Saya Pada Sekeping Bimbang

Fashion-Styles-for-Girls-Online

 


Penulis: Elzam Zami

 

Muka saya merah padam, ketika Pak Hadi, pesuruh kantor, mengetuk pintu dan menyerahkan sepucuk surat dari Sungaipenuh. Tujuh orang yang semula memasang wajah serius di ruang rapat mendadak hendak meledakkan tawa keras-keras. Tertahan rasa segan melihat saya pias.

Tak ada gunanya memarahi Pak Hadi. Pada amplop putih dengan garis berselang-seling merah biru di tepiannya itu tertulis kata “penting, harap langsung dibaca”

Saya tak habis pikir, umak tiba-tiba berkirim surat. Ya, berkirim surat ketika zaman sudah serba digital. Padahal baru tiga hari lalu umak di Jakarta. Mengapa beliau tak menumpahkan semua maksud saat berkunjung ke rumahku?

Umak memang buta huruf, tapi dia bisa meminta Salma meneleponku, lalu membicarakan wasiat ini secara langsung. Umak mendadak tiba-tiba aneh. Apa Salma tak lagi hendak membantu umak, ketika berteleponan denganku?

Ah, rasanya tidak mungkin. Surat ini pasti juga tulisan Salma, karena umak hanya dekat dengannya. Apa-apa semua bergantung dengan Salma. Sama halnya Salma yang menggantungkan impiannya menjadi penari niti naik mahligai pada umak.

Jika saja gadis itu di Jakarta, dia pantas belajar menari balet, ketimbang menjejakkan kaki jenjang lentur ke dalam pecahan piring beling, paku, dan bara menyala. Umak menjelma maestro penari Kerinci di mata Salma. Soal dia benar-benar gadis Kerinci saya akui. Dalam balutan baju kurung beludru merah, dia menjelma bidadari yang turun ke bumi. Menghangatkan lembah-lembah dingin Bukit Barisan yang berpasak Gunung Kerinci, Gunung Tujuh, dan Gunung Raja.

“Saya minta sepuluh menit waktu meeting ini untuk membaca surat ibu saya. Tampaknya ini penting sekali,” ujar saya tak peduli lagi rasa malu. Beberapa bawahan perempuan sedikit terkikik. Mungkin berpikir betapa jadul saya yang sekelas head public relation manager  nyatanya masih menerima surat dari tanah Sumatera.

Tak apalah. Saya tak bisa memimpin rapat sebelum membaca surat umak. Khawatir ada apa-apa.

Ananda Ramlan

Teriring salam dan doa untuk keberkahan Ananda di sini.

Pulanglah barang sebentar jika berkenan. Umak ingin menyampaikan wasiat pada Ananda. Tentang keinginan bapakmu pada masa depan kita. Umak tak bisa mengatakannya sewaktu ada di Jakarta, karena Ananda terlampau sibuk bekerja. Umak takut, umak tak ada lagi umur untuk membicarakannya. Pulanglah, Nak….

 

***

Ditemani Badri, teman SMA yang sampai sekarang masih betah membujang dan hidup di dusun kami. Tak hendak ke luar, meski sebenarnya ia menggenggam ijasah sarjana. Saya merendam kaki di Danau Kerinci di kaki Gunung Raja. Berharap anak-anak ikan semah menelisik jari-jemari mengulang masa kecil dulu. Tak kunjung datang, entah mulai jarang atau takut karena kaki-kaki saya tak lagi kecil. Saya berkhayal, jika saja menjadi uhang pandak di belantara Gunung Raja yang tampak kukuh di atas sana, persoalan ini tak mungkin ada. Manusia kerdil yang konon hidupnya hanya sekadar mencari makan dari buah liar, ikan-ikan sungai, atau berburu ayam hutan. Lain tidak. Begitu sederhana.

Saya bimbang pada wasiat umak dan menceritakannya pada Badri. Sebenarnya wasiat bak juga sebelum wafat sepuluh tahun lalu. Disampaikan ke umak untuk diteruskan pada saya di saat yang tepat. Umak meminta saya mengolah perkebunan kayu manis keluarga kami di daerah Kayu Aro. Lalu membuka museum kecil di kota ini. Bak memunyai banyak benda-benda semacam guci dan gerabah, surat incung bertulis tambo-tambo kuno, keris, pedang selangkeh, karpu, kain tutup kujang, tenun sungsung barat, dan segala macam yang saya sendiri tidak begitu hafal.

“Saya hanya ingat betapa bak membanggakan pedang selangkeh yang diturunkan datuk, tokoh adat yang dulunya hulubalang kerajaan Sigindo Alam Kerinci. Tapi itu semua tidak membuat saya mengerti. Yang saya tahu kami tidak bisa makan hanya dengan menjaga dan membersihkan benda-benda usang itu,” ujar saya melirik Badri. Bujangan itu tersentak, melihat betapa keras sikap saya.

Bak harus bekerja keras menjadi buruh perkebunan teh di Kayu Aro dan menyisihkan upahnya yang cekak sedikit demi sedikit. Membaginya selain untuk belanja dapur. Akhirnya bisa memunyai tiga hektar kayu manis, karena piawai berjual-beli kebun. Untunglah, saya anak tunggal yang artinya tak menguras biaya berlipat-lipat untuk sekolah tinggi. Saya belajar sedemikian keras sampai bisa kuliah sambil bekerja di Jakarta. Itulah alasan mengapa bisa memiliki karir yang lumayan di usia muda. Soal ini, Badri pastilah tahu.

“Negeri ini betuah, negeri ini kaya dipahami betul umak-mu, Ram. Wajar beliau meminta kau tinggal di sini. Kau keturunan sata-satunya. Siapa lagi? Tapi jika kau tetap hendak di Jakarta, berikan alternatif, siapa yang bisa dipercaya mengurus benda-benda itu.”

“Aku ingin umak menghibahkan saja benda-benda itu pada pemerintah. Habis perkara. Biar umak tinggal di Jakarta. Tapi dia tetap tidak mau.”

Badri berkelakar, “Ah, ya. Aku tahu karena dia hendak kau jadi dengan Salma. Penari niti naik mahligai itu benar-benar bidadari di Sungaipenuh ini.”

Badri tergelak-gelak, menghentak-hentakkan kakinya ke bumi dengan tangan membentang lentik. Aku tersenyum kecil. Salma memang rupawan, tapi jika dia ingin menjadi penari niti naik mahligai, berarti sampai tua pun dia akan tetap di sini. Hanya perempuan-perempuan tua yang dipantaskan menari niti naik mahligai. Di balik gerak gemulai, mereka menyimpan kekuatan untuk sampai ke istana, setelah menumbangkan aral melintang setiap percobaan hidup.

***

Samar-samar saya mendengar suara Pak Tuo datang bertandang. Saya berjinjit di lantai papan, melambatkan jalan dan mencari tempat di selasar samping. Tak hendak menganggu pembicaraan mereka. Jarang-jarang Pak Tuo bertandang ke rumah semenjak bak meninggal.

“Kau ingin memberikan semua pusaka itu kepada anakmu yang tahunya hanya hidup senang di Jakarta?”

“Mesti begitu, karena demikian lah  wasiat mendiang suamiku.” Suara umak bergetar, menahan getar yang entah apa.

“Sadarlah, Yam. Almarhum suamimu ingin benda pusaka itu tetap dilestarikan. Apa jadinya bila diurus Ramlan sementara hatinya tertanam di rantau.”

“Aku bisa membangun museum itu jika kalian tak hendak menghibahkannya pada pemerintah. Tahu benar aku perangai suamimu. Dia ingin pusako melayu tinggi tak keluar dari negeri ini,” sambungnya.

“Pak Tuo, sekali lagi saya sampaikan terimakasih atas niat baik Pak Tuo. Tapi saya yakin, Ramlan akan memenuhi amanat bapaknya. Saya hanya percaya pada Ramlan, setelah semua orang menjadi calo menjual berlusin-lusin guci ke taipan. Menjilat orang Malaysia yang lalu lalang memburu ragam pusako di tanah Kerinci demi uang.”

Umak marah. Saya bisa mendengar dari gelegak paraunya. Meski terdengar pelan oleh lawan bicara. Soal jual-menjual pusaka itu, benar-benar mengagetkan saya. Saya shock, sedemikian parahkah?

Pak Tuo tersinggung. “Jadi Kau tak memercayaiku, menuduhku berkhianat seperti orang-orang di luar sana? Keterlaluan Kau, Yam. Kau lihat, seperti apa jadinya pusako itu nanti.”

Bergegas beliau turun. Tergesa-gesah menuruni anak tangga kayu rumah kami. Tak dilihatnya saya bersender di selasar samping. Mendengar ribut-ribut tadi.

Saya masuk rumah dalam diam. Hanya berucap salam dan mencium takzim tangan umak. Tiba-tiba ponselku menjerit. Dari Pak Jaka, atasanku di kantor.

