Sepenggal Cerita yang Lahir dari Tiga Mata

Fashion-Styles-for-Girls-Online

Penulis: Eko Wahyudi Sutardjo

Udara panas menggilas jalan beraspal dengan beringas. Terik mentari beserta bubungan asap tebal mencuat dari cerobong-cerobong gedung industri kota dengan gila. Sesekali, lenguh orang-orang terdengar riuh ketika dahi mereka berkucuran peluh. Ada yang menggerutu sendiri. Ada pula yang hanya terdiam, mengebiri kesal yang terus menggumpal.

Satu per satu geliat mereka terlihat rumpang. Satu gaya meretas dua gaya. Satu wajah berganti dua sampai tiga wajah. Hitam-legam, putih-berseri dan kusut-butut, menjadi sketsa warna wajah mereka. Meski terasa tumpang-tindih, silang-siur, mereka terus berbaur. Dengan pembeda sejengkal suku dan kasta, mereka terpaksa berdampingan di antara sela-sela marka.

Hari berikutnya, tetap saja mereka begitu. Berjajar, berdampingan, beriringan, berdesakan, mengeluh dan sesekali mengaduhi peluh yang sedang asyik merecoki tubuh. Begitupun, berikut dan seterusnya tetap sama. Selama musim penghujan dan kemarau masih meracau, tak ada celotehan-kepala dan batin-lain selain itu. Hingga, perhatianku kepada mereka mulai goyah. Aku menjadi ogah. Tak lagi bernafsu memperhatikan polah-tingkah mereka. Bosan. Bahkan, sangat bosan. Karena, sikap rukun berdampingan mereka yang terlihat, kurasa hanya sebatas sandiwara belaka.

Kini, perhatianku tertuju pada kedua sosok lain. Berbeda? Tentu. Namun, klop. Cocok. Meski berbeda, kebiasaan mereka sama. Mereka mempunyai idola yang sama pula. Sama-sama mengidola dan memuja ”sesuatu” dengan bentuk, rupa, warna dan tempat yang sama.

Akhirnya, perhatianku kini hanya terpaku kepada polah-tingkah mereka berdua.

Sosok Pertama.

Ia kurang lebih berusia tujuh puluh tahun. Kulit keriput, topi butut beserta tulang-belulang yang mulai usang, membuatnya tak sedap untuk dipandang. Mata, telinga dan kemput pipinya, mampu mengisyaratkan bahwa ia benar-benar lanjut usia. Sendal jepit yang mengapit di antara sela jemari, membuat orang-orang yang memperhatikannya makin menaruh iba. Ketika peluh mulai merayapi tubuh, kaos putih lusuh dan celana hitam pendek compang-camping yang membaluti separo tubuhnya dibiarkan begitu saja. Tak ada perhatian lain yang ia cermati. Tak ada konsentrasi lain yang ia miliki. Kecuali, pada sebuah gelas plastik bekas wadah air mineral dengan merek ternama yang berada digenggam tangan kanannya.

Aku lupa, entah sejak kapan mengenalnya. Kalau tak salah, kira-kira enam atau tujuh tahun yang lalu. Ketika pertama kali aku menggantikan karibku bertugas di sini.

Sedari awal aku mengenal, sampai akhir aku mencibir, pakaian khas yang dikenakan hariannya tetap sama. Tiada beda sedikit pun.

Padahal, kurang ajar! Tampilan melas yang dipertontonkan, sama sekali berbeda dengan bangunan rumah megah hak milik atas namanya, di kampung halamannya jauh di sana. Begitulah, kira-kira fakta yang kudengar dari mulutnya, ketika ia saling ejek, bercanda dengan teman seprofesi, dekat tempat tugasku berdiri mengamati.

Pernah beberapa waktu lalu, rasa senang dan bahagia yang kumiliki mengebiri. Ketika awal kali aku mendengar atas banyaknya polemik yang beredar diberbagai media massa. Bahwa, Majelis Ulama Indonesia telah mengeluarkan ”fatwa haram” pemberian ”sesuatu” kepadanya dan se-kaumnya. Apa pasal? Karena, cara yang ditempuh dalam mencukupi kebutuhan hidupnya sehari-hari, sungguh tak mencerminkan watak manusiawi secara fitrah hakiki. Profesi yang dijalani, itu merupakan bentuk lahan pekerjaan malas-malasan, dan tak mengajarkankan kemandirian.

Atau, mungkin ia tak pernah mendengar ganjaran buruk di hari akhir pekerjaan seperti itu? Bahwa, pekerjaan seperti itu, kelak wajah dan tubuhnya akan dirubah menjadi kering kerontang laiknya mayat hidup yang tinggal tulang-belulang? Ah, entah.

Dewasa ini, pekerjaan yang serba instan memang telah menjadi ajang perlombaan dan rebutan semua orang. Entah orang desa-kota, tua-muda, miskin-papa, semuanya sama. Tiada pembeda sehelaipun benang kusut yang tercerabut. Mereka tega berebut, sodok kanan-kiri, tanpa peduli sanak saudara dan famili.

Namun, lagi-lagi, ah, semua aturan norma dan adat-budaya bekerja yang dijalaninya hanya dijadikan hiasan biasa. Bahkan, intip-mengintip, kejar-mengejar yang dilakukan para Satpol PP setiap bulan, berubah dan dijadikan menu santap tambahan. Tiap bulan, ritual buru-memburu terus saja akrab seperti itu. Menangkap, menyergap, diumpat, mengumpat, penyuluhan dan ujung-ujungnya turun lagi ke jalan. Dari masa ke masa, tahun ke tahun sama. Tiada jera sedikitpun jua. Hingga, rasa bosan kembali menyeruak tak terkira dari bilik rasa yang kupunya untuk kedua kalinya.

