Tips Menulis dari Redaksi yang Perlu Kamu Tahu

Fashion-Styles-for-Girls-Online

Sobat Nida, sebelum kita menuju tips dari dapur redaksi, kudu tahu dulu, Sob, bahwa nulis itu yang utama bukan dengan otak, tapi dengan hati!

Banyak penulis pemula yang susah payah memutar otak dalam membuat sebuah tulisan. Persis seperti sedang bermain catur, kening berkerut demi menemukan ide original yang beda,  serius mengotak-atik alur agar sulit ditebak pembaca, merangkai kata-kata yang berbunga bahkan kadang sulit dicerna. Semua dilakukan tidak lain tidak bukan agar menciptakan sebuah tulisan yang bagus. Apakah itu sudah benar?

Nida punya tips yang lebih simpel buat penulis pemula dalam menulis apa pun:

Pertama, Singkirkan Otak!

Sobat Nida, sebenarnya untuk menulis dengan cepat dan bagus, pertama-tama otak kita harus ditaruh di tempat yang “jauh”. Maksudnya, jangan kebanyakan berpikir! Jangan sebentar-bentar mengedit tulisan yang baru jadi 2 baris! Jangan keterusan membandingkan tulisan kita dengan yang karya orang lain!

Otak kita baru dikasih tugas setelah naskah selesai ditulis! Jadi, kalau tulisan kita belum finish, jangan pakai otak dulu pliis...

 

Kedua, Pakai Hati itu Musti!

Banyak sekali penulis yang tidak mengerti teknis, tapi justru menghasilkan karya yang manis, kenapa? Biasanya mereka menulis dengan hati, Sob.

Nah... Karena kita kebiasaan menulis pakai tangan, komputer atau mesin tik, jadi kita harus belajar lagi bagaimana cara menulis pakai hati:

1. Tuliskanlah hal-hal yang terjadi di sekitar kita! Dengan menulis hal-hal yang dekat dengan diri sendiri, membuat kita bisa ikut larut dan hanyut dalam tulisan yang kita buat. Misalnya, ada tetangga yang baru saja meninggal karena tabrak lari bis yang dikendarai ugal-ugalan. Coba deh tuliskan kisahnya. Pasti emosi dan kesedihan serta kegeraman kita akan ikut tertuang. Dibandingkan menulis dengan pikiran, kita akan lebih terfokus menulis dengan perasaan.

2. Tetapkan tujuan, pesan apa yang ingin kita sampaikan pada pembaca? Ini juga membantu kita untuk fokus dan tidak kebingungan saat menentukan ending. Misalnya kita ingin menyampaikan pesan: Jangan ikut-ikutan menonton video porno! Ya sudah... Biarkan hati kita yang bicara terlebih dulu! Cerita saja apa adanya tentang fenomena remaja masa kini yang suka menyimpan video mesum di hapenya! Jadikan diri kita sebagai salah satu tokoh dalam cerita.

  

Ketiga, Saatnya Otak Beraksi!

Setelah hati kita merasa puas mengeluarkan semua uneg-uneg. Barulah biarkan otak kita beraksi. Berikut daftar checklist yang mungkin bisa membantu kita memperbaiki tulisan dengan pikiran:

1) Perhatikan awal cerita!

Kalau pembukaan cerita kita belum menggebrak, silakan dirombak!

2) Alur cerita sudah oke?

Kalau alur ceritanya kronologis, bisa kita potong-potong per adegan kemudian kita acak-acak alurnya (tidak sistematis), sehingga cerita lebih terasa dinamis.

3) Penokohan sudah hidup?

Silakan minta orang lain membaca karya kita, apakah penokohan dalam cerita kita sudah terasa nyata? Jika belum, harus perbaiki dialog atau deskripsi untuk menambahkan 'nyawa'!

4) Ending tak terduga?

Banyak cerita yang bagus tetapi endingnya maksa agar terkesan tak terduga. Sebenarnya tidak musti seperti itu, sesuaikan saja ending dengan pesan alias misi yang ingin kita sampaikan dalam cerita tersebut.

Cerita yang ditulis dengan menggunakan perasaan (hati), insya Allah akan sampai pula ke dalam hati pembaca maupun redaksi. Tugas kita sebagai penulis pemula adalah mengasah kepekaan hati dan memberinya nutrisi agar lebih mudah mendeteksi pesan-pesan Ilahi dari segala fenomena yang terjadi. Cieh...

Tetap semangat menulis Sobat Nida!

 

(Syamsa)

 

Foto ilustrasi: google

Yuk, Jadi ORANGTUA ASUH (OTA) Santri Penghafal Qur'an Askar Kauny! Donasi Rp 150.000,-/bulan. Dapat Majalah Ummi (free ongkir)

Transfer ke Bank Muamalat 335-000-9175 a.n. Yayasan Askar Kauny

Konfirmasi ke 0813 8054 4843 : OTA#Nama#AlamatLengkap#Telp#jumlahtransfer#TanggalTransfer#JamTransfer

Tags:
loading...