Tanah Merah di Kaibar

Fashion-Styles-for-Girls-Online

Penulis: Muhammad Furqon Az



Sang surya di wilayah bagian timur Indonesia begitu terik. Bayang-bayang manusia tercermin di bumi kering lagi berdebu. Berdiri seorang lelaki berambut gimbal dengan alis tebal tanpa beralas sandal di tanah Kaibar. Detupan jantungnya berdebar-debar. Hawa panas nafasnya ribut saling sambut menyambut. Parasnya kering lagi berdecak debu bergulir buliran-buliran keringat. Butiran keringat menggelinding melewati track hitam lenganya dengan jemari menggenggam erat bongkahan tanah mengeras. Sorot matanya tajam menghujam pintu dengan renda besi. Berdiri aparat-aparat penjaga bersenjata. Gerahamnya mengeras. Tampak jelas amarah yang terpancar dari bola mata lelaki berkulit legam itu.

Tes

Satu butiran keringat dari ujung punggung genggamannya jatuh. Bersamaan dengan genggaman lelaki kecil itu semakin erat, urat-urat tangannya yang bias terlihat karena kulit hitamnya menimbul. Jari-jemarinya semakin menali, meremukkan tanah keras yang bersembunyi ditelapak tangan dirinya. Menjadi serpihan tanah yang menjuntai tertiup angin. Sedikit demi sedikit tanah yang hancur itu mengalir dari selah-selah jemarinya oleh hembusan angin. Butiran keringat yang jatuh pun tidak tampak di dekat lelaki legam itu berpijak. 

“Aaagh!” suara berat Isak menghentak, teriring tangan kanan mengayun ke udara melemparkan butiran tanah yang tersisah. 

Tanah itu sempurna hilang termamam angin. Dadanya kembang kempis.

“Grasberg, keluar!!”

“Hei! Kamorang!”  suara lantang satu aparat penjaga menunjuk dengan ujung senjata ke arah lima orang warga yang berkerumun menyuarakan kekesalan dan kecewaan.

“PI!”  bentak aparat berseragam itu.

Dor-Dor! Dor!

“Isak! Tunggu!” suara Ramos dari atas pohon kelapa samar di telinga Isak. 

Ramos berlari kecil menghampiri Isak yang sedang mengamati dari semak.

“Sa tidak suka kam di sini!”  kata aparat dengan dagu sedikit mendongak, bibir atas terangkat sinis, ”Pi! Pi!” bentak aparat bertopi itu.

“Pi, Isak.” bisik Ramos menarik-narik lengan Isak.

Isak terdiam. Sorot matanya tajam tercermin wajah yang tak asing dalam hidupnya. Kedua tanganya mengepal erat, bergetar. Sementara, selangkah demi langkah aparat berseragam itu melangkah hingga tidak ada jarak antara kedua kubu. 

Brug! Brug!

“Bapak!”

Isak hendak bergegas menuju kerumunan, namun langkahnya tertahan Ramos yang menarik bajunya.

“Ramos! Bapak.” Isak tampak marah sambil menunjuk ke arah kerumunan.

“Tenang, Isak,” Ramos menarik lengan Isak,”tenang!” Ramos menekan kedua pundak Isak sampai Isak terjongkok.

Tangan Isak mengepal. Geram. Ingin segera menghambur ke arah kerumunan.

“Ramos! Ko tak punya rasa, hah?!”

Ramos sejenak terdiam. Pandangannya tertunduk dalam fikir.

“Isak, jangan biarkan kemarahan melenyapkan ko punya hati.” kata Ramos gemetar dengan pandangan takut, ”Ko tak lihat?” Ramos menunjuk ke arah aparat yang semakin banyak, ”Berapa banyak aparat yang mengepung kita punya keluarga? Ko mau begitu saja menyerahkan nyawa?!”

“Ramos! Tapi di sana ada...,” Isak tampak histeris.

Ramos menelan ludah ketika pandanganya menangkap ujung laras aparat itu menempel di salah satu warga. Ada hak bernama keadilan yang harus ditegakkan dari sebuah seruan. 

Dor!Dor!Dor!

Suara tembak itu terdengar lagi. 

Ramos menutup mata. Bergetar, ketakutan.

Isak mengedipkan mata, terkejut.

Aparat bertopi tertawa merdeka di atas keterkejutan warga. Berlenggang kangkung pergi kembali membentuk brigade, namun langkah salah satu aparat itu berhenti. Tangan kirinya masuk saku dan tangan kanan memanggul senjata. Derap langkahnya terhenti.

“Lebih baik kamorang pi. Berhubung sa punya hati baik. Sayang kam punya nyawa. Kembalilah kam ke anak istri kam. Nikmati saja yang ada. Tidak perlu berbuat macam-macam.” kata aparat itu dengan nada datar tanpa menoleh.

Tubuh Isak bergetar. Air matanya mengalir. Gerahamnya mengeras. Aliran amarahnya masih berkelindan menyesakkan dada. 

