Trio ASMARA

Fashion-Styles-for-Girls-Online



Penulis: Prito Windiarto

Aku Astini

Ini kesempatan besar! Tak boleh disiakan. Tadi pagi manajer Trio ASMARA, Johar mengabarkan, ada sebuah manajemen artis yang siap mengorbitkan kami ke pentas nasional. Yuhu…  Trio ASMARA sebentar lagi akan menjadi trio papan atas bukan lagi jago kampung yang sering dilecehkan. Masih terngiang di telinga penghinaan-penghinaan itu.

“Bah… Trio ASMARA kampungan, dandananya norak sekali!” ejek Utar, si penggila dangdut di suatu kesempatan.

“Lah… Trio ASRAMA jauh banget lah dibanding Trio Madenda,” ledek trio dangdut lain.

Hem… lihat saja nanti. Akan kusumpal mulut besar mereka, aku janji, lihat saja!


Aku Maharani

Bahagianya… Trio ASMARA baru saja menandatangani perjanjian kerjasama dengan manajemen artis itu. Semoga selekasnya diorbitkan sehingga bisa meningkatkan reputasi, dan terutama penghasilan kami. Ah, bukankah itu tujuan awal pembentukan trio ini? Aku ingat dua tahun silam, Kang Johar, yang konon mantan manajer artis papan atas itu berkeliling kampung, mencari remaja yang mau dijadikan artis dangdut. Audisi bahasa kerennya. Ah, aku tak terlalu paham soal itu. Tadinya aku cuek saja dengan pengumuman audisi itu, sama sekali tak berminat. Tapi… kemudian Ibu yang menyuruhku ikut.

“Hok Neng ngiringan (ikutan), kamu berbakat, nanti kalau jadi artis kan banyak duit untuk menyekolahkan adik-adikmu!”

Aku luluh. Benar juga, dengan menjadi artis, besar peluangku punya banyak uang. Dengan harta melimpah aku bisa menghidupi ibu yang menjanda, juga menyekolahkan adik-adikku. Aku memutuskan ikut audisi. Tak dinyana aku lolos. Dua anggota terpilih lainnya adalah Kak Astini dan Radita. Mereka ikut bergabung dengan alasan hampir mirip denganku.

Dua bulan kami digembleng latihan vokal. Dua bulan latihan tari (goyang), dua bulan terakhir fokus di dandanan. Setengah tahun kemudian kami mentas. Gemblengan itu tak sia-sia, kami tampil dengan apik, jauh di atas artis dangdut kampung lain. Walau memang ada beberapa grup lain yang iri sering mengejek kami. Setahun berlalu cepat. Jadwal manggung kami terbilang cukup padat terutama jika musim hajatan. Penghasilan kami meningkat drastis. Andra, adik pertamaku itu sekarang bisa masuk SMA favorit.

Semoga setelah diorbitkan penghasilan kami meningkat lebih banyak lagi. Aku ingin membangun rumah yang layak untuk keluarga.


Aku Radita

Aku menangis sesenggukkan. Malam  tadi Trio ASMARA manggung pertama setelah ditangani X manajemen, sekaligus promo album perdana. Kami tampil dengan kostum super ketat, menyanyi mendayu, melenggok memperlihatkan kemolekan tubuh. Astagfirullah! Sedari awal aku sudah menolak memakai kostum itu, terlalau seksi, terlampau vulgar. Sayang, aku malah dibentak, “Itu jualan kita, tahu? Penonton mana mau melihat kalau kalian tampil dengan gamis, nanti disangka kosidahan! Hehe.” Jhony –manajer baru kami- terkekeh. Aku hanya bisa merutuk dalam hati. Tapi bukan itu sebab utama tangisku, bukan!
Satu  setengah jam lalu, ketika pentas berakhir, di belakang panggung seorang Om tambun mendekati kami, mencolekku. Kemudian bilang, “Mau berapa?”

Aku mengernyit, menggeleng tak paham.

"Tarif semalammu berapa, sayang…?!” Ia memegang tanganku, aku menepisnya.

“Hei… tak perlu jual mahal begitu lah. Sepuluh juta cukup? Mau kan?” ia menggoda lagi.

Mendengar kata itu aku jijik, berlari tergesa menuju mobil jemputan.  “Astagfirullah… sebegitu hinakah aku?” Di kamar ini aku hanya bisa menangis. Tak tahu harus berbuat apa. Gelap. Awal yang buruk dan aku yakin akan lebih buruk lagi di kemudian hari. Tidak!

Aku Astini

Halah… sok suci banget si Radita itu. Ngungkit-ngungkit dosa segala. Bilang kehinaan ini harus segera diakhiri. Bedebah! Tak tahu diri. Padahal bukankah ini kesuksesan, kegemilangan? Lihatlah, setelah ditangani X manajemen, baru tampil lima kali saja Trio ASMARA sudah meraup puluhan juta. Bahkan kemarin sudah diundang tampil di TV Swasta. Tak lama lagi, aku yakin Trio ASMARA akan menjadi Diva Dangdut tanah air. Lihat Saja! Aneh benar si Radita itu.

Aku Maharani

Aku sungguh menyesalkan kejadian ini. Tadi sore, saat hujan turun Radita pergi. Ia muak dengan  popularitas nan semu  ini. Aku telah berusaha mencegatnya. Ia keukeuh. Base camp Trio ASMARA tiba-tiba lengang. Aku menangis, Kak Astini menatap guyuran hujan, kosong, Pak Jhony mendengus sebal. Slide-slide itu berputar cepat.

“Aku tak mau jadi bintang film itu, terlalu seronok!” Radita menggeleng kuat.

“Hei… Ayolah…. Bayaran kalian guede banget, sampai ratusan juta!” Pak Jhony menanggapi.

“Aku tak mau!”

“Dita… tak ada salahnya dicoba. Ini kesempatan bagus. Jarang-jarang pendatang baru seperti kita langsung mendapat kesempatan menjadi pemeran utama.” Kak Astini membujuk lembut. Radita menggeleng mantap.

“Kita akan mendapat banyak uang Dita, kamu bisa mengumpulkan uang untuk operasi tumor  ibumu!” aku  ikut membujuk. Radita menjawab pendek, “Tidak!”

“Hah… munafik kamu Dita, pura-puranya gak mau uang. Sok suci, takut dosa. Ngeyel benar sejak dulu. Kalau ngak mau kamu harus keluar dari Trio ASRAMA, kami akan cari pengganti lain!” Pak Jhony mengancam.

“Baik…. Aku keluar!” Radita mantap melangkah menuju kamarnya. Aku menyusul tergopoh.

“Dita… Dita… jangan pergi… please… Bukankah kita sudah janji untuk selalu bersama, selayak adik-kakak kandung?!”

“Iya Kak, tapi tidak dalam kehinaan ini!” Ia menatapku tajam. Matanya berkilat tegas. Aku menangkap tekad, kesungguhan dan ketabahan dari sorot mata itu. Sesuatu yang selama ini sulit kudapat.

Aku Radita

Selentingan kudengar Film Trio ASMARA laris manis, jumlah penontonnya membludak. Bahkan konon jauh melebihi jumlah penonton film-film yang dibintangi De-Ve, Ju-Fe atau Trio Harimau. Mereka menemukan penggantiku yang cocok bagi proyek mereka. Seorang remaja yang berani benar tampil sensual. Astagfirullah. Aku hanya bisