawah ini (maksudnya apa coba?)....”

Jeni tiba-tiba diserang bengek, lubang hidungnya yang gede sungguh tidak membantu. Napasnya megap-megap. Emak Jeni segera datang menghampiri, disusul bapaknya, abangnya, kakek nenek, para tetangga dan saudara saudara sekalian yang sedang khusyuk membaca tulisan ini. Armando yang takut tamat riwayat di keroyok massa, buru-buru minggat melarikan diri bersama sepiring roti.

***

Kalau nggak ngeliat pake dua mata sendiri bukan pinjem mata orang katarak, dipelototin lebar-lebar dan nggak ngedip sampai mana tahan, mustahil akan percaya bahwa orang ketiga yang merebut Armando dari Jeni emang cewek cantik beneran, bukan sulap bukan sihir tapi nggak habis pikir. Mau maunya tuh cewek. Timbul kecurigaan kalau cewek itu buta (walaupun nyatanya enggak) atau terlalu sipit sampai merem terus (dan sekali lagi, enggak) atau mungkin disogok (ini lebih nggak mungkin lagi mengingat satu-satunya barang berharga milik Armando adalah motor bututnya). Satu-satunya yang paling mungkin adalah cewek itu terpaksa, diancam macam Siti Nurbaya. Semua orang mengasihani cewek malang itu, kecuali Jeni. Itulah sabab-musabab dan asal muasal dendam tak berkesudahan Jeni pada orang cantik. Tragis, yaaa...

***

“Kata sebagian orang, kecantikan bisa menyelesaikan setengah masalah hidup, ya? Hmmm, tapi gue pikir itu big wrong, salah besart!” Ujar Jeni

“Oh, sahabatku Jeni, akhirnya kamu insyaf juga...,” Meri tersenyum cerah.

“Yang bener tuh, hampir semua masalahnya beres res res res bin tuntas tas tas tas!” Tandas Jeni. Meri manyun.

“Lo inget kan, si Juleha, temen SMU kita yang tiba-tiba pamit dari sekolahan trus cowok-cowok bikin upacara berkabung meratapi kepergiannya. Rupanya dia mutusin untuk menerima aja buku kelulusan nikah dari KUA, yang lebih gampang didapet karena kecakepannya berhasil membuat juragan sandal jepit  di kampung kita kelepar-keleper sampai akhirnya melamar dia. Terakhir gue ketemu, dia cengar-cengir mamerin toko emasnya yang bisa dibawa kemana-mana. Penuh di badannya sampe jalannya miring-miring  keberatan, dan dia lagi nyuruh-nyuruh pembokatnya yang ternyata si Bono, yang udah berijazah SMU,” Jeni merasa pilu.

“Terus ada lagi sepupu gue si Juwita, yang kalo ngasih duit kembalian, selalu aja ngerugiin warung emaknya sendiri karena kekurangpandaiannya dalam berhitung. Saking kurang pandainya, pake kalkulator aja masih sering salah. Kemungkinan besar karena sembari mencet-mencet angka, dia ngaca terus mengagumi kecantikannya. Tapi, begitu gue dan Juwita sama-sama ngelamar kerja di mini market, eh malah dia yang keterima. Rasain tuh mini market, bangkrut bangkrut deh make si Juwi!“ Jeni menceritakan dengan semangat berapi-api.

“Nggak juga ah, banyak kok cewek cakep bernasib malang. Malah justru kecantikannya yang bikin nasibnya berakhir tragis,” sanggah Meri teringat cewek yang digandeng Armando Mendengus.

“Tapi lebih banyak lagi cewek jelek bernasib jelek, malah justru kejelekannya bikin nasibnya makin apes!” Jeni keukeuh.

***

Jeni tengah berada dalam perjalanan pulang ke rumah. Panas yang menyengat di siang bolong menambah gosong muka Jeni. Betisnya berasa semakin membesar bak kaki gajah--setelah jalan kaki lima kilo gara-gara si ontel bannya meletus, kepalanya pusing tujuh keliling. Jeni hampir mutusin untuk pingsan ketika suara hiruk pikuk di depan sana membangunkan kesadarannya. Orang orang berkerumun menonton sesuatu (topeng monyet kah?), tapi kok ada suara teriakan marah-marah terus bak bik buk? Didorong rasa penasaran yang tinggi, Jeni mendekat untuk melihat apa gerangan yang terjadi. Jeni terkesiap kaget, mulutnya menganga melihat adegan di hadapannya.