“Bapak!”

Dor! Dor! Dor!

Brugh!

“Psakor!”

***

Lima jam sebelumnya

“Bapak pi dulu.”

Isak berhenti menuangkan air ke drum. Menghapus keringat yang menyembul di kening dengan punggung tangannya. Memantul-mantulkan dagu tanda mengerti akan perintahnya Bapak. Tenggorokannya menurun sekali dan normal kembali. Mengantarkan Bapak dengan pandangannya sampai abang pintu yang jaraknya hanya dua langkah dari kedua kaki Isak berdiri. Dengan peralatan menambang yang menghiasi tubuh lelaki besar lagi kekar itu, Bapak pergi. 

“Ramos!” Isak menggaduhkan tubuh yang masih berbaring di tikar, ”Bangun! Matahari sudah mulai meninggi!” Isak terus mengkisruhkan kembarannya itu.

“Emh.” gumam Ramos menepis tangan Isak.

Plak!

Tangan Isak menyambar pipinya sendiri. Alis Ramos hendak bertaut dengan mulut manyun, tidak suka Isak mengganggu tidurnya. Isak tidak cetek akal untuk membangunkan sang jarawa tidur. Ditariknya satu helai tikar. Diikatkanlah masing-masing ujung ke dua ibu jari kaki Ramos. Isak menyeringai senang, selangkah lagi kegembiraanya semakin memuncak. Isak tersenyum licik meninggalkan Ramos, kedua telapaknya saling beradu.

Isak kembali dengan mempersenjatai dirinya. Berjalan mengendap-ngendap menuju target.

Prang! Prang! Prang! Prang! Prang!

Isak menari-nari dengan mengayunkan panci beradu-adu. Diselingi teriakan-teriakan hewan.

“Hah!” 

Ramos bangun terkejut. Wajahnya panik. Ingatan suram masa lalu kembali datang. Keributan benderang pertanda perang kan datang. Ramos segera berdiri dan….

Bugh!

Isak tertawa. Musik panci tidak lagi berisik.

Ramos terjatuh. Kedua lutut dan kedua telapak tangannya menyentuh landai tanah. Pandanganya mengolong ke sebuah tempat yang terikat.

“ISAK!” Ramos geram.

Isak terkejut ketika sorot mata Ramos tertuju padanya. Ada garis-garis karpet yang membekas di wajahnya membuat Ramos tampak lebih menyeramkan. Isak menyeringai dengan kaki melangkah mundur. Isak pun segera mengambil parang dan bergegas keluar rumah.

“Isak, tunggu!”

Ramos segera membuka temali yang mengikat kedua ibu jari kakinya. Berlari menyambar keranjang dan menyusul Isak. Satu tempelengan mendarat di kepala Isak. Isak terkekeh menerima hadiah kecil dari Ramos. Bersama bayangan mentari pagi, kedua lelaki itu kini menjajaki bumi pertiwi. Mencari pengganjal hidup sebagai pengrajut nafas usia. Meninggalkan jejak menuju ladang penghidupan. Pendidikan, kesejahteraan hanyalah dongeng impian yang menggiurkan ketika tamu bernama khayalan itu datang. Terlebih anak-anak tak beralas kaki yang akan menjadi tonggak lajunya negeri ini dibiarkan saja menikmati jamuan berupa permasalahan-permasalahan hidup yang mesti diselesaikan sendiri, tidak dipedulikan bahkan tidak ada uluran hati yang empati demi perubahan yang berarti. 

Entah bertamasya ria ke mana para manusia-manusia berdasi berkerah aneka warna yang senantiasa duduk di kursi dan sering bersemedi di televisi. Hanyalah semak belukar yang kini menyambut baik kedua bocah itu. Sampai semak itu menutupi keduanya dari pandanganya. Daun-daun itu seolah menyembunyikan kepahitan jejak hidup bocah yang belum baligh itu dari kekayaan negeri ini yang entah kapan hati-hati Qorun untuk peduli kepada makhluk yang bertebaran di lintang zamrud khatulistiwa ini.

“Lelah…,” Isak mengusap keningnya, matanya sayu dan langsung duduk dekat keranjang.

Batang yang kokoh. Daun yang menjumbai. Ramos memanjat pohon nan tinggi, menggantikan Isak yang kelelahan. Ramos terampil menyelipkan ujung kakinya, tangannya keras mencengkram. Sampai di kediaman pohon tertinggi. Ramos menarik parang yang terselip pada pinggangnya. Meraba-raba dalam terkaan, kelapa mana yang sudah ranum?

“Isak! Menyingkir!”

Brug!

