Seharusnya Kita Malu, Pada Mereka Yang Rela Mengorbankan Jiwa dan Harta untuk Menjemput Hidayah Allah

Fashion-Styles-for-Girls-Online

Sobat Nida, terlahir sebagai seorang muslim merupakan sebuah kenikmatan yang tidak akan pernah dapat tergantikan oleh apapun juga. Sudah selayaknya kita mensyukuri dan memanfaatkan amanah yang telah Allah titipkan berupa nikmat keimanan itu dengan sebaik-baiknya.

Sayangnya, seperti yang kita tahu, bahwa tak sedikit pula orang yang terlahir sebagai muslim tetapi justru tindak-tanduknya bertentangan dengan yang Islam ajarkan. Ya, istilahnya kerennya mah, Islam KTP Sob! (Keren dari mane sih Nid?!)

Meskipun itu adalah tindakan personal, tidak jarang pula yang menjustifikasi Islam sebagai agama yang buruk hanya karena tindakan segelintir orang. Nggak adil banget kan Sob? Yah, tapi mau gimana lagi? Kita kan nggak bisa mengontrol atau mengatur seseorang untuk berpikiran baik atau buruk terhadap sesuatu. Tugas kita mah, hanya berusaha untuk menunjukkan, bahwa begini lho agama Islam yang sebenarnya.

Makanya, Nida jadi sering terpukau dan kagum sama orang-orang yang terlahir sebagai non muslim tetapi mau dan mampu berjuang hingga akhirnya dapat meraih hidayah Allah.

Bukan perkara mudah lho Sob. Banyak hal berat yang harus dilalui. Perjalanan berliku, ujian bertubi-tubi tak jarang mewarnai. Bukan hanya pergolakan batin aja Sob! Dikucilkan dari lingkungan sekitar, bahkan ada juga dari mereka yang sampai harus rela berpisah dengan keluarga dan orang tua mereka demi mempertahankan dien baru yang mereka yakini.


Nida jadi inget kisahnya salah seorang sahabat Rasulullah, Mush’ab bin Umair r.a. Mush’ab, seorang pemuda parlente yang hidupnya nggak pernah kekurangan sedikit juga, memiliki ibu yang sangat sayang ke Mush’ab dan juga Mush’ab sayangi. Tapi akhirnya Mush’ab lebih memilih Islam. Meninggalkan segala macam kesenangan dunia yang ibunya tawarkan.

Hingga akhirnya Mush’ab syahid di medan Uhud.


Tahu nggak Sob, gimana kondisi Mush'ab bin Umair di akhir hayatnya?


Mush'ab tidak memiliki apapun untuk menutupi jenazahnya, melainkan hanya selembar kain yang ketika digunakan untuk menutupi bagian kepala jasadnya, maka bagian kakinya terlihat. Sementara ketika digunakan untuk menutup bagian bawah (kakinya), bagian kepalanya terlihat. Sehingga Rasulullah bersabda agar kain itu digunakan untuk menutup kepala, dan bagian kakinya ditutup dengan rumput. Sebagaimana dikisahkan dalam hadits berikut:


Telah menceritakan kepada kami Musaddad telah menceritakan kepada kami Yahya dari Al A'masy berkata, aku mendengar Syaqiq bin Salamah berkata, telah menceritakan kepada kami Khabbab berkata; "Kami berhijrah bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam semata-mata mengharapkan ridla Allah, dan kami telah mendapatkan pahala di sisi Allah. Lalu diantara kami ada yang meninggal lebih dahulu sebelum menikmati pahalanya sedikitpun (di dunia ini), diantaranya adalah Mus'ab bin Umair. Dia terbunuh di medan Perang Uhud dan dia tidak meninggalkan suatu apapun selain selembar kain yang apabila kami gunakan untuk menutup kepalanya dengan kain tersebut maka kakinya terbuka keluar dan bila kakinya yang hendak kami tutup kepalanyalah yang terbuka. Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memerintahkan kami untuk menutup kepalanya dengan kain tersebut sedangkan kakinya kami tutup dengan dedaunan idzhir. Dan diantara kami ada juga yang telah memetik hasil usahanya (didunia ini) ". (HR Bukhari No 3623)

Nah Sob, jika mereka yang baru memeluk Islam saja berani berkorban jiwa dan harta, masak kita yang dari lahir udah dapetin nikmat keislaman malah lalai dan enggan mempelajari agama sendiri?



Yuk, Jadi ORANGTUA ASUH (OTA) Santri Penghafal Qur'an Askar Kauny! Donasi Rp 150.000,-/bulan. Dapat Majalah Ummi (free ongkir)

Transfer ke Bank Muamalat 335-000-9175 a.n. Yayasan Askar Kauny

Konfirmasi ke 0813 8054 4843 : OTA#Nama#AlamatLengkap#Telp#jumlahtransfer#TanggalTransfer#JamTransfer

Tags:
loading...