“Lepasiiin, lepasin gue!” Lengking Juleha sambil meronta-ronta. Dua orang megangin dia, salah satunya si Bono yang mukanya kelihatan sengsara. Juleha kali ini beda banget dari biasanya. Dia kayak singa betina lagi ngamuk; matanya, mukanya yang jadi bengis dan terutama rambutnya. Auman kemarahan dan makian menyebut isi kebun binatang, terlempar dari mulutnya yang ditujukan untuk seorang perempuan yang terduduk tak berdaya di atas jalanan tempat parkiran, dalam kondisi mengenaskan.

Rambut perempuan itu seperti habis kesetrum. Bibirnya berdarah. Bekas  tabokan dan cakaran tampak di wajah dan badannya, bajunya robek sana-sini. Dia nangis tersedu-sedu. Beberapa orang bantuin dia jalan dan membawanya pergi. Tapi rupanya Juleha belum rela, dia teriak-teriak, semakin kuat meronta-ronta. Si Bono dan temannya hampir nggak kuat megangin lebih lama, perempuan tadi jadi ngeri, jalannya makin dipercepat. Sebelum terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, Jeni spontan maju menahan tubuh Juleha dari depan.

“Sini lo kalo berani! Dasar cewek perebut suami orang!” jerit Juleha histeris.

Gila, Juleha yang ramping mendadak menjelma bak singa, kuat banget. Jeni sampai kepayahan megangin dia hingga nyaris lepas.

“Nyebut, Juleha, istigfar...,” seru Jeni, lalu dilepaskannya tubuh Juleha.

Bodo ah, ngamuk-ngamuk deh, gue udah nggak kuat lagi... gumam Jeni. Perempuan tadi sudah menghilang.

Tapi juleha malah menggelosor duduk selonjoran di jalanan, ngos-ngosan dan sejurus kemudian menangis bombay. Orang-orang mulai bubar. Sebenarnya Jeni nggak suka sama Juleha, tapi dia nggak tega buat ninggalin. Akhirnya Jeni ikut duduk nemenin Juleha bersama Bono yang setia menunggu tangisannya reda.

“Heran gue, kok bisa-bisanya suami lo selingkuh, lo kurang cantik apa coba?” celetuk Jeni.
Tiba-tiba Juleha berbalik menatap tajam ke arahnya. O ow, salah ngomong nih. Gue udah bangunin singa! pikir Jeni ngeri. Tapi Juleha malah menjawab dan jawabannya ngawur.

“Abis minta cere, gue mau pake burqa aja. Biar nggak ada lagi lelaki mata keranjang dan jelalatan yang mau  ngawinin gue!” sejurus kemudian dia mencengkeram kedua bahu Jeni, yang kaget setengah mati. Lalu juleha berucap serius, “Denger baik baik pesen gue, Jen... jangan sekali-kali lo terima cowok yang cuma tertarik sama kecantikan lo doank. Ngerti?” tandas Juleha berapi-api, dia nggak sadar ngasih wejangan sama orang yang salah.

Jeni manggut-manggut aja. Melihat keadaan Juleha yang hancur begini, meski berusaha memungkiri, Jeni kaget sendiri. Dalam hatinya ada perasaan beruntung jadi orang jelek.
Sampai di rumah, baterai di badan jeni Sudah benar-benar soak, kakinya encok,dia mendambakan rebahan di kasurnya dan langsung merem. Tapi ketika membuka pintu kamarnya, Jeni meratap kenapa ada makhluk cantik menyebalkan lainnya nangkring di atas kasur.

“Please, tolongin gue, Jeni... gue ngungsi dulu, ya, di sini,” kali ini Jeni bertekad bulat untuk pingsan.

Tubuh Jeni diguncang-guncang hebat, dia mulai melek. Jeni merasa tadi baru saja mimpi buruk. Didatengin sepupu cantiknya Juwita yang mau ngungsi di kamarnya. Tapi sosok Juwita nggak juga kabur dari pandangan matanya yang sudah melek sempurna, tepatnya melotot.