Sepersekian detik Isak berhasil menghindar dari hujan lambang pramuka matang itu. Berpindah tempat dari berondongan serangan udara. Sesekali Isak menari, menepuk-nepuk pantat meledek Ramos atas seranganya yang tidak pernah tepat pada sasaran. Ramos mengacung-acungkan parang. Teriakannya hanya sengauan orang mengigau di telinga Isak. Ramos pun menancapkan parang pada dahan. Kedua tangan Ramos kini bersiap meluncurkan musiu, mengatur arah serangan agar tepat pada sasaran yang tidak bisa diam. Tiba-tiba Isak terdiam, kesempatan itu dimanfaatkan benar oleh Ramos.

Brugh!

Suara keras kelapa hampir saja menghantam kepala Isak yang melamun saat itu. Beruntung lamunannya menggerakkan kaki Isak menuju asal desingan suara.

“Isak…,” Ramos memperhatikan ke mana langkah Isak akan bermuara. Ramos berdiri melintangkan tangan di alis. Mengamati sebuah kisruh rusuh di kejahuan sana.

***

Teriakan-teriakan yang menyerupai aneka satwa tiba-tiba menyeruak dari semak. Busur pembuka diluncurkan dari kejahuan. Seperti serdadu semut yang mengerubung titik ordinat perseteruan. Letusan senjata. Hujan panah. Pekikan-pekikan pembelaan terus berkumandang. Koloni kecil yang terdiri dari lima orang itu bergabung dengan biduk yang lebih besar.

Lahan bebas yang biasa menjadi arena penambangan untuk mencari tambahan kebutuhan hidup warga lokal, secara sepihak diblokade dengan tembok-tembok besar lagi keras. Ditambah ulah aparat tak berhati yang menghalalkan darah tertumpahkan.

Pertikaian pun tidak bisa terbendung. Lesatan panah, tombak, timah panas tak bermata melesat cepat. Teriakan-teriakan kemarahan semakin melengking tajam. Terselip kemarahan dari sebuah teriakan. Harga mahal yang harus dibayar bila darah yang terjatuh ke tanah tidak dipertanggungjawabkan. 

Isak terus merangsek maju. Memburu orang yang dituju. Dalam benak Isak, darah manusia berseragam itu halal untuk ditumpahkan. Garis-garis pembelaan terus berkobar. Mengglegar dalam jiwanya yang sesak dengan air mata mengalir mensabdakan kecamuk batin atas sebuah kata: BELA!

Sebuah harga mati untuk memerdekaan diri di dalam negeri sendiri. Meskipun itu nyawa sebagai taruhan. 

“Isak! Mundur!”

***

Psakor, lelaki bertubuh kekar yang kini terkapar. Lelaki yang tadi pagi pamit pergi untuk mencari rezeki kepada seorang anak kecil yang hendak menuangkan air ke drum. Kini, nafas lelaki kekar itu mulai menipis. Matanya sudah tidak segar lagi terbuka. Padangannya tidak lagi jelas dengan orang-orang yang mengerumuninya. Gendang telingnya sudah tidak fasih menangkap pembicaraan orang-orang yang mengerumuni dirinya. Tatapannya hanya tertuju pada langit-langit rumah.

Dan semakin lama pandangan Psakor seperti lampu semprong yang kehabisan minyak dalam menerangi sekitar. 

***

“Isak, mundur!”

“Isak!”

DOR!

Isak seketika terdiam. Tubuhnya seperti melayang. Ada aliran air yang keluar dekat pelipis mata kanannya. Busur yang digenggamnya melemas. Timah panas memuncratkan darah segarnya.

Brugh!

“ISAK!”

Isak ambruk. Pundak kirinya membentur tanah. Perlahan tubuh itu terlentang. Darah mengalir membasahi tanah Kaibar. Awan di langit kini berkabung. Mentari tampak meredupkan sinarnya. Suara gemuruh langit mulai terdengar. Satu demi satu langit menumpahkan air dukanya. 

Berselang Psakor menghembuskan nafas terakhirnya. Isak bermandikan hujan, bercak tanah Kaibar dan darah turut menghembuskan nafas terkakhir. Hingga hari menjadi saksi bahwa keadilan bumi pertiwi belum tegak berdiri. 

Selesai.


*Cerpen ini diadaptasi (Isak Psakor) korban penembakan yang disinyalir dilakukan oleh aparat penjaga perbatasan. Dan kepedulian penulis terhadap hak-hak  anak-anak Papua selaku warga negara yang dijamin kesejahteraan dan pendidikan dan menjadi puzzel pemegang estafet jayanya negeri ini. 



17 Ramadhan

26-07-2013

00:04 

saat pagi menjelma. 

 

 

Yuk, Jadi ORANGTUA ASUH (OTA) Santri Penghafal Qur'an Askar Kauny! Donasi Rp 150.000,-/bulan. Dapat Majalah Ummi (free ongkir)

Transfer ke Bank Muamalat 335-000-9175 a.n. Yayasan Askar Kauny

Konfirmasi ke 0813 8054 4843 : OTA#Nama#AlamatLengkap#Telp#jumlahtransfer#TanggalTransfer#JamTransfer

Tags:
loading...