Syair Kebebasan Masibdzan

Fashion-Styles-for-Girls-Online

Penulis: Guntur Alam

Angin gurun bertiup panas. Menebarkan bulir-bulir pasir bercampur debu. Mentari senja bertengger garang di kaki langit. Merah. Semerah darah yang beberapa waktu lalu membanjiri kota Ninevah dan Mosul. Terdengar senandung bidadari bersama nyanyian angin gurun. Mencumbu kulit letih sebuah pasukan yang masih merayap di padang pasir.

Di kejauhan. Lamat-lamat daun kurma dan zaitun merayu. Seperti pemandangan ganjil di atas gurun gersang. Seekor kuda dipacu dengan kecepatan penuh, menerbangkan debu-debu yang ada di belakangnya. Menciptakan badai pasir kecil. Sang penunggang terlihat bergegas. Berlari bersama waktu yang terus mengalir melewati neraca pasir terbalik. Menyongsong kearah pasukan yang berjalan letih.

Kuda itu meringkik dengan keras begitu tali kekang yang diikatkan pada hidungnya dan melingkar kembali ke tangan sang penunggang, ditarik. Sepasang kaki depannya terangkat. Lalu menghentak dan menjejak pasir yang berada di bawahnya. Membuat deburan pasir tercipta. Kuda itu menghentikan larinya.

"Assalamu alaikum, Wahai Amirul Mukminin!" sambut sang penunggang kuda begitu jarak mereka tinggal berapa hasta. Seorang laki-laki yang menunggang kuda di bagian depan mengangkat tangannya ke udara. Pasukan itu berhenti seketika.

"Walaikumsalam, wahai saudaraku!" jawabnya dengan senyum sumringah. Lelaki yang bertindak sebagai panglima pasukan itu tersenyum hangat begitu mengenali sang penunggang kuda. Dia Abdullah, utusan panglima Saad bin Abi Waqqas yang telah bergerak terlebih dahulu menuju Persia. Kedua pasukan besar itu memang membawa misi untuk menaklukan Persia dan meneriakkan takbir di atas tanah itu.

"Panglima Saad bin Abi Waqqas telah menunggu, anda wahai Dhirar bin Khaththab!" lanjut sang penunggang kuda. Ternyata, dia utusan yang bertindak menjembut pasukan pimpinan Dhirar bin Khaththab untuk bergabung.

Pasukan itu kembali berjalan setelah mendapat tanda dari sang panglima untuk melanjutkan perjalanan. Menuju oase yang ada di depan mata. Bergabung dengan pasukan muslim pimpinan Saad bin Abi Waqqas. Senja mengiringi langkah mereka. Terlihat tergesa sekali. Berpacu dengan bulir-bulir pasir yang terus terjatuh. Magrib sebentar lagi menjelang. Mereka ingin shalat berjamaah dengan khusyu dan indah.

* * *

Malam merangkak pelan. Dinginnya udara gurun terasa menggigit sum-sum. Beberapa pasukan kaum muslimin terlihat berjaga dan berada di pos masing-masing. Sementara yang tidak mendapat giliran jaga terlelap, mengumpulkan tenaga dan semangat. Tugas besar menunggu mereka di kota Masibdzan.

Dhirar bin Khaththab tak mampu memicingkan matanya. Dadanya berdebar keras. Retina itu berputar, menari di atas langit-langit tenda. Seperti tengah menonton sebuah film dokumenter, mata elang lelaki perkasa itu terlihat berkaca-kaca, otaknya khusyu mengenang momen-momen yang amat mengguncang hatinya....

"Wahai Ibnul Khaththab! Selamatkan dirimu! Aku tidak akan membunuhmu!" teriaknya lantang di antara kecambuk Perang Uhud yang sangat dahsyat. Sosok lelaki yang sangat dia cintai tengah berjuang dan begitu gesit membabatkan pedangnya kepada kaum kafir Quraisy. Lelaki itu terdiam sejenak. Mata mereka beradu, dua Ibnul Khaththab tengah berperang membela kebenaran yang mereka yakini.

Umar Ibnul Khaththab mengacungkan pedang berlumuran darahnya ke udara. Sedang Dhirar bin Khaththab mengancungkan tombak yang ada di tangannya. Sebagai pertanda kalau dia tidak bercanda dengan ucapannya itu. Dia mencintai saudaranya. Dan tak ingin sampai membunuhnya!

Seorang prajurit kaum kafir terlihat tengah mengacungkan pedangnya ke arah Umar Ibnul Khaththab yang lengah.

"Awas!" jerit Dhirar, secepat kilat ia pun melempar tombak yang ada di tangannya dan tepat menikam tubuh prajurit itu. Umar Ibnul Khaththab terkejut. Matanya sempat melihat seorang prajurit Quraisy roboh. Secepat kilat, Umar melempar kembali pandangannya. Sosok Dhirar telah lenyap ditelan kecamuk perang.

Umar meneteskan air matanya. Semangat di dadanya meluap. Dia berdoa kepada Rabb pemilik alam semesta yang tengah dia perjuangkan. Semoga saudara lelaki terkasihnya itu tak terbunuh sebagai kafir di perang ini. Umar Ibnul Khaththab ingin merangkulnya kembali dalam ikatan saudara sedarah dan seiman.

Dhirar yang berada di kejauhan sempat menyaksikan pantulan sinar mentari yang menimpah kaca-kaca basah di mata Umar Ibnul Khaththab. Lelaki itu semakin menjauh dari sosok yang dia cintai itu. Dengan lihai, dia membabat-babatkan pedangnya. Menjauh. Sejauh mungkin, agar keduanya tidak beradu pedang.

"Kukirim kalian wahai kaum muslimin ke surga! Ke tempat terindah yang kalian impikan!" teriak Dhirar dalam letupan rasa yang tak bisa ia lukiskan. Suaranya yang lantang terdengar membahana. Membumbung di seantero Bukit Uhud. Umar Ibnul Khaththab menegakkan daun telinganya. Dia mengenali suara lelaki yang tengah bersyair dalam kecambuk perang Uhud ini. Seorang lelaki penyair yang pernah begitu dekat dalam hidupnya, kini terpisah karena keyakinan yang tak mungkin disatukan!

Dhirar mengenang setiap kenangan di perang Uhud itu saban malam menjelang perang-perang besar yang dia hadapi. Pantulan sinar mentari di kaca-kaca retina basah Umar Ibnul Khaththab yang membuatnya selalu berpikir. Apakah ajaran Muhammad yang demikian dibela Umar adalah sebuah kebenaran? Membuat sosok Umar yang dulu keras dan sangat kuat membela Latta dan Uzza menjadi sebaliknya.

Tiap ada waktu dan kesempatan. Saudaranya itu selalu berusaha mendekatinya dan merayunya dengan kelembutan. Inilah jalan kebenaran. Jalan cahaya yang dibawa Muhammad. Jalan yang akan menyatukan kembali cinta mereka dalam ikatan darah dan saudara seiman. Dhirar rindu memeluk sosok perkasa itu. Seperti ketika mereka menghabiskan masa kanak-kanak dulu.

"Masuklah ke dalam Islam. Ucapkanlah "Laa ilaaha illallah". satu kalimat yang dengannya aku dapat membelamu di sisi Alloh dan kaum Quraisy," rayu Umar Ibnul Khaththab tatkala kaum muslimin menaklukan Mekkah dan Umar Ibnul Khaththab berserta Muhammad dan kaum muslimin memasuki kota Mekkah setelah terusir sekian lama. Dhirar tertunduk dalam. Sangat dalam. Dia ingin. Ingin sekali. Tapi, kecintaannya kepada leluhurnya demikian kuat.

Umar Ibnul Khaththab tak henti merayunya. Meyakinkannya. Bahkan memeluknya dengan hangat. Sungguh, hari itu langit Mekkah terasa berwarna kuning keemasan. Cerah. Berpayung awan lebat yang rindang.

"Aku bersaksi, tiada tuhan selain Alloh dan Muhammad itu benar-benar Rasulullah," ikrar Dhirar pada akhirnya. Kedua Ibnul Khaththab berangkulan dalam tangis kebahagiaan. Dhirar membiarkan kali ini dirinya menangis, hal tertabu yang ada dalam hidupnya. Tak ada jarak. Tak ada batas. Tak ada perbedaan. Pun dengan keyakinan. Keislaman Dhirar disambut hangat oleh seluruh kaum muslimin yang ada.

