The Best I Ever Had

Fashion-Styles-for-Girls-Online

The best I ever had. 

Sekarang ini memang sungguh tak penting untuk menebak Hazmi sedang apa dan ada dimana. Juga tak perlu menerka-nerka apakah ia masih suka memakai selimut biru kesayangannya saat menjelang tidur, ataukah telah berganti selera. Pun tak etis lagi meramalkan esok pagi ia akan memakai setelan baju kerja warna apa. Meski hatiku merajuk pilu saat ini. Entah keangkuhan dan pendirian kokohku mulai berpindah kemana, tiba-tiba bayangannya menyelip lagi diantara penatku sepulang kerja sore tadi. Apakah keletihan memperjuangkan kemandirian inilah yang sedikit demi sedikit melelehkan kebekuan hatiku?

Kupandangi wajah-wajah mungil nan lucu dua buah hatiku. Merekalah obat dari penat-penatku di siang hari saat berjibaku dengan lembar-lembar rupiah atau dolar, komputer serta mesin hitung saat mengais rejeki di sebuah bank swasta. Bukannya tak pernah mendapatkan uang nafkah buat anak-anakku, tapi proses yang sering berbelitlah yang membuatku enggan untuk memintanya lagi. Namun bibirku bisa tersenyum saat menatap tidur pulas mereka. Meski ada rasa bersalah telah meninggalkan mereka hampir seharian bersama Mama yang sudah tua serta seorang pembantu.

Hatiku berkecamuk meski mataku telah mengatup. Kepalaku seakan berputar-putar, mengajak anganku melayang dan terbang menyusuri waktu, singgah pada kejadian satu tahun lalu...

Tas kerja hitam persegi panjang itu dibiarkan tergeletak di sofa. Sosoknya telah lenyap saat aku baru saja beranjak dari dapur untuk menyambutnya sore itu. Tapi jejak sepatunya memberiku petunjuk. Dan belum ada jejak sepatu menuju ke arah luar. Artinya ia masih di dalam kamar. Aku segera menyusulnya.

“Mau pergi lagi, Mas?”

Dasi itu telah terlempar ke atas kasur. Ia sedang membasuh wajahnya di wastafel kecil di sudut ruangan, di sisi kamar mandi dalam kamar kami. Dibukanya hem putih yang telah sedikit lusuh oleh debu, dan segera digantinya dengan kaos merah yang semula bergelantung di dinding. Ia tak menjawab pertanyaanku. Tapi kaos merah itu telah menjawabnya. Kaos yang sama dengan yang dipakai kemarin.

“Ke tempat pelatihan lagi? Nggak mandi dulu?” tanyaku lagi mencoba merebut  sedikit perhatiannya. Walau sudah kuduga itu tak terlalu berguna.

“Hemmh, sudah tahu kan?” jawabnya acuh tak acuh.

“Nggak capek? Kubuatkan teh hangat dulu?” kucoba sekali lagi. Siapa tahu ia mau meluangkan waktu untuk tinggal sejenak.

“Aduuh...! Aku nggak bisa, ini sudah mau telat. Besok sajalah hari Sabtu, oke? Kita jalan-jalan sama anak-anak.”

Bersamaan dengan kalimat terakhirnya sore itu, ia menyambar tas ransel kecil berbahan plastik daur ulang yang selalu dibawanya saat menghadiri kegiatan yang sedang gencar dipromosikanya. Dan seperti sore-sore kemarin, ia berlalu tergesa dari hadapanku. Aku hanya bisa menatapnya dengan separuh keikhlasan. Lebih tepatnya kekecewaan. Sudah tiga minggu seperti itu. Tiga minggu, beda satu minggu dengan usia bayi kami yang baru memasuki minggu ke empat. Aku selalu hanya bisa menghirup nafas panjang mengimbangi rasa kecewaku.

Sejak mengikuti kegiatan promosi sampah daur ulang itu, aku seperti kehilangan sosok suamiku yang dulu. Aku memang orang pertama yang mendukungnya untuk terjun menangani sampah-sampah di kecamatan kami. Ada seseorang yang menawarinya kerjasama dalam program pengendalian sampah kota yang memang memprihatinkan. Ia pun begitu antusias. Singkat cerita akhirnya ia menjadi ketua kegiatan pemberdayaan masyarakat untuk mengelola sampah kering dengan cara daur ulang hingga menghasilkan produk baru yang bermanfaat. Hazmi mulai sering mengikuti seminar, pelatihan, bahkan pameran ke luar kota. Waktu sisa kerja kantorannya habis untuk kegiatan baru itu. Ia seakan lupa dengan istri yang dulu selalu mendapatkan pujian termanisnya, yang baru saja melahirkan dewi, anaknya yang ke dua. Juga seolah tak pernah lagi merindukan keriangan Dara saat bercerita tentang teman-teman dan guru di sekolahnya. Sempat muncul rasa sesal telah begitu mendorongnya untuk menekuni hobi baru itu. Aku merasa terabaikan.

Hal seperti itu kerap kali berulang...

Suatu sore saat ia pulang dengan cara yang tak berbeda dari biasanya. Meletakkan begitu saja tas kerja di sofa, membuang dasi ke atas kasur, membuka hem lalu menggantinya dengan kaos, mengambil ransel kecil kesayangannya, lalu pergi lagi. Ia seperti lupa pada anak istri yang tiap hari menunggu waktu luangnya.  

***

“Faraah! Telfon dari Hazmi!” teriak Mama dari ruang tengah. Aku baru saja membangunkan anak-anak.

Tiba-tiba ada yang berlompatan di dadaku. Hazmi...