“Nggak!” Tegas Jeni, "Emang rumah lo kebanjiran apa? Juwita masang muka memelas ke Mama Jeni yang duduk di sampingnya.

“Kamu nggak boleh begitu sama sodara sendiri, Jen... Kasian kan Juwi, dengerin dulu ceritanya,” dukung Mama Jeni.

Jeni berusaha keras untuk mingkem, bukan cuma karena nyabar-nyabarin diri buat mendengar alasan Juwi, tapi juga karena hal itu nyaris mustahil mengingat struktur giginya yang sudah dari sononya maju beberapa senti.

“Emang begini resiko jadi orang cantik,” Juwita mendesah pasrah memulai kisahnya, Jeni buang muka. Pengennya dibuang ke laut aja rasanya.

“Gue dipecat dengan tidak hormat, alasannya sungguh  nggak masuk akal. Gue merasa telah dizalimi...,” ucapnya penuh perasaan.

“Justru nggak masuk akal kalo mereka mempertahankan lo!” semprot Jeni nggak tahan lagi, ”Perlu gue ingetin apa yang udah lo lakukan sama warung emak lo yang tutup dalam tempo sesingkat-singkatnya. Emang susah kalo orang nggak nyadar diri!” Jeni makin menjadi-jadi.

“Tapi yang punya mini market nggak pernah komplain soal itu, berarti gue udah pinter ngitung,” elak Juwi. Yang berarti, kalau yang punya juga tidak pandai berhitung dan sangat tidak pandai mencari pegawai.

“Emang sih, tetep aja gue yang dituding sebagai penyebab utama penurunan drastis keuntungan mini market. Tapi itu gara gara Nyonya Preti, istri yang punya mini market dan orang yang mecat gue langsung nyemprot ke muka, dari dulu emang dia sentimen sama gue. Dia ngerasa terancam dengan kecantikan gue dan ketakutan setengah mati kalo suaminya gue sabet. Padahal mestinya dia nggak perlu kuatir, mending kalo suaminya mirip Dude Herlino seupiiil aja! Lha ini, Tuan Monki cuma lebih cakep dikit ketimbang gorilla! Dikasih gratis plus dibayarin duit juga gue ogah! Tapi nggak tahu kenapa, Tuan Monki  baik banget sama gue. Ngasih ini itu, semua isi mini market boleh gue ambil tanpa perlu sungkan-sungkan," cerocos Juwi, sementara Jeni nemuin satu lagi kekurangpandaian Juwi.

“Tapi tentu aja si Nyonya Preti nggak bakal ngakuin kecemburuan gilanya itu. Masak dia bilang gara-gara gue, mini marketnya sering kedatangan para cowok nggak penting dan nggak tau malu. Mereka keluar masuk mini market, tapi nggak beli apa apa. Kalaupun beli, palingan cuma permen loli sebiji , rokok sebatang, atau sebungkus sabun colek doank. 'Kamu pikir ini warung ketengan apa?'“ Lengking Juwita menirukan gaya Nyonya Preti lagi ngomelin dia.  

“Semua kelakuan nggak tahu malu para pengunjung itu memiliki satu maksud tersembunyi yang sama, yaitu mereka cuma mau ngeliatin sembari mengagumi pesona kecantikan gue! Para cowok itu ngantri di depan meja kasir untuk mengajukan berbagai macam pertanyaan seputar biodata seperti nomer hp, nomer rumah, nomer keberuntungan, nomer wajib pajak dan anak nomer berapa. Jelas nggak gue kasih! Dikiranya gue cewe gampangan apa? Tapi demi meredam kekecewaan mereka, gue kasih satu deh, yaitu nomer rekening gue. Otomatis Mini market jadi kelihatan penuh kan, padahal jualannya nggak banyak yang laku. Karena itu, dengan senang hati Nyonya Preti mendepak gue keluar...,“ Juwi mulai menangis bombay. 

“Menurut gue alasannya tetep masuk akal,” ujar Jeni tanpa perasaan, lalu sontak dia berdiri keingetan sesuatu, ”Eh, tapi tunggu dulu... Kalo dipecat , ya udah, lo kan tinggal diem di rumah lo sendiri. Kenapa pake ngungsi segala ke rumah gue? Jaka sembung naek odong odong, nggak nyambung dooong!”sempet-sempetnya Jeni berpantun, sementara tangis Juwi makin keras dan Mama jeni menimpuk bantal ke muka Jeni.

