Tanda Kematian

Fashion-Styles-for-Girls-Online

Penulis: Humaidi Muzammil

 

Hujan seakan menumpahkan segala keluh kesahnya akan kemarau. Gemuruhnya laksana raungan Marfuah, tetangga desa sebelah yang dua hari yang lalu ditinggal mati sang suami, mengerang layaknya orang kesurupan. Bukan karena ia kerasukan arwah Jamal yang menurut cerita tidak jelas asal muasalnya; bukan pula masalah perbedaan usia yang terpaut jauh antara dirinya dan Jamal, sehingga secara akal-akalan matinya pun lebih cepat.

Untuk urusan yang satu ini Marfuah cukup tahu diri dan sadar sesadar-sadarnya, bahwa wajahnya yang kurang diminati-sebagaimana kebiasaan para wanita di kampung yang nikahnya dengan lelaki yang umurnya terpaut jauh darinya, karena salah satunya adalah faktor itu-harus Marfuah terima dengan lapang dada dan mesti ia pertanggung jawabkan dengan jalan  tidak pilah pilih pasangan hidup. Marfuah menangis karena ia merasa sangat kehilangan suaminya yang begitu mencintainya dan sanggup menerima kekurangannya lebih dari siapapun. Ia merasa telah kehilangan satu-satunya orang yang telah menjadikan dirinya layaknya permaisuri raja, di kerajaan dunia yang hanya milik mereka berdua.  Kepergian Jamal serasa bagai gemuruh petir yang disertai angin kencang, suasana hati Marfuah yang lara dengan hujan yang acapkali menyajikan pesan kematian.  

Ibu masih berbaring di atas kasur, suhu badannya masih belum  turun, masih seperti hari-hari  sebelumnya. Penyakit kencing manis yang diidapnya tiba-tiba kambuh sejak ia melayat Marfuah yang ditinggal mati suaminya itu, dan disusul kemudian kematian Bibi yang rumahnya tepat bersebelahan dengan rumahku. Dokter bilang kadar gulanya naik hingga beberapa persen dan dokter menganjurkan agar Ibu mengurangi makanan-makanan pedas dan berlemak kesukaannya.

Penyakit memang terkadang suka menyesuaikan keberadaannya dengan objek pesakitannya. Ia tidak hanya bisa menggantungkan eksistensinya pada kondisi cuaca yang tidak menentu saja, atau pada saat melihat keponakanku yang sedang bermain hujan-hujanan seperti saat ini. Ia terkadang menyerupai syahwat, ketika kebutuhannya akan gairah, tidak ada yang mampu mengikatnya kecuali pikirannya sendiri.

Kematian Bibi hanya beberapa hari setelah kedatangannya dari tanah suci. Usianya yang tidak begitu jauh dari ibuku meninggalkan duka mendalam bagi orang-orang sebayanya, terlebih ibuku yang seketika merasa kurang percaya diri, menjalani jamannya yang sepi ditinggal pergi teman-teman sepermainan semasa kecil, yang satu per satu seperti rontok layaknya daun berguguran seiring usia yang menggerogotinya.

Ya, maut pun seakan menyesuaikan keberadaannya dengan musim penghujan, ia datang bagaikan mendung, seringkali ketika kita harus mencari perlindungannya tanpa menyadari kita malah sudah direnggut olehnya.

Bibiku orang yang baik, hal itu bisa dinilai dari banyaknya orang yang datang untuk melayat kematiannya. Walau menurutku terkesan tragis, karena di antara orang yang melayat sebagian dari mereka banyak yang masih belum sempat bertamu untuk menyambut kedatangannya dari tanah suci sekaligus juga untuk meminta doanya, sebagaimana kepercayaan masyarakat bahwa orang yang baru datang dari tanah suci itu layaknya bayi yang baru dilahirkan kembali, bersih dari dosa-dosa tanggungan sehingga doanya pun dikabulkan. Prihatin dan mengundang iba, karena mereka harus menyatukannya menyambut kedatangan Bibi sekaligus juga melepas kepergiannya untuk selama-lamanya.

Kesakralan Kabah yang mampu melebur dosa-dosa tanggungan badan, mengulitinya berganti kulit baru sehingga doa-doa pun begitu mudahnya didengar, diterima kemudian dipertanggung jawabkannya dalam tingkah laku keseharian.

