Sesalnya Burhan

Fashion-Styles-for-Girls-Online

Penulis: Feri Rokhyani Thohid



“Saya yakin Si Ratmi pasti pakai dukun.” Kata Yu Kun, tetangga yang juga pedagang jamu gendong di desaku. 

 

“Pastinya, Yu!” Tukas Bu Bowo yang setelah meneguk segelas jamu matanya mengrenyit mungkin sedikit kepahitan. Diserahkanya gelas yang hampir kosong kepada Yu Kun. 

 

“Lha, si Pambudi suaminya yang pertama kan kaya raya, wong sapinya banyak dan sawahnya luasnya luar biasa.” Yu Kun menambahi sambil mengocok sebuah botol kemudian menuangkan cairan kekuningan ke dalam gelas Bu Bowo, sepertinya kunir asem. 

 

“Tapi kalau ujung-ujungnya ditinggalkan begitu saja ya ndak ada untungnyalah, Yu!” Bu Bowo menimpali kemudian meneguk segelas kunir asemnya sekaligus. 

 

“Yah, salah siapa mau dikawin siri oleh laki-laki yang sudah beristri.” Yu Kun mencuci gelas-gelas bekas jamu di dalam sebuah ember kecil. Seadanya, tanpa sabun. 

 

“Lha, Si Ranto yang anak lurah itu pun mau saja memperistri janda murahan itu.” Bu Bowo agak geram. 

 

“Itu kan karena si Ratmi hamil duluan, Bu. Setelah keguguran toh dia diceraikan juga.” Yu Kun tak kalah ngotot.

 

“Tapi yang aku ndak habis pikir, Yu, kok ya bisa Nak Burhan yang sarjana dan masih bujang mau mempersuntingnya. Apa dia buta?” Bu Bowo semakin menggebu.

 

“Itu dia Bu, pasti Ratmi main dukun.”

 

***

 

Ya, begitulah Ratmi sedang hangat-hangatnya dijadikan buah bibir para ibu dan banyak orang di desa. Dia yang tertuduh main dukun untuk menaklukkan hatiku, seorang sarjana ekonomi yang datang mengajaknya menikah delapan hari lalu.

 

Berbagai gelar mereka sematkan. Tapi sebenarnya mereka tidak tahu apapun tentang hidup Ratmi. Disebutnya dia sebagai wanita perebut suami orang yang sebenarnya hanya gadis polos yang menjadi mainan dan tertipu janji palsu lelaki paruh baya hidung belang. Wanita murahan perayu yang sebenarnya hanya meminta keadilan dan pertanggungjawaban sebagai korban perkosaan. Sekarang apa lagi? Wanita licik yang mencoba memperdaya dan membodohi seorang sarjana muda yang meski tak begitu pandai tapi cukup cerdas dan rajin beribadah ini?  Ah… sebenarnya siapakah yang tolol? 

 

Astaghfirulloh. 

 

Ratmi tak tamat SMP. Tapi aku tahu betul siapa dia dan juga masa lalunya. Aku menghimpunnya dari sumber yang dapat dipercaya tentunya. Bukan dari mulut-mulut sembarangan ibu-ibu yang suka mengangkat aib-aib orang jadi bahan pembicaraan yang akhirnya tak seperti sebagaimana faktanya, justru tersebarlah fitnah-fitah hasil bumbuan sana-sini. Aku pada dasarnya tidak terlalu mempermasalahkan apa kata orang. Menanggapi mereka? Ah, mana ada habisnya dan yang paling aku risaukan adalah ibuku yang tak kunjung mantap memberi restu.

 

***

 

“Sebenarnya apa alasan Ibu tidak mau menerima Ratmi? Ratmi kan wanita yang baik hati pun tidak neko-neko.” Aku berusaha berkata selembut mungkin. Ibu tak bergeming.

 

“Dia juga taat agama, kan? Apa lagi? Apa karena…” Aku tak menyelesaikan kalimatku. Tercekat di tenggorokan.

 

“Apa masih perlu ditanya?” Ibu seakan mengiyakan dugaanku yang bahkan belum kukatakan. Aku terdiam, kalimat yang tadi tercekat tertelan. Dalam, dalam sekali.

