Saya Bukan Anti Cina, Bukan Anti Non Muslim, tapi...

Fashion-Styles-for-Girls-Online

In syaa Allah tulisan ini akan menjadi saksi di akhirat kelak.

Saya bukan anti Cina/Tionghoa, makanya saya masuk Sastra Cina Universitas Indonesia. Bahkan sampai saat ini saya masih mengajar bahasa Mandarin, baik online maupun offline.

Saya sadar Allah menciptakan manusia bersuku-suku dan berbangsa-bangsa untuk kebaikan. Jadi mengapa harus membenci perbedaan?

Saya juga bukan anti non muslim, lha wong yang les Mandarin ke saya biasanya anak keturunan Tionghoa, Batak, yang notabene non muslim. Bergaul dengan non muslim juga oke-oke saja, alhamdulillah sejak kecil sudah dididik orangtua untuk bergaul dengan siapapun.

Akan tetapi, memang kalau sudah masuk ranah akidah, ceritanya jadi berbeda.

Ketika dalam Al Qur'an dinyatakan untuk tidak memilih wali/pemimpin/sahabat setia dari kalangan non muslim, kalau tidak... Berarti saya termasuk bagian dari golongan kafir tersebut atau minimal menjadi orang munafik, maka saya harus patuh. Nggak pake tanya ini-itu. 

Sama persis ketika mengetahui khamr dan babi itu haram dikonsumsi, nggak pake tanya kenapa begini-begitu atau pake berkilah 'tapi-tapi'an. Ya sudah terima saja larangan tersebut. Produsen paling tahu kelemahan dan kelebihan produknya toh?

Allah sebagai 'produsen' alias pencipta makhluk, tentu lebih memahami ciptaanNya. Mana yang diperbolehkan dan mana yang tidak diperbolehkan untuk dilakukan.

Agak lucu kalau bertanya pada produsen Handphone misalnya, "Kenapa sih handphone ini tidak boleh dibakar di atas kompor? Trus kenapa tidak boleh direndam air? Kenapa banyak larangan ini itu? Ini kan hp saya sendiri, suka-suka doong..."

Palingan produsen bilang, "Yaa boleh saja sih Anda bakar, dimasukkan mesin cuci juga tidak masalah buat saya, tapi Anda sendiri yang rugi, nah... Saya tidak ingin Anda rugi, jadi saya beri peringatan."

Kalau kita tanyakan mengapa Islam melarang minum khamr/bir/arak? Mengapa melarang umatnya memilih pemimpin dari kalangan orang kafir? Jawabannya jelas karena akan merugikan diri kita sendiri.

Saya yakin Allah tidak rugi sedikitpun kalau Umat Islam di Indonesia musnah. Allah juga tidak rugi kalau Jakarta jadi milik orang-orang elit bermata sipit saja, tapi kita yang rugi kan?

Pertanyaan yang tersisa tinggal satu... Seberapa besar keimanan kita pada Allah. Apakah kita lebih puas memperturutkan ego untuk memilih pemimpin non muslim yang 'kelihatannya' kinerjanya bagus, tapi sebenarnya sedang menggadaikan keimanan kita sendiri?

Ataukah kita bersedia tunduk patuh pada apa yang Allah perintahkan?

Sekali lagi, saya tidak anti Cina/Tionghoa, tidak pula anti non muslim. Saya yakin Islam adalah rahmat untuk semesta alam. Maka, jangan ragu untuk memilih pemimpin muslim yang dapat menjadi rahmat untuk semesta, in syaa Allah.

Kelak tulisan ini menjadi saksi.

Penulis:
Shinta Dewi, lulusan Sastra Cina UI 2004-2008. Penulis belasan buku sejak duduk di bangku SMA. Kini memegang amanah sebagai pemred Annida Online, media  online untuk remaja Islam yang terbesar di Indonesia.

Yuk, Jadi ORANGTUA ASUH (OTA) Santri Penghafal Qur'an Askar Kauny! Donasi Rp 150.000,-/bulan. Dapat Majalah Ummi (free ongkir)

Transfer ke Bank Muamalat 335-000-9175 a.n. Yayasan Askar Kauny

Konfirmasi ke 0813 8054 4843 : OTA#Nama#AlamatLengkap#Telp#jumlahtransfer#TanggalTransfer#JamTransfer

Tags:
loading...