“Itulah puncak penderitaan gue sebagai cewek cantik...,” raung Juwi.

Di sela tangisannya dia ngomong, ”Abis  gue di-phk, Tuan Monki tetep keukeh melanjutkan perbuatan baiknya ke gue. Dia dateng ke rumah bawa kado, memohon maaf dan amat menyesal atas kezaliman istirinya. Gue udah maafin, harusnya habis perkara, kan? Tapi besoknya dia datang lagi, bawa kado lagi, minta maaf lagi, gue maafin, selesai. Dan besoknya lagi, datang lagi, bawa kado lagi….”

“Stooop!!! Lo mau ngomong sampe ubanan? Bilang aja kek dia datang tiap hari!” sembur Jeni.

“Maksud gue itu,” jawab Juwi polos. ”Gue udah bilang cukup sekali aja minta maafnya, tapi katanya dia nggak bisa ngilangin perasaan bersalahnya yang mendalam. Kalo bukan karena tiap datang bawa kado, gue juga nggak bakal sabar ngadepinnya,” Jeni mendelik sinis ke Juwi, dasar matre!

“Tapi suatu hari yang naas...,” Juwi menghela napas menahan perasaan sedihnya, terus nada suaranya meninggi, ”Tepat ketika gue sampoan di kamar mandi sambil berdendang, terdengar suara orang menggedor pintu rumah, keras banget! 'Mungkinkah sang penagih utang?' pikir gue waktu itu. Tapi biasanya nggak se-ekstrim ini. Denger punya denger dan ternyata bener, bukan penagih utang! Karena gue denger ledakan keras amarah Nyonya Preti, dia nyariin gue. Seketika sekujur badan gue menggigil kedinginan, padahal baru sampoan. Belom sabunan! Gue meyakini bahwa Nyonya Preti akhirnya tahu juga kelakuan baik suaminya. Dia ngamuk besar dan berambisi penuh  ngejambak rambut dan mencakar wajah gue yang mulus,” suara Juwita melengking diikuti tangisan kerasnya.

“Untung aja  nyawa gue  masih bisa terselamatkan, karena yang bukain pintu emak gue yang malang, Dari jendela kamar mandi gue bisa  loncat keluar dengan rambut masih penuh busa, mata perih kelilipan sambil lari pontang-panting. Kecantikan gue telah terhinakan!” Juwi kembali sesenggukan, ”Karena itu, sebelum si nyonya diamankan, gue harus ngungsi di tempat yang aman. Jadi,wahai Jeni sepupuku yang semanis brownis (pun nyaris sama itemnya, batin Juwi), sudilah kiranya membagi kamar yang nggak seberapa bagus ini dengan gadis teraniaya yang nggak berdosa kecuali karena kecantikannya yang memukau,” ucapnya mendramatisir sambil masang muka merana. Meski tetap aja nyebelin, tak urung Jeni mrasa prihatin juga sama nasib Juwi.

***

Dan kini, Jeni pun tengah mengungsi di rumah Meri. Tapi ini nggak ada urusannya sama soal dendam-mendendam terhadap orang cantik, yaitu keberadaan Juwi di kamar tercintanya. Ini disebabkan Jeni pun nggak habis pikir, kenapa cewek secantik Juwi tidurnya bisa ngorok yang bunyinya nggak beda sama kodok, sehingga sukses bikin Jeni menderita insomnia bermalam-malam yang mengerikan. Selain itu, sebenarnya ada satu alasan lagi... Jeni membutuhkan tempat dan teman yang nyaman untuk merenungkan, berbagi pikiran dan perasaannya yang sekarang ini berubah terhadap orang cantik, kebenciannya mulai rontok.

“Ternyata jadi cewek cantik nggak selalu ngenakin... Tapi tetep aja, gue masih heran kenapa bisa begitu?” ujar Jeni setengah ngelamun sambil tiduran di kamar Meri.

“Nggak ada yang aneh, lo sangka kita di surga!” jawab Meri. ”Di dunia ini, mau yang cantiknya selangit atau jeleknya nggak terkatakan, kayaknya sampe tujuh turunan atau melarat, majikan atau pembokat, yang sehat atau sakit, tetep bakal susah-susah juga! Namanya juga hidup, semua punya masalah, jadi nggak perlu sirik sama mereka."

“Lagian, semua kenyamanan itu juga nggak ngejamin bisa bikin lebih bahagia dari yang nggak memilikinya. Buktinya, artis-artis top dunia, putri raja dan para konglomerat banyak yang depresi berat tuh... Padahal Bang Ali, tukang benerin sepiteng aja selalu kelihatan ceria. Soalnya kebahagiaan kan yang ngerasain hati, bukan muke lo! Bahkan, kalaupun emang semua kemudahan itu bisa bikin bahagia, toh sebentar lagi pasti bakalan lenyap nggak bersisa kalo udah masuk liang kubur. Lebih lanjut lagi, mesti dipertanggungjawabin, berat, Neng... Apalagi yang namanya kecantikan, lebih cepet lagi ngilangnya, tuaan dikit aja udah keriput, kan? Jadi apapun yang menimpa kita, baik atau buruk, sama-sama ujian hidup yang mesti disikapi dengan bener.”

Serta merta Meri loncat dari tempat tidur ke lantai. Lagaknya macem Jetli lagi kesurupan, mamerin jurus-jurus nggak jelas, sebelum tiba-tiba berhenti mendadak, mengacungkan dua jari ke depan muka Jeni.

“Double S!” serunya kayak ngasih tau jawaban acara kuis.

Sekarang Jeni hampir yakin, Meri beneran kesambet.

“Syukur dan sabar!” nyanyinya lagi, tapi Jeni nggak kelihatan terinspirasi sama sekali.

“Ngomong sih gampang, sabar tuh susah, tauk!” ujar Jeni.

Meri tetep melanjutkan, “Yap, gue tau itu!” katanya mantap. ”Karena itu, gue kasih lagi jurus-jurus yang diajarin sama ustad gaul gue,” Meri tersenym cerah.

“Bersabar akan lebih mudah kalau kita bersyukur dulu, gue kasih contoh yang sesuai sama kondisi lo...,” Meri menatap Jeni lekat lalu berujar, ”Meskipun jidat nongnong, hidung pesek, gigi mancung, kulit item dekil, kuping lebar...,” Jeni mulai naik darah, Meri cuek ngelanjutin, ”Tapi kan,semua masih berfungsi dengan sempurna. Sementara ada banyak orang yang mau nafas aja kudu beli, nggak bisa denger, ngomong atau melihat. Kulitnya kena luka bakar atau panuan, kudisan, kutilan serta sebangsa jamur lainnya. Selalu ada banyak hal yang bisa disyukuri, nggak bakal kehitung malah! Dengan begitu, lo akan merasa kalo nggak cantik itu bukan sesuatu yang mesti dipermasalahkan. Bahkan, seperti yang lo tau, ada baiknya juga kan? Paling nggak lo nggak bakal disangkain ngerebut suami orang dan dinikahin cuma karena cantik doank!” Jeni terlihat manggut-manggut.

“Tenang aja,” kata Meri lagi. ”Rejeki sama jodoh nggak bakal direbut orang, kok, lo harusnya bersyukur nggak dapet si Armando itu. Keikhlasan dalam menerima takdir Allah, baik atau buruk, juga akan bikin perasaan makin lega.Yang penting, kita berusaha aja melakukan yang terbaik. Urusan hasil, serahin sama Allah yang lebih tau mana yang paling baik buat kita!" Meri mengakhiri wejangan panjangnya.

Kali ini,mata Jeni berbinar binar cerah.

"Cakep! Gue suka gaya lo, Ustadzah Meri. Hhhiii!" Jeni merangkul Meri erat.

"Aamiin min min min buat doanya. Hheee." (*)



       

Yuk, Jadi ORANGTUA ASUH (OTA) Santri Penghafal Qur'an Askar Kauny! Donasi Rp 150.000,-/bulan. Dapat Majalah Ummi (free ongkir)

Transfer ke Bank Muamalat 335-000-9175 a.n. Yayasan Askar Kauny

Konfirmasi ke 0813 8054 4843 : OTA#Nama#AlamatLengkap#Telp#jumlahtransfer#TanggalTransfer#JamTransfer

Tags:
loading...