Sepatu Ukuran Tiga Puluh Empat

Fashion-Styles-for-Girls-Online



Penulis : Rahmadyah Kusuma Putri


Jantung Bu Inggit terperosok. Bibirnya dibiarkan ternganga, nafasnya terburu – buru, bola matanya bergulir mengikuti segerombol orang. Mereka begitu sibuk hingga berteriak – teriak tak tentu arah. Mayat anak Bu Ipah ditemukan mengapung – apung di sungai desa sebelah. Bersama mayat itu, terapung juga sebuah sepatu hitam. Bu Inggit ingat betul, itu sepatu anaknya. Seketika bau busuk bangkai menyeruak. Bu Inggit ingin muntah, tapi malah air mata yang muncrat keluar. Mana anakku? batinnya pilu.

Kelabu menggantung  di langit senja. Ditimangnya sepatu yang kehilangan pasangan itu dengan duka. Sepatu itu masih baru. Tiga hari yang lalu dia memasangkannya di kaki anak lelakinya. Begitu hitam mengkilap dan basah.

“Wah, muat, Bu!” pekik Agus riang. Kesana kemari dia berlari, memanjat, meloncat, hanya ketukan sepatunya yang terdengar di rumah kecil itu.

Setiap akhir semester, biasanya Bu Inggit selalu membelikan sepatu baru buat Agus. Entah apa sebabnya, sepatu Agus takkan bertahan lebih dari itu. Kalau bukan karena sol sepatunya yang terlepas dan dihilangkannya, pasti karena sobek di bagian depannya.

“Terima kasih ya, Bu.” Agus mencium pipi Bu Inggit. Kecupannya begitu bersemangat hingga menyisakan air ludah di pipi.

Bu Inggit tersenyum puas. Tak percuma dia menabung empat bulan ini untuk membelikan sepatu mahal itu. Termahal diantara sepatu – sepatu sekolah sejenisnya, bukan hanya karena mereknya yang  terkenal juga karena dipajang di toko sepatu besar di mall. Sepatu original, bukan KW super, apalagi oplosan, begitulah yang dikatakan pegawai toko itu, ingat Bu Inggit. Bu Inggit menghela nafas panjang, melapangkan dadanya, berpasrah pada kehendak Yang Maha Kuasa.

Jerit Bu Ipah menusuk – nusuk hati Bu Inggit. Wajah Bu Ipah merah padam. Memeluk tubuh anaknya yang menggembung erat- erat. Bu Inggit tak kuasa melihat adegan itu. Mana anakku? bantinnya. Agus dan anaknya Bu Ipah berteman akrab, mereka hilang dihari yang sama selepas sekolah.

Sungai mengalir seolah memiliki iramanya sendiri. Warna airnya yang konstan coklat itu menghanyutkan apa saja. Segala sesuatu yang sudah tak terpakai, bahkan juga segala sesuatu yang tak bernyawa.

“Bu aku dapat ini di sungai. Boleh kita masak?” Suatu siang Agus pulang membawa bangkai burung ke rumah. Sepertinya burung itu baru saja mati, bekas panahan terlihat jelas di dada kirinya.

“Ah. Haram kita memakan bangkai, Nak.” Bu Inggit mengambil bangkai itu lantas menguburkannya di belakang rumah. Agus hanya memperhatikan.

“Sudah, mandi sana. Jangan main ke sungai lagi, ya Nak. Musim hujan, arusnya deras.” Bu Inggit merapikan rambut anaknya.

Malam turun bersamaan dengan turunnya hujan. Bu Inggit bermaksud ingin melayat ke rumah Bu Ipah, tapi ternyata sungguh di luar dugaan. Suara orang yang membaca yasin terhenti seketika seolah diberi komando oleh pekikan Bu Ipah.

“Pergi kau! Pergi sana! Anakmu pembunuh!”

Bu Inggit terpaku di depan pintu. Tetangganya melempar tatapan serupa padanya. Bu Ipah menangis di depan mayat anaknya yang terbujur kaku dibungkus jarik panjang. Seketika energi Bu Inggit seperti tersedot habis. Dia bahkan tak sanggup menarik langkahnya untuk keluar dari rumah duka itu. Bibirnya mengucap pelan, innalillahi wa innalillahi roji’un.