Hal yang menimpa bibi dengan kematiannya yang disepakati sebagai khusnul khotimah-sebagai hasil penilaian di mata manusia dari petualangan hidup yang berakhir dengan bagus, yang senantiasa terucap disetiap doa-doa yang kita mohon-dan sekaligus juga ia seakan mewasiatkan sesuatu. Setidaknya hal tersebut tergambar jelas dengan melihat kondisi ibuku dengan penyakitnya yang tiba-tiba kambuh.

Ibu memang tidak akan pernah mengungkapkannya secara langsung bahwa sesungguhnya ia sedang dilanda ketakutan akan datangnya kematian. Semua orang pasti akan setuju jika terjadinya musibah  itu adalah suatu pertanda bagi yang hidup. Begitupun ibuku yang merasakan pertanda itu seperti kentut yang tidak tahu kapan dan bagaimana ia dating. Tapi kehadirannya betul-betul terasa dekat dan mencekam.

Apalagi dengan kematian Bibi semakin menjadikan pertanda itu kian terasa dekat. Menghantui mimpi-mimpi dalam tidurnya, memecut kesadarannya yang lengah dan menggelisahi jiwanya yang membuat Ibu seringkali murung.

"Bibimu mewasiatkan kepadaku, bahwa tidak akan lama lagi akan tiba giliranku menyusul kepergiannya."     

Prasangka yang mudah dibaca yang acapkali menggerayangi pikirannya tentang kematian. Wajah murung Ibu dengan rona kekhawatiran yang serapat mungkin ia tutup-tutupi diusianya yang menjelang senja.

Sebenarnya wasiat itu bisa berbentuk apapun, bisa dengan ucapan atau tingkah laku keseharian. Tidak perlu ada hitam di atas putih untuk membuktikan kebenarannya, kita hanya perlu kepekaan batin sebagai perantara wasiat itu dapat kita baca dan bisa dipahami maksud dan tujuannya, dan ia pun dapat dimengerti ketika menjadi rangkaian cerita yang sudah berlalu, serupa ending dalam pementasan sebuah drama. Hasil akhir yang tentu tidak bisa dengan seenaknya saja kita tebak layaknya lakon drama itu sendiri, ia membutuhkan tangis Marfuah dan kondisi Ibu yang tiba-tiba sakit.

Menurut anak paling bungsu bibiku sekaligus saudara sepupuku, yang pemakaman Bibi ditangguhkan karena menunggu kedatangannya dari tanah rantau hingga sampai jam 00.23 malam, sembari berkaca-kaca ia bercerita; bahwa setelah kedatangannya dari tanah suci ada yang aneh dari Bibi, keanehan itu ketika para tamu meminta doa barokah  kedatangannya. Entah disengaja atau  tidak, Bibi mengubah setiap kalimat yang harusnya dibaca Na (dalam bahasa Arab yang berarti "Kami") malah dibaca Ni (dalam bahasa Arab yang berarti "Saya"). Salah peletakan kata sandang yang dalam bahasa Arab dikenal dengan istilah dlomir itu sebenarnya akan segera ditegur, karena makna dari doa tersebut akan mengubah maksud yang lebih condong untuk pribadi bukan untuk orang banyak sebagaimana yang diharapkan. Namun hingga setelah kematiannya, teguran itu tidak sempat diutarakan, dan menurut sepupuku keanehan itu adalah sebagai bagian dari tanda-tanda kepergiannya itu.

Masih menurut cerita sepupuku itu, berdasarkan kitab yang ia baca, sebenarnya empat puluh hari sebelum seseorang itu meninggal, orang tersebut sudah berupa mayat hidup dengan mata batin yang sanggup melihat hal-hal yang tidak bisa dilihat orang kebanyakan. Selama empat puluh hari tersebut keanehan kerap kali muncul, semisal melakukan hal-hal yang tidak biasa dilakukan seperti apa yang telah Bibi lakukan, dan biasanya keanehan tersebut akan kita sadari setelah orang tersebut meninggal.

