Sepucuk Surat untuk Pieter

Fashion-Styles-for-Girls-Online

Perempuan itu menatap lekat sepucuk surat yang tergeletak di atas meja. Ada harum yang menyeruak dari surat itu, entah wangi apa, ia tidak terlalu paham. Telah dua kali ia membuka surat dalam amplop berwarna putih kecoklatan itu. Tapi, ia kembali melipatnya. Bukan karena temaram bilik hingga matanya tak awas membaca deretan huruf kecil-kecil yang berbaris di kertas itu. Melainkan karena ia memang tak bisa membacanya. Ia buta huruf, seperti kebanyakan perempuan yang ada di tanah ini.

“Kau harus belajar menulis dan membaca,” itu ucapan yang dilontarkan Bakdi kepadanya beberapa purnama silam, “Meneer Don van Pieter tentu punya banyak rahasia penting dari Gubernur tentang VOC di Batavia. Bila itu kau dapatkan, itu sangat berguna bagi perjuangan bangsa kita,” sambung Bakdi yang membuatnya tercenung. Diam dalam senyap yang membungkus.

Entahlah, ia tidak pernah melintaskan pikiran itu dalam benaknya. Mungkin benar bila dikatakan ia tidak punya keberanian untuk melakukan itu. Ide yang dilontarkan Bakdi terlalu mengerikan. Bagaimana bila Meneer Don van Pieter menangkap basah ulahnya? Tentu tiang gantungan yang ada di Stadhuis –sebuah lapangan di Batavia, akan menunggunya. Ah, bayangan itu terlalu mengerikan.

Ia pernah sekali melihat hukuman gantung di Stadhuis. Dan itu sangat menakutkan. Ia sampai bermimpi buruk selama beberapa pekan.

Awalnya, ia pun tak ingin melihat hukuman gantung itu. Tapi, rasa penasarannya tumbuh jua ketika Bakdi dan beberapa pekerja pribumi di rumah ini menceritakan ihwal mengerikan itu jauh-jauh hari. Ia semakin tak bisa menahan keinginannya untuk pergi, ketika rumah mendadak sepi saat bunyi terompet kavaleri dan derap kuda hiruk pikuk di jalanan. Sementara itu, meneer Don van Pieter pagi-pagi buta berangkat ke Batavia. Akhirnya, ia mengikuti para pekerja pribumi di rumah itu ke Stadhuis. Dan ia melihat pemandangan menakutkan itu. Ia sampai memalingkan mukanya. Tak tahan.

Bayangan wajah Tjoen Boen Tjiang, pemuda Tionghoa yang dituduh membunuh meneer-nya, berkelojotan dan menggelepar-gelepar di seutas tali itu membuatnya gemetar. Ia membayangkan dirinya akan mengalami nasib serupa itu bila mengikuti kata-kata Bakdi. Ah, tentu saja meneer Pieter akan melakukan hal itu untuk seorang pengkhianat di rumahnya, sekali pun itu ia: Nyai yang lelaki Holland itu begitu cintai.

Cinta? Ia kembali tercenung. Entah, ia merasa kaget sendiri dengan kalimat yang terlontar dalam benaknya itu. Cintakah yang telah membuat meneer Don van Pieter mengambilnya sebagai nyai dan membebaskannya dari status jongos yang membelenggunya sejak bertahun-tahun itu. Cinta atau nafsu dari meneer muda yang masih lajang itu. Atau dia seperti kebanyakan laki-laki Holland yang ada di Batavia, belajar menjadi laki-laki sejati dari gundik-gundik pribumi sebelum menikah dengan perempuan terhormat dari tanahnya. Entah, ia selalu tak bisa menjawab pertanyaan itu bila terlontar dalam tempurung kepalanya.

Dan kembali ia menatap lekat sepucuk surat yang ia temukan di saku baju Pieter sepekan silam, pada petang yang tiba-tiba saja membuat perasaannya kacau-balau. Ada takut, cemburu, dan mungkin saja sedikit perasaan lega yang ia sendiri tak tahu lega untuk apa, hinggap dalam dadanya. Mungkin ia lega, bila kabar yang Bakdi ceritakan itu benar, itu artinya hari-harinya sebagai nyai akan segera usai. Bagaimana pun ia merasa berdosa dan sangat bersalah pada Gusti Allah atas hubungannya dengan Pieter. Tapi, bisa apa ia? Bisa apa perempuan pribumi lemah sepertinya melawan lelaki Holland itu? Nyaris tak ada yang bisa ia lakukan, selain menurut.

Ia sudah berusaha menyingkirkan bayangan tentang surat itu. Anehnya, semakin ia berusaha menimbunnya dalam ingatan. Bayangan sepucuk surat untuk Pieter itu kian mengkantar-kantar matanya. Sepucuk surat itu seperti hantu yang terus menerornya siang dan malam. Bahkan bau parfum yang melekat di surat itu seolah-olah menempel di hidungnya. Ujung-ujungnya, ia akan teringat dengan cerita Bakdi beberapa purnama silam itu. Cerita yang membuat perasaannya kacau dan ia pun seolah tak mengenali dirinya lagi.

Meneer Pieter bercerita kepadaku kemarin petang,” cerita Bakdi subuh buta itu, saat ia secara sembunyi-sembunyi pergi ke dapur dan sembahyang subuh berjamaah dengan Bakdi dan beberapa pekerja pribumi di rumah ini, sementara itu Pieter masih terlelap dalam biliknya. Ia menyimak tanpa menyela sepatah kata pun. Ditunggunya kelanjutan cerita Bakdi.

Meneer bilang, kedua orangtuanya di Holland meminta ia segera menikah dengan Cornelia, pacarnya, anak seorang hakim di Holland. Cornelia bersedia mengikutinya ke Batavia.”

Perempuan itu tersengat, ia mengangkat wajahnya, ia tak bisa menyembuyikan gurat terkejut yang seketika bersarang di wajahnya. Ia makin terdiam. Tenggorokannya mendadak mengering, seolah-olah tak ada lagi liur di dalamnya. Dan tiba-tiba saja perasaan menyakitkan itu hinggap di ulu hatinya.

“Ketika aku beranikan bertanya; Apa Meneer masih mencintai Cornelia dan bersedia menikah dengannya? Meneer tidak menjawab,” sambung Bakdi. Ia masih diam. Entah, ia sendiri tak tahu harus berkata apa. Bagaimana pun, ia menyadari, suatu saat ini akan berakhir. Sejujurnya, ia pun ingin semua ini segera berakhir. Perasaan bersalah dan berdosa terus saja mengejarnya. Ia sadar akan hal itu. Sesadar ia akan perasaan cinta yang diam-diam tumbuh dalam dadanya. Ia jatuh cinta dengan meneer Pieter. Perasaan yang mati-matian ia timbun dalam-dalam.

“Apa selama ini Meneer masih berhubungan dengan Cornelia?” mendadak tanya itu terlontar dari bibirnya. Ia pun terkaget sendiri ketika menyadari ucapannya barusan.

“Mereka berhubungan dengan surat, itu cerita Meneer,” jawab Bakdi, seolah tidak tahu dengan perubahan raut wajahnya. Dan Bakdi tidak berkata-kata lagi ketika mendengar suara Pieter yang mencari perempuan itu. Perempuan itu pun bergegas melepas telekung subuhnya, memberikannya tergesa-gesa kepada Bakdi, sebelum melangkah cepat-cepat ke asal suara.

Ia menghela napasnya, berusaha membuang gumpalan sesak yang tiba-tiba terasa begitu menghimpit. Entahlah, ia benar-benar tidak paham dengan dirinya. Bukankah seharusnya ia merasa bahagia, akhirnya waktu yang ia tunggu itu akan datang juga. Ia sudah berdiri di suatu titik yang dari titik itu, ia bisa melihat garis batas perjalanannya. Ia sudah begitu lama memimpikan titik itu. Tapi, ketika ia telah melihatnya. Mengapa justru perasaan ganjil itu yang datang menyergap.

Mungkin perasaaan ganjil itu bukan semata-mata karena perasaan tak pantasnya kepada meneer Pieter. Tapi, ditambah akan kebingungannya setelah ini. Bila meneer Pieter menikah dengan Cornelia: Apa aku masih akan dijadikannya nyai? Tanya itu berdenging dalam kepalanya. Bila pun meneer Pieter melepasnya, ia kebingungan harus kemana setelah ini. Adakah tempat untuk bekas nyai sepertinya. Di mata orang pribumi, ia termasuk sampah paling kotor dan menjijikkan. Sedang di kalangan lelaki asal Holland itu, tentu saja ia cuma barang bekas yang harus segera dibuang.

“Aku akan melindungimu. Aku bersedia menikah denganmu. Bukankah kau tahu, kalau aku sangat mencintaimu?” Ucapan Bakdi yang itu pun berdengung dalam kepalanya. Ia memejamkan matanya.

