Sepenggal Episode Sita

Fashion-Styles-for-Girls-Online

Penulis : Mirawati Uniang

 

           

SMU Rajawali Sakti buncah. Mendadak  semua terkejut, mereka tak percaya. Bukan teror bom, tidak pula kesurupan massal yang belakangan ini banyak terjadi di kalangan pelajar di kotaku ini. Di depan sekolah, kulihat banyak sekali kerumunan orang – orang yang menenteng kamera. Mereka adalah para wartawan yang beberapa hari belakangan ini sangat rajin mendatangi SMU Rajawali Sakti, meski tak ada satu orangpun yang bisa memberikan penjelasan. Mereka memburu sebuah berita yang katanya sangat fantastis. Sita hamil! Itu berita besar. Yups, Sita si bintang pelajar yang merupakan satu – satunya wakil propinsi yang akan dikirim ke Jakarta untuk pemilihan murid teladan serta pertukaran pelajar Indonesia – Australia.

            Karenanya, bisik – bisik tentang kehamilan Sita menjadi cerita hangat dari mulut ke mulut, di kafe, di lapangan basket, di ruangan guru, toilet bahkan hingga kegiatan rohis. Semua membicarakan kehamilan – tepatnya keguguran – Sita yang begitu mengejutkan.

            Ibarat kent*t, meski tak berbunyi tapi aromanya menyebar ke seluruh penjuru mata angin. Kalau tadinya hanya berupa bisik – bisik kini berubah menjadi desas – desus yang menjalar ke luar dinding sekolah. Selain hamil dan keguguran, berhembus issu lain, Sita kena guna – guna alias teluh. Sita bak selebritis yang mendadak terkenal. Dicari dan diburu para pewarta, termasuk si ratu gossip sekolah, Anggie. 

Semua bermula dari upacara Senen minggu kemaren. Tiba – tiba saja saat kepsek sedang memberikan wejangan, Sita yang berdiri di barisan terdepan ambruk ke tanah. Sita pingsan! Sejumlah rekan segera membopong Sita ke ruang UKS. Sita pingsan, mungkin persoalan  biasa. Tapi di kedua paha dan kakinya terlihat darah yang cukup banyak. Inilah yang menimbulkan kecurigaan bahwa Sita hamil. Apalagi, Nairah, sahabat Sita yang ikut mengantar ke ruang UKS keluar dengan wajah yang muram dan tegang.

“Sita kenapa, Nai?” Buru anak – anak III IPA 4 yang sedari tadi menunggu di depan pintu.

            “Aneh…!” Nairah bergumam

            “Aneh kenapa?” desak anak – anak makin penasaran

            “Sita pendarahan!”

            “Pendarahan????” anak – anak perempuan kompak terpekik. Sebagian menutup mulut mereka karena sadar terlalu keras berteriak. Mereka seperti tak yakin pada pendengarannya sendiri. Sedangkan anak – anak cowok lebih banyak tidak mengertinya dan hanya bisa saling pandang. Heran bin tak mengerti.

            “Keguguran maksudnya, Nai?” celutuk Dela yang kebetulan berdiri persis di samping Nairah.

            Nairah mengangkat bahu dan segera berlalu. Ia akan ke rumah sakit mengantar Sita bersama dua orang guru. Sikap misterius Nairah itulah yang membuatku jadi penasaran. Apa iya, Sita hamil lalu keguguran?

            Kejadian pingsan dan gossip kehamilan Sita, mengingatkan pada peristiwa beberapa tahun lalu. Ketika itu, seorang siswa juga mendadak pingsan saat upacara bendera persis seperti yang dialami Sita. Belakangan diketahui ia sedang hamil tiga minggu dan tak kuat berdiri lama – lama di bawah terik matahari. Ia juga alergi bau bawang putih yang digoreng dari kafe sekolah. Akhirnya ia terpaksa dikeluarkan dari sekolah dan batal mengikuti ujian akhir yang hanya tinggal dalam hitungan hari.

            Tapi, Sita? Apa benar dia hamil? Rasanya aku tidak percaya. Meskipun tidak berteman akrab, aku tahu, Sita bukan siswa sembarangan. Ia bintang sekolah, selama ini dikenal berprilaku santun dan jauh dari tingkah yang aneh – aneh.

            “Tapi, bisa aja kan, Ul? Kemasan yang menarik belum tentu menjamin isi dengan kualitas yang prima. Sekarang ini, banyak orang munafik lho. Lagaknya sok alim, tapi kelakukan minus, eh malah hamil lagi, bikin malu sekolah!” Kecam Anggie pedas ketika aku menyatakan kemustahilan atas apa yang menimpa Sita.

Anggie memang dikenal sebagai rival Sita dalam memperebutkan gelar murid teladan. Anggie kesal karena perbedaan nilainya dengan Sita terpaut tipis. Padahal Anggie sangat berambisi untuk memenangkan pemilihan itu dan terbang ke Melbourne mengikuti pertukaran pelajar.

