Seribu Wajah

Fashion-Styles-for-Girls-Online

Penulis: Adi Zam Zam

Di mata kami, tentu saja pertemuan kecil itu seperti sesuatu yang tak sengaja terjadi. Aku tak mengenal dua lelaki berpakaian koko dan berpeci itu. Aku juga tak mengenal perempuan menor yang berpakaian seksi itu. Pun juga lelaki berjaket hitam dan bertopi coklat di sampingku. Kami kebetulan dipertemukan oleh rasa lapar dan bayangan tentang nikmatnya soto Kudus yang murah meriah. Tapi entah di mata-Nya, apakah ini telah Ia atur sebelumnya, bahkan sebelum kami lahir? Agar masing-masing kami bisa tahu tentang rupa-rupa wajah-Nya.

“Benar kan apa kataku? Dia itu Pemurah sekali. Cukup berdoa sungguh-sungguh, dan sedikit kerja keras, dapatlah apa yang kamu inginkan, ” ujar lelaki berkoko cokelat.

“Istriku langsung sujud syukur, Kang. Padahal kupikir toko-toko tak ada yang sudi menerima barang kami,“ yang berkoko putih menimpali.

“Tambahilah ketekunanmu, lalu kau mintalah apa lagi kebutuhanmu. Pasti dikabulkan. Dia menambahi siapapun yang tahu caranya bersyukur. Dan Dia tak segan menyiksa siapapun yang ingkar atas semua kenikmatan yang diperoleh,” yang dipanggil Kang tampak serius sekali saat berujar.

“Ah, masak?” tiba-tiba lelaki berjaket di sampingku menyahut. Soto miliknya telah siap untuk dimangsa. Tentu saja kedua lelaki berbaju koko tadi langsung menoleh, karena mendapat tanggapan yang tak diduga-duga. Pun aku.

Kukira lelaki berjaket ini akan meneruskan kalimatnya tadi. Tapi ternyata kami dibiarkan menonton suapan pertama ke mulutnya.

“Aku pilih yang tahajjud, Kang. Sedang istriku yang dhuha. Biar tak mengganggu pekerjaanku,” masih memandang lelaki berjaket di sebelahku.

“Yang istiqomah. Kalau sudah bisa istiqomah, pasti nanti kamu akan bisa merasakan bahwa duit bukanlah tujuan utama yang menentramkan. Kalau sudah begini, itu berarti kamu sudah naik pangkat,” yang berkoko coklat menimpali.

“Aku tak percaya.”

Kami kembali menoleh ke lelaki berjaket di sampingku. Dia masih lahap, tak pedulikan mata kami.

“Mas, berbicara padaku?” yang berkoko coklat coba tersenyum.

“Aku sudah pernah satu bulan penuh komat-kamit merayu-Nya agar dikabulkan permintaanku. Omong kosong semuanya itu,” mencukil serat ayam yang terselip di giginya.

“Mungkin diganti dengan yang lain, Mas. Kadang kita memang tak sadar kalau sudah diberi,” yang berkoko coklat masih tersenyum.

“Ganti? Apa Dia itu miskin, sampai-sampai tak mampu beri yang aku mau? Dia itu pelit!” mengangkat mangkuk yang tinggal berisi kuah, lalu menuang isinya ke mulut. Tambah lagi, Pak,” berisyarat ke pemilik warung.

“Kalau Dia pelit, pasti Mas tak akan bisa makan dua mangkuk malam ini,” yang berkoko coklat masih juga tersenyum.

“Dari pagi sampai sore aku belum makan!” terdengar berat dan... marah?

Pemilik warung berhenti sejenak sebelum memberikan jatah dua lelaki berkoko.

“Kalau Dia pemurah, pasti aku takkan jadi seperti ini!”

Lelaki berkoko mulai menyuap soto. “Syukurilah apa yang sudah masuk ke dalam perut, Mas.”

“Dia itu miskin! Kalau Dia kaya, tak akan banyak orang yang bernasib seperti aku.”

“Pak, apa Dia punya rumah?” sebuah suara lain masuk ke telinga kiriku. Suara kecil nan merdu dari si pemilik mata kelinci kesayanganku.

“Arasy, namanya Arasy, Nak,” kuelus rambutnya yang lembut.