 

“Itu masa lalu, Bu, semua orang punya masa lalu begitu juga Ratmi. Apa salahnya dengan masa lalu, toh sudah lewat kan, Bu?”

 

“Kamu bisa menerimanya? Kau tak ingat pada Syifa?”

 

“Mana mungkin Burhan lupa, Bu. Tapi kan Ratmi cuma korban.” Aku mencoba membela Ratmi dan luka lama itu sempurna terbuka kembali.

 

“Apa kamu pikir Syifa bukan korban? Kamu pikir dia sengaja?”Aku terdiam.

 

“Ratmi sama tak sucinya seperti Syifa.” Jelas Ibu kepadaku

 

***

 

Aku dan Bapak dekat sekali. Dengan Ibu sebenarnya pun aku dekat, tapi tetap tak sedekat aku dengan Bapak. Mungkin karena kami sama-sama laki-laki yang cenderung punya hobi sama dan sering menghabiskan waktu bersama. Kami sama-sama suka sepak bola juga gemar memancing. Saking sukannya dengan memancing, Bapak sampai membuka usaha pemancingan. Tak disangka bahkan saat belum genap empat tahun usia usaha itu, kami sudah punya tiga cabang. Dua di Njanti dekat dengan rumah, satu lainnya diperbatasan Jogja. Ketiga-tiganya diserahkan Bapak kepada orang kepercayaan. Beliau sendiri hanya menengoknya beberapa kali sebulan. Jadilah masa menjelang senja Bapak santai, nyaman, dan sehat. Jatungnya kian pulih, tak pernah kambuh.

 

Jadi siapa Syifa? Dia adikku, adik perempuanku satu-satunya. Namun entah bagaimana detailnya, sedari kecil aku memang tak begitu dekat dengannya. Yang aku ingat, berbelas-belas tahun yang lalu aku tak suka kelahirannya, aku tak suka punya adik, aku takut disaingi, aku tak mau jadi nomor dua apalagi dimata Bapak. Seiring kami tumbuh nyatanya Bapak tetap milikku bukan Syifa. Aku bangga dan batasan itu akhirnya tercipta otomatis. Seperti aku ini anak Bapak dan Syifa anak Ibu, semacam ada jarak. Sebenarnya Bapak tetap memperhatikan Syifa, meski pernah diakuinya beliau akan lebih senang jika anak keduanya laki-laki lagi. Sementara Ibu pun tetap mengurusku dengan baik, mungkin batasan itu cuma rekaan pembelaan untuk egoku.

 

Waktu itu aku 19 tahun dan Syifa 14 tahun sedangkan Bapak tiga tahun lagi sudah akan pensiun. Bapak dan Ibu menikah agak terlambat memang. Mereka pun perlu menunggu hampir tiga tahun hingga akhirnya aku anak pertama mereka lahir. Sore itu masih menyenangkan ketika kami aku dan Bapak pulang memancing kemudian mengopi berdua di serambi samping hingga maghrib tiba. Malamnya pun masih tenang kecuali gelisahnya seorang ibu pada anak gadisnya seorang yang biasanya sudah nampak sebelum senja, tapi belum juga didapatinya hingga ba’da Isya. Aku tak peduli, sibuk dengan tugas mikro. Sedangkan Bapak duduk takdzim diseberangku membaca sebuah buku baru tentang bagaimana cara membudidayakan kambing etawa, hobi barunya.

 

Aku tak yakin tepatnya jam berapa, mungkin sekitar setengah sebelas malam, saat pintu yang tak dikunci terbuka seketika. Tanpa bunyi bel tanpa salam. Syifa datang dengan tangis yang tersedu-sedu. Isaknya hebat pasti sudah berderai jauh sebelum masuk pagar halaman. Aku masih tak peduli sementara Bapak beranjak juga setelah dua menitan terdiam karena teguran pada anak perempuannya diabaikan, beliau menyusul kebelakang. Aku masih sibuk sampai akhirnya kudengar suara “gedubrak!” Suara kursi kayu jati yang ambruk, susul menyusul dengan pekikan kaget Bapak. Aku bangkit, merasa perlu tahu apa yang sedang terjadi.

