Tanjak

Fashion-Styles-for-Girls-Online

Penulis: Sadry SS

Taman budaya, tengah  februari 2002

Akhirnya. Berderailah tubuhku juga rekan-rekanku, tergeletak tak berdaya dengan sentuhan cahaya pelita dari celah-celah hamparan dinding kayu tengah malam itu. Ruang gulita terkatup dari sesaknya lalu-lalang manusia di negeri pusaka tak berbudaya. Dalam hembusan nafas, tiba-tiba listrik berseteru dan membuat tanda, hingga api bertingkah untuk mencairkan seluruh isi Taman Budaya negeri ini. Musnahlah sumpah serapah. Aku menyudahkan diri untuk bermastautin di bumi bertuah, pergi.

***

Tuah membuatku semakin bermarwah. Anak negeri menyaksikanku di tengah sibuknya arus dunia kini. Sesekali mereka menjengukku walau hanya beralasan karena tugas sekolah yang harus dikerjakan. Tapi, itu sudah sebuah penghargaan yang berharga dari mereka.

Tanjak, Biasa orang Melayu menyebutku. Sebuah benda berlapis kain emas yang pernah dipakai Laksamana Hang Tuah. Sungguh aku makhluk bertuah. Diistimewakan untuk berpangku tangan pada sebuah Taman Budaya yang ditata rapi di negeri melayuku ini. Museum yang biasa aku menyaksikan tatapan mata-mata manusia yang dahaga akan budaya. Walau hanya sebuah tolehan, tapi itulah yang bisa menemaniku di siang menjelang. Tak seperti malam, aku dibalut dengan warna kesunyian. Hanya terdengar suara berzanji dari lembar-lembar kitab tua yang berada di sudut ruang hampa ini. Jelas memadukan nuansa misteri dari celah-celah dermaga budaya tua yang sedikit penumpangnya.

“Tak muakkah engkau bermenung diri di sini sahabatku? Ayolah kita menempuh alam luar sana, mana tahu ada teman baru,” tegur si keris usang yang bersandar di peti kacaku. Dia mengajakku untuk bercengkerama di luar museum ini. Mungkin untuk meninjau tingkah anak negeri kekinian. Sapaan akrab Keris milik Hang Jebat ini membuat kantukku malam itu pudar. Sebuah tantangan yang berat namun menimbulkan misteri yang mulai gelisah dari ujung hatiku. Aku hendak sangat menjenguk bangsa-bangsaku di luar sana. Keluarga serta anak cucuku mungkin sedang sibuk bertengger di kepala mempelai lelaki yang sedang bersanding dengan permaisurinya. Mereka semua hinggap di berbagai macam kepala manusia. Tapi aku, hanya sekali pernah hinggap di kepala anak negeri, Hang Tuah. Itu pun aku sempat diterpa oleh darah kolonial yang bertarung dengan majikanku. Sungguh, sangat mustahil jika kami bisa berkeliaran di alam luar sana.

Hingga senja kali ini, gerimis deras menyapu serata beranda bangunan. Aku dihinggapi hawa sejuk sejak gemuruh alam memecahkan keheningan. Ruas-ruas motif kainku mulai lembab akan aroma dinginnya malam. Beberapa petugas sempat kulihat sibuk dengan kewajibannya sejak pagi tadi.

“Jak, tak panaskah kau di dalam peti kaca tu?” bisik si Marwas Tua mengusik keheningan malam.

Bertuturlah aku, “Tak usah engkau tanya macam tu. Penghulu negeri ini tak mau aku disentuh para pengunjung. Makanya aku dibelenggu macam ni. Jadi, aku ikut kata dia sajalah. Walau panas tubuhku ini bisa mengusir malaikat maut sekalipun, aku akan tetap macam ni. Barang pusaka untuk dikenang saja.”

Malam ini aku bersama rekan-rekanku larut dalam cengkerama dengan diiringi alunan nada rintik-rintik gerimis yang terdengar sayup di atap gedung tua ini. Banyak hal-hal baru yang dapat kukecapi malam ini di saat si Keris bercerita panjang tentang nostalgia masa lalunya.

Dalam kesendirian, aku mulai mereka-reka alur pikiranku agar tak ada lagi keluh kesah yang bersemadi di ujung benakku. Dunia museum ini sungguh membuatku gerah, keramat. Makanya aku menghiburkan diri melawan gejolak jiwa yang ada. Aku tinjau rekan-rekanku yang lain, mereka sudah terlelap padu.

Terlihat bergantungan di dinding tepi ruang museum ini lukisan wajah-wajah para tokoh sastrawan, budayawan, cendekiawan negeri ini juga sudah mulai mengatup mata. Beberapa dari mereka seperti wajah Idrus Tintin, Ibrahim Sattah, Raja Ali Haji, telah larut dalam aroma mimpi mereka masing-masing. Cuma lukisan Soeman Hs yang bingkainya terbuat dari kayu jati jingga sibuk dengan rangkaian tulisan yang ia buat.

