SERMA ABDUL MUIS

Fashion-Styles-for-Girls-Online

Penulis: Robby Anugerah



Jono dan Fano menjinjitkan kaki untuk melihat ke dalam rumah melalui celah-celah jendela yang cukup tinggi di samping pintu. Dalam penglihatannya yang tidak begitu jelas karena tertutup gorden biru, Jono menduga bahwa rumah tersebut sedang tak berpenghuni.

“Sepertinya tidak ada orang di dalam,” kata Jono.

“Kau yakin?” balas Fano. “Coba ketuk sekali lagi.”

Jono pun mengetuknya sekali lagi, tetapi tidak ada jawaban. Fano lalu menuruni anak tangga dari rumah panggung itu. Ia bergerak ke samping rumah. Sebuah jendela kayu terbuka lebar. Ia dongakkan kepala ke jendela itu sambil berteriak salam.

“Assalamualaikum!”

Tak lama kemudian, seorang kakek berkepala botak muncul dari balik jendela. Ia melirik ke luar; ke arah Fano. Lalu menyentakkan dagunya sekali ke atas; mau apa?

“Bisakah kami bertandang?”

Kakek itu menganggukkan kepala; bisa. Kemudian ia menyuruh Fano ke pintu depan dengan tunjuknya.

Derit pintu terdengar bergesekan pada lantai kayu rumah panggung itu. Seorang perempuan paruh baya dengan mengenakan celemek di badannya muncul. Raut wajahnya terlihat lelah sekali. Beberapa kali bulir keringat dari wajahnya jatuh membasahi lantai. Namun ia berusaha ramah. “Mari, silakan masuk.”

Jono dan Fano segera masuk. Mereka terkejut karena di dalam rumah terlihat berantakan. Di meja tamu masih ada piring-piring kotor yang belum diangkut ke dapur. Sofa yang sudah koyak-mengoyak, plus bulu-bulu kucing yang menempel di atasnya. Barangkali, kucing mereka tidur di sofa itu tiap malam. Jono dan Fano mengernyitkan dahi. Mereka mendadak dirasuki ketidaknyamanan.

“Maafkan tadi, aku tidak mendengarnya. Aku sedang sibuk di belakang mencuci ikan. Akhir-akhir ini pekerjaanku tak pernah habisnya,” kata perempuan paruh baya itu yang kemudian mulai mengangkat piring-piring kotor yang berserakan di meja tamu.

“Bisakah kami langsung bertemu Kek Amidin, Bu?” pinta Jono.

Seketika perempuan itu menghentikan aktivitasnya, awalnya ia ingin meletakkan dulu piring-piring kotor itu ke dapur, lalu menyiapkan sedikit hidangan buat mereka. Namun, ia urungkan niat itu. “Oh, tentu saja. Sudah lama beliau mencari teman buat ngobrol. Tunggu sebentar, saya bawakan Kek Amidin ke sini.”

Ia kemudian dengan cepat beranjak dari sofa dan menuju ke sebuah bilik yang tidak terlalu jauh dari ruang tamu. Jono dan Fano dapat memperhatikannya dari kejauhan. Terlihat perempuan itu mengambil kursi roda dalam keadaan terlipat kemudian membentangkannya tepat di sebelah dipan. Dengan dipapah secara hati-hati dan pelan, turunlah kakek tua dan ringkih dari dipan itu lalu menduduki kursi roda yang telah disiapkan tadi.

***

“Oh, ini ya?” tanya kakek itu pada perempuan paruh baya yang telah mendorong kursi rodanya ke ruang tamu.

“Iya Bak, mereka ini mau bertemu dengan Ubak,” jawabnya.

“Ada apa, Cung?”

“Hem… kami ke sini ingin tahu banyak mengenai monumen patung Serma Abdul Muis, Kek. Namun sebelum itu, kami ingin tanya dulu, apakah betul Kakek bernama Amidin?” tanya Jono agak kurang yakin bahwa orang di hadapannya itu adalah Kek Amidin. Terlihat di dalam rumahnya, Jono tidak menemukan apa pun yang menandakan ia bekas pejuang. Seperti foto, piagam, seragam, bekas senjata, atau penghargaan lainnya.

“Kalian tidak salah alamat. Akulah orang yang kalian maksud,” ungkap kakek itu dengan senang. Jono dan Fano bersitatap. Keraguan mereka mendadak hilang. Digantikan rasa kagum pada orang yang ada di hadapannya itu. Walaupun kakinya sudah tidak dapat digerakkan lagi, dan di telinganya telah disumbat alat bantu dengar. Namun semangatnya tetap membara. Jiwanya tetap terlihat muda. “Sebenarnya sudah lama sekali aku menantikan anak muda datang kemari lalu bertanya mengenai monumen patung itu. Tapi belum ada jua. Dan sekarang, setelah 13 tahun penantian, akhirnya Tuhan hadirkan kalian. Baik, mari kita ke ruang itu,” tunjuk Kek Amidin pada suatu bilik di belakang dekat dapur. Ia pun menyuruh kembali perempuan paruh baya yang telah merawatnya itu ke arah yang ia inginkan. Jono dan Fano mengikutinya dari belakang.

***

“Ubak, di mana kau letakkan kunci biliknya?” tanya perempuan paruh baya itu yang adalah putri Kek Amidin.

“Oh, coba kau lihat di balik toples gula di meja makan. Di sana biasanya aku letakkan.”

Dan perempuan paruh baya itu segera mencarinya. Ternyata benar, kunci itu dapat ditemukan sesuai arahan Kek Amidin. Ingatan kakek tua ini masih kuat rupanya. Segera saja bilik itu dibuka. Bau pengap langsung tercium. Jono dan Fano menutup hidung karena tidak tahan.

“Tenang, bau ini hanya sesaat,” kata Kek Amidin. “Leil, coba kau hidupkan kipas angin itu. Biar bau pengapnya hilang. Bilik ini memang sudah lama tidak dibuka. Terakhir bila tidak salah dibuka 3 bulan yang lalu. Ya kan, Leil?”

“Iya, Bak.”

Jono dan Fano memandangi setiap sudut dalam bilik itu. Apa yang mereka butuhkan akhirnya terungkap di bilik itu. Mulai dari foto, piagam, seragam, bekas senjata, penghargaan sampai dokumen berjejer rapi dan lengkap. Hanya saja memang agak berdebu. Mungkin harus dibersihkan dulu. Di atas meja, Jono melihat sebuah mesin tik yang masih bagus dan terawat. Ia memain-mainkannya.

Lain dengan Jono, Fano lebih suka memandangi foto-foto yang terpajang di dinding bilik. Lebih dari belasan foto terpajang. Banyak sekali foto yang memuat seragam tentara dan warnanya pun masih hitam putih. Fano mulai mengira-ngira di mana posis Kek Amidin pada salah satu foto tersebut. “Nah, ini mungkin Kek Amidin,” kata Fano mengarahkan matanya kepada Kek Amidin sebagai tanda minta pembenaran. Kek Amidin hanya tersenyum.

“Kau salah! Coba kau amati lagi dengan saksama. Foto itu diambil tahun 1954 saat reunian sesama pejuang,” kata Kek Amidin memberikan petunjuk.

Fano mencoba mengamati sekali lagi. Sungguh sulit menebak raut wajah hampir 40 tahun silam. Di antara wajah-wajah itu, ia mencari wajah termuda. Dan akhirnya ia temukan. Lalu mulai menunjuk, “Ini sepertinya.”

“Hahaha… akhirnya kau benar. Dalam reunian itu aku yang termuda. Pantas saja hanya aku yang tersisa sekarang,” kata Kek Amidin yang ternyata sangat senang dengan kehadiran dua remaja itu. Ia sepertinya mendapatkan teman bermain setelah sekian lama hanya duduk dan berbaring di dipan. “Cung, kemari, lihat album ini,” ajak Kek Amidin kepada Jono dan Fano. “Di dalam album ini ada fotoku bersama istri saat mengenakan seragam pejuang. Kalian pasti tertarik untuk melihatnya.” Kemudian Kek Amidin membuka lembar demi lembar album itu, lalu ditunjuknya pada salah satu foto yang ia maksudkan.

“Wah, Kek Amidin waktu mudanya sangat tampan ya,” kata Fano.

“Ya, aku dulunya sangat tampan. Banyak gadis yang suka padaku. Tapi hanya perempuan ini yang membuatku tergila-gila.” Kek Amidin lalu mengelus pipi seorang perempuan di dalam foto itu yang ia katakan sebagai istrinya. “Foto ini diambil tahun 1956. Setelah dua tahun aku menikah dengannya.”

Puas bernostalgia dengan foto dan barang-barang milik Kek Amidin, Jono mulai menanyakan Serma Abdul Muis kepada Kek Amidin. Ia ingin tahu lebih dalam mengenai Serma Abdul Muis serta apa saja hubungannya dengan Kek Amidin.

“Lalu bagaimana dengan Serma Abdul Muis, Kek?” Jono mulai mengarahkan pembicaraan.

“Oh iya, kalian ke sini mau mendengar tentangnya, kan? Baik, baik. Bisa kau ambilkan arsip di dalam map kuning nomor 2?” pinta Kek Amidin kepada Jono. Dengan sigap, Jono mengambil map yang tidak terlalu jauh darinya.

“Ini, Kek.”

“Terima kasih.”

Kek Amidin segera membuka map itu. Terlihat kertas yang sudah lusuh dan menguning, ia lalu sodorkan pada Jono dan Fano. “Di dalam Map ini ada memoarku yang bercerita saat-saat bersama Serma Abdul Muis. Memoar ini sangat penting, karena memuat segala hal yang berkaitan dengan perang mempertahankan kemerdekaan RI melawan NICA (Netherland Indies Civil Administration) di Batun tahun 1947. Melalui memoar ini pulalah akhirnya kami dapat memprakarsai pendirian monumen patung Serma Abdul Muis tahun 1984,” kata Kek Amidin panjang lebar.

“Memprakarsai? Maksudnya mengajak warga Batun untuk membangun monumen dengan swadaya ya, Kek?” tanya Jono kebingungan.

“Tentu saja tidak! Dana untuk membangun monumen itu diambil dari kas daerah. Kami mengirimkan proposal kepada Pemda agar bersedia mendirikan sebuah monumen patung pahlawan di Batun.”

Mendengarkan jawaban Kek Amidin, Jono bertambah bingung. Setahunya Pak Kades pernah bilang bahwa pendirian monumen patung itu atas swadaya warga Batun. Kenapa kini malah berkebalikan? Sepertinya Pak Kades tidak tahu apa-apa mengenai pendirian monumen patung itu. “Memang benarlah, untuk mendalami soal sejarah seperti ini diperlukan sumber utama,” batin Jono.

“Serma Abdul Muis berasal dari Batun ya, Kek?”

“Hah! Dari Batun? Siapa bilang? Dia orang Minang, kok. Aku pernah mendengarnya berdialek Minang.”

Sekali lagi Jono tertipu pada keterangan Pak Kades. Ternyata Jono baru tahu bahwa Pak Kades orangnya sok tahu. Mungkin ia malu bila tidak dapat menjawab pertanyaan mereka. Makanya asal jawab. Jono geleng-geleng kepala mengingat Pak Kades. Bilangnya bahwa warga sudah acuh terhadap patung itu, eh malah ia sendiri yang acuh. Itu lihat buktinya: ia tidak tahu.

“Kek, bisa cerita bagaimana Kakek dan Serma Abdul Muis bertempur melawan Belanda? Kami ingin mendengarnya,” tanya Fano mulai serius.

Kek Amidin tiba-tiba diam. Mulutnya menjadi kelu dan terkunci. Matanya pun berkaca-kaca tak jelas. Ia mendongakkan kepalanya ke langit-langit ruangan. Lalu ditolehnya Jono dan Fano. “Cung, bisa kau membawaku ke teras belakang rumah? Aku ingin melihat Sungai Ogan. Sudah lama sekali aku tidak memandanginya. Mungkin melalui sungai itu, aku dapat menceritakan kembali saat-saat kami bertempur melawan Belanda di Batun tahun 1947,” kata Kek Amidin. Tanpa diperintah dua kali, Jono dan Fano segera mendorong kursi roda yang diduduki Kek Amidin itu ke luar bilik menuju teras belakang rumah. Tampak Sungai Ogan yang lebar dan bewarna cokelat mengalir deras dihadapan mereka. Kapal-kapal ketek dan sampan berseliweran ke sana kemari.

