Suara Pohon-pohon

Fashion-Styles-for-Girls-Online

Penulis: Dewi Setiowati

 

Peristiwa ini berawal di sebuah masjid bernama Al Firdaus, di sebuah komplek perumahan, di negeri berjuluk Gemah Ripah Loh Jinawi. Sore itu, seorang marbot masjid bernama Pak Sabar sudah menyelesaikan tugasnya menyapu. Halaman masjid Al Firdaus pun telah bersih, rapi dan enak dipandang mata. Meski begitu, Pak Sabar masih belum beranjak dari tempatnya. Ia masih mengamati pohon-pohon mangga yang ada di halaman masjid.

“Aneh,” gumamnya.

Pria separuh baya itu mencoba melihat bunga-bunga mangga yang biasanya sudah bermunculan di musim panas atau awal musim hujan.

“Tidak ada. Aneh, gumam Pak Sabar lagi.

“Nyari apa, Pak Sabar?” Pak Burhan yang sedang mengantar anaknya TPA, heran.

Pak Sabar sedikit kaget. Ia tersenyum lebar melihat Pak Burhan, salah satu anggota pengurus masjid Al Firdaus.

“Ini, Pak Burhan, pohon-pohon mangga ini, tidak seperti biasanya. Sampai sekarang, belum juga berbunga,” jawab Pak Sabar.

Pak Burhan mendekati Pak Sabar dan ikut mengamati pohon demi pohon. Pak Burhan yang dosen di institut pertanian itu mengerutkan dahi.

“Iya, aneh. Padahal kalau tidak salah, sudah dua tahun ini, pohon-pohon mangga itu selalu berbuah lebat,” kata Pak Burhan.

“Itulah, Pak, yang saya ndak ngerti. Padahal sudah saya siram dan beri pupuk,” lapor Pak Sabar.

“Mangganya sedang ngambek, Pak Sabar. Hehe…,” canda Pak Burhan.

“Itu juga sudah terpikir oleh saya, Pak Burhan. Tetapi… mengapa mereka mogok berbunga? Mereka sudah saya siram, saya beri pupuk teratur, saya rawat dan jaga,” Pak Sabar terlihat sedih.

“Pak Sabar sudah melakukan yang terbaik, semampu Pak Sabar bisa. Saya kira, bukan salah Pak Sabar kalau pohon-pohon ini tidak mau berbunga,” hibur Pak Burhan. Pandangan matanya kemudian menatap pohon-pohon mangga itu, berpikir, dan merenung.

Berita tentang ngambeknya pohon-pohon mangga masjid Al Firdaus tersebar. Jamaah masjid Al Firdaus yang semula tidak memperhatikan, mulai membicarakannya. Mereka yang pernah mencicipi manisnya mangga Al Firdaus, paling sering membicarakannya.

Mosok pohon bisa ngambek, ya?” kata seorang Ibu.

“Ya, bisa saja, Bu. Namanya juga makhluk hidup,” sahut Ibu lainnya,

Bu Burhan melihat tatapan heran ibu-ibu itu. Ia pun menjawab dengan santai.

“Pohon kan makhluk hidup juga. Dia bisa merasa senang atau sedih. Suami saya bilang, ada percobaan. Percobaan itu…,” Bu Burhan menjelaskan.

Cerita tentang percobaan itu pun menyebar, menambah ramai pembicaraan sebelumnya tentang ngambeknya pohon-pohon mangga itu.

“Apa benar percobaan itu ada, Pak Burhan?” Pak Sabar bertanya kepada Pak Burhan di satu senja, selepas shalat maghrib.

Awalnya Pak Burhan bingung. Percobaan apa, percobaan yang mana? Tapi melihat Pak Sabar, Pak Burhan segera ingat pohon-pohon mangga di halaman masjid. Wajahnya sedikit berubah.

“Hm… percobaan bahwa tanaman bisa juga merasa bahagia atau tidak suka, Pak Sabar?” tanya Pak Burhan kikuk.

Ia seperti diingatkan akan sesuatu yang buruk, terlebih ketika melihat Pak Sabar mengangguk. Dengan berat hati, Pak Burhan menjelaskan. “Memang ada percobaan yang dilakukan untuk mengetahui pengaruh musik terhadap tanaman. Yang satu diperdengarkan musik barok, yang satu didengarkan musik rock. Tanaman yang mendengar musik barok mempunyai daun-daun yang subur dan akar yang besar bahkan cenderung mengarah ke musik, seolah-olah mengarah ke matahari. Berbeda ketika diperdengarkan musik rock yang kacau, tanaman yang sama akan layu dan mati[1],“ Pak Burhan mengakhiri penjelasannya dengan menghela nafas. Bapak-bapak itu saling pandang.

“Jadi… kalau begitu, apa kira-kira yang membuat pohon-pohon mangga itu tidak suka

dan ngambek berbunga, Pak Burhan?” polos pertanyaan Pak Sabar.

Pak Burhan tersenyum kecut dibuatnya. Setelah meminta maaf karena tidak bisa menjawab pertanyaan Pak Sabar, Pak Burhan memilih bergegas pulang. Bapak-bapak yang lain terdiam untuk beberapa lama. 

“Pak Sabar pernah mendengarkan musik rock yang kacau, kali, atau keras-keras mungkin,” goda Pak Eko memecah keheningan yang sempat tercipta.

