Setitik Embun untuk Senja

Fashion-Styles-for-Girls-Online

Penulis: Rofiapta Shely


 “Flo… sejak kamu ada disini, aku jadi nggak kesepian lagi…”

Kalimat itu membuat Flo melambung. Sebuah kalimat sederhana namun mengandung efek dengan berjuta makna didalamnya. Belum ada satu pun kalimat sakti mandraguna yang mampu menandingi kekuatan kalimat itu bagi Flo. Berlebihan. Ya, memang sungguh berlebihan hingga Flo merasa tersihir oleh kalimat sederhana itu. Apalagi yang mengucapkannya hanyalah seorang anak kecil berusia delapan tahun dengan tampang polosnya. Enca, nama panggilan anak itu. Seorang anak tunggal dari seorang psikolog tersohor di daerah ini, Yoga Pradipta.

Sungguh mempesona. Pasalnya saat bibir mungilnya mengucap kalimat itu, senyum-senyum kecil menghiasi wajahnya. Senyuman khas anak yang belum memikul dosa-dosa yang dilakukannya. Senyum tanpa beban. Apalagi, kelopak matanya yang lucu itu. Sungguh terlihat saat dia tersenyum, kelopak itu membentuk lengkungan kecil bak bentuk pelangi pada gambar-gambar anak seusianya.

Enca membelai Flo, tersenyum untuk kesekian kalinya—namun kali ini terlihat terpaksa. Terpaku. Belaiannya mengisyaratkan kegetiran yang tengah menimpanya. Dari raut wajahnya Flo melihat garis-garis kesedihan. Sangat kontras dengan perasaan Flo yang baru sepersekian detik lalu digambarkan. Sesekali nafasnya terdengar jelas. Ditarik sedalam-dalamnya, lalu dihembuskan sepanjang-panjangnya. Ini nafas khas seseorang yang sedang menahan tangisnya.

“Flo…” Enca tercekat, beberapa bulir peluh sebesar biji tauge mulai membasahi keningnya, menandakan penolakan dari dalam dirinya untuk menahan rasa sakit hati yang tengah dipendamnya. Otaknya seakan melakukan demo besar-besaran perihal penolakan kesedihan yang membuat perasaannya rapuh saat ini. Tapi sepertinya, hal itu bertentangan dengan hatinya yang ingin memendam dalam-dalam rahasia kesedihan itu.

“Flo…”

Dua kali Enca memanggil Flo, tapi ia tak juga melanjutkan kata-katanya. Batin Flo ingin tahu. Tapi apa yang bisa dilakukan olehnya? Duduk di sampingnya dan mengusap punggungnya? Atau sekadar berkata padanya bahwa Flo takkan membiarkan seorang pun menyakiti hatinya dan bermaksud menenangkannya? Ya  Tuhan… andai aku dapat melakukan itu, batin Flo.

Enca menunduk lemah. Ia memejamkan kedua matanya. Flo sungguh mengerti makna mengapa Enca melakukan itu. Ia tak ingin air matanya menetes. Ditelannya ludah dan ia mulai mendongakkan wajah. Matanya masih terpejam. Enca menarik nafas dan dihembuskannya kembali. Sejurus kemudian, ia baru membuka matanya dan mencoba tersenyum kembali.

Kejadian itu tepat sepuluh tahun yang lalu, saat semestinya gadis seusia Enca mengenakan pakaian seragam merah-putih dengan segala atributnya.

“Kamu enak ya, Flo… nggak ada yang ngurung kamu di rumah, nggak ada yang bikin kamu kesepian, nggak ada yang marahin kamu, nggak ada yang ngelarang kamu main sama siapapun… nggak kayak aku….”

Akhirnya bibir mungil Enca terbuka juga. Mengungkapkan seluruh keresahan yang dipendamnya selama ini. Ia memejamkan matanya kembali, disertai beberapa kernyitan di antara kedua alisnya. Mungkin sebab dari kalimat tadi yang seharusnya tidak diucapkannya. Sungguh, sebaris kalimat tadi sama sekali tak meringankannya, bahkan justru malah menambah bebannya. Kini peluhnya kembali bercucuran. Air matanya sudah tak kuasa lagi terbendung. Meski ia terpejam, aliran sungai kecil itu tetap bisa menyeruak keluar. Membasahi pipi dan ujung bibirnya. Isak tangisnya mulai terdengar. Bahunya mulai terguncang-guncang seirama dengan nada isakannya. Ah, gadis sekecil itu…

Flo memahami kegetiran Enca. Apa yang sekarang gadis itu hadapi, seakan turut pula dirasakan oleh Flo. Walau Flo bukanlah tempat yang tepat untuk berbagi, namun ketulusan hati Enca membuat Flo selalu merasa ada di dunia ini. Gadis kecil yang meyakini bahwa Flo selalu ada di sampingnya, membuat tak hanya hatinya yang berbahagia, tapi juga lawan bicaranya itu. Flo merasa Enca masih terlalu muda untuk merasakan semua itu. Namun inilah dunia, dengan segala sesuatu yang mesti setiap insan tuhan hadapi.