“Kejadian itu seingatku di siang hari. Seperti sekarang ini. Lihatlah jembatan gantung itu,” Kek Amidin menunjuk ke arah jembatan gantung yang menghubungkan dua desa. “Di sana tepatnya kami bertempur. Di bawah lebatnya pohon mahoni pinggir sungai. Tatkala Serma Abdul Muis mengorbankan nyawa demi bangsa dan negara ini.”

***

“Koptu Amidin!”

“Siap, Sersan!”

“Coba kau perhatikan di seberang sana,” tunjuk Serma Abdul Muis. “Kenapa senyap sekali? Kenapa pagi ini tidak seorang pun beraktivitas di pinggir sungai?”

Koptu Amidin segera mengambil teropong yang tergantung di dadanya lalu menerawang ke seberang. Benar, ia tidak menemukan seorang pun beraktivitas di pinggir sungai. Biasanya selalu ada. Koptu Amidin menaruh curiga.

“Sersan, sepertinya mereka (Belanda) sudah berada di pinggir sungai. Barangkali di balik pohon mahoni itu. Kita harus bersiap. Sebentar lagi mereka menyerang.”

“Baiklah, kerahkan prajuritmu sesuai yang aku instruksikan semalam.”

“Siap, Sersan!” Koptu Amidin berlarian menemui prajuritnya yang sudah siaga dari tadi. Ia menginstruksikan strategi bertahan. Dengan sedikit lecutan kata-kata semangat, Koptu Amidin menaikan moril prajuritnya yang tersisa 10 orang.

“Lapor, Sersan! Perintah sudah dilaksanakan. Prajurit telah diberi arahan sesuai permintaan Sersan,” kata Koptu Amidin.

“Baik. Sekarang kau perhatikan jembatan gantung yang ada di depan kita ini baik-baik,” kata Serma Abdul Muis kepada Koptu Amidin di balik rimbunan semak belukar pinggir sungai dekat jembatan. “Ini adalah satu-satunya jalur menuju Kayu Agung dari arah barat. Jika mereka ingin menguasai Kayu Agung, mereka musti melalui jembatan ini. Inilah kesempatan kita untuk menghancurkan mereka habis-habisan. Kau paham?” tanya Serma Abdul Muis kepada Koptu Amidin yang dibalas anggukannya. “Kita hanya menunggu mereka melawati jambatan ini, lalu memberondongnya dengan peluru yang ada.”

“Siap, Sersan!”

“Tapi kau perlu tahu juga. Mereka datang ke sini tidaklah sedikit. Perkiraanku lebih dari dua peleton. Sedangkan amunisi mulai habis. Di saat itulah, aku akan meledakkan jembatan.”

“Meledakkan jembatan?” Koptu Amidin bingung.

“Iya, meledakkan jembatan. Aku akan ke tengah jembatan lalu meledakkannya.”

“Sersan?”

“Sudah! Kau tidak perlu takut. Aku sudah siap untuk itu (martir).”

“Tidak, Sersan, biar aku saja.”

Serma Abdul Muis tidak menjawab. Ia berpura-pura tidak mendengarkan Koptu Amidin. Seakan-akan menegaskan bahwa keinginannya sudah bulat dan tak dapat dikompromikan lagi. “Koptu Amidin, di tanganku ini ada revolver yang berisi empat peluru. Ambillah. Jika saatnya nanti aku berlari ke tengah jembatan itu, kau lindungi aku menggunakan revolver ini. Pastikan aku benar-benar sampai ke tengah dan berhasil menarik pelatuk granatnya.”

“Sersan?”

“Patuhi saja perintahku. Kau paham?”

“Siap, Sersan!” jawab Koptu Amidin. Tak terasa, di dua sudut matanya mulai membasah. Ia terus memandangi Sersan Abdul Muis.

“Amidin,” panggil Serma Abdul Muis. “Kenapa kau mau bergabung?"

“Aku ingin berjuang, Sersan.”

“Apa kau yang kau perjuangkan?”

“Negara dan bangsa, Sersan.”

“Halah! Negara dan bangsa. Kau tahu apa tentang itu? Mereka hanya membutuhkanmu selagi perlu. Setelah itu kau bakal dicampakkan.”

Amidin diam seribu bahasa, tidak mengerti maksud dari ucapan itu. Ia hanya tahu bahwa bangsa ini membutuhkan sebuah kemerdekaan. Agar nantinya penindasan, diskriminasi, kemelaratan dan kemiskinan, tidak akan dijumpai lagi di masa akan datang. Semua orang akan sejahtera dalam bendera kemerdekaan.