Boro-boro musik rock, Pak Eko. Saya malah membacakan ayat kursi dan shalawat Nabi, lima puluh kali sehari selama satu pekan ini. Eh, belum mempan juga,” suara Pak Sabar terdengar mulai tidak sabar.

“Mungkin Pak Sabar membacanya kurang banyak, dan mungkin... kita semua perlu membacanya?” tanya Pak Eko. Ia tersenyum, menggoda. Sebentar kemudian, Pak Eko pamit pulang.

“Ah, Pak Eko bercanda. Mosok demi berbunga dan berbuahnya pohon-pohon mangga yang jumlahnya tidak seberapa itu, harus dzikir bersama. Aneh-aneh aja, Pak Eko itu,” komentar Pak Sabar menanggapi. Bapak-bapak yang lain saling berpandangan, kemudian beberapa dari mereka ada yang mengikuti jejak Pak Eko, pulang ke rumah masing-masing. Sisanya seperti Pak Sabar, menggunakan waktu yang tersisa untuk tilawah al-Qur’an. Sekilas Pak Sabar sempat merasa, bapak-bapak itu akhirnya mengetahui penyebab ngambeknya pohon-pohon mangga di halaman masjid. Tetapi… mengapa mereka tidak mau memberitahunya? Pak Sabar menghapus pikiran itu dan tenggelam dalam senandung ayat-ayat cinta-Nya.

Malam itu, hujan yang turun bada isya mendorong Pak Sabar tidur lebih awal. Suara tetesan hujan, desau angin, kemerisik dedaunan yang bercanda dengan hujan dan angin serta sesekali ledakan kecil suara petir atau gemuruh guntur menjadi irama pengantar tidur.

“Pak Sabar... Pak Sabar,” terdengar suara memanggil. Pak Sabar pun menoleh ke sana kemari, ia tidak melihat siapapun.

“Pak Sabar… Pak Sabar... kami di sini,” suara lain memanggil. Pak Sabar mengikuti arah suara itu. Tetap ia tidak menemukan seorangpun. Ia hanya melihat daun-daun pohon mangga yang bergerak-gerak. Sudah tidak hujankah sekarang?

“Oh, Pak Sabar, ini kami, maafkan kami yang tidak mau berbunga...,” suara lain lagi terdengar memohon. Pak Sabar menajamkan pandangan, menatap ke arah kumpulan pohon-pohon mangga. Kali ini, pohon mangga yang berada di ujung, menggerakkan daun-daunnya lebih hebat dari yang lain.

“Kami pohon-pohon mangga masjid ini, Pak Sabar. Ya, maafkan kami. Kami telah membuatmu bingung karena ulah kami,” sebuah suara berasal dari arah pohon itu. “Allah telah mengijinkan kami berbicara kepadamu, Pak Sabar, pahala atas ayat kursi dan shalawat yang kau lantunkan untuk kami.”

Pak Sabar mulai mengerti meski masih belum bisa mempercayainya. Ia, bisa mengerti bahasa pohon?

“Kami sepakat untuk tidak berbuah karena kesedihan kami,” kembali sebuah suara terdengar dari pohon mangga paling ujung. Dengan batang yang terbesar dan dedauan yang paling rimbun, ia berbicara kepada Pak Sabar dengan menggerakkan daun dan sesekali meliukkan batang. “Kami sedih karena melihat keadaan masjid yang sepi. Masjid semegah ini... hanya untuk sholat berjamaah sepuluh hingga lima belas orang. Tetapi kami terutama bersedih… karena melihat perilaku pengurus masjid ini, Pak Sabar.”

Pak Sabar tercenung. Ia menepuk dahi. Astaghfirullah, mengapa ia tidak berpikir sampai ke sana? Pak Sabar kemudian teringat wajah kikuk Pak Burhan, senyum menggoda Pak Eko dan sikap diam bapak-bapak yang lain.

Pohon mangga yang terbesar itu kembali meliukkan batangnya, lebih kencang, dengan tidak sabar. “Kami heran melihat ketidakakuran para pengurus masjid ini, Pak Sabar. Bukankah mereka cukup pintar? Bukankah sewajarnyalah, semakin pintar seseorang, semakin rendah hati dan semakin dekat ia kepada Pemberi Kepintaran itu? Bagaimana mereka bisa ingin menang sendiri? Mengapa mereka sulit untuk mengalah?” suaranya terdengar diikuti gerakan daun pohon-pohon yang lain.

“Dan itu terjadi selama hampir dua tahun ini. Dua tahun, Pak Sabar!” Pohon-pohon lain kembali bergerak-gerak, bersuara satu sama lain, terdengar tidak sabar.

Pak Sabar terdiam, tidak bisa menjawab. Akhirnya, setelah beberapa bulan dalam tanda tanya, malam ini, ia mengetahui rahasia ngambeknya pohon-pohon mangga itu.

Selesai.

 


[1] Bobbi DePorter dan Mike Hernacki. Quantum Learning, hlm 74, cetakan 9, Mei 2001, Kaifa

Yuk, Jadi ORANGTUA ASUH (OTA) Santri Penghafal Qur'an Askar Kauny! Donasi Rp 150.000,-/bulan. Dapat Majalah Ummi (free ongkir)

Transfer ke Bank Muamalat 335-000-9175 a.n. Yayasan Askar Kauny

Konfirmasi ke 0813 8054 4843 : OTA#Nama#AlamatLengkap#Telp#jumlahtransfer#TanggalTransfer#JamTransfer

Tags:
loading...