Tetap Suci pada si Keji

Fashion-Styles-for-Girls-Online

Sobat Nida, tulisan Ustadz Salim A. Fillah berikut ini, semoga bisa memberi kedamaian dan pencerahan pada kita, bagaimana meneladani Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wassalam.

 

Pernahkah kita merasakan simalakama ini; orang yang sangat kita sayangi berdiri di hadapan kita untuk melindungi musuh yang paling kita benci? Ah, betapa peliknya, betapa menyesakkan dada. Mungkin langka. Tapi Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, lelaki penuh cinta itu, pernah mengalaminya.

Hari itu adalah Fathu Makkah. Di luar pengampunan umum yang beliau saw berikan dalam pidatonya yang begitu lembut namun gagah di depan Ka’bah, tetap ada daftar nama para perusak keji yang harus dibasmi. Dan dalam daftar itu ada nama ‘Abdullah ibn Sa’d ibn Abi Sarh.

Lelaki ini mulanya berdiri di barisan terdepan memerangi risalah dan menyakiti Rasulullah. Sampai suatu saat, dia datang ke Madinah untuk masuk Islam. Bahkan dia sempat beberapa waktu menuliskan wahyu yang turun kepada Nabi saw.

Tetapi dia lalu murtad, kembali ke Makkah, dan mengobarkan kembali persengitannya. Tak hanya sampai di situ, dia juga menerangkan dengan gamblang rahasia pertahanan Kota Madinah sembari menghasut perang yang tercatat paling menyengsarakan penduduk Madinah, yakni Perang Ahzab.

Kala itu, selama berbulan, sepuluh ribu pasukan gabungan Quraisy, Ghathafan, dan suku-suku pagan ditambah khianat orang-orang Bani Quraizhah mengepung kaum Muslimin yang bertahan di balik khandaq. Maka ‘Abdullah ibn Sa’d ibn Abi Sarh masuk daftar teratas yang harus dieksekusi. Telah diperintahkan agar dia dibunuh meski bernaung di bawah sitar kelambu Ka’bah.

Tetapi qadarullah bahwa ‘Abdullah adalah saudara sesusuan ‘Utsman ibn ’Affan. Maka ketika barisan kaum Mukminin memasuki Makkah, dia bersembunyi di celah-celah tembok. Kala melihat ‘Utsman, ‘Abdullah punmenyelinap cepat dan berhasil digenggamnya tangan Sang Dzun Nurain. Dengan bersumpah atas nama kekerabatan di antara mereka, dimohonnya sungguh agar ‘Utsman memintakan perlindungan dan ampunan baginya pada Rasulullah saw.

Maka ‘Utsman yang lembut penuh kasih itu pun menyembunyikannya. Ketika hiruk-pikuk takluknya Makkah sudah berkurang dan keadaan mulai tenang, ‘Utsman menggandeng tangan ‘Abdullah ibn Sa’d ibn Abi Sarh dan membawanya ke hadapan Rasulullah.

Dari sejak ‘Utsman berbicara hingga jeda waktu yang sangat lama, Rasulullah diam saja. Ekspresi wajah beliau datar, sama sekali tak berubah. Lama sekali. Inilah ‘Utsman di hadapannya. Manusia yang malaikat pun malu kepadanya. Pemuda lembut hati yang dua kali Rasulullah nikahkan dengan dua putrinya. Seorang yang gigih menyerahkan harta dan jiwanya untuk membela Islam. Seorang terkasih yang untuknyalah Rasulullah mengulurkan lengannya yang suci dalam Bai’atur Ridhwan demi mendengar orang-orang Quraisy membunuhnya.

Dan kini dia berdiri di hadapan sang Rasulullah. ‘Utsman datang memintakan ampun bagi lelaki keji, murtad, dan pengkhianat yang memusuhi Allah.

Iman ‘Utsman, ketulusannya membela agama Allah, dan cintanya kepada sang Nabi tak mungkin dipertanyakan. Tapi ikatan persusuan itu juga membekas dalam di hatinya. Pasti bukan hanya sang Nabi yang hatinya bergolak, dada ‘Utsman pun tentu bergemuruh. Pantaskah tindakannya? Apakah pengorbanannya untuk Islam selama ini membuatnya dibenarkan meminta sesuatu yang akan melukai hati dan harga diri Rasulullah? Tapi dia telah sampai di sini. Dia telah berjanji. Dan menyerahkan ‘Abdullah untuk dipenggal di tempat ini tentulah menjadikannya pengkhianat sejati dalam sisi yang lain.

Lama sekali sang Nabi berdiam diri. Hingga hening menyelimuti majelis itu sekian waktu lagi. ‘Utsman dengan wajah yang penuh harap masih menanti. Tapi senyap makin menghinggap. Bahkan seandainya ada rambut jatuh pun niscaya akan terdengar bunyinya. Karena sunyi telah begitu lama, para sahabat menyangka dalam hati bahwa Nabi saw telah memaafkan sang terhukum. Tapi mereka juga diam. Tak kuasa berkata, tak berani bertanya. Senyampang Rasulullah memerhatikan para sahabat yang juga ikut terdiam terbawa sepi, maka akhirnya beliau bersabda lirih, “Ya….”

Wajah ‘Utsman pun berseri sejenak sebelum kemudian datar lagi. Segera digandengnya saudara sesusuannya itu pergi menjauh. Begitu ‘Utsman berlalu, Rasulullah bersabda, “Andainya setadi ada di antara kalian yang maju dan memenggalnya. Sesungguhnya aku telah berdiam lama agar ada di antara kalian yang maju dan memukul tengkuknya...!”

“Aduhai... Mengapa engkau tidak memberi isyarat kepada kamiya Rasulallah?!” seru seorang Anshar.

“Sesungguhnya seorang Nabi tidaklah boleh berkhianat meski hanya dengan lirikan mata!”

Subhanallaah… Alangkah bergejolak hati Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam melihat yang dilakukan ‘Utsman. Alangkah inginnya beliau akan terbunuhnya musuh Allah, si murtad ‘Abdullah ibn Sa’d ibn Abi Sarh. Tetapi alangkah kukuhnya prinsip yang beliau pegang. Kegeraman tak boleh menjadikan seseorang menjadi pengkhianat. Maka sang Nabi tak berkhianat. Beliau tetap suci meski pada si keji. ‘Utsman juga tak berkhianat pada ’Abdullah yang percaya padanya. Pun tak sekejap ‘Utsman punya niat mengkhianati kekasih junjungannya.

Semua kesetiaan kepada nilai-nilai suci dalam tindakan inilah yang membawakan berkah. Kelak, ‘Abdullah ibn Sa’d ibn Sarh membuktikan kebaikan Islamnya. Dia memimpin jihad ke Afrika, membawakan Islam hingga ke negeri-negeri sub-Sahara, yang hingga kini teguh dalam akidahnya.

 

Sumber: Majalah Ummi, Tazkiyatun Nafs 12-XXVIII Desember 2016

Salim A Fillah

 Foto ilustrasi : Google

Yuk, Jadi ORANGTUA ASUH (OTA) Santri Penghafal Qur'an Askar Kauny! Donasi Rp 150.000,-/bulan. Dapat Majalah Ummi (free ongkir)

Transfer ke Bank Muamalat 335-000-9175 a.n. Yayasan Askar Kauny

Konfirmasi ke 0813 8054 4843 : OTA#Nama#AlamatLengkap#Telp#jumlahtransfer#TanggalTransfer#JamTransfer

Tags:
loading...