TETES MERAH

Fashion-Styles-for-Girls-Online

 

Penulis : Muhammad Saleh

 

 

Kucoba mengatur napas sedemikian rupa, sambil bersandar di sebuah pohon yang tak kutahu namanya. Tersengal-sengal. Terputus-putus. Leleran keringat seolah keluar dari setiap tarikan napasku, baju ini semakin terasa basah.

 

Kupaling wajah pada deru napas yang juga tak kalah denganku. Tertahan. Terputus. Kulihat ibu memejamkan mata. Tubuhnya lunglai terduduk di atas daun-daun kering yang menimpa tanah.

 

“Kenapa kita harus berlari, Bu?” suara yang tadi tercekat sesakan napas, kini meluncur dari lidahku yang kering.

 

Ibu tak langsung menyahut. Ia masih mengatur napasnya yang turun naik. Sesekali siulan batuk keringnya terdengar menyaru angin hutan yang berhembus kencang.

 

Kutatap angkasa. Tanpa bintang. Gelap. Pekat. Pasti awan hitam di atas sana telah menyungkup sang rembulan. Suara-suara binatang malam, semakin nyaring terdengar mengusik gendang telingaku.

 

Plaakk!

Kutahu, ibu baru saja mengusir nyamuk hutan yang menggigit kulit kisutnya. Ah, kasihan sekali ibu. Tubuhnya penuh garis-garis merah, akibat jamahan duri dan belukar. Di tubuhku juga ada luka gores, tapi tak sebanyak ibu. Ibu yang berada di depan, menyibak belukar dengan tangan dan kakinya.

 

Kulekat wajahnya yang kuyu. Manik mataku tiba-tiba mengabur. Rajam nyeri bergelembung dalam dada. Sesak. Sakit. Pilu.

 

Kusentuh wajahnya yang masih dibaui keringat. Ibu membuka mata. Keruh. Tanpa harap. Tanpa makna.

 

“Kenapa kita harus berlari, Bu?”

 

Ibu menatapku. Mengelus rambutku. Menyapu air mataku yang sudah meleleh. Lalu memelukku. Kurasakan hangat di bahuku.

 

Ibu Menangis.

 

Aku terisak.

 

Peluk ibu semakin erat.

 

Napasku terasa sesak.

 

Kita harus.... tetap... hidup...,” katanya lirih. Pelan. Terputus. Tertahan.

 

“Apakah kita akan mati?”

 

Tidak. Kita tidak boleh mati. Kita tidak bersalah,” bantah ibu. Tubuhku ikut bergetar seirama isak tangis ibu.

“Lalu kenapa orang-orang itu mengejar dan ingin membunuh kita?”

 

“Entahlah..., mereka tak tahu siapa yang salah dan siapa yang benar.”

 

Tik...! Tik...!

 

Satu. Dua. Tetesan air langit mengenai wajahku. Rupanya, hujan memang akan segera turun.

Kulepas pelukan ibu. Kutatap wajahnya, seolah bertanya, kemana akan berteduh bila hujan telah menderas. Di tengah hutan seperti ini, mana ada rumah atau gubuk.

 

Ibu bangkit. Menuntun tanganku. “Ibu juga tak tahu kemana kita akan berteduh. Yang jelas kita harus segera pergi dari sini. Mereka pasti masih mengejar kita.”

 

Hujan telah durun dengan deras. Berteman dengan kawan setianya, angin dan petir. Angin bersiut-siut mengepakkan dedaunan, menggoyang pepohonan sekehendaknya. Kuyup sudah aku dan ibu, namun belum juga menemukan tempat berteduh.

 

Ibu berjalan sangat pelan, meraba-raba pohon dan semak yang kami lewati. Selain mata tuanya tak mampu melihat dalam gelap, tentu karena ibu masih kelelahan, sehabis berlari tanpa henti, guna menyelamatkan diri dari kejaran para tentara.

 

Aku hanya mengikuti kemana ibu menuntunku. Suara gemeresak daun basah, seakan langkah orang ketiga yang mengikuti dari belakang.

 

Kilatan petir yang memercikkan cahaya, sedikit membantu penglihatan kami. Mataku tiba-tiba menangkap sebuah lubang kecil yang menganga di pinggiran tebing. Ah, semoga saja itu bisa untuk tepat berteduh.

 

“Bu, itu ada gua...,” tunjukku ke arah tebing.