“Engkau tulis apa?” tanyaku singkat.

“Hikayat pendek sebait keluh kesah budaya kita” jawabnya polos.

Terlintas di celah benakku bahwa rekanku yang satu ini dulu hobinya menulis tentang karya-karya pengarang pada masa poedjangga baroe. Ia bergelut di gelanggang sastra dahulunya dapat dilihat dari upayanya menulis serangkaian roman yang bernuansa detektif. Tapi sejak kini tidak lagi. Ia hanya menulis cerita asmara atau percintaan saja. Sesekali juga ia mengkritik tentang kehidupan manusia sekarang dalam cerita fiksinya. Aku suka mengikuti haluan cerita yang ia tata sedemikian rupa.

***

Dengar-dengar kabar dari ujung angin, salah satu benda pusaka yang ada di museum ini akan diabadikan di museum Internasional. Entah di mana tempat itu aku pun tak tahu. Dikarenakan negeriku memiliki sejarah budaya yang dikenal seluruh persada dunia, maka harus ada salah satu benda keramat berbudaya yang menjadi perwakilan negeriku di museum Internasional sana. Yang kuharap, jangan sampai aku benda yang mereka maksud. Aku tak sudi.

“Hei, engkau tak risaukah? Esok Datuk Kebudayaan negeri ini akan memilih salah satu dari kita untuk menjadi duta barang pusaka di museum sana. Tak bimbangkah engkau?” sungutku pagi itu saat melihat si Keris dan temannya gelak terbahak-bahak tanpa tanda kerisauan sedikit pun.

Dengan koor mereka menjawab, “Pasti engkau yang kena pilih tu.”

“Kami tak ada nilai sama sekali. Jadi, engkau risau sendiri sajalah, kami tengah sedap berbual ni. Jadi, banyak-banyaklah berdoa. Ha…Ha…Ha…” sambung si keris yang dari tadi suara tawanya kuat terdengar.

Aku bungkam seribu gaya. Dengan jeli kulihat tatapan mahasiswa yang sibuk dengan buku catatan kecilnya. Manusia hidupnya bebas. Daripada aku, terkekang dalam jerat berhawa keramat. Ditambah lagi dengan tingkah anak negeri yang tak peduli akan budaya mereka. Dari ribuan manusia, mungkin hanya sepuluh yang tergerak hatinya untuk menjenguk benda pusaka budaya mereka sendiri. Serasa tak berguna aku ada di dunia ini tanpa penghargaan mereka terhadapku. Mereka lebih sibuk dengan aroma modernisasi yang tak tentu dalilnya. Mereka lebih memuja idola-idola mereka yang berasal dari belahan barat sana. mereka lebih suka berkunjung ke diskotik-diskotik dari pada berkunjung ke museum antik. Budaya datuk mereka diterlantarkan begitu saja. Termasuk aku korban darinya.

Lebih geramnya lagi, aku yang kecil ini mungkin akan segera dihadapkan pula ke negeri barat yang aku tak tahu budaya apa yang ada di sana. Tak ada lagi motif-motif songket yang biasa aku lihat di dinding museum negeri Melayu, mungkin. Tak ada lagi ukiran pucuk rebung di ujung atap bangunan. Pastinya, tak ada lagi warna Melayu yang bisa kulihat di sana.

***

Ucapan rekanku dulu, benar. Kini aku sudah melayang menuju negeri seribu tanda tanya. Entah apa peradaban di sana, aku tak tahu. Tapi aku sadar, bahwa aku hanya makhluk tak berdaya, memikul diri sendiri saja tak sangup. Aku tak tahu hendak berbuat apa. Tibalah aku di sebuah negeri yang kunanti-nantikan jawaban sebenarnya.

Aku khilaf. Dugaanku selama ini salah. Semua berbeda dengan yang ada di benakku. Negeri ini sangat menghargai peradaban negeri mereka, juga peradaban negeri lain. Walaupun budaya mereka hanya sepintas kata saja, tapi mereka menjunjung tinggi hasil jerih payah budaya mereka itu. Aku saja benda pusaka yang bukan dari negeri mereka, sanggup mereka rawat aku dengan kebersamaan. Lalu-lalang manusia yang tergiur akan aroma budaya di museum terbesar ini membuat jiwaku pulih akan kesepian. Tak ada lagi carut-marut yang terdengar di celah dadaku.

Setelah mengikuti alur waktu selama di negeri orang ini, pelan-pelan aku terkenang pula negeriku. Negeri tempat aku dilahirkan. Sebuah pulau kecil dengan ribuaan budaya yang ada. Tapi, ada bayangan benci dalam diriku terhadap negeriku itu. Aku rasa aku lebih nyaman bersemadi di sini, dari pada berbaur bersama manusia yang tak menghargai budaya di sana.

