Seperti Langit

Fashion-Styles-for-Girls-Online

Penulis: Adi Zamzam

 



“Qataltuhu… qataltuhu… Aku telah membunuhnya dengan tanganku sendiri ya Allaaah…!” teriakku kepada langit gurun.
 

Tak ada gema, tak ada sahutan. Hanya angin gurun yang berdesau, seolah ingin menghibur hatiku yang poranda oleh badai. Amarah dan sedih baur tak karuan. Ingin menangis, namun ada amarah yang menghadangnya. Ingin marah, namun kesedihan itu telah meluluhkan semua benteng pertahanan. Ingin kulipat jubah gelap yang membungkus malam agar tersibak terang. Dan rasa yang membadai dalam dadaku ini lerap oleh cahaya.

“Qataltuhu… Aku telah membunuhnya dengan tanganku sendiri  ya Rabb…!”

*    *    *

Tiga hari sebelum peristiwa berdarah itu, mulanya hari terasa tenang buatku. Semuanya terasa cukup. Meski aku bukan siapa-siapa di Baghdad.

Aku adalah seorang pemuda dengan umur yang dianggap terlalu tua untuk  menikah. Yah, masa-masa emasku telah lewat. Namun demikian, aku cukup bahagia dengan keadaanku. Seorang penjaga toko kelontong warisan orang tua. Meski penghasilan tak menentu, tak pernah kuturuti rasa iri dalam hati untuk membenci siapapun. Aku hanya ingin hidup damai—menebus kehidupan masa kecilku yang suram. Kalian tentu tahu sejarah perjalanan negeriku yang dipenuhi dengan peperangan.

Namun ternyata tidak semua orang bisa menerima kedamaianku.

Benih badai berawal pagi itu, ketika aku tengah sibuk menghitung barang-barang yang aku butuhkan untuk mengisi toko. Sebuah ketukan pintu. Empat laki-laki telah berdiri siaga di muka pintu. Tanpa salam, apalagi senyum, mereka langsung menodongkan senapan ke mukaku.

“Ada apa ini? Ada apa ini?...”

Kepanikanku tak dipedulikan. Pertanyaanku langsung dibungkam. Bahkan cahaya di kedua mataku pun mereka padamkan.

Tubuhku digelandang paksa ke sebuah mobil. Tak ada suara. Tak ada pertanyaan mengapa. Tak ada pengadilan. Tak tahu apa sebab-musababnya.

Sesampainya di sebuah tempat yang tak kuketahui di mana persisnya, tiba-tiba mereka bicara dengan pukulan bertubi-tubi. Aku sama sekali tak diperbolehkan menjawab. Aku hanya diperbolehkan menerima semua itu dengan mulut dan mata terkunci gelap.

Aku tak bisa menghitung berapa persisnya jumlah pukulan, tendangan, tempelengan, juga ludahan yang mereka berikan pada jasadku, karena jiwaku tengah sibuk mencari-cari kesalahan apa yang sebenarnya telah aku lakukan hingga aku harus dibeginikan. Namun hingga tubuhku lungkrah kehilangan segala daya, jiwaku masih belum menemukan apa itu yang patut diganjar hukuman sesakit ini.

Tanpa pamit, mereka pergi meninggalkanku yang setengah sadar. Gelombang tanya menderu-deru di telinga. Di akhir separuh kesadaranku, suara adzan menerobos lubang telinga. Aku tahu itu masjid.

*    *    *

Lebam di sekujurku belum sepenuhnya hilang. Kesalahanku pun belum jenak kutemukan. Namun sehari setelah penculikan itu, mereka kembali menemukanku di toko. Adab mereka tetap. Tanpa salam tanpa tanya mereka langsung membungkam mulut dan memadamkan cahaya mata. Mereka kembali menghakimiku!

“Kami tahu kau seorang gay!” tamparan itu berteriak lantang, terdengar bagai petir di telingaku. Seketika itu pula, jiwaku pun akhirnya menemukan titik terang.

Peristiwa itu terjadi dua minggu sebelum hari ini. Kami bertemu di sebuah warnet tak jauh dari tokoku. Saat itu aku sedang memenuhi permintaan Khalili—pemilik warnet—untuk memperbaiki jaringan lampu yang rusak. Aku harus mematikan saklar listrik bagian tengah rumah. Tanpa sengaja aku melihat apa yang dia lihat di layar komputer. Aku hampir saja mengucap maaf, tapi kalimat itu urung keluar setelah sadar bahwa dia nampak ketakutan. Seorang lelaki melihat aurat lelaki dalam sekat-sekat ruang warnet. Tentu pikiranmu langsung menebak siapa dia itu. Tentu saja, dia buru-buru mengganti channel website demi mengelabui mataku. Meski tahu itu sia-sia karena aku sudah terlanjur memergokinya.
Kemudian aku tahu bahwa nama pemuda itu Qaisar, karena sehari --> dia mendatangiku di toko dengan membawa wajah susah. Dia bilang, “Aku sedang belajar untuk mencintai perempuan. Sungguh, aku sedang belajar mencintai perempuan. Tapi semua itu butuh proses, semua butuh waktu. Kumohon, mengertilah aku. Demi Allah…,” ia memohon-mohon seraya membawa-bawa nama Tuhan demi meyakinkanku.