"Berangkatlah! Teriakkan takbir di atas langit Persia! Lantunkan syairmu untuk kebebasan kota-kotanya. Alloh bersama para pedang-Nya," pompa Umar Ibnul Khaththab begitu Dhirar menemuinya untuk berangkat menjalankan tugas membebaskan negeri Persia dari kaum kafir.

Dhirar mengenang kejadian manis itu dengan senyum kebahagiaan. Syairnya yang pernah dia ucapkan dalam Perang Uhud selalu diucapkan Umar Ibnul Khaththab ketika mereka bertemu muka. Bahkan saudaranya itu sering kali mengingatkan kata-katanya yang meminta Umar menjauh dari dirinya agar dia tak membunuh saudaranya itu. Mata Dhirar mulai terpejam pelan berlahan. Menyambut rayuan bidadari surga yang ingin memijit kulit letihnya. Angin gurun kembali membungkus gigil dalam sum-sum.

* * *

Pasukan pimpinan Dhirar Ibnul Khaththab terlihat siaga. Dikejauhan tampak pasukan Persia yang dipimpin panglima mereka, Adhin bin Al-Hurmuzan berdiri dengan pongah di atas kuda-kuda perkasa. Daerah berbukit yang luas itu lengang dalam sekejap.

Seakan ingin mengukur kekuatan masing-masing lawan. Pasukan itu senyap. Angin yang akan menjadi saksi peritiwa historis itu menari dan meliuk bersama panji-panji yang dipegang masing-masing pasukan. Panji-panji Islam terlihat berkibar-kibar. Lincah bersama angin. Meliuk. Lemah gemulai. Seakan tarian bidadari yang merayu dari surga ‘Adn.

"Serang..!!" teriak Adhin memimpin pasukannya. Tampak ratusan prajurit berlarian menuruni bukit. Menyerbu kearah pasukan kaum muslimin yang masih diam. Tak bergerak. Belum satu pun dari mereka yang melangkah semili pun. Setelah kekalahan dalam Perang Uhud yang diakibatkan ketidak taatan terhadap pemimpin perang. Kaum muslimin belajar banyak. Tak akan bergerak sebelum komando dimulai.

"Jangan gentar wahai kamu muslimin! Di ujung-ujung pedang pasukan Persia! Ada surga yang mengalirkan sungai-sungai madu! Ada bidadar-bidadari bermata jeli! Mereka menunggumu wahai saudaraku! Sambut janji Tuhanmu! Penuhi hasrat cintamu! Allahu akbar...!!" teriak Dhirar dalam syair penuh semangatnya. Begitu takbir itu diucapkan ujung pedang Dhirar yang tadi teracung ke udara kini turun sembilan puluh derajat, menusuk ke depan.

"Allahu akbar...!" sambut pasukan itu, bergerak lincah bersama takbir komando sang pimpinan. Seketika jerit dan takbir pinangan surga terjadi. Malaikat Izrail dan bidadari surga sibuk hilir mudik, membawa guci-guci berisi air surga. Memandikan para syuhada. Bak macan gurun. Kaum muslimin menggilas pasukan Persia. Membuat pasukan Persia pontang-panting. Menyelamatkan diri ke balik bukit.

Dhirar menerjang ke depan. Pedangnya mengibar-ngibas. Menumbangkan pasukan Persia di dekatnya. Mulutnya tak henti memekikan takbir dan syair perjuangan kebebasan kota Masibdzan. Dan begitu melihat sang panglima Persia, Dhirar tak membuat waktu. Seketika itu juga, tombaknya melesat kencang. Tepat menikam sang panglima. Membuat tubuh itu terjatuh dari kudanya. Syair kemenangan menggema. Dari kota Masibdzan dihembuskan angin sampai ke telinga Umar Ibnul Khaththab di Mekkah.

Cempaka 59, 22-06-09. Terinspirasi dari buku Para Penakluk.

Yuk, Jadi ORANGTUA ASUH (OTA) Santri Penghafal Qur'an Askar Kauny! Donasi Rp 150.000,-/bulan. Dapat Majalah Ummi (free ongkir)

Transfer ke Bank Muamalat 335-000-9175 a.n. Yayasan Askar Kauny

Konfirmasi ke 0813 8054 4843 : OTA#Nama#AlamatLengkap#Telp#jumlahtransfer#TanggalTransfer#JamTransfer

Tags:
loading...