Sepenggal Kejujuran Iblis

Fashion-Styles-for-Girls-Online

Penulis: Lukman Mahbubi

Aku membawamu ke Pantai Lombang ini, hanya ingin menunjukkan bahwa anakmu, Si Odipus, sekarang sudah punya anak. Dan, engkau sudah punya cucu. Maka terimalah ia sebagai karunia terbesar yang telah Tuhan berikan padamu, juga pada keluargamu.

***

Kau tak perlu menatapku seruncing itu, Nuh. Semua yang aku katakan itu benar. Sekarang kamu sudah punya cucu. Laki-laki. Kau tak perlu bertanya kapan anakmu menikah, lalu punya anak?

“Apakah bayi dalam kardus ini yang kau maksud?”

Ya, benar. Itu adalah cucumu. Kau tahu, kenapa ia ada di pantai ini? Angin Mamiri berwarna merah telah membawa ibunya ke mari. Ia bukan bayi ajaib yang Tuhan kirimkan padamu lantaran keasyikanmu beribadah.

Tentu saja ini hanya karena rasa sayangku padanya seperti aku menyayangi ayahnya. Aku akan mendidiknya menjadi lelaki yang kekar seperti badak. Atau bahkan seperti srigala buas yang selalu meraung-raung kelaparan, seperti ayahnya.

“Maksudmu?”

Ah, kau memang terlalu dungu untuk sekedar memahami kata-kataku. Tapi baiklah, aku akan ceritakan seutuhnya kepadamu. Aku akan ceritakan hal ihwal tentang apa yang terjadi pada anakmu (keluargamu).

Semua ini karena aku sangat membenci orang-orang seperti dirimu. Selalu shalat, puasa, beramal shaleh, dan selalu (bahkan tak pernah berhenti) berdzikir kepada Tuhan. Maka sebab itulah aku memusuhi semua orang terdekatmu. Mereka harus tunduk dan patuh terhadap perintahku, tidak pada Tuhan sesembahanmu itu. Aku tak ingin kehilangan sahabat. Aku ingin mereka terjebak pada neraka yang telah kubungkus dengan surga.

Kau ingin tahu, apa alasannya kenapa aku sangat membencimu? Aku ingin membalas perbuatanmu. Kau telah membunuh anak cucuku, Nuh. Mereka mati saat mendengar kamu sedang khusyuk mengaji. Kau telah membunuh mereka. Kau telah memadamkan api yang berkobar dalam jiwa mereka dengan ayat-ayat yang kau baca. Aku tak terima perbuatanmu. Kau telah mengobarkan api lain dalam jiwaku: Dendam.

“Lalu bagaimana caramu melampiaskan dendammu?”

Ha ha ha… benar-benar dungu kau Nuh! Apakah kamu tidak merasakan bagaimana penyiksaanku terhadap keluargamu? Apakah kau tidak pernah bertanya kenapa tiba-tiba saja istrimu yang shalihah itu bisa berubah menjadi perempuan binal? Kemudian dia merasa asing hidup denganmu, lalu minta cerai? Aku, Nuh. Akulah yang telah merubahnya manjadi seekor ular berbisa. Aku telah berhasil membuat lidahnya bercabang dan sering mendesiskan kenikmatan. Sehingga, dia telah berani membangkang perintahmu, lalu minta cerai. Menarik kan, Nuh? Aku sutradara hebat kan?

Begini, Nuh. Suatu malam, saat kau sedang I’tikaf di Masjid, aku mendatanginya. Aku merayunya. Aku perlihatkan semua keindahan-keindahan yang belum pernah dia lihat sebelumnya. Uang, permata, emas, lelaki-lelaki gagah dan berotot, sebuah taman yang indah, rumah mewah, bahkan aku perlihatkan surga kepadanya. Tentu saja dia mau kujadikan sahabat dan tergiur pada keindahan yang kutawarkan.

“Aku ingin kaya,” katanya.

“Kalau kau ingin kaya, mintalah cerai pada suamimu. Suami seperti dia tak akan pernah membuatmu kaya. Dia tak akan pernah mengubah garis hidupmu. Dia hanya bisa shalat dan mengaji. Tak mungkin bisa kaya,” kataku.