Dan kini, perhatianku berganti pada sosok yang kedua.

Sosok Kedua.

Ia tidak tua, tapi hampir saja tua. Seumpama ia menjadi salah satu anak ”Sosok Pertama” tentu masih layak. Pantas. Tapi, bukan. Mereka tak punya garis keturunan sama sekalipun.

Benar, nasib setiap orang memang berbeda. Sosok kedua ini bertubuh tinggi besar dan buncit perut yang menohok dari balik ketat baju dinas, telah menjadi ciri khas. Sepasang pantofel kinclong yang membungkus kaki, menambah perawakannya terlihat rapi. Bulu halus yang melencir agak lurus dan merumputi wilayah sempit bawah hidung, turut pula membuat orang ketika melihatnya menaruh wibawa.

Di bawah peteduhan yang tak begitu besar, yang berada tepat di sampingku, di situlah setiap hari ia menghabiskan waktu. Mulai pagi hingga sore menjelang. Bahkan, semua aktifitas yang ia lakukan, dapat dengan mudah kuperhatikan. Seperti halnya saat ini.

”Hey, Pak Tua, mana setoranmu hari ini!” pekiknya lantang dari balik sekat kaca bening, kepada sosok tua yang melintas di depannya.

”Ee... anu, Ndan, sepi!” timpalnya mantap.

”Sepi gimana? Lha wong banyak orang yang berhenti begini kok kamu bilang sepi...” gerutunya.

”Kalau Komandan tak percaya, nih, lihat sendiri uangku,” lanjutnya sembari menyodorkan kantong warna tepung yang terus bergelantung di antara dua pahanya.

”Ya, sudah. Lanjutkan kerjamu. Jangan lupa, setor cemban untuk hari ini.”

”Okelah,” selorohnya lelah.

Di antara deru mesin yang makin bertalu, udara panas pun kian mengganggu. Panas begitu, biasanya mata mereka berdua terus terjaga. Mengamati ketiga mata berbeda yang kupunya ketika menyala. Merah-kuning-hijau.

Sembari memperhatikan silang-siur orang-orang yang datang-pergi bertandang, sepasang mata mereka sibuknya bukan kepalang. Menanti dan mewanti-wanti jikalau ada orang yang berhenti ataupun menerjang simbol nyala mata merah yang kumiliki, yang tentu bagi mereka, saat-saat seperti ini merupakan lahan meraup rezeki.

Udara panas dan terik mentari kian beringas. Daun-daun pohon tepi jalan kota ranggas. Di dahi dan wajah mereka, peluh meretas deras. Garis putih-putih marka turut pula menyala sempurna, terpantul terik mentari yang masih setia menyinari meski tatanan bumi berubah runyam seperti ini.

Di tengah marka itu, nampak sosok pertama tadi berjalan terseok-seok ke arahku. Entah kenapa, aku tak tahu. Mungkin, ia kelelahan atau mungkin sedang merasakan penyakit kambuhan yang telah lama dideritanya, aku juga tak tahu. Mata cekung dengan jari-jari kaki miliknya yang berubah menangkup dan melengkung, membuat telinga anehku berdengung. Ah, ada pertanda apa ini? batinku.

Tak berselang waktu lama, sontak nyala mata merahku berganti warna. Merah, kemudian hijau. Tanpa dikomando, polah-tingkah orang-orang kembali terlihat rumpang. Ingar-bingar suara terdengar gahar. Meski begitu, orang-orang melaju perlahan. Mungkin mereka sadar, ada seorang tua yang terseok melintas di depannya.

Namun begitu, jauh dari jalanan sana, nampak sesosok pengendara melaju kencang. Satu dua kali, degup yang kumiliki kian menjadi. Aku khawatir. Bisa-bisa pak tua itu... Ah, jika saja aku punya tangan dan kaki, ingin sekali kuinjakkan kakiku untuk berlari dan menarik lengan Pak Tua itu ke jalan tepi. Namun, belum sempat aku memikirkannya lama, tiba-tiba. semua suasana berganti rona, ketika suara ”brakkk” tak mampu lagi terelakkan.

Sontak, kulihat sosok kedua itu berlari ke arah motornya dan mengejar pengendara yang menabrak Pak Tua. Darah segar yang keluar, terus saja mengalir bak derasnya aliran banjir dari hulu ke hilir. Suara kejar-mengejar hingar-bingar. Semakin lama, suara liar itu lambat laun tak lagi mengalun. Alunan nada teriakan Pak Tua pun satu persatu mulai sirna, bersama panasnya terik mentari yang makin beringas menggilas bumi.

Yogyakarta, 2010

Yuk, Jadi ORANGTUA ASUH (OTA) Santri Penghafal Qur'an Askar Kauny! Donasi Rp 150.000,-/bulan. Dapat Majalah Ummi (free ongkir)

Transfer ke Bank Muamalat 335-000-9175 a.n. Yayasan Askar Kauny

Konfirmasi ke 0813 8054 4843 : OTA#Nama#AlamatLengkap#Telp#jumlahtransfer#TanggalTransfer#JamTransfer

Tags:
loading...