“Besar atau kecil, Pak?”

Aku terkejut. Kenapa jadi membendakan seperti ini? “Kau lihat langit itu, Nak? Tentu saja lebih besar dari langit yang adalah ciptaan-Nya.”

“Kalau begitu rumah-Nya besar sekali ya, Pak?” Aku mengangguk sedikit was-was dengan imajinasinya yang mungkin tak seperti bayangan di kepalaku.

“Kalau rumah-Nya besar, kenapa Dia suruh manusia untuk bekerja?” lanjutnya. Keningku berkerut. Alangkah ajaibnya sepuluh tahun bisa membawanya ke pemikiran seperti itu.

“Itu karena mereka tak mau bekerja, mencari dan memanfaatkan apa yang sudah disediakan di bumi yang amat luas ini,” suara parau itu memenuhi telinga kananku. Rupanya lelaki berkoko cokelat.

“Aah, apa sih kerja?! Kaya ya kaya, berikan saja apa yang Dia punya, pakai kerja-kerja segala, itu namanya pelit!” baru kusadari bahwa lelaki di sampingku tengah menatap sengit ke arah lelaki berkoko cokelat.

“Kalau Dia pelit, Dia tak akan kasih saya mata, tangan, dan kaki yang bisa buat modal untuk cari nafkah. Itu adalah tanda kasih sayang-Nya, tanda bahwa Dia menghargai usaha saya,” lelaki berkoko cokelat itu masih terlihat tenang. Beda dengan lelaki berkoko putih yang tampak tak tenang dari caranya makan.

“Kalau Dia penyayang, kenapa Dia membiarkan banyak orang jahat berkeliaran sih, Pak? Kan kasihan orang yang baik-baik?” suara merdu itu kembali menelusup ke telinga kiriku.

“Orang-orang jahat itu sebenarnya sedang diberi kesempatan bertaubat, Nak. Tapi kebanyakan mereka tak mempergunakan kesempatan itu.”

“Kenapa tak langsung dibalas sih Pak, orang-orang jahat itu?”

“Naa, itulah bukti bahwa Dia penyayang. Dia masih memberikan kesempatan. Tapi hati-hati, Nak. Ada juga lho yang hukumannya ditunda sampai hari nanti.”

“Kalau Dia penyayang, kenapa Dia biarkan saya terus-menerus dianiaya orang lain?” suara lembut itu berubah sinis di telinga kananku. Rupanya perempuan menor di sebelah pojok utara itu mulai urun suara.

“Tak adakah yang bisa menolong, Mbak?” hampir habis jatah lelaki berkoko cokelat itu.

“Bukankah seharusnya Dia kuasa menolongku? Bahkan sampai hari ini, Dia masih belum juga menolongku. Dia biarkan para berduit keparat itu melecehkanku, terang-terangan di depan mata-Nya,” masih bernada sinis.

“Kalau begitu hanya Mbak lah yang bisa menolong diri Mbak sendiri.”

“Naa! Berarti Dia itu tak punya kekuatan, lemah. Dia itu cuma omong kosong!” Hampir terlonjak aku oleh sentakan lelaki berjaket. Kulihat pemilik warung acuh saja dengan hawa panas ini, dan memilih pekerjaan lain seperti mencuci mangkuk-mangkuk kotor dan memilah-milah taoge.

“Dia menitipkan sebagian kekuatan-Nya kepada kita. Gunakanlah kekuatan itu semaksimal mungkin,” menyendok kuah yang tersisa. Soto warung ini memang lezat.

“Naa! Berarti Dia punya kekuatan besar kan? Manaa? Gunakan dong!” sentakan itu semakin keras.

Tercipta jeda yang cukup lama. Suara orang-orang di pasar dekat warung ini semakin terdengar. Sebentar lagi akan ada pertunjukkan orkes. Rupanya mangkuk lelaki berkoko coklat telah tandas. Ia menunggu lelaki berkoko putih yang mulai tergesa menghabiskan jatahnya.

“Aku sungguh heran, kenapa banyak sekali orang yang begitu bodohnya berharap pada bayang-bayang,” perempuan menor itu mengambil jajanan lain.

“Itu karena mereka tak bisa mengingkari hati kecilnya.” Lelaki berkoko putih langsung menyenggol saat lelaki berkoko coklat mengucap itu.

“Kalau benar itu bukan bayang-bayang, kenapa di dunia ini masih ada kegelapan?” sepertinya sudah tak terdengar sinis. Mungkin ia sudah mempelajari sesuatu.

“Itulah kenapa ada surga dan neraka,” lelaki berkoko coeklat.

“Omong kosong apa lagi sih ini? Apa kamu pernah lihat surga neraka?” lelaki berjaket.

“Sudah, Kang, sudah,” telinga kananku menangkap sayup itu.

“Ular itu masuk surga atau neraka, Pak?” mata kelinci itu mencecarku lagi suatu ketika aku membunuh seekor ular lumayan besar yang nyasar ke rumah.

Jujur, sebenarnya aku sangat tak tahu soal itu. Kubiarkan berhari-hari pertanyaan itu menggantung, berharap otak kecilnya segera lupa. Tapi, sewaktu ibunya menyembelih ayam, ia malah menambahinya dengan satu PR lagi.

“Ayam itu akan masuk surga atau neraka, Pak?”

“Masuk surga.”

“Kalau ular yang Bapak bunuh itu?” tak kusangka ia masih ingat.

“Masuk neraka.”

“Kenapa ada yang masuk surga dan ada yang masuk neraka, Pak?”

“Karena ular itu suka menggigit manusia. Ia akan menakut-nakuti orang surga jika ia masuk surga.”

Mata kelinci itu mengangguk-angguk, tampak puas. Tapi justru akulah yang semakin merasa was-was. Benarkah ular itu akan masuk neraka? Bukankah ular memang diciptakan dengan takdir seperti itu? Kenapa ia mesti dihukum atas sesuatu yang bukan pilihan dan kehendaknya sendiri?

“Orang picik memang akan berpikiran negatif,” lelaki berkoko cokelat menyadarkan kembali.

Lelaki berjaket rupanya telah keluar duluan. Dua lelaki berkoko itu pun segera menyusul.

“Huh, sok suci! Dalam terang-benderang saja mereka berani sok seperti itu. Dalam gelap tak ubahnya maling! Ah, sudahlah, tanpa Tuhan pun aku masih bisa hidup,” perempuan menor itu pun menyusul.

Kiki giliranku. Kulangkahkan kaki dengan sebuah kesimpulan. Sungguh banyak nian wajah-Nya. Ia bisa berwarna putih jika dilihat dalam cahaya. Ia juga bisa berwarna hitam jika dilihat dalam gelap. Ataukah semua itu cuma soal bertambahnya umur dan pengalaman? Semakin bertambah umur, semakin bertambah pula pengalaman, semakin bertambah pula kita mengenal-Nya?

***

Semula aku berniat mencarikan sebuah boneka mungil, oleh-oleh untuk mata kelinciku di rumah. Tapi sebuah keributan memaksaku untuk mendekat ke samping panggung orkes.

“Telanjangi saja, lalu bakar hidup-hidup!”

“Ya, bakar, bakar, biar kapok!”

Rupanya seorang copet yang tertangkap basah. Kuraba dompetku di saku celana. Arena ramai seperti ini memang tampat favorit mereka.

“Ampun, Pak, ampun, saya taubat, Pak...”

“Tobat bibir memblemu itu tobat, tanganmu tetap saja maksiat. Potong saja tangannya, potong!”

“Ya Allah, ampun, Pak. Saya betul-betul taubat, Pak!” sepertinya aku pernah mengenal suara itu.

Berselang menit kemudian kulihat polisi menggelandang sesosok hitam keluar kerumunan. Dihujani pukulan, dihujani tendangan. Alangkah kagetnya aku setelah kupastikan bahwa sosok itu adalah lelaki berjaket yang tadi sewarung denganku!

17 September 2010.

Yuk, Jadi ORANGTUA ASUH (OTA) Santri Penghafal Qur'an Askar Kauny! Donasi Rp 150.000,-/bulan. Dapat Majalah Ummi (free ongkir)

Transfer ke Bank Muamalat 335-000-9175 a.n. Yayasan Askar Kauny

Konfirmasi ke 0813 8054 4843 : OTA#Nama#AlamatLengkap#Telp#jumlahtransfer#TanggalTransfer#JamTransfer

Tags:
loading...