Kematian Jamal pun meninggalkan cerita aneh. Menurut Marfuah sebelum kepergiannya itu Jamal acapkali berperilaku tidak seperti biasanya, semisal ia begitu perhatian kepada dirinya dan kedua anaknya. Seminggu sebelum kematiannya Jamal sempat membelikan dirinya dan kedua anaknya itu baju baru, bahkan Jamal mengajaknya langsung ke toko dan menyuruhnya memilih sesuai keinginan dengan harga berapapun. Marfuah sempat protes ketika itu, karena menurutnya lebih baik uangnya ditabung atau digunakan untuk kebutuhan-kebutuhan yang lebih bermanfaat, untuk urusan baju baru ia dan kedua anaknya sudah terbiasa membelinya setahun sekali ketika menjelang hari raya tiba. Namun Jamal memaksa dan menenangkan kekhawatirannya, sehingga mau tidak mau Marfuah pun harus menuruti keinginan suami tercintanya itu.     

***

Ibu yang harus menanggung keempat anaknya yang masih sekolah, seperti memanggul beban berat di usianya yang memasuki renta. Kematian Bapak sabagai pemimpin keluarga secara otomatis akan dialihkan kepadanya, beban yang harus ia pikul walau tidak sepenuhnya ia menanggungnya seorang diri.

"Bai, coba kau carikan utangan dulu untuk membayar iuran adik-adikmu itu..."

Kata-kata itu kerap kali keluar dari kedua bibirnya yang mudah pasrah, untuk melakukan tindakan yang lebih jauh lagi melampaui kodrat kewanitaannya. Beban psikologis sekaligus beban tanggungan yang harus ia emban membuatnya menjadi wanita seutuhnya.

Sebenarnya tidak hanya kematian Marfuah dan kematian bibiku sebagai efek dari kekhawatiran  Ibu. Selama setahun ini berita duka di desaku seperti suara Yanti teman kampusku yang kuliah sembari bekerja sebagai asisten sorang bidan. Tugasnya yang memanggil para pasien yang sedang antri untuk berobat, seperti suara panggilan ajal di desaku yang seakan silih berganti memanggil secara bergiliran para pemilik ruh untuk membawanya berkalang tanah.

Di setiap beberapa bulan, berita duka itu acapkali terdengar membuat anak-anak kecil menangis ketakutan. Bahkan tidak sampai satu bulan pun berita itu terdengar hingga menjadikan anak-anak kecil itu kini malah tidak lagi ketakutan. Sasarannya pun hampir bisa dipastikan, para petualang tua yang sudah lelah dan penat mengarungi dunia, dan hanya sebagian dari para pemula yang patut bersyukur karena tidak harus berlelah-lelah dan berpenat-penat ria mengarungi dunia. Seperti keponakanku misalnya yang tidak perlu lelah mengarungi dunia, karena sejak lahir ia sudah sakit-sakitan dan  beragam usaha telah dilakukan, mulai dari yang berbau  takhayul sampai yang riil, hingga usaha puncak ketika ia harus dibawa ke Surabaya karena rumah sakit setempat sudah tidak sanggup lagi mengobatinya.

Wajar saja jika hantu kematian bagi Ibu kini seperti bau tanah pekuburan bibiku yang baru kemarin dikebumikan, semerbaknya yang khas seharum tanah gersang sehabis dibasahi hujan. Keberadaannya yang gaib seakan-akan menggerayangi pikiran Ibu, merantainya dalam kisaran waktu yang di luar kendalinya, terperangkap dalam ruang serupa dalam sel tahanan yang memenjarakan jiwanya yang berbadan manusia.

Karena Ibu sudah tidak lagi muda. Raut mulus dan kencang sisa kecantikan di wajahnya yang membuat Bapak termehek-mehek perlahan mengkerut berganti keriput, hanya kulit putih sebagai bawaan gen yang masih menjadikannya tetap bersinar layaknya mentari di pagi hari sehabis semalaman bergelut dengan petang. Gigi-giginya pun tidak lagi berderet rapi, ompong di sana sini dengan senyum jarang yang seringkali dipaksakan. Rambutnya yang menjuntai panjang, perlahan digerogoti rontok dan tak terurus acak-acakan, dan uban telah mengganti pewarna rambutnya yang hitam.

Rambut memutih yang mempunyai cerita, dan cerita yang masih berdasarkan kitab yang sama dengan kitab yang dibaca sepupuku  itu. Cerita tentang Izrail yang melakukan perjanjian dengan seseorang dan sebut saja si fulan yang berjanji untuk memberitahu kapan datangnya kematian itu. Si fulan meminta agar sebelum ia mati ia diberitahu terlebih dulu agar ia bisa mempersiapkan diri sebelum kematian menjemputnya.