Tuduhan kalau anaknyalah yang menyebabkan kematian  anaknya Bu Ipah, Badrun, seketika menyebar seperti cacar air. Bu Inggit tak membela diri, tapi juga tak menyerah. Dia melawan dalam diam. Terbayang akan wajah Agus yang selalu tersenyum ramah kepada siapa saja. Anak yang begitu aktif hingga wajar saja bila tetangga membenci anaknya. Mereka menganggap Agus anak yang nakal.

Bu Inggit memang selalu kerepotan mengurusnya. Bu Inggit tidak seperti ibu – ibu lain yang kerepotan membangunkan anaknya untuk sekolah, dia lebih kerepotan karena harus mencari Agus yang subuh hari sudah menghilang entah kemana. Tahu – tahu dia bermain di ladang jagungnya Bang Sudir. Belum lagi jika malam hari di pasca panen, dia akan mendatangi sawah – sawah untuk mencari jangkrik.

Kerepotan Bu Inggit semakin parah saat dia membawa Agus berkunjung ke rumah tetangga sehabis lebaran. Agus tak bisa duduk diam. Dia akan berlari mengelilingi rumah, memanjat kursi, merangkak di bawah meja makan, hingga mengutak atik peralatan elektronik di rumah itu. Para tetangga melarang anak mereka bergaul dengan Agus. Terakhir kali, Agus hanya punya satu teman, Badrun.

“Anak ibu nakalnya luar biasa,” keluh guru Agus. Wajahnya tampak kesal. Bajunya basah dan tampak kusut. “Lihat. Ini ulah anak ibu.”

Bu Inggit menunduk malu. Bibirnya terkatup. Ibu guru meledak sejadi – jadinya, menceritakan kenakalan – kenakalan anaknya di sekolah. Sementara Bu Inggit tak melakukan pembelaan. Betapapun kesalnya dia mendengar ucapan guru itu, dia masih menghargainya karena tanpanya anaknya takkan mendapatkan ilmu.

“Agus, kemarilah, Nak,” panggil Bu Inggit. Agus bersembunyi di balik dapur, takut – takut dia berjalan mendekati Bu Inggit. Dia tak berani menatap gurunya yang mengantarnya pulang ke rumah. Agus belum cukup memberi masalah dengan tersesat saat darmawisata ke kebun teh, sepulangnya dia memberi bonus dengan  memuntahkan makan siangnya ke baju ibu guru.

“Kamu ini, nakal sekali,” geram ibu guru. Matanya melotot marah.

“Ayo, Nak. Cium tangan ibu guru, minta maaf.” Bu Inggit mendorong pelan anaknya, sementara Agus memaksa mundur. “Ayolah. Kalau tidak, nanti kamu enggak boleh sekolah lagi loh.”

Agus akhirnya memaksakan diri menyalam tangan ibu guru. Tak lama ibu guru berpamitan pulang dan berpesan pada Bu Inggit untuk mendidik anaknya dengan benar. Bu Inggit tercekat, diam – diam menyalahkan dirinya sendiri.

Kerinduan Bu Inggit tak tertahan. Sudah dua hari semenjak mayat Badrun ditemukan, Agus tak kunjung pulang. Dia duduk di tepi sungai desa sebelah, memperhatikan gelombang  demi gelombang arus. Sesekali matanya menangkap kemunculan ular yang ikut mengalir seolah terhanyut di dalamnya. Kecemasannya pun kian bertambah. Tak ada yang dinantinya, kecuali mayat anaknya yang mengapung bak perahu layar hendak ke surga.

Pagi itu tiba – tiba Bu Ipah mengutuk di depan rumah Bu Inggit. Kemarin, mayat anaknya baru saja dikuburkan. Hatinya tak kuasa menahan dendam amarah.

“Kalau bukan karena ulah anakmu, anakku pasti masih hidup sekarang!”

Bu Inggit tak berani keluar. Sementara diluar, Bu Ipah menendang – nendang pintu rumahnya didukung bisik – bisik tetangga lainnya serupa supporter di lapangan hijau yang membakar  Bu Ipah. Sumpah serapah membabi buta seperti teror, menghantui pikiran Bu Inggit. Serupa teror  yang pernah didapatkannya ketika suaminya dituduh mendukuni suami Bu Tumpi. Terlalu ceroboh, suaminya memukuli Bu Tumpi hingga tewas. Makaa lengkaplah tudingan tetangga bahwa keluarganya adalah pembunuh.