“Kau masih di Kerinci, Ram? Akan ada pemodal yang rencananya akan mengakuisisi perusahaan dari Singapura. Kau mesti hadir, lusa kita meeting.”

“Baiklah. Saya pasti sudah di Jakarta, Pak!”

Aku tergugu. Masalah dengan umak belum selesai, tapi sudah harus kembali.

“Jadi Kau mau pulang ke Jakarta?”

“Terpaksa, Mak. Pekerjaan Ramlan tak bisa ditinggalkan. Ramlan akan pikirkan dan sempatkan pulang untuk mengurus masalah ini. Suruhlah Salma menelepon Ramlan, jika ada sesuatu yang penting. Tak usah berkirim surat, sehingga bisa lebih cepat.”

“Iya, jika kau tak sedang sibuk. Apa tengah malam saat orang-orang lelap dalam tidur umak harus menelepon?”

***

Saya tenggelam dengan ragam urusan di Jakarta, sebulan sekembali dari Sungaipenuh. Lupa jika umak masih ingin mendengar kesediaan saya. Bukan apa-apa, karena pekerjaan begitu menyita waktu. Sebenarnya saya telah merencanakan, akan tetap membangun museum pribadi di Sungaipenuh. Lalu meminta Badri untuk mengurusnya sekaligus juga mengawasi orang menggarap kebun kayu manis. Sesekali saya akan kembali. Tapi semua rencana ini belum sempat saya sampaikan pada umak dan Badri.

Sampai malam-malam Salma menelepon. “Kak Ramlan, pulanglah. Umak sakit keras. Parahnya, dia tak hendak istirahat. Masih saja ke kebun, bahkan mengajariku menari, meski aku bilang jangan dulu.”

“Masya Allah. Tolong kau temani dulu, Salma. Aku akan pulang.” Saya cemas, tak disangsikan berita dari Salma. Tak sekali pun dia mau berbicara pada saya di telepon, kecuali memberikannya langsung ponselnya ke umak.

Besoknya saya segera terbang ke Jambi, diteruskan ke Bandara Depati Parbo.

“Di mana Umak?”

Tangis Salma pecah saat saya temukan di rumah. Tak saya sangka-sangka. “Pak Tuo memfitnah Umak menggelapkan pusako negeri untuk dijual pada calo dari Malaysia. Umak sekarang bolak-balik kantor polisi.”

“Hah, apa yang kau katakan Salma. Kenapa tak kau katakan kemarin malam? Di mana Umak kini?”

“Umak sekarang menari di Kenduri Sko, aku takut ini kali terakhir Umak menari. Semua telah diperalat Pak Tuo. Sampai Umak harus menghiba-hiba untuk menari, menangis di depan tetua adat. Mereka lupa, setiap Kenduri Sko Umak penari paling hebat….” 

Tak sampai Salma menunaikan semua kalimat, saya kesetanan menuju rumah Pak Tuo. Akan ada perhitungan antarlelaki.

Sesampai di rumah Pak Tuo, di depan rumahnya ada mobil jeep parkir. Terdengar bahasa melayu asing bercakap-cakap dengan suara yang sangat saya kenal. Badri. Instingku mengatakan ada yang tak beres.

“Pak Cik tak perlu lah khawatir. Seberapa pun pusako yang kami temukan, kami akan berikan pada Pak Cik. Asalkan, bayarannya pas. Pak Tuo dan saya sedang mengincar lumbung pusaka yang tak terkira saat ini.” Badri tertawa menyeringai. Dia bersama bujang-bujang Sungaipenuh yang tak saya ketahui siapa. Saya mulai paham. Dari balik celah jendela, saya rekam pembicaraan mereka. Dua lelaki itu, Pak Tuo dan Badri telah bersepakat dalam dunia khianat.

Tamu dari negeri jiran berlogat melayu asing itu ikut terkekeh. Dielus-elusnya dengan penuh sayang serat bambu beraksara surat incung. Meneliti dengan kening penuh kerut huruf-huruf bergaris-garis menyudut yang pernah saya kenal saat pelajaran muatan lokal di SMP. Saya mencoba mengambil gambar mereka. Sialnya, blitz kamera ponsel lupa kumatikan.

“Hei, ada yang memfoto kita, Pak Cik.” Badri berdiri keluar. Terkejut demi melihat saya.