Flo ingat, bukan hal yang jarang Enca menangis di hadapannya, mengungkapkan segala keluh kesahnya, membagi cerita dan berharap—mungkin—Flo dapat sedikit membantunya. Namun, apa yang bisa dilakukan Flo? Bukankah dengan berdiam begitu saja hanya akan semakin menyakiti hatinya? Aku pun ingin sekali membantu Enca, andai aku bisa, kilah Flo. Tapi apa yang mungkin bisa dilakukan Flo? Untuk tersenyum di hadapan Enca pun, tak pernah sanggup ia lakukan. Walau segala keresahan yang Enca senandungkan sambil menangis itu sudah menjadi bagian dari hidup Flo.

“Flo… kayaknya ini bakal jadi pertemuan terakhir kita….”

Kata-kata terakhir Enca sebelum akhirnya ia pergi meninggalkan Flo.

***

PLAKK!!

Bunyi tamparan itu sangat nyaringnya hingga Flo tersentak mendengarnya. Tak berapa lama, sayup-sayup isak tangis pun mulai terdengar.

“Papa malu punya anak kayak kamu, Maharani! Berasal dari keluarga terhormat tapi kelakuan nggak lain daripada anak jalanan! Mau jadi apa kamu…?!”

Suara berat laki-laki itu sesungguhnya tak asing dalam pendengaran Flo, hanya saja kali ini lebih terdengar tegas. Gadis yang disebut-sebut bernama Maharani itu tersungkur sambil memegang pipi dan pelipis kirinya. Kesakitan. Tak heran jika suara tangisannya terdengar sampai di tempat Flo berdiri. Sedangkan seorang wanita paruh baya yang juga ada di tempat yang sama dengan laki-laki itu hanya berusaha menahan suaminya sambil berucap istighfar.

Gadis bernama Maharani itu mendekati papanya. Berlutut.

“Maaf, Pa… Rani nggak tau… Rani bingung…”

Laki-laki itu memalingkan wajahnya. Angkuh. Pandangan matanya nanar.

“Pa…” Maharani memeluk sebelah kaki papanya “… harusnya Papa pahami Rani… Papa pikir Rani tenang selama ini? Tanpa teman, tanpa sosialisasi, bahkan aku lebih mirip orang sakit jiwa yang ditempatkan di ruang isolasi ketimbang orang waras… Rani tertekan, Pa…” ia menarik nafasnya “Rani butuh teman… mestinya sebagai psikolog Papa ngerti dong.”

“Jadi kamu mau bebas? Kamu nggak mau lagi diurus Papa, heh?” Laki-laki itu menunduk “…kamu tertekan bersama Papa? Jadi kamu pikir apa yang Papa lakukan bukan untuk kepentingan kamu? Lalu kamu berontak, begitu? Kamu pikir hidup di luar itu nggak keras, heh?!” Laki-laki itu mendorong tubuh Maharani, membuatnya tersungkur.

“Bukan gitu, Pa… maksud Rani…” Maharani belum sempat melanjutkan kata-katanya.

“Ya, tapi ini yang kamu dapatkan dari apa yang kamu harapkan, bukan?... pergaulan bebas…”

“Pa… Maafin Rani!” Maharani menjerit.

“Papa nggak mau tahu!” jawabnya datar “Ma… bawa dia ke panti rehabilitasi…”

Istri laki-laki itu hanya mengangguk pasrah. Baginya, memang sudah tak ada pilihan terbaik.

***

“Aaaaarrrgh….”

Tubuh Maharani menggigil hebat, dipeluk erat kedua lututnya. Sesekali diusap kedua lubang hidungnya seperti hendak bersin. Ia sungguh tidak kuat menahan perasaan yang menimpanya. Takut, lemas, serta merta menemaninya beberapa menit terakhir. Beberapa orang suster lalu-lalang di hadapannya, tapi entah mengapa tak ada satu pun yang menggubris keberadaannya. Mungkin bermaksud ingin memberinya pelajaran atas kelakuan bodoh yang dilakukannya.

“Toloooooong!! Sakiiiit!!” terdengar sebuah teriakan dari ujung koridor panti rehabilitasi.

Maharani penasaran, dilupakannya rasa sakit yang dirasakannya. Dengan serta merta ia mencoba bangkit dari tempatnya, seakan rasa sakitnya itu tak seberapa dibanding rasa penasarannya. Beberapa kali ia mencoba berdiri walau rasanya kedua kaki Maharani sudah tak mampu lagi menopang badannya. Apalagi kondisinya sakaw.

Tepat di depan ruangan tempat sumber suara itu berasal, maharani mendapati sebuah celah kecil pada pintunya, membuatnya dapat mengintip ke dalam ruangan. Otaknya terus mengisyaratkan untuk tetap menatap celah itu, walau sakitnya bertambah-tambah.

***

Pria itu meronta-ronta, menjerit sekuat tenaga, mencurahkan segala tenaga yang ia punya hanya untuk berteriak. Tubuhnya kurus kering, seperti orang yang tak mencicipi nikmatnya nasi selama bertahun-tahun terakhir, hingga pada bagian depan tubuhnya terlihat siluet membentuk tulang-tulang rusuk yang menonjol keluar. Sungguh mengerikan. Pipinya peot seperti seorang kakek yang sudah bosan menikmati pahit getirnya kehidupan. Sedang matanya yang cekung seakan menyembul keluar.

Dokter yang menanganinya seperti sudah tak kuasa. Berapapun banyaknya suster yang membantunya, wajah dokter itu seperti mengisyaratkan kata menyerah.

“AAAAARRRGGH!!”

Pria itu mengejang. Matanya melotot. Teriakan hebat menggema di seluruh ruangan. Dari mulutnya keluar cairan putih mirip busa seperti orang yang memiliki penyakit epilepsi. Sungguh pemandangan yang tak lazim.

Pria itu dinyatakan meninggal dunia.

***

Dua tahun sejak kepergian Enca kecil dari rumah besarnya, Flo seperti anak yang ditelantarkan. Tak ada lagi yang mengurusnya, tak ada lagi yang menemaninya. Flo selalu dirundung kesedihan semenjak kepergian Enca. Sementara orang tua Enca, kini memiliki kebahagiaan baru dengan adanya seorang makhluk mungil yang seakan menggeser status peranan Enca di dalam keluarga itu…

“Flower…”

Suara itu! Flo hapal betul suara itu. Itu suara Enca. Hati Flo melonjak gembira mendengar itu, seperti menemukan sebuah oase ditengah hamparan padang pasir sedemikian luas.

“Kamu masih inget sama aku, Flo?”

Ya, tentu saja aku ingat siapa kamu, kamu Enca kecilku yang manis.

“Dua tahun nggak ketemu kamu, aku kangen banget sama kamu… kamu udah besar ya, kayaknya kamu udah nggak cocok dipanggil Flo, deh…”

Loh kenapa?

“Kamu udah jadi pohon, bukan bunga lagi…hihihi...” senyum Enca merekah. Walau usianya hampir menginjak dua puluh, wajahnya tak banyak berubah. Barisan giginya yang putih masih sama seperti dulu.

“Banyak yang mau aku certain ke kamu… salah satunya tentang perubahanku ini… banyak hal yang aku temuin di panti rehabilitasi itu, Flo.”

Apa itu?

“Awalnya aku takut, tapi karna semua itu juga satu per satu kebahagiaan mulai muncul… Allah emang adil, Flo… Hikmah dan kebahagiaan selalu datang tepat pada waktunya… bahkan saat aku pulang ke rumah, Papa sama Mama udah nyiapin kado spesial untuk aku, Flo… seorang adik yang udah lama aku nanti-nanti.”

Adik yang dinanti-nanti?

Jadi, makhluk mungil yang disangka Flo telah menggeser peranan Enca itu, merupakan seorang yang dinanti-nanti?....

“Sayang, udah puas kangen-kangenan sama bunganya? Makan dulu, yuk… kamu belum makan, kan?” dari dalam ruangan, suara orangtua Enca memanggil.

“Aku makan dulu ya, Flo…” bisik Enca, tak berapa lama ia berlari ke dalam rumah.

Flo menatap gadis menginjak dewasa itu. Terpaku. Hanya punggungnya saja yang terlihat saat ia berlari. Senja Maharani Pradipta. Gadis kecil itu kini telah tumbuh dewasa. Parasnya yang manis semakin terlihat menawan. Apalagi ditambah sebuah hijab yang dikenakannya, membuatnya sungguh terlihat anggun. Tapi ia tetaplah tidak berubah. Bagi Flo, ia tetaplah Enca yang dulu…

Flo mengukir senyum dalam hatinya…

Bekasi, 18 juli 2010





Yuk, Jadi ORANGTUA ASUH (OTA) Santri Penghafal Qur'an Askar Kauny! Donasi Rp 150.000,-/bulan. Dapat Majalah Ummi (free ongkir)

Transfer ke Bank Muamalat 335-000-9175 a.n. Yayasan Askar Kauny

Konfirmasi ke 0813 8054 4843 : OTA#Nama#AlamatLengkap#Telp#jumlahtransfer#TanggalTransfer#JamTransfer

Tags:
loading...