Bu Inggit berdiam diri di kamar Agus. Rasanya asing.

“Bu! Agus mau pakai baju. Bu keluar dululah.” Agus mendorong tubuh Bu Inggit dengan tangan mungilnya.

“Aih, masih kecil saja pun. Lagaknya seperti remaja saja.” Bu Inggit menggoda sambil mengedipkan matanya.

“Agus memang sudah besar, Bu. Sudah punya pacar.” Agus membusungkan dadanya.
Bu Inggit tertawa. “Emang ada yang mau sama anak berkurik macam dirimu?”

“Oh, ada lah Bu. Surti!”

Bu Inggit tertawa sampai terbungkuk – bungkuk. Membayangkan Surti yang dimaksud adalah nenek tua yang hobinya mengunyah sirih sambil mendedes kutu di depan pintu. Nenek yang kabarnya berumur lebih tua dari Indonesia itu menjadi idola anak – anak desa karena keunikannya.

Bu Inggit tersenyum mengingat kejadian itu. Kamar itu kini begitu dingin. Diletakkannya sepatu sekolah Agus di atas lemari belajarnya. Pulanglah, Nak, bisiknya.

“Kemungkinan anakmu dimakan buaya, Git,” komentar Bu Sumi, pemilik kedai.

“Iya. Jika tidak, mungkin saja dia tersedot ke palung, ya kan,” tambah ibu lainnya, mereka lantas mengangguk mengamini.

“Eh, atau dimakan jin penunggu sungai,” sambung yang lainnya.

“Terima kasih atas simpatinya, Bu.” Bu Inggit berlalu, diusapnya dadanya perih. Jika Allah memang mengambil anakku, pastilah Dia mengambilnya dengan maksud yang baik, entah dengan cara apapun, maha besar Allah, ucapnya.

Bu Inggit menunggui sungai di desa yang lebih jauh. Harapnya tetap sama, ingin melihat mayat anaknya. Sudah tujuh hari. Tubuhnya pasti sudah sangat gembung, duganya. Air matanya mengalir sederas sungai. Anakku, pulanglah anakku, bisiknya.

Esok harinya, terdengar berita dari kampung seberang. Ditemukan mayat anak laki – laki. Jantung Bu Inggit melompat. Anakku! Segera dia menyambut berita itu. Lari sekencang – kencangnya membelah ladang jagung Bang Sudir, menapaki sawah Pak Udin, tersungkur – sungkur dalam genangan lumpur, dia melesat.

Jembatan penghubung desanya dengan desa seberang sudah ambruk diterjang banjir dan longsor, dia harus memutar melewati hutan dan menerobos ladang orang. Tanpa alas kaki dia berlari, terus berlari. Kerinduannya meluap – luap. Membayangkan tubuh anaknya yang dingin dan kaku, dia menangis sejadi – jadinya.

“Ada apa, Git?” tanya Pak Karmun yang sedang menyadap nira. Terkejut melihat Bu Inggit berlari sambil menangis.

“Anakku, Pak. Ketemu di sungai seberang.” Bu Inggit menjawab sekilas lalu berlari lagi. Isaknya dalam.

Pak Karmun turun, ikut berlari bersamanya. Kasihan dia melihat istri sahabatnya itu. Pastilah mayat anaknya sudah busuk, pikirnya. Mereka tiba saat senja telah merah. Sudah tak ada orang di sungai itu.

“Mana mayatnya, Pak?” tanya Bu Inggit gelisah pada bapak – bapak yang sedang asyik memancing.

“Oh, itu anak ibu?” tanya bapak itu kaget. “Mari.”

Mayat itu ditutupi koran. Digeletakkan begitu saja di lantai teras balai desa. Orang – orang berkerumun. Bu Inggit tak kuasa menjarit – jerit. Dibukanya koran yang menutupi kepala mayat itu gemetar. Deg! Dia diam.

Suara bacaan yasin terdengar dari rumah setengah batu. Tenda dipasang di depan rumah itu, ramai sanak saudara menangis di depannya. Bu Inggit datang melayat. Anak Bu Sumi terbaring kaku dibungkus kain kafan. Berulang kali Bu Sumi menjelaskan kalau minggu lalu anaknya pamitan akan ke kota mengunjungi abangnya. Sungguh dia tak menduga jika anaknya kini terbaring tak bernyawa.