Aku paham ketakutannya itu.

Beberapa saat setelah pasukan Sekutu yang dipimpin Amerika Serikat mengobrak-abrik negeri ini dan menumbangkan Saddam Hussein, kontrol para syeikh memang lebih longgar. Namun setelah keadaan mulai pulih, dan berpuncak ketika pasukan Sekutu perlahan ditarik pulang, perburuan terhadap kaum homoseksual merajalela di mana-mana. Memelihara rambut kelewat panjang atau mengenakan baju dan jins terlalu ketat bisa menjadi alasan seseorang dikenai tuduhan sebagai gay. Apalagi Qaisar sudah jelas-jelas kutangkap basah.

Tapi kemudian ia menceritakan seluruh kisah hidupnya kepadaku…

Ia dibesarkan tanpa ayah oleh ibunya di kota Al Tanak—distrik yang sudah terkenal sebagai tempat kotor di Mosul. Ia bahkan tak mengenal siapa ayahnya karena ibunya selalu marah jika ditanya perihal ayah Qaisar. Ibu Qaisar memiliki banyak lelaki, sehingga mungkin dia kesulitan menentukan lelaki mana yang ayahya Qaisar. Dalam lingkungan yang seperti itulah perempuan jadi terlihat tak menarik lagi di mata Qaisar. Diam-diam Qaisar mencintai sosok-sosok perkasa para lelaki. Dan celakanya, perasaan itu makin hari makin menggebu-gebu.

Bertahun-tahun ia merahasiakan sisi gelapnya itu. Namun sebenarnya ada yang terdera dalam dada Qaisar. Ia ingin sembuh. Tapi ia merasa takkan bisa sembuh jika tak  menjauh dari ibunya. Tersebab itulah ia memutuskan hijrah sendirian ke Baghdad.

Qaisar terlihat bersungguh-sungguh agar aku mempercayai ceritanya itu. Bahwa kejadian di warnet kemarin hanyalah kecelakaan kecil semata. Ia memang tak bisa menghapusnya begitu saja. Keinginan buruk itu tiba-tiba muncul membakar darah dan mendorongnya untuk melakukan hal-hal buruk itu lagi.

Aku sedikit jijik ketika melihat Qaisar. Jujur aku khawatir jika ini adalah taktiknya semata untuk meraih simpatiku. Tapi entahlah. Jika melihat perawakan pemuda itu, aku seperti melihat bayanganku sendiri. Pemuda berpenampilan lembut dan berwajah ayu. Aku pernah mengalami masa-masa suram itu, ketika banyak mulut sering mencandaiku karena diriku yang yang tak juga beristri. Aku pun sedang berjuang memperbaiki nasib, mencari penghasilan tetap yang kuanggap cukup untuk menafkahi keluargaku kelak.

Kukira Qaisar perlu diberi kesempatan. Aku pun ingin diberi waktu untuk merubah nasibku. Seharusnya semua orang mengerti, tak mudah untuk mendapatkan kehidupan layak di negeri ini.

Tapi entahlah. Tanpa kusangka kejadian ini datang tiba-tiba.

“Kami  tahu kau seorang gay!” tamparan itu berteriak lantang. Terdengar bagai petir menampar kesadaranku.

Ingin kusangkal. Tapi bagaimana bisa jika mulutku disumpal?!

Mereka lalu membaca keras-keras daftar nama yang dicurigai sebagai pewaris kaum laknat Nabi Luth. Aku tahu, dua nama telah mereka bunuh, tiga nama masih berkeliaran, sedang sisanya entah di mana mereka. Ada dua perempuan dalam daftar nama tersebut.

“Ayo katakan, siapa teman-temanmu?!” ganti sebuah tendangan membentakku.

Saat penyumpal mulutku dibuka, berhamburanlah teriakanku; Bahwa aku bukan gay, bahwa aku lelaki normal, bahwa toko kelontongku hanya mampu memberikan penghasilan pas-pasan, bahwa aku sedang menunggu Allah mengubah nasibku.

Saat itulah mereka lalu menyebut nama Qaisar, yang pernah bertandang berjam-jam di tokoku. Saat ini Qaisar telah menjadi salah satu buronan yang mereka cari.

Aku sudah jujur saat kubilang aku tak tahu di mana keberadaan pemuda itu. Tapi mereka bukanlah tipe orang-orang yang mudah percaya. Maka tubuhku pun kembali menjadi bulan-bulanan.