Setelah hari berlalu dengan terburu-buru menjadi seminggu seakan-akan dikejar sesuatu, dan bulan pun berlari cepat mengikuti langkah hari  menjadi tahun, dan tahun pun saling berkejaran tanpa terasa. Namun Izrail tidak pernah lagi mendatanginya, hingga ia tua dengan uban di kepalanya yang mulai banyak tumbuh. Suaranya tidak lagi terdengar nyaring seperti di waktu ia muda dulu. Tulang-tulangnya yang kuat mulai rapuh, otot-ototnya yang kekar sudah tidak lagi mampu menanggung beban berat semisal cangkul yang sewaktu muda dulu ia dengan mudahnya membawanya dengan hanya memakai tangan kiri.  Hingga ia pun merasa ajalnya sudah dekat, dan tanda-tanda kedatangan Izrail yang ia tunggu-tunggu untuk memberitahu kapan kematiannya tiba masih juga belum ada tanda.

Ketika ketidak-berdayaannya telah mencapai puncak, tiba-tiba Izrail mendatanginya. Tapi kedatangannya kini tidak sesuai harapan si fulan, Izrail datang untuk mencabut nyawanya. Ia pun protes dan menyalahkan Izrail karena tidak memenuhi janjinya itu, dan baginya hukum alam pun berlaku sebagaimana ketentuannya, penyesalannya yang terlambat tidak akan berarti apa-apa.

 Setelah ia menyampaikan protesnya yang dibumbui amarah sembari menyumpahi Izrail yang menurutnya tidak bisa dipercaya, Izrail pun secara panjang lebar menjelaskan bahwa tanda-tanda itu sebenarnya sudah sejak dulu telah ia kabarkan kepadanya. Salah satu tanda itu adalah  rambutnya yang memutih, suaranya yang tidak lagi lantang, kulit yang berganti keriput, dan lain-lain yang berkaitan dengan keberadaan anggota badan  si fulan yang begitu ia agung-agungkan. Selang setelah itu Izrail pun mencabut nyawa si fulan dengan membawa penyesalannya karena ia tidak sempat membaca tanda-tanda yang telah dikirimkan Izrail itu.

Izrail akan terus mengisyaratkan tanda-tanda itu agar kejadian yang sama tidak terulang kembali seperti yang telah menimpa si fulan. Keinginan Izrail yang terbukti ampuh dengan melihat kondisi ibuku saat ini, keinginan yang seketika direspon dengan antusiasme tinggi yang membebani pikiran Ibu.

Pesan kematian itu layaknya bom waktu yang setiap saat meminta tumbal. Tidak ada seremonial, tidak ada ritual-ritual perpisahan untuk menyambut kedatangan Izrail sekaligus juga sebagai upaya merayunya untuk sedikit berbelas kasihan mencabut nyawa kita dengan cara damai.

"Kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi besok..??"

"Tidak banyak amal baik yang bisa aku bawa untuk menghadap-Nya..?? Hidup ini  berat"

"Siapa yang akan membiayai adik-adikmu itu jika aku meninggal..?? Mereka masih belum bisa mandiri dan masih butuh banyak bimbingan."

Pertanyaan-pertanyaan yang tidak pernah sekali pun ia ungkapkan, namun dapat kubaca dengan jelas dari raut wajahnya yang  seringkali ia paksakan agar tetap secerah senyum mentari di pagi hari. Pertanyaan yang tidak membutuhkan jawaban, karena  jawaban yang diinginkannya masih berupa mendung yang menggantung, entah apakah akan turun hujan atau tidak. Sedangkan Ibu masih berbaring di atas kasur, dengan suhu badannya yang masih belum juga turun.

                                  Madura, 21 Februari 2010

Yuk, Jadi ORANGTUA ASUH (OTA) Santri Penghafal Qur'an Askar Kauny! Donasi Rp 150.000,-/bulan. Dapat Majalah Ummi (free ongkir)

Transfer ke Bank Muamalat 335-000-9175 a.n. Yayasan Askar Kauny

Konfirmasi ke 0813 8054 4843 : OTA#Nama#AlamatLengkap#Telp#jumlahtransfer#TanggalTransfer#JamTransfer

Tags:
loading...