Lagi – lagi Bu Inggit disalahkan. Pastilah anaknya yang membawa petaka. Bu Ipah dan Bu Sumi berteriak – teriak kesetanan di depan rumahnya. Sementara suami mereka ikut mengompori.

“Kalian pembunuh!”

“Pergi kau dari desa ini!”

Bu Inggit mengunci diri dalam kamar Agus. Kemana kau, Nak? Mereka jahat pada Bumu ini. Apa yang harus Bu lakukan? Dia berkata pada sepatu itu seolah sepatu itu adalah anaknya. Bu Inggit kembali ke sungai seberang, berharap anaknya akan lewat disana. Air semakin coklat, arus semakin deras karena hujan tak kunjung reda.

Lamat – lamat dipandangnya ada yang terapung – apung disana. Digapainya benda itu dengan bambu pancing yang ditinggalkan pemiliknya. Kau melihat anakku? Malam itu dia pulang membawa sepatu anaknya yang satunya. Lengkap sudah, sepasang tanpa pemiliknya. Ini sudah Sembilan hari.

“Pergi kau!” Bu Sumi mengusirnya, padahal dia hendak membeli beras di kedainya. “Kau dan setan – setanmu.”

Bu Inggit geram. Gemertakan giginya menunjukkan kemarahan yang ditahannya selama ini. Tatapan mereka beradu hingga seolah asap keluar dari kedua pasang mata itu.
“Aku akan membawa mayat anakku ke rumah Ibu biar ibu puas! Itu kan yang ibu inginkan? Ibu ingin melihat mayat anakku kan?” Bu Inggit meninggikan suaranya. “Aku juga. Aku ingin sekali. Ingin sekali, ingin melihat mayat anakku. Menggendongnya, menciumnya. Tapi aku tak menemukannya!”

Seketika Bu Sumi ikut menangis. Merasakan rindu yang sangat seperti yang dirasakan Bu Inggit. Lidahnya kelu. Sungguh apa yang dikatakan Bu Inggit adalah benar. Dia menginginkan anak Bu Inggit meninggal seperti anaknya.

Bu Inggit membaringkan tubuhnya di kamar Agus. Sudah sepuluh hari. Ya Allah, izinkanlah aku mengubur anakku secara layak, agar aku bisa menziarahi makamnya, tangisnya. Dia terlelap, telinganya berpura – pura menangkap suara tawa Agus. Anakku, anakku.

“Bu Inggit!” teriak entah siapa di subuh hari. Bu Inggit melipat sajadahnya lantas mengintip dari balik jendela. Pak Karmun berdiri di depan pagar batang ubi kayu di depan rumahnya. Bu Inggit segera keluar.

“Ada apa, Pak?”

Tanpa menjawab, dia mengajak Bu Inggit berlari. Anakku! Semoga kali ini anakku. Bu Inggit menghela panjang nafasnya, mencoba menahan tangis yang sedetik lagi kan banjir. Di sungai manakah anakku hanyut? terkanya. Dia mengira akan dibawa ke sungai, ternyata tidak. Di depan rumah Pak Kades akhirnya mereka berhenti, Bu Inggit tak bisa bergerak.

“Wah iya, hebat kali anak ini. Aku lihat dia mau nyelamatin dua kawannya, eh dia ikut terseret arus, untungnya dia nyangkut di rakitku. Tapi dua kawannya lagi hanyut entah kemana.” Seorang lelaki paruh baya berdiri di samping Agus menjelaskan menggebu - gebu.

Agus berlari menyambut Bu Inggit yang diam di depan teras.

“Bu.” Bu Inggit memeluknya erat, air matanya jatuh satu – satu. “Maaf, Bu. Aku menghilangkan sepatu mahal itu."

Selesai.

Yuk, Jadi ORANGTUA ASUH (OTA) Santri Penghafal Qur'an Askar Kauny! Donasi Rp 150.000,-/bulan. Dapat Majalah Ummi (free ongkir)

Transfer ke Bank Muamalat 335-000-9175 a.n. Yayasan Askar Kauny

Konfirmasi ke 0813 8054 4843 : OTA#Nama#AlamatLengkap#Telp#jumlahtransfer#TanggalTransfer#JamTransfer

Tags:
loading...