            “Jangan gitu dong, Anggie! Belum tentu juga Sita hamil” timpal Mona yang ikutan nimbrung dalam pembicaraan kami.

            “Belum tentu, gimana?” suara Anggie meninggi. “Jelas – jelas dia pendarahan karena keguguran. Coba, apa namanya kalau tidak hamil?” Tantang Anggie berapi – api. Matanya berkilat, ada senyum mengejek di bibirnya. Anggie merasa di atas angin. Ini waktunya gue untuk maju, bisik hatinya.

                        ***

Sudah lima hari Sita dirawat di rumah sakit. Ia harus menjalani transfusi darah sebanyak 1000 cc. Pihak rumah sakit membenarkan kalau Sita pendarahan tapi bukan hamil seperti yang banyak disangkakan orang. Entah mengapa, aku jadi tertarik dengan penyakit Sita. Aku akan membuat reportase penyakit Sita untuk mading sekolah.

            Tapi di pintu kelas, langkahku dicegat Anggie yang sedang asyik bergosip ria. Biasa, bukan Anggie namanya kalau tidak bergosip.

            “Ulfa, sekarang kamu harus ngakuin kalau dugaanku benar” Anggie menebar senyum penuh kemenangan.

“Maksud, kamu?” Aku balik bertanya

“Sita memang hamil!” Anggie membelendungkan tangannya ke perut, memperagakan orang hamil.

“Jangan sembarangan, Anggie! Dokter sudah menyatakan kalau Sita itu tidak hamil. Dia cuma pendarahan menstruasi!” Aku coba mengingatkan Sita untuk tidak gegabah.

“Whaat?????….pendarahan menstruasi??? Kamu jangan naif, Ulfa! Tentu saja dokter tidak mau mengakui Sita hamil karena dokter di rumah sakit itu  sudah dibayar oleh orangtuanya. Pihak sekolah juga gak mau dong menanggung malu akibat kelakuannya si Sita itu. Murid teladan yang tiba – tiba saja hamil di luar nikah, Ufff…tentu memalukan sekali! Pokoknya, kepala sekolah tidak boleh mengirim Sita di ajang pemilihan murid teladan  itu. Sekolah harus mengirim gue,”  Geram Anggie dengan mata berkilat penuh emosi.

“Gak bisa gitu juga kali, Anggie!!”

“Kenapa nggak? Ulfa….Ulfa….Kamu tuh, benar – benar bodoh ya! Ngakunya wartawan mading sekolah tapi lelet kayak siput, kalah cepat dengan aku. Kasihan deh, Elo! Kamu dengar baik – baik ya, aku sudah melakukan investigasi terhadap sakitnya si Sita itu.  Seminggu  yang lalu, ada temanku yang memergoki Sita sedang mengunjungi seorang dokter kandungan di Jalan Thamrin. Coba kamu pikir! Ngapain anak sekolah seperti Sita ke dokter kandungan? Jangan – jangan dia waktu itu minta diaborsi kali, yaaaa!” Beber Anggie panjang lebar. Gayanya bak presenter infotainment di layar televisi.

Aku ternganga, antara percaya dan tidak. Dari dulu, Anggie tidak suka dengan Sita, mereka selalu bersaing. Anggie memang culas, ia sering mencurangi Sita. Anggie tak segan – segan berbuat kasar untuk menjegal Sita. Apa cerita yang barusan diceritakan Anggie bukan gosip belaka supaya ia bisa melenggang dengan mulus pada pemilihan murid teladan?  Ahhhhh…aku makin pusing.

Ternyata Anggie tidak main – main dengan ancamannya. Aku kaget ketika tahu – tahu di mading sekolah, terpampang berita kalau Sita dihamili seorang bule. Berita bertitel hot gossip itu dilengkapi sejumlah foto Sita dan seorang cowok bule. Meski tidak vulgar tapi terlihat kedekatan yang intim antara Sita dan si cowok. Gila! Anggie benar – benar nekad. Darimana Anggie mendapatkan foto – foto itu?

Setelah melihat foto – foto Sita, anak – anak SMU Rajawali Sakti mulai terpancing. Seperti dihipnotis mereka mengangguk – angguk dan mengecam Sita telah melakukan kebohongan. Anggie lalu memanfaatkan situasi itu. Ia menghasut murid – murid SMU Rajawali Sakti untuk melakukan demo ke ruangan kepala sekolah. Inti tuntutannya adalah agar membatalkan Sita dalam pemilihan murid teladan. Sebagai gantinya, pihak sekolah harus memasukkan nama Anggie. Sita juga harus dikeluarkan dari sekolah karena telah mencemarkan nama baik SMU Rajawali Sakti.

Dari jauh, aku melihat Anggie dan pasukannya menuju ruangan kepala sekolah namun belum sampai sudah dicegat satpam. Anggie yang memimpin  bak srikandi dalam perang Cut Nyak Dien, ngotot ingin masuk. Terjadi adegan tarik – tarikan dan saling dorong antara murid – murid dengan security yang dibantu beberapa guru laki – laki.

“Pokoknya, Sita harus dikeluarkan dari sekolah! Kalau tidak saya akan membocorkan pada wartawan tentang kejadian yang sebenarnya” Teriak Anggie berapi – api.

“Betuuuuuuuuullllllllllllll…..! Sita telah membuat malu sekolah kita” sambut murid – murid yang lain, kompak bener.

Suasana makin tidak karu – karuan, jumlah pendemo semakin banyak. Kepala sekolah dan para guru dibuat kewalahan. Akhirnya kepala sekolah keluar dan berjanji akan menerima perwakilan siswa setelah rapat kilat. Begitu siswa membubarkan diri, pihak sekolah pun segera mengadakan rapat kilat. Keputusannya, Sita harus memberikan klarifikasi tentang kejadian yang sesungguhnya.

***

 

Sita terlihat tenang, meski kondisi kesehatannya belum sepenuhnya pulih. Didampingi pihak rumah sakit dan sekolah, ia memberikan penjelasan. “Saya tidak akan bicara banyak. Sebab apa yang terjadi, semua adalah ujian atau teguran dari-Nya. Meskipun di luaran sana banyak sekali spekualasi tentang penyakit saya. Namun, saya yakin, ini merupakan sepenggal episode yang harus saya lalui dalam hidup yang cuma sebentar ini. Insyaallah, saya diberikan kekuatan dan keikhlasan. Tapi satu yang pasti, saya tidak hamil apalagi keguguran. Juga bukan kena guna – guna atau teluh. Semua ini, pure penyakit. Untuk lebih jelasnya, biarlah dokter yang akan memberi penjelasan. Menyoal keikutsertaan saya sebagai murid teladan dan pertukaran pelajar, sepenuhnya saya serahkan kepada pihak sekolah. Mereka tahu yang terbaik untuk saya, sekolah dan kita semua. Insyaallah, semua kejadian ini ada hikmahnya. Allah subhanawata’ala lebih mengetahui segalanya” 

Selanjutnya, giliran Dokter Wahyu yang memberikan keterangan.

“Sita benar, dia tidak hamil. Memang, dia pernah datang ke dokter spesialis kandungan tapi itu untuk memeriksakan siklus menstruasinya yang tidak teratur. Sita mengeluh nyeri yang luar biasa saat menstruasi disertai banyaknya darah yang keluar. Kami menyimpulkan, Sita mengalami yang namanya disfungsi blooding.  Penyakit ini merupakan hal wajar karena 70% kaum wanita pernah mengalaminya. Dengan kata lain, Sita mengalami masa menstruasi lebih panjang atau lama dengan intensitas darah yang keluar juga sangat banyak.  Penyebabnya bisa jadi karena kecapekan atau stress atau faktor lain yang belum terdiagnosa. Jadi sekali lagi kami beritahukan kepada semua, Sita tidak hamil bahkan dia masih virgin” Papar Dokter Wahyu panjang lebar.

 Usai penjelasan dari Dokter Wahyu, seorang wartawan memburu Sita dengan pertanyaan seputar foto cowok bule.

“Dia kakak saya”  sentak Sita, mengejutkan semua yang hadir.

“Kakak??”  terdengar gumaman yang hampir serempak.

Sita tersenyum. “Yups, yang ada di foto bersama saya itu adalah Zachry, anak papa saya dengan seorang perempuan asal Kanada. Mungkin tidak banyak yang tahu, sebelum menikah dengan mama, papa memang pernah menikahi seorang perempuan asing. Zachry datang ke Indonesia untuk tinggal bersama kami karena ibunya sudah meninggal beberapa bulan yang lalu. So, Zachry adalah kakak kandung saya, gak ada yang salah dengan foto itu kan? Wajar kalau kami terlihat sangat dekat”

Sita mengakhiri jumpa pers nya.

Sementara itu, tak jauh dari ruang pertemuan, sepasang mata tampak berkaca – kaca. Sejumput asa masih bergema di ruang hatinya, mimpi menjadi murid teladan dan terbang ke Melbourne.*

 

Sering kali fakta memancing kita untuk berprasangka, padahal yang terjadi belum tentu sama dengan yang terlihat...

 

Yuk, Jadi ORANGTUA ASUH (OTA) Santri Penghafal Qur'an Askar Kauny! Donasi Rp 150.000,-/bulan. Dapat Majalah Ummi (free ongkir)

Transfer ke Bank Muamalat 335-000-9175 a.n. Yayasan Askar Kauny

Konfirmasi ke 0813 8054 4843 : OTA#Nama#AlamatLengkap#Telp#jumlahtransfer#TanggalTransfer#JamTransfer

Tags:
loading...