 

Ibu tak menjawab, tapi langsung mempercepat langkahnya menuju arah yang kutunjuk seiring kilatan listrik dari yang langit yang menerangi jalan. Aku menggigil memeluk lutut. Pakaianku masih basah, dinginnya menusuk ke sum-sum tulang. Gua ini begitu dingin, gelap, dan pekat. Hanya kilatan cahaya dari mulut gua yang sedikit membantu penglihatan.

Kulihat ibu juga menggigil. Tubuhnya meringkuk, rebah di lantai gua yang dingin. Ingin sekali kumenghangatkan tubuhnya, tapi pakai apa? Pakaian kami sama-sama basah.
 

Di sela gigil yang tak tertahankan, pikiranku tiba-tiba kembali membayang kejadian yang menyeret kami di gua ini. Sebenarnya aku tak ingin mengingatnya. Tapi bayangan wajah Abah tiba-tiba muncul...

 

Cepatlah... nanti Abah-mu keburu pergi ke sawah,” kata Ibu mendesak, ia berdiri di sebungkah batu besar datar di pinggiran sungai. Di antara pinggang dan tangannya, mengapit bakul yang berisi pakaian basah.

 

“Iya, Bu,”

 

Cepat aku menyelesaikan mandi. Walau sebenarnya aku masih ingin bermain air dengan teman-teman sebayaku, tapi aku juga tak ingin ibu lama menunggu. Akhirnya kusadahi saja.

 

Sambil mengikuti ibu di belakang, tanganku usil mencumut ujung daun ilalang, lalu kumasukkan ke mulut, dan menggigit-gigit kecil dengan ujung gigiku. Sebuah kebiasaan yang tak disengaja, akhirnya ketagihan melakukannya.

 

“Lari... Lari...!”

 

Begitu memasuki perkampungan, suara teriakan memancing perhatian kami. Warga kampung berlarian dengan wajah penuh kecemasan. Ibu dan aku menghentikan langkah, menjenaki apa yang sedang terjadi.

 

Ada apa, Bu?” aku penasaran.

 

Ibu tak menyahut. Matanya lurus melihat semua warga yang ketakutan. Lalu, tiba-tiba terdengar beberapa kali suara letupan. Beberapa lelaki berpakaian loreng mengacungkan senjata.

Dorrrr...! Dorrrr...! Dorrrr...!

 

Diiring suara erangan kesakitan.

 

Ibu seketika langsung menarik tanganku. “Ayo kita cari Abah-mu,” ibu berlari tanpa mempedulikan pakaian basahnya yang terjatuh. Ibu menyeretku dengan kencang.

 

Aku terpontang-panting mengiringi gerak kakinya yang cepat. Tanganku terasa sakit. Pegangan tangannya semakin kuat. Sepertinya ibu tak ingin aku tertinggal.

 

Ayo, cepatlah...!”

 

“Apa yang terjadi, Bu?”

 

Ibu tetap tak menyahut. Hanya napasnya yang terdengar memburu. Warga-warga lain berseliwiran berlari tanpa arah.

 

Dorrrr...! Dorrrr...! Dorrrr...!

 

Argghh...

 

“Tangkap mereka... Jangan sampai lolos!”

 

Aku tak tahu dari arah mana suara itu. Tapi yang jelas, aku merasa kami ini seperti binatang buruan.

 

Aku tersengal saat ibu melepas tanganku. Demikian juga ibu, wajahnya penuh peluh. Dengan setengah membungkuk, ia mengatur napas. Tangan kanan ibu bertopang pada batang pohon nangka.

 

Beberapa meter di hadapan kami, tampaklah gubuk sederhana dimana kami tinggal. Aku mau bersuara, namun ibu langsung membekap mulutku, lalu merapatkan tubuhku ke pohon nangka.

“Diamlah...,” ibu meletakkan jarinya di depan bibir.

 

Kuintip sedikit ke arah gubuk. Beberapa lelaki berbadan tegap dengan pakaian loreng, dan bersenjata api di tangannya, berputar mengelilingi gubuk kami, sepertinya mereka ada dimana-mana. Kemudian kudengar suara gaduh dari dalam gubuk.

 

Lepaskan... lepaskan..., aku bukan anggota PKI!”

 

Abah diseret dengan paksa keluar gubuk. Ia melawan, meronta, mencaci. Namun tenaga Abah yang tak seberapa tentu tak sebanding dengan orang-orang yang menangkapnya. Abah masih tetap berusaha melawan, sampai usahanya dihentikan oleh pupur senjata yang menghantam pungguknya.

 

“Dasar PKI keparat!”

 

Brukkk.

 

Abah terjerembab jatuh ke tanah. Seorang tentara mendekat. Tanpa ba-bi-bu lagi langsung mengarahkan senjatanya ke tubuh Abah.

 

Dorrrr...! Dorrrr...! Dorrrr...!

 

“Abah...,” Aku replik berteriak.

 

Ibu kaget.

Para tentara itu juga kaget. Memandang ke arah kami.

“Tangkap mereka...!”

 

Ibu langsung menarik tanganku. Berlari. Beberapa pelor kudengar diutus untuk menghentikan langkah kami. Ibu tak peduli. Ia terus berlari menyeret tanganku. Aku juga tak peduli. Aku terus berlari mengiringi ibu, walau tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.

***

Ibu bangun. Menatapku. Wajahnya tampak kuyu, namun ia berusaha tersenyum melihatku.

 

“Apa kau masih takut?” ibu mendekapku.

 

Aku mengangguk. “Apa yang sebenarnya terjadi, Bu? Kenapa kita mau dibunuh?”

 

Ibu diam. Terdengar tarikan napasnya yang panjang. Ia elus rambutku yang masai.

 

“Jawablah, Bu,” desakku.

 

Mungkin ini gara-gara kejadian tiga hari yang lalu, Nak. Telah terjadi pembantaian terhadap beberapa jenderal yang dianggap menghalangi sebuah rencana yang akan dilakukan oleh partai komunis. Semua jenderal itu dibunuh.

 

Dan semua orang yang terlibat dalam pembantaian itu atau tergabung dalam partai itu harus segara ditumpas sampai ke akar-akarnya oleh tentara pemerintah.”

 

“Berarti Abah terlibat?” Potongku.

 

Ibu menggiling. “Abahmu tak tahu apa-apa. Ia hanya seorang petani biasa.”

“Lalu kenapa Abah dibunuh?”

 

“Ibu juga tak tahu.”

Kupeluk ibu. Aku tak kuasa menahan air mata. Abah orang yang paling kami sayangi telah tiada. Abah yang tak tahu apa-apa tentang partai komunis ikut terbunuh. Kembali kurasakan butir hangat jatuh di tanganku. Ah, ibu juga menangis. Kami sedu dalam haru.

 

Di antara tangisan kami, kudengar suara dari mulut gua.

“Hei... di sini ada jejak mereka.”

 

Derap langkah kudengar mengerubungi mulut gua.

 

“Pasti mereka ada di dalam.”

 

Aku dan ibu berpelukan erat. Badan kami menggigil ketakutan. Kami pasti ketahuan.

 

Mungkin sebentar lagi kami akan menyusul Abah.

 

Tap... Tap.... Tap....

 

Suara langka itu pelan, namun semakin ke dalam semakin nyaring. Kami hanya pasrah. Tak ada jalan keluar, selain meringkuk di dinding gua.

 

Hahaha... rupanya kalian ada di sini,” suara itu menyeringai. “Tangkap mereka!”

 

“Tunggu!” cegah yang lain. “Bukankah kita di perintahkan untuk menumpas seluruh anggota PKI?

 

Semua lelaki itu mengangguk. Bibir mereka menyunggingkan senyum licik. Dan satu persatu mereka mengacungkan senjatanya ke arah kami.

Beberapa detik kemudian kurasakan tubuhku panas. Timah panas merobek dadaku. Tetes merah telah mengalir membasahi lantai gua. Anyir. Pekat. Lalu semuanya benar-benar menjadi gelap.

 

Barabai, 03 Nopember 2011

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Yuk, Jadi ORANGTUA ASUH (OTA) Santri Penghafal Qur'an Askar Kauny! Donasi Rp 150.000,-/bulan. Dapat Majalah Ummi (free ongkir)

Transfer ke Bank Muamalat 335-000-9175 a.n. Yayasan Askar Kauny

Konfirmasi ke 0813 8054 4843 : OTA#Nama#AlamatLengkap#Telp#jumlahtransfer#TanggalTransfer#JamTransfer

Tags:
loading...