“Benarkah?” tanyanya.

“Ya,” jawabku singkat.

Dan setelah itu, Nuh, aku sering mengajaknya ke Pantai ini. Aku memintanya untuk berdandan layaknya seorang penari di Club-club malam. Dia mau. Kau tahu kenapa? Karena aku telah menyihirnya menjadi perempuan dungu yang hanya bisa tunduk pada perintahku.

Saat ada lelaki hidung belang meliriknya, aku tiupkan api asmara ke dalam rahimnya. Lidah ularnya mulai menjilat-jilat bibirnya yang sensual penuh lipstik itu, menumbuhkan gairah cumbu bagi singa-singa yang kelaparan. Singa dan ular berpacu rindu. Bukankah keduanya sama-sama hewan buas kan, Nuh? Mereka cocok dan pantas bila menjadi dua sejoli yang bercinta dalam remang kan?

“Lalu sampai kapan kau akan mengakhiri kebiadabanmu itu?”

Runcing benar ucapanmu, Nuh. Kau tahu, tak ada kata “akhir” dalam hidupku.

Setelah Tuhan mengasingkanku dari surga, aku merasa tersiksa. Aku benar-benar merasakan bagaimana kesepian mengoyak-koyak hatiku. Aku berharap maut segera datang, tapi Tuhan tak mengizinkannya. Tuhan menyiksaku dengan kesendirian, tanpa teman.

Maka dari itulah, Nuh, aku berdoa pada Tuhan agar aku diizinkan mencari teman siapa pun yang kusuka. Lalu Tuhan mengabulkannya. Aku diizinkan menjadi sahabat keturunan Adam sampai langit dan bumi kembali pada penciptanya.

Ya, aku memilih keturunan Adam. Dan Hawa salah satunya. Aku tahu Hawa tercipta dari tulang rusuk adam yang lembut, lemah, dan mudah patah. Begitulah kenapa aku memilih istrimu untuk menjadi temanku. Aku suka kelembutannya. Aku rasa dia lebih mudah untuk kululuhkan hatinya.

“Kau memang mahluk terkutuk. Pantas saja kalau Tuhan melaknatmu”.

Itu yang membuat aku kecewa, Nuh. Saat aku bertanya, kenapa dia mengasingkanku dari surga, Dia tak menjawabnya. Bahkan, Dia telah mungubah wujudku menjadi mahluk yang paling menakutkan. Aku kehilangan mata kiriku. Sehingga, pantaslah jika mereka takut pada perawakanku yang menyeramkan. Hewan, angin, air, tumbuhan, bahkan manusia, semuanya memusuhiku. Hanya api yang kadang masih mau menjadi sahabatku.

Tuhan Maha tahu kan, Nuh? Mengapa Dia masih membiarkan aku hidup kalau sudah tahu bahwa aku akan membangkang perintahNya? Mengapa Dia tidak membunuhku seperti bayi yang tak diizinkan terlahir karena Tuhan tahu ia akan durhaka pada kedua orang tuanya?

“Ah, sudahlah. Aku muak menatapmu lama-lama. Lebih baik kau pergi saja kemapun yang kau suka.”

Sebentar, Nuh. Ada yang masih belum aku ceritakan padamu. Kau tak perlu terburu-buru memintaku untuk pergi dari hadapanmu. Tanpa kau minta, aku akan pergi sendiri. Tapi setelah aku puas mengutarakan kejujuranku kepadamu. Kau tak perlu mengulang kata-katamu yang runcing itu. Berikan padaku sedikit waktu untuk menceritakan sesuatu yang membuatku berpesta semalam suntuk.

Begini, Nuh, setelah kau menceraikan istrimu, aku bahagia. Aku kumpulkan segenap keluarga, sahabat, bahkan tetangga-tetanggaku. Kami berpesta merayakan kemenangan. Kami minum Wiski dan Vodka sepuas kami sampai kami mabuk semalam suntuk. Kami benar-benar merasa menang karena kau telah resmi menjadi duda dan istrimu telah resmi menjadi janda.

Kau tahu, di mana kami merayakannya? Di rumah mungilmu, Nuh. Tapi rumahmu yang dulu itu sekarang sudah berubah. Mantan istrimu yang mengubahnya menjadi istana. Dia sudah menjadi orang kaya. Tapi saat kami berpesta, rumahmu masih mungil. Banyak genteng bocor di sana. Dan kalau hujan, rumahmu akan berubah menjadi sungai.

Ya, mantan istrimu juga ikut berpesta bersama kami. Aku telah berhasil membujuknya untuk ikut berpesta agar kesedihannya sedikit berkurang. Dia mabuk, Nuh. Dia kebanyakan minum arak. Padahal, aku sudah melarangnya minum arak. Arak terlalu berbahaya untuk perempuan selemah dia. Tapi dia keras kepala, Nuh. Dia tak mau aku nasehati, hingga dia kehilangan akal sehatnya.

Saat dia mabuk, aku palingkan wajahnya ke kamar anakmu. Anakmu tidur telanjang. Dia benar-benar lelaki rupawan. Dadanya bidang, otot-ototnya kekar. Maka wajar kan Nuh, bila istrimu sangat berhasrat dengannya?

“Lalu?”

Lalu dia masuk ke kamar anakmu. Dia benar-benar telah menjadi ular bersisik api. Dari mulutnya kembali terdengar desisan samar meski tak sampai membangunkan anakmu. Dan secara diam-diam aku berusaha untuk membangunkan gairah kelelakiannya.

Dan selanjutnya, anakmu telah menjelma menjadi Odipus. Itupun atas kelihaian ibunya dalam merayu anakmu itu. Dan ternyata, Nuh, anakmu juga ketagihan pada kemolekan tubuh ibunya. Dia sangat kesemsem pada odem parfum ibunya.

“Menyakitkan!”

Ya, ini memang menyakitkan. Tapi mereka bahagia kan, Nuh? Nasib mereka sungguh beruntung, Nuh. Tak seperti nasibku yang selalu menyedihkan. Anak dan cucuku banyak yang mati karena kau tusuk dengan belati Agungmu. Aku kehilangan keluarga. Aku kehilangan kebahagiaan. Lalu siapa yang akan memberikan kebahagiaan itu padaku, Nuh? Tak ada kan?

Dan sekarang, Nuh, aku cukup bahagia melihat keluargamu bahagia. Aku bahagia karena kau telah mempunyai seorang cucu. Tapi sayang, ibu yang mengandungnya tak mau punya anak lagi. Dia tak ingin terganggu dengan datangnya lelaki lain di rumah itu. Maka dari itulah ia dibuang oleh ibunya. Padahal, kalau boleh jujur, aku sangat kasihan melihatnya, Nuh.
Dan sebab itulah aku membawamu ke Pantai Lombang ini. Aku ingin kau merawatnya. Dan jika sudah besar, aku akan memintanya kembali padamu.

Sudah ya, Nuh. aku tak ingin berlama-lama di Pantai ini. Aku tak tega menatap cucumu berlama-lama. Ia hanya mengingatkan aku pada cucuku yang kau bunuh itu. Lebih baik sekarang aku menemui ayah-ibunya. Siapa tahu mereka lagi berpesta.

Tapi, sebelum aku pergi, aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu: aku tak akan berhenti memburumu, sampai kau mau tunduk pada perintahku.

 

Sumenep, 2010


1. Odipus: Seorang lelaki yang selalu berhasrat untuk melakukan hubungan seks dengan ibunya.
2. Angin Mamiri saya ambil dari judul puisi M. Faizi “Aku Kirimi Engkau Angin Mamiri”
3. Frase ini terinspirasi oleh pertanyaan Al- Asyari saat berdialog dengan gurunya.

Yuk, Jadi ORANGTUA ASUH (OTA) Santri Penghafal Qur'an Askar Kauny! Donasi Rp 150.000,-/bulan. Dapat Majalah Ummi (free ongkir)

Transfer ke Bank Muamalat 335-000-9175 a.n. Yayasan Askar Kauny

Konfirmasi ke 0813 8054 4843 : OTA#Nama#AlamatLengkap#Telp#jumlahtransfer#TanggalTransfer#JamTransfer

Tags:
loading...