“Eh... iya, Ma. Ngapain ya, Ma?” sahutku sedikit menutupi kegugupan. Masih dengan Dewi yang minta dipegangi berjalan kesana kemari. Aneh... kenapa harus gugup? Bukankah perpisahan ini sudah berjalan hampir setahun? Dan bukankah ia juga masih kerapkali datang menengok anak-anak atau menyerahkan uang jatah bulanan- walau lebih sering telat dan jumlahnya kurang dari perjanjian-?

“Hallo... tumben? Udah lama ditanyain Dara.” kataku sambil masih mengatur ritme degupan jantungku. Jangan sampai ia mendengar suara dag dig dug lewat heandphone yang tadinya tertinggal di meja makan ini. Sementara Dewi beralih tangan pada Mama.

“Aku mau kesana. Kalian di rumah  saja, kan?” sahutnya. Suara itu... tiba-tiba ada aliran rindu mengisi kapiler darah di seluruh tubuhku. Setitik embun hangat jatuh ke pipi. Apa benar kata orang bahwa wanita yang menjanda itu suatu hari akan merasa kesepian juga? Apakah kesepian yang menjadikan aku seperti ini? Ngaco ah!

“Hai.., kalian di rumah, kan? Aku kangen anak-anak. Maaf beberapa minggu tidak menengok kalian. Agak sibuk.”

“Oh! Ehm.. iya, sebenernya ada rencan les tari sih, tapi... bisa dibatalkan.” sahutku.

“Baik, aku langsung ke sana ya? Kita bisa jalan-jalan nanti. Tunggu ya...” kata Hazmi lembut sebelum menutup saluran telfon.

Ada yang bergetar di hatiku. Ada tanya yang tak tahu harus dialamatkan kemana. Mengapa saat itu Hazmi tak selembut ini? Mengapa dengan mudah ia mengantarkan kami pulang ke rumah Mama? Mengapa ia begitu saja menceraikan seolah aku tak pernah mengisi hatinya? Dan hanya kehangatan keluargakulah yang mampu membalut luka-luka perihku waktu itu.

Cepat-cepat kubangunkan anak-anak dan memandika mereka. Tak sampai setengah jam kemudian, bel pintu berbunyi.

“Ayaaaah!” Jerit bahagia Dara membahana ke seluruh rumah begitu melihat sosok ayahnya. Ia lari sambil berlompatan menyongsong kedatangan ayahnya. Hatiku terenyuh.

“Halo... anakku yang cantik. Duh... kangen aku.”

Hazmi langsung mengembangkan kedua tangannya, memeluk Dara, kemudian menggendongnya. Wajah Dara dihujaninya dengan ciuman bertubi.

“Ini, Dewi udah mau jalan, Yah...” Mamaku ikut ke ruang tamu sambil menuntun Dewi yang sedang senang-senangnya belajar jalan.

“Nha... Ayah bawa hadiah spesial buat Dewi. Ini dia...!” Hazmi mengeluarkan sebuah kotak berbungkus kertas warna-warni dari dalam ranselnya. “Selamat ulang tahun....!”

Oh My God. Dia ingat hari lahir Dara. Alangkah indahnya bila keharmonisan ini tetap ada dalam bingkai pernikahan.  

***

“Farah...” suara Mama membuatku terkejut. Ups... aku ketahuan menangis saat reflek wajahku menoleh. Mama nampak terhenyak, namun sejurus kemudian justru tersenyum.

“Hazmi mau membawa mereka jalan-jalan.” kata Mama.

“Oh.. iya Ma. Dia sudah bilang di telepon.” sahutku sambil mengambil kertas tisyu di meja rias dan mengelap pipiku yang basah. Dari bayangan di cermin, nampak mataku sembab dengan kelopak membesar. Aku memaku diri duduk didepan cermin meja riasku.

Tiba-tiba tangan Mama menyodorkan sesuatu, amplop bersampul merah jambu. Ada hiasan gambar... semacam foto prewedding. Aku mengambilnya dari tangan Mama, dan gambar itu makin jelas terlihat.

Jemari-jemariku bergetar, jantungku berdegup kencang. Rupanya aku tak lagi boleh bermimpi menikmati lagi masa-masa indah itu. Aku harus ikhlas dengan semua takdir Allah ini walau tetiba sebuah rasa perih menghujam keras di ulu hatiku. Sakiiit. Mengapa kabar ini hadir di saat rindu itu mulai hadir kembali? Aku tak mampu menahan bendungan air mata ini lagi. Aku tak peduli panggilan Dara yang sedang mengetuk-ngetuk pintu di depan kamar. Saat ini aku hanya ingin membenamkan wajahku di pelukan Mama.

“Mama....! Dara berangkat sama Dewi berangkat, ya...! Mama tunggu di rumah ya...! Nanti Mama dibawain oleh-oleh deh...”

“Iya, Dara..., hati-hati di jalan...!” sahut Mamaku.

Aku tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun. Mencoba menata hati lagi, seperti dulu, menerima kenyataan bahwa dia hanyalah seseorang yang pernah menjadi yang terbaik, yang pernah kumiliki, sebelum semua itu terjadi....

But it’s not so bad

You’re just the best I ever had

I don’t want you back

You’re just the best I ever Had

Profil penulis:

Ella Sofa, Penulis Novel “Temui Aku di Surga”. Fb Ella Sofa, twitter @EllaSofa, dan blog ellasofa.blogspot.com

Yuk, Jadi ORANGTUA ASUH (OTA) Santri Penghafal Qur'an Askar Kauny! Donasi Rp 150.000,-/bulan. Dapat Majalah Ummi (free ongkir)

Transfer ke Bank Muamalat 335-000-9175 a.n. Yayasan Askar Kauny

Konfirmasi ke 0813 8054 4843 : OTA#Nama#AlamatLengkap#Telp#jumlahtransfer#TanggalTransfer#JamTransfer

Tags:
loading...