Tawa si Keris, alunan suara parau si Radio Tua, suara goresan tinta si Soeman Hs yang biasanya tiap malam kunikamati, kini semua tiada. Yang kurasakan hanya bau lidi-lidi orang Budha yang bermain-main di seluruh ruangan. Benda-benda lain di dalam museum ini tak pernah menyapaku sekalipun. Sudah beberapa kali aku mencoba menegur mereka, tapi mereka tak ada tanggapan sama sekali. Mungkinkah mereka tak mengerti bahasaku atau memang sifatnya tak mau bergaul? Entahlah. Hanya diksi itu yang selalu menyudahi pertanyaan di benakku.

Aku rindu rekan lamaku. Mungkin mereka sedang asyik berbual dan mendengarkan cerita-cerita jenaka dari mulut si Keris. Atau mereka sibuk melayani anak-anak sekolah yang diberi tugas oleh gurunya untuk mempelajari budaya asli negeri Melayu. Semua itu memecahkan keheningan malamku. Berkali-kali hal itu melintas di kepalaku sebelum aku melelapkan mata. Padahal aku sudah nyaman berada di sini untuk menuai ketenangan hidup. Tapi, negeri itu seakan memanggilku untuk kembali pulang supaya berlutut lagi di negeri kelahiranku, kampung halaman. Mungkin banyak mahasiswa yang tertanya-tanya, ke manakah perginya si Tanjak? Hatiku mulai meneteskan butir-butir kegundahan.

Aku tak memiliki tradisi bertengkar, radikal, apalagi sampai melakukan perlawanan. Tetapi, wajah demi wajah benda-benda yang tertata dalam museum dunia ini serasa tak bersahabat. Aku mulai gerah dengan tingkah mereka. Tak kuasa menahan kesendirian ini, pikiranku mulai terbawa arus. Antara aku menetap di sini bersama manusia yang menghargai aku tapi hidup di tengah wajah-wajah pelik benda keramat sekelilingku atau aku kembali ke pangkuan negeriku dulu dengan melihat kembali tabiat manusia negeriku itu tapi rekan-rekan sejawat menyambut kehadiranku dengan tatapan menanti, rindu. Pikiran ini sudah mulai kacau, tak tentu haluan yang hendak dikenang.

Pagi itu tiba-tiba aku melihat manusia yang aku kenal. Dia adalah Datuk Kebudayaan yang dulunya pernah mengantarku ke negeri seribu gedung ini. Dengan memasang wajah kasihan, aku berusaha untuk menyentuh hati beliau agar bisa mengembalikanku ke negeri semula. Tatapannya membuatku gelisah. Kaca mata hitamnya menyilaukan penglihatanku. Galau.

Menjelang petang, aku tertidur pulas. Mungkin karena penat memikul masalah diri ini. Saatku tidur, ada getaran yang membuat mimpiku terusik. Pelan-pelan kucoba membangunkan diri. Tak terduga, aku telah berada di beranda tempat yang selama ini kunanti-nantikan. Seakan tak percaya, waktu berlari mengejar harapan. Rekan-rekanku dengan hangat menyambut kehadiran ini. Datuk tersenyum padaku seakan ia tahu apa isi hatiku sebenarnya. Sebuah dugaan yang tak terduga. Aku kembali ke negeriku.

“Sedap di negeri orang? Ceritalah bagaimana embun pagi menetes di sana hinggalah kantuk melelepkan manusia.” Kejut si Radio Tua membuka pembicaraan.

“Tak perlulah kalian tahu tentang itu. Lebih baik kita di sini kembali bersua untuk menjalin cerita-cerita baru lagi. Cerita di sana tak sedahsyat cerita di kampung sendiri” ungkapku malam itu.

“Hmm…” mereka bungkam.

Tetapi kalau sekiranya diperkenankan aku kembali bisa mengulang waktu, maka jalan terbaikku adalah tidak memijakkan diri di negeri si Tuah ini. Tak berdaya aku memikul beban keluh kesah yang bernaung di tengah hati. Laksana keterasingan. Aku terduduk sendiri menatap mereka yang tak sayang akan tradisi. Manusia yang lupa akan jasa-jasa budaya mereka. Makhluk tak memiliki hati perut, tak memikirkan kami di sini menanti kepulangan suasana berbudaya sesungguhnya.

Gerimis masih berjatuhan tengah malam itu. Menciptakan riak kecil serupa jarum jam pada air yang tergenang di beranda depan museum. Kegalauan menghantuiku dengan segala bujuk rayunya. Memaksa aku untuk membenci negeri. Tapi juga menggoda aku agar kembali ke negeri belahan bumi barat sana. Diriku menanggungkan kecemasan yang tak mudah diuraikan. Terasa berat, pekat, misterius, tapi serius. Beberapa kali kucoba menjinakkan diri, tapi nihil. Bathinku mengalami perang yang dahsyat antara aku dan peredaran pikiranku. Semua terlukis dalam ceruk-beruk problema yang disuguhkan malam ini.

Esok telah menyambut kehadiranku di negeri sendiri. Deru angin pagi mengajakku menjelajahi semesta negeri. Tak seperti biasanya, rekan-rekanku pagi itu masih larut dalam tidurnya. Aku yang sejak subuh sudah mencelikkan mata terpaksa duduk dalam kesendirian. Hingga tengah hari tepat, hanya dua orang guru dan disusuli seorang dosen yang sempat melangkahkan kaki ke museum ini. Itu pun karena ada penelitian tentang benda sejarah. Padahal harapan aku untuk kembali berpijak di negeri ini ialah supaya dapat menyaksikan ribuan anak negeri yang haus akan budaya mereka sendiri.

Pada hamparan kaca. Semua irisan duka kutumpahkan di sekujur tubuhnya. Tak tertahan melawan nestapa ini, aku benci akan anak negeri. Tak mengenang jasa. Tabiat tak senonoh mereka itu membuatku muak.

“Sudahlah, Jak. Tak usah engkau hiraukan. Biar sajalah mereka begitu. Nanti mereka akan menerima padahnya sendiri. Sudahlah.” Celah si Keris di tengah-tengah keheninganku senja itu.

Radio tua menjelingkan mata ke arah si Keris, seakan memberi isyarat.

“Ris, biar sajalah Tanjak tu menumpahkan gejolak bathinnya yang tercabik-cabik tu. Nanti dia pulih sendiri,” tukas si Radio tua.

Aku tak memperdulikan bisik-bisik mereka. Beberapa tungkah air mataku hanyut dalam lamunan hingga mengantarkanku ke tengah malam.

Dihadapkannya aku seumpama tersangka, semua rekanku mengarahkan tolehannya ke butir-butir air mataku, tegang. Ada sentuhan arus yang dapat kunikmati. Mereka memberiku sebuah spirit yang melejitkan semua titah hatiku yang tengah kacau.

“Perlu engkau ingat. Kami semua pun merasa tak dihargai oleh bangsa manusia kini. Mereka enggan bertemu ramah dengan kita. Mereka lupa akan budaya. Tapi kawan, aku tak mau memikirkan hal itu lagi. Kita adalah kita. Dua alam yang berbeda memisahkan kita dengan mereka. Untuk apa kau pasang muka kusam. Mereka tak mengerti sedikit pun bahasa jiwa kita ni. Keluh kesah engkau tak ada harga untuk mereka. Tangis engkau pun tak menuaikan iba di jiwa mereka. Kita beda bangsa. Beda dunia. Beda dan berbeda.” Sungut Sebuah kitab milik Syeh Badawi Al-Malayuwi yang terbaring di ujung ruang museum. Kitab Arab Melayu yang berumur seribu dua tahun ini baru kali itu tiba-tiba mau berbicara bersama kami. Biasanya dia hanya menguburkan diri di tengah sepi. Hingga, semua penghuni taman budaya itu terpana menyimak kata demi kata yang mengalir darinya.

Aku bertambah tak tentu haluan. Entah ke mana hendak kulabuhkan diri. Arus semakin membuatku terusik. Mereka memaksaku untuk mengerti akan kepasrahan juga arti keputusasaan. Mungkin sangat wajar kalau aku berputus asa. Aku tak memiliki kuasa untuk melawan itu semua. Budaya ini terpaksa di biarkan hanyut bersama zaman. Tak ada lagi sumbangsih dariku untuk negeri adat pusaka ini. Biarlah anak negeri berlayar sesuai selera mereka. Tengah malam itu juga kami mulai membaca tanda.


Tasikimajinasi, Mei 2010

Keterangan:

Tanjak: Sebuah pengikat kepala terbuat dari kain yang berbetuk topi dengan ujungnya yang runcing, biasa digunakan pengantin pria dalam acara pernikahan adat Melayu.

Marwas: Alat musik seperti genderang.

Yuk, Jadi ORANGTUA ASUH (OTA) Santri Penghafal Qur'an Askar Kauny! Donasi Rp 150.000,-/bulan. Dapat Majalah Ummi (free ongkir)

Transfer ke Bank Muamalat 335-000-9175 a.n. Yayasan Askar Kauny

Konfirmasi ke 0813 8054 4843 : OTA#Nama#AlamatLengkap#Telp#jumlahtransfer#TanggalTransfer#JamTransfer

Tags:
loading...