Saya mengenggam ponsel dengan cengkeraman kuat. “Kau pengkhianat Badri. Kau jual wasiat negeri ini pada orang asing.”

“Hahaha, cepat sekali Kau datang. Aku butuh uang teman, Kau mana peduli dari mana orang-orang dusun butuh hidup. Rebut hape miliknya itu,” perintah Badri pada tiga bujang temannya.

Saya berancang-ancang lari, menyadari kekuatan yang tak imbang. Tapi mereka mereka sigap meninju muka saya. Tak bisa saya elakkan melawan semampunya.

“Berikan atau kau akan kubunuh!” bentak salah satu dari mereka. Saya memasukkan ponsel dalam-dalam ke saku celana. Sempat saya hantamkan tendangan ke perut salah satu dari mereka yang hendak merampas ponsel.

Saya berlari sekencang mungkin menuju keramaian Kenduri Sko. Bodoh, jika mereka mengejar sampai ke sana. Mereka tak akan berani.

***

Di halaman balai adat, manusia berjejalan. Pejabat daerah sumringah berbisik-bisik pada tamu. Bule-bule berdecak kagum. Tampang-tampang ras melayu dari negeri tetangga kentara menikmati perhelatan adat tahunan terbesar di Kerinci. Konon, di antara mereka ada yang percaya mengalir darah Kerinci dari moyang mereka berabad-abad lalu.

Umak larut dalam pesona magis. Kakinya menancap di paku-paku runcing yang berjejer di papan. Tak ada darah sedikit pun. Bara api menyala-nyala menunggu giliran untuk diinjak. Dia asyik masyuk tanpa peduli penonton berdecak kagum.

Setitik bening air saya lihat jatuh di wajah umak. Menganaksungai lewat keriput yang dimakan usia. Ekor mata saya menyapu wajah tamu-tamu yang melihat. Ada Pak Tuo yang tersenyum sinis berbisik-bisik di telinga ketua adat. Ada polisi berderet-deret menjaga keamanan.

Tiba-tiba kekuatan dari air mata umak merajai jiwa. Saya berteriak lantang menunjuk muka Pak Tuo. “Dia bermuka dua. Pengkhianat budaya. Lelaki ini yang menjual pusaka tanah Kerinci pada orang-orang luar. Tangkap dia!”

Suasana gaduh. Semua terperanjat. Para pejabat ternganga malu karena saya merusak acara sakral. Orang-orang melayu dari tanah jiran seperti hendak berang. Beberapa lelaki menenangkan saya yang berteriak-teriak. Sementara Pak Tuo terlihat gelagapan.

“Mana yang benar, Rahim? Kau bilang umak anak muda ini yang, Mak Yam yang menjual pusako secara illegal?” tandas seorang tetua adat yang sepuh menghardik Pak Tuo.

Pak Tuo mendesis, “Tentu saja saya yang benar. Punya bukti apa dia menuduh saya mengkhianati tanah adat?”

Tapi tiba-tiba umak tumbang. Semua hening. Umak lunglai jatuh ke tanah. Perempuan tua penari lain saya lihat menggotong umak.

 

Tentang Penulis

Elzam Zami, penulis kelahiran Curup (Bengkulu), 26 November 1981 ini pernah bergiat di komunitas penulis di kampus dan FLP (Forum Lingkar Pena). Karyanya dimuat di media seperti Majalah Ummi, Paras, Annida, Al Izzah, Aulia, Esquire, Rakyat Bengkulu, Bengkulu Ekspress, dan media lain. Elzam juga telah menerbitkan buku antologi cerpen  “Ketika Nyamuk Bicara” Dzikrul Hakim 2005, “Sebuah Kata Rahasia” SMG Publishing 2010, kumpulan puisi “Hatiku di kawasan transmigrasi”, Sagi Organizer 2004. Saat ini sedang menyelesaikan novel di sela-sela kesibukannya pada Penerbit Pustaka Lebah, Jakarta, selain menulis cerpen dan puisi tentunya. Elzam bisa dikontak melalui email ada_elzam@yahoo.com.

Yuk, Jadi ORANGTUA ASUH (OTA) Santri Penghafal Qur'an Askar Kauny! Donasi Rp 150.000,-/bulan. Dapat Majalah Ummi (free ongkir)

Transfer ke Bank Muamalat 335-000-9175 a.n. Yayasan Askar Kauny

Konfirmasi ke 0813 8054 4843 : OTA#Nama#AlamatLengkap#Telp#jumlahtransfer#TanggalTransfer#JamTransfer

Tags:
loading...