“Amidin, kau tahu kenapa kita harus merdeka?” tanyanya lagi.

“Agar dapat menentukan nasibnya sendiri, Sersan.”

“Halah, bukan itu! Agar dapat memberi kesempatan yang lain berkuasa.”

“Yang lain?”

“Iya, yang lain. Golongan baru di negeri ini.”

“Aku tak paham, Sersan.”

“Baguslah! Belum saatnya kau paham,” jawab Serma Abdul Muis dengan intonasi yang agak dalam. Tampaknya Serma Abdul Muis tidak mau melanjutkan. Ia tahu, dijelaskan bagaimana pun, Amidin tetap anak muda yang polos.

“Sersan! Biarkan aku saja.” kata Amidin mengajukan dirinya sekali lagi.

“Tidak, tidak. Kau masih muda. Belum waktunya, Amidin.”

“Lalu kapan?”

“Suatu saat nanti. Tatkala negara ini memerlukan bantuanmu lagi.”

“Tapi, Sersan. Beri aku kesempatan untuk menunjukkan baktiku pada negara dan bangsa ini.”

“Ya, tapi bukan dengan cara berperang. Kau bisa menunjukkan baktimu pada negara dan bangsa ini melalui cara lain.”

Amidin nelangsa, ia gagal meyakinkan sersannya.

“Amidin,” panggil Serma Abdul Muis terakhir. “Kau harus ingat, seandainya aku mati besok. Jangan pernah melupakan aku. Jangan pernah melupakan teman-temannya lainnya yang telah berani gigih melawan mereka (Belanda). Jika suatu saat nanti kau takut lupa. Buatlah satu monumen yang dapat mengingatkan kami. Dan tuliskan sebuah kalimat di monumen itu: Walau raga kami sudah mati, namun jiwa kami belum. Kami akan tetap mengawasi negeri ini. Mengawasi bangsa yang dipertaruhkan dari darah dan air mata kami.

Sesaat air mata Amidin jatuh mengalir ke pipinya yang tebal. Ia menangis tersedu-sedu mendengarkan ucapan Serma Abdul Muis. Ia tidak sadar bila tangisannya itu telah melucut kejantanannya, tapi juga melecut semangatnya. Ia peluk Serma Abdul Muis secara tiba-tiba. Dipeluknya erat-erat badan orang yang telah membuatnya tahu arti kemerdekaan, tahu arti penderitaan, dan tahu arti pengorbanan.

“Selamat tinggal, Serma.”

Selesai. 

Yogyakarta, 31 Oktober 2013


 

 

Cerita ini terinspirasi dari kisah nyata perjuangan Serma Abdul Muis yang rela menjadi martir tatkala melakukan kontak senjata dengan Belanda pada masa agresi militer kedua 1947 di Sumatera Selatan, tepatnya di Desa Batun, Kec. OKI. Kisah ini dituturkan kembali oleh veteran perang bernama Amidin ketika penulis berkesempatan mewawancarai beliau 2009 silam. 

Dari wawancara tersebut terekam banyak data yang kemudian penulis olah menjadi laporan, artikel, dan cerita pendek. Khusus artikel, penulis pernah didaulat menjadi juara pertama di Kompasiana karena berhasil mengingatkan kembali jasa para pahlawan daerah yang belum tersentuh historiografi sejarah Indonesia melalui Serma A. Muis. Artikelnya bisa dibuka di sini: http://sejarah.kompasiana.com/2012/11/08/sersan-mayor-abdul-muis-pahlawan-yang-dilupakan-506842.html. Untuk cerita pendek, penulis baru melepasnya sekarang teruntuk Annida seorang (ciee… ^_^).

Yuk, Jadi ORANGTUA ASUH (OTA) Santri Penghafal Qur'an Askar Kauny! Donasi Rp 150.000,-/bulan. Dapat Majalah Ummi (free ongkir)

Transfer ke Bank Muamalat 335-000-9175 a.n. Yayasan Askar Kauny

Konfirmasi ke 0813 8054 4843 : OTA#Nama#AlamatLengkap#Telp#jumlahtransfer#TanggalTransfer#JamTransfer

Tags:
loading...