*    *    *

Beruntung, Nizar kakak tertuaku mau menebusku dari mereka. Dari kelima saudaraku, memang hanya dialah yang terlihat paling peduli kepadaku.

Tidak dengan keempat saudara tuaku yang lainnya. Acuh dan hanya peduli pada diri sendiri. Bahkan aku pun tak menyangka bahwa musibahku kali ini justru berasal dari mereka!

“Apa kau tak dengar kata orang-orang tentangmu?! Umur tiga lima tak juga kelihatan punya niat untuk menikah. Eh, sekarang malah berhubungan dengan seekor anjing dari Mosul. Apa kau pikir kami tak ikut malu?!” cibiran kak Hubaib menyambut kepulanganku.

“Dari mana Kak Hubaib tahu kalau aku…”

“Jangan katakan bahwa kau juga ingin menjadi anjing,” potong Kak Syareef.

“Aku bukan gay!” teriakku menangkis semua tuduhan mereka. “Apa kalian tahu, bahwa seorang gay pun tak ingin selamanya menjadi gay?!” tak dapat lagi kutahan amarahku.

Sakit itupun kembali berlintasan. Tentang masa kecilku yang penuh ejekan. Kata mereka wajahku cantik, kata mereka gerak tubuhku terlalu gemulai, kata mereka mataku menarik, kata mereka seharusnya aku terlahir sebagai perempuan.

Hari-hariku pun berjalan dengan dipenuhi pahit di hati. Kupaksa-paksa tubuh ringkihku untuk menandangi semua pekerjaan yang selalu dikait-kaitkan dengan cap kelelakian. Tapi aku tak bisa. Tubuhku tak mampu. Aku malah jadi sering sakit-sakitan saat terlalu memaksakan diri. Padahal pasca keruntuhan Presiden Saddam, kehidupan semakin menuntut siapapun untuk tak pilih-pilih pekerjaan. Apa mau dikata? Kemampuanku hanyalah meneruskan keberlanjutan toko kelontong warisan yang untungnya tak seberapa. Meski sesekali aku juga melukis, tapi siapakah yang peduli dengan keindahan lukisan jika kebutuhan pokok lebih mendesak?

Kupikir aku akan bisa menjadi seperti langit. Bisa menaungi dan meneduhi siapa saja, bisa menjadi indah di mata siapapun, tak pilih-pilih memberikan lapang kepada siapa saja, karena toh aku tak tahu bagaimana masa depan siapapun. Bukankah bisa jadi Qaisar memang betul-betul sedang dalam proses perubahan?

Tapi aku harus bagaimana? Mereka memaksaku. Mereka memancing-mancing sesuatu yang sebenarnya sangat ingin kupendam jauh-jauh. Maka terjadilah sore berdarah itu. Sore yang takkan mungkin kulupakan seumur hidup. Karena aku harus membuktikan semuanya kepada mereka.

*    *    *

Sore tadi aku melihat Qaisar duduk-duduk di teras masjid dekat toko kelontongku. Dengan bulu lebat di dagu dan cukuran pendek(dulu rambutnya kelewat panjang untuk ukuran para pria), ia memang membuatku pangling. Kebetulan sekali katanya ia ingin bersilaturrahmi ke rumahku. Seperti sebuah takdir yang terancang amat sempurna.

Entah bagaimana mulanya, kebencian itu tiba-tiba muncul dan menyesak-nyesak dalam dadaku. Yang pasti, ingin kuperlihatkan kepada keempat kakakku bahwa aku tidaklah seperti yang mereka tuduhkan. Setelah kubuatkan minuman, aku pamit sebentar menuju rumah Kak Syareef yang aku tahu menyimpan sepucuk pistol. Kejadian selanjutnya, tentulah bisa kau terka sendiri kelanjutannya…

“Qataltuhu…qataltuhu… Aku telah membunuhnya dengan tanganku sendiri ya Rabb!” teriakku pada langit malam.

Yang membuat penyesalan tiba-tiba menyembul dalam hatiku adalah; Sedetik sebelum tarikan nafas akhir Qaisar, kudengar pemuda itu lirih mengucapkan syahadat! Masih pantaskah keinginanku untuk bisa menjadi seperti langit lagi?



Kalinyamatan – Jepara,  September 2011.

Yuk, Jadi ORANGTUA ASUH (OTA) Santri Penghafal Qur'an Askar Kauny! Donasi Rp 150.000,-/bulan. Dapat Majalah Ummi (free ongkir)

Transfer ke Bank Muamalat 335-000-9175 a.n. Yayasan Askar Kauny

Konfirmasi ke 0813 8054 4843 : OTA#Nama#AlamatLengkap#Telp#jumlahtransfer#TanggalTransfer#JamTransfer

Tags:
loading...