“Aku tak pantas untuk orang sebaik, Kang Bakdi,” ucapnya dengan perasaan pilu.

Dan Bakdi terdiam. Tak berkata apa-apa lagi. Lelaki itu memang selalu begitu. Padahal, ia berharap sekali kalau Bakdi akan berkata-kata yang demikian panjang dan menyakinkannya kalau Bakdi tulus dengan kata-katanya. Sayangnya, kata-kata yang ia harapkan itu tak terluncur dari mulut Bakdi. Mungkin karena lelaki itu tak ingin memaksanya atau karena ia fokus dengan misi perjuangan yang dibebankan kepadanya. Bakdi menjadi jongos meneer Pieter bukanlah semata-mata mencari kekayaan dan kenyamanan seperti yang dilakukan kaum pribumi yang memiliki sedikit kecakapan. Melainkan karena misi dan mimpi mengusir orang-orang Holland ini dari Batavia, seperti yang diperintahkan Sultan Agung.

Ia kembali mengeluarkan sepucuk surat yang ia temukan di saku baju Pieter petang itu. Ia menyimpannya rapat-rapat, di balik meja rias dari kayu jati yang ada dalam biliknya ini. Ia tak hendak bila Pieter menemukan surat itu kembali. Entahlah, perasaannya mengatakan kalau surat itu pasti dari Cornelia. Surat penting. Ia merasakan dari bau parfumnya. Mungkin surat yang membahas pernikahan mereka.

Pelan-pelan, ia membentangkan kembali surat itu. Matanya sedikit menyipit dan keningnya berlipat-lipat saat menghadapi deretan tulisan yang tertera di kertas. Tetap saja, ia tak bisa membaca isinya. Didekatkannya surat itu, mungkin ia berharap bila kertas surat itu berada lebih dekat dengan matanya, ia bisa mengerti apa yang tertulis di sana. Tetap saja. Ia tak paham.

Pernah terlintas dalam benaknya untuk menunjukkan surat itu pada Bakdi. Lelaki itu bisa berbahasa Holland, bahkan bisa membaca dan menulis dengan huruf Holland. Itu mengapa Meneer Pieter menjadikannya tangan kanan dan cukup leluasa bergerak dalam rumah ini, walau tetap diawasi prajurit-prajurit yang berjaga. Tapi, ia mengurungkannya. Ia malu melakukan itu.

“Kamu harus belajar membaca dan menulis,” kata-kata Bakdi tempo hari tiba-tiba teringang kembali. Berdenging-denging di lubang cupingnya. Dan entah, tiba-tiba saja perasaan itu meluap. Meluber sampai membasahi seluruh tulang-belulangnya. Ia begitu bersemangat. Tergesa, ia menyembunyikan kembali sepucuk surat itu. Baru hari itu, ia merasa petang demikian lambat datang, dan baru kali itu ia begitu berharap Bakdi cepat pulang bersama meneer Pieter.

Seperti yang ia duga, Bakdi agak terkejut tetapi berbinar-binar ketika ia mengatakan ingin belajar menulis dan membaca seperti yang lelaki itu sarankan beberapa purnama silam. Bakdi tak bertanya lagi, apa alasan yang membuatnya berubah pikiran. Mungkin lelaki itu beranggapan, ia sudah bersedia membantu perjuangannya. Ia pun merasa tak perlu menceritakan alasan yang membuatnya berubah pikiran.

Lelaki itu begitu telaten mengajarinya mengeja huruf demi huruf yang sangat kaku ia lafalkan.  Lebih-lebih ketika ia harus menuliskan huruf demi huruf itu, jemarinya terasa seperti besi-besi alot yang tak bisa dibengkokkan. Tapi, ia tak ingin menyerah. Ia begitu hendak tahu, isi surat untuk meneer Pieter itu. Ia sangat yakin, isinya begitu penting. Pasti dari Cornelia, batinnya.

Berbilang malam yang gugur demikian gegas, lalu pekan-pekan tergilas dengan cepat, dan purnama seperti buah ranum yang jatuh ke tanah. Ia tetap berusaha. Saban pagi sampai petang, sebelum meneer Pieter pulang dari Batavia, ia selalu membuka surat itu. Berusaha membacanya. Sudah berapa kata yang ia paham. Dan kata-kata yang paling dulu ia pahami serta baca adalah sederet nama di akhir surat: Cornelia. Batinnya semakin kusut-masai dibuatnya.

Ia selalu kucing-kucingan dengan meneer Pieter saat belajar pada Bakdi. Acapkali, ketika tengah asyik mengeja kata, lelaki Holland itu terdengar memanggil-manggil namanya. Itu alamat, ia harus segera datang. Dan perasaan berdosa itu makin mengejarnya. Sedang perasaan cemburu itu juga menyergap.

Pada suatu pagi, ketika meneer Pieter dan Bakdi sudah pergi ke Batavia, walau Bakdi mengeluh sakit setelah berkali-kali dalam pagi ini ke belakang. Ia kembali mengeluarkan surat itu dan terbata-bata membacanya dari awal sampai akhir.

Pieter sayang,

Aku sudah membaca suratmu waktu itu. Aku bersedia kamu tetap memelihara nyai pribumi itu. Bukankah raja memang selalu punya selir? Dan aku tetaplah ratumu.

Ada berita penting yang hendak aku sampaikan, dari beberapa cerita yang sampai ke Holland. Batavia dilanda wabah penyakit kolera yang mematikan dan menular. Tanda-tandanya sangat mudah, penderita berkali-kali buang hajat ke belakang. Bila itu terjadi pada jongos-jongosmu. Jangan segan untuk menembak mati mereka. Ingat selalu, arak dan cerutu disebut-sebut sebagai penangkal wabah ini.

Salam sayang,

Cornelia

Ia terbelalak. Tangannya gemetar. Ia mengulang barisan kedua surat itu sampai tiga kali, dan isinya sama. Mendadak pikirannya tertuju kepada Bakdi. Seketika itu juga ia teringat dengan meneer Pieter, biasanya lelaki itu akan berbaik hati meliburkan Bakdi saat ia jatuh sakit. Tapi, tidak hari ini. Meneer Pieter pun membawa senjata laras panjangnya yang sering digunakan untuk berburu bersama gubernur dan ia berkata: “Aku ingin berburu petang ini.”

Ia menekan bibirnya. Entah, mendadak ia cemas. Sangat cemas. Dan tiba-tiba saja air matanya berlinang-linang. (*)

C59, Maret 2012

…dalam semangat juang RA. Kartini

Keterangan: Terinspirasi dari catatan perjalanan Justus van Maurik (16 Agustus 1846 – 18 November 1904) yang pernah ke Batavia dan mengabdikan perjalanannya itu dalam bukunya “Indrukken van een Totok”.

 

Tentang penulis, Guntur Alam, lahir di Tanah Abang, Muara Enim, Sumatera Selatan, 20 November 1986. Belajar nulis di Bengkel Cerpen Nida, majalah Annida. Cerpen-cerpennya tersebar di koran Kompas, Tempo, Jawa Pos, Republika, Suara Merdeka, Suara Pembaruan, Seputar Indonesia, Lampung Post, Surabaya Post, Radar Surabaya, Tribun Jabar, Jurnal Bogor, Haluan Riau, Batam Pos, Sijori Pos, Berita Pagi, Annida, Annida-Online, Femina, Paras, Sabili, Ummi, Al-Mujtama, Story, Kartini, Aulia, Cempaka, Nova, NooR, dll. Prestasi di dunia menulis seperti Juara 1 Sayembara Menulis Cerita Rakyat Kabupaten Muara Enim 2003, Finalis LMCPI VII Annida 2005, Juara Hiburan di LCPI Ummi 2007, 1 dari 10 Cerpenis Terbaik Festival Seni Surabaya 2010, Juara 2 Lomba Cipta Cerpen Pemuda KEMENPORA 2011, dll. Dua novel remajanya terbit Media Pressindo¸Jogjakarta, 2011. Satu novel remaja yang ditulis dengan tim kreatif penerbit dipinang salah satu PH untuk dilayar lebarkan, dan satu buku nonfiksi, Menjadi Wanita yang Selalu Ditolong Allah, terbit Juni 2011 di QultumMedia, Jakarta. Kini alumni Teknik Sipil Universitas Islam “45” Bekasi ini menetap di Bekasi – Jawa Barat.

Yuk, Jadi ORANGTUA ASUH (OTA) Santri Penghafal Qur'an Askar Kauny! Donasi Rp 150.000,-/bulan. Dapat Majalah Ummi (free ongkir)

Transfer ke Bank Muamalat 335-000-9175 a.n. Yayasan Askar Kauny

Konfirmasi ke 0813 8054 4843 : OTA#Nama#AlamatLengkap#Telp#jumlahtransfer#TanggalTransfer#JamTransfer

Tags:
loading...