 

Tangis Syifa makin menjadi, mukanya ditengelamkan dalam-dalam di pelukan Ibu yang juga bergejolak karena isak. Mata keduanya merah, menatap Bapak yang terduduk didekat pintu tepat di sebelah kursi yang ambruk. Bapak terpejam, napasnya terengah-engah. Tangannya mencengkram dada kiri, rasanya seperti sesak sekali.

 

“Angkat Bapak, Le, lekas bawa ke puskesmas.” Suara Ibu bergetar.

 

Tanpa menunggu diminta dua kali, cepat-cepat badan tua namun gagah itu kubopong. Kusempatkan melirik Syifa. Mata kami bertemu selama tiga detik kupelototi lekat-lekat dia.

 

“Awas kalau ada apa-apa dengan Bapak, itu sempurna salahmu!” Begitulah kira-kira makna pelototanku.

 

Seakan mengerti, Syifa membuang muka tak berani menatapku lagi. Aku segera lari ke pelataran depan meneriaki apa saja untuk berhenti. Bapak harus selamat.

 

***

 

“Kamu! Kamu wanita tak suci, kamu pencoreng nama keluarga memang tak seharusnya dilahirkan, tak seharusnya. Kamu yang membuat bapakku mati. Kamu!!!!” Suaraku bulat kalap. Sedih, marah, bingung, bercampur aduk tak terkendali. Aku murka yang teramat pada Syifa, murka sekali.

 

Memang, kambuhnya jantung Bapak malam itu dilatarbelakangi oleh kabar yang Syifa bawa. Syifa telat haid, dan hasil tesnya positif. Dia sudah diperawani oleh seorang teman laki-laki rahasianya karena tak seorang pun dari kami tahu, bahkan Ibu. Diakuinya terpaksa dia lakukan karena diancam hendak ditinggalkan dan ketika dikabari tentang hasil tindakan biadabnya, laki-laki itu lenyap tiba-tiba. Syifa tak bisa menemukannya. Tak ada jejak, pun sepucuk pesan. Tangisnya malam itu karena jiwa yang terpukul, ketakutan segunung yang dipikul, kepercayaan yang runtuh, dan pikiran yang bergemuruh.

 

Mendengar kabar macam itu hati bapak mana yang tidak hancur? Anak peremuannya mencoreng namanya, membanting harga dirinya. Satu jam Bapak di ruang gawat darurat, dokter keluar dengan air muka penuh sesal. Bapak tidak dapat diselamatkan.

 

***

 

Segera setelah pemakaman Bapak selesai serta seluruh pelayat dan keluarga jauh pulang, aku mengemasi barang. Aku tak bergairah tinggal lagi di sini, tak akan ada lagi dua jam perjalanan bolak-balik dari rumah ke kampus yang hampir setahunan ini senang hati kujalani demi bersua dengan Bapak. Sekarang aku tak punya alasan lagi selain karena aku pun enggan hidup seatap dengan gadis tak suci itu.

 

“Ke mana, Le? Sudah tidak ada Bapak di sini, apa kamu pun hendak meninggalkan kami?” Ibu mencengkram lenganku yang tak berhenti menata isi kopor.

 

“Dia korban, Le, cuma korban.” Suara Ibu mulai terbata-bata, nelangsa.

 

“Dia mau, Bu, dia tidak dipaksa.” Aku gusar juga mendengar Ibu terus-terusan membela Syifa.

 

“Dia cuma bodoh, dia cuma tidak mau kehilangan, Le. Dia cuma rindu sosok bapak, juga  sosok abang yang tidak didapatnya di rumah.”

 

“Jadi sekarang Ibu menyalahkan Burhan?” Aku tersinggung.

 

“Sama sekali tidak, Le. Hanya Ibu mohon ampuni dia, Burhan!” Ibu terduduk di pinggiran kasur, samping koper memegangi tanganku yang masih sibuk mencoba menahan memintaku berhenti.

 

“Burhan tak sudi.” Kusingkirkan tangan Ibu, menutup koper, keluar dari kamar.

 

Yang sedari tadi jadi topik pembicaraan sedang meratap di kursi pojokan. Tak berusaha ikut mencegahku, tak berbuat apa-apa, tak mau, tak bisa. Ibu masih terisak di kamar, aku hengkang.

 

***

 

Sejak saat itu aku tinggal di sebuah rumah kos dekat kampus, tak pulang kecuali menziarahi pusara Bapak. Tabunganku sudah lebih dari cukup bahkan untuk membiayai hidup dan kuliahku sampai lulus, karena Bapak memang sudah mempersiapkannya. Ibu sering sekali menelepon memintaku pulang, tapi aku kekeuh menolak begitu keras kepala. Ibu bilang Syifa sakit-sakitan ingin bertemu abangnya, tapi aku tak peduli begitu keras hati.

 

Waktu itu hampir masuk bulan kedua, sakit itu masih belum terobati, begitu juga rasa kehilangan itu, rasa marah itu. Namun dilain sisi ada bagian dari diriku yang gelisah tak berarah terseret kelabu. Seperti ada yang tertawan di satu sudut kalbu. Pelajaran sulit kuikuti. Tugas-tugas tertumpuk tak selesai. Di kelas hanya murung durja saja kerjaku.

 

“Sudahlah, Kawan, ini kan takdir Tuhan! Tidak ada sehelaipun daun gugur, benih dalam gelap jatuh lalu tumbuh melajur, tanah basah, tanah kering, kecuali telah ditulis dalam kitab-Nya yang nyata. Begitupun tentang kepergian ayahmu.”

 

“Mudah saja kau bilang begitu, Mo. Kau tak tahu rasanya.” Kutampik tangan yang merangkul bahuku, kesal karena dongkolku tak dibela.

 

“Memang tidak tahu, Kawan. Aku kan cuma mengingatkan. Jangan melulu menyimpan dendam, membersalahi adik perempuanmu itu, mendakwanya setengah mati. Dia pun tak ingin ayahnya meninggal, kan?” Marmo meneruskan ceramah tak peka kalau aku kurang betah. Aku diam saja.

 

“Ya sudahlah… Ayok kita ambil wudhu siap-siap salat Jum’at. Mau di masjid kampus atau masjid yang mana?” Marmo memberi pilihan.

 

“Yang mana saja.” Jawabku singkat sambil bangkit, lalu melenggang ke belakang, mengambil wudhu.

 

***

 

“Seorang perempuan itu dilindungi oleh empat laki-laki sekaligus: suaminya, bapaknya, puteranya, dan saudara laki-lakinya.” Suara sang ustadz muda seakan menggema dari pengeras suara di pojok-pojok masjid.

 

“Sekali seorang perempuan berdosa, keempat-empatnya akan juga ditanya. Akibat yang lebih fatal bahkan ikut disiksa.” Ustadz meneruskan. Nadanya tenang, tapi kuat. Alunannya lancar tanpa cela dan enak didengar.

 

“Itulah mengapa, kita para lelaki diminta menjaga perempuannya. Suami menjaga istrinya, bapak menjaga puterinya, putera menjaga ibunya, dan saudara laki-laki menjaga saudara perempuannya,” Kata-katanya yang ini merasuk dalam, menusuk, menyelusup terus sampai ke dalam hati. Perih.

 

Aku sudah gagal menjadi saudara laki-laki.

 

***

 

Kurenungkan ceramah Jum’at itu berhari-hari. Jika begitu, Bapak pun sama gagalnya denganku tak bisa menjaga puterinya. Jika Syifa sampai seperi itu sudah jelas karena kebodohannya, tapi lebih jelas lagi karena kegagalan para laki-laki ini. Bapak yang gagal dan abang yang gagal. Hatiku mulai berdamai mulai melepas diri, sepertinya. Suara hati kecilku yang selama ini tertawan gengsi, keangkuhan, dan rasa tidak peduli, mulai kubiarkan bicara. Aku mengutuki diri.

 

“Kemana, Mo?” Kucegat Marmo yang hendak melewati pintu. Dia terhenti, menengok lalu berbalik badan. Terlihat sedikit kaget karena tak sempat menyadari kalau sedari tadi aku sudah duduk di sofa, di pojok ruang tamu.

 

“Ke pengajian ustadz Hafidz yang kemarin mengisi ceramah Jum’at itu. Sekalian buka bersama ini kan Senin.” Kata Marmo sambil membetulkan posisi peci.

 

“Kenapa? Mau sekalian?” Kali ini sambil jalan mendekatiku lalu duduk menyebelahi. Matanya menatap dan kedua alisnya terangkat, minta jawaban.

 

“Tapi aku sedang tidak puasa apa boleh?” Aku bertanya ragu.

 

“Tentu boleh asalkan tidak mendahului minum teh sebelum adzan Maghrib.” Marmo terkekeh.

 

"Segera ganti baju, aku tunggu.” Katanya sambil menepuk paha kananku. Aku mengangguk sambil tersenyum. Senyum tulus yang pertama setelah sekian lama.

 

Ustadz Hafidz sangat baik hati. Dia menerima dengan tangan terbuka, saat aku minta waktunya untuk mengobrol setelah salat jamaah magrib sambil berbuka puasa. Meski muda, umurnya tetap lebih tua sekitar tiga atau empat tahun dariku. Dia begitu karismatik, tenang, matang dan dewasa. Nasihatnya tak jauh beda dengan nasihat Marmo waktu itu tentang kelapangan hati, penerimaan, dan kepasrahan. Hanya karena dia yang bicara, aku jadi sungkan membantah tak seperti waktu aku dinasihati Marmo. Aku mendengarkan beliau baik-baik. Dan hasil dari kesedian untuk mendengarkan adalah sebuah pemahaman.

 

“Lagipula, Dik, Alloh memerintahkan hambannya untuk tidak berbahagia yang berlebihan saat diberi nikmat, pun sedih berlarut-larut saat diberi musibah. Dan lagi, di rumah sana ada ibumu yang mau bagaimanapun tetap saja ibumu juga adikmu yang mau disangkal seperti apapun tetap saja adikmu. Kamu satu-satunya laki-laki dalam keluarga, dan keduanya tanggunganmu sekarang.” Senyumnya merekah takdzim, tulus, tanpa niat mengurui.

 

Baiklah, aku akan pulang besok pagi.

 

***

 

Handphone-ku yang tertinggal di kamar, meraung-raung. Terdengar sejak aku dan Marmo membuka pintu depan. Ketika kulihat sudah dua belas panggilan tak terjawab dari nomor Ibu. Tak lama handphoneku kembali berdering dan langsung kuangkat.

 

“Ibu?” Aku mendahului bicara lupa salam, perasaanku tidak enak.

 

“Ini Pakde Noto, Le. Cepatlah pulang. Syifa, Le!” Suara dari jauh itu bergetar.

 

“Syifa kenapa, Pakde?” Aku khawatir, tak sabar.

 

“Syifa, Syifa kritis. Cepat pulang!”

 

“Baik, Pakde, Burhan pulang malam ini juga.”

 

***

 

Waktu aku sampai di rumah, bagaikan tersambar petir aku kaget bukan kepalang. Susah payah hati kumantapkan hingga akhirnya kuniati untuk memperbaiki diri membayar semuanya menjadi putera yang berbakti, kakak laki-laki yang penyayang dan peduli. Tapi kini terlambat, aku benar-benar saudara laki-laki yang gagal. Disambut bendera putih tanda lelayu, aku langsung bergegas masuk ke dalam rumah. Di ruang tengah kudapati Syifa sudah dikafani, rapi, wangi melati. Mukanya pucat, matanya cekung, tulang pipinya menonjol, menyedihkan. Syifa telah meninggal membawa nestapa yang perih tak berperi, rasa hina, penyesalan, sedih hati, kehilangan, dan sumpah serapah kakaknya sendiri. Perempuan semuda itu. Waktu Pakde menelpon tentu saja beliau berbohong. Syifa sudah diambil sejak sekitar satu setengah jam sebelum akhirnya aku mengangat telepon dari Pakde.

 

Ibu duduk di kursi hijau sambil menatap jenazah Syifa. Hatinya pasti hancur berantakan. Aku berlutut memeluk betisnya untuk meminta ampun. Beliau tak merespon, tak membelai rambutku, pun tak menolak dan berontak. Sejak saat itu aku tahu Ibu terlanjur terluka, luka yang takkan pernah sembuh.

 

Sejak meninggalnya Syifa, aku izin kuliah satu minggu untuk menemani Ibu. Selama itu kurayu Ibu untuk bersedia pindah ke rumah kami di dekat pemancingan perbatasan Jogja. Rumah di sana memang tak lebih nyaman, tapi setidaknya kenangan tentang Syifa dan Bapak tidak sepekat di rumah ini. Aku akan pulang kesana setiap hari dan bisa menemani Ibu. Setelah Pakde Noto ikut bicara akhirnya Ibu setuju.

 

***

 

Jadi, di sinilah empat tahun terakhir kami tinggal. Desa kecil di perbatasan Jogja-Klaten tempat aku mengenal Ratmi. Perempuan yang santun dan sederhana itu. Seperti mesin waktu, Ratmi membawaku kembali pada masa dimana aku gagal menjadi saudara laki-laki untuk Syifa. Dia juga mengembalikan bayang-bayang gadis kecil tak berdaya yang tak pernah kapadanya aku peduli. Dia membuatku ingin membayar walau tak mungkin terlunasi.

 

“Beri kesempatan untuk Burhan, Bu  untuk membayar semua kesalahan ini.” Kini aku sudah berlutut mengenggam kedua tangan Ibu yang dipangku.

 

“Dari sekian banyak wanita, kenapa pula kau pilih Ratmi? Dia kan serupa adikmu seperti yang kau bilang dulu ‘wanita tidak suci’, kan?” Diulanginya lagi kata-kata itu. Rasa kecewa itu masih terasa kuat sekali, menancap, menyakiti hatiku. Nyeri.

 

“Ibu...”Aku memelas.

 

Setengah tak percaya kalau Ibu tega mengungkit kejadian yang menggambarkan betapa kejamnya aku waktu itu. Mataku panas, hatiku sama panasnya. Kutumpahkan dalam pangkuannya. Mulai terisak.

 

“Bukankah benar begitu, Burhan? Adikmu sendiri kau katai sehina itu, wanita tak suci, wanita hina? Kan sama dengan Ratmi? Hah?” Nada Ibu kasar, menyindir, tapi bergetar. Aku tahu beliau juga mulai tak kuat menahan isak tangisku yang sudah bergejolak.

 

“Cukup Bu, cukup! Burhan tahu Burhan salah, aku meminta ampun seperti apapun takan membuat Syifa kembali hidup. Tapi Burhan mohon jangan kemudian terus-terusan Ibu siksa Burhan seperti ini, Bu.” Aku meledak.

 

Seperti di hari kematian Syifa kupeluk betis Ibu kuat-kuat. Ibu kembali diam, hanya sekujur badannya tak henti bergetar. Tak kuasa menahan nelangsa tentang ingatan pahit itu.

 

“Ibu...”Aku sama tak kuasanya. Pelukanku pada betisnya lepas, wajahku terjatuh hingga punggung kakinya kuciumi. Ibu mulai tak tega dengan tangan yang bergetar diangkatnya bahuku, diletakannya kepalaku dalam pangkuannya. Seakan di dunia hanya ada kami berdua. Rasanya senyap, tapi pilu seperti tak ada sesuara apapun selain berisik tangis kami yang saling susul-menyusul dan detak jam dinding yang seakan berderap terburu-buru.

 

“Baiklah, Le!” Tangannya membelai kepalakuku dengan ragu.

 

“Baik, Le, baik!” Dibelainya lagi kepalaku dari ubun-ubun hingga tengkuk leher. Dadaku masih sesak, tangisku masih berontak begitupun Ibu. Tapi tegang hatiku mulai layu, paru-paruku yang sedari tadi kembang-kempis tak tentu mulai padu, suara antah berantah yang menggemakan dosa masa lalu jadi bisu karena ini berarti dua: perdamaian dan restu. 

 

Selesai.

Yuk, Jadi ORANGTUA ASUH (OTA) Santri Penghafal Qur'an Askar Kauny! Donasi Rp 150.000,-/bulan. Dapat Majalah Ummi (free ongkir)

Transfer ke Bank Muamalat 335-000-9175 a.n. Yayasan Askar Kauny

Konfirmasi ke 0813 8054 4843 : OTA#Nama#AlamatLengkap#Telp#jumlahtransfer#TanggalTransfer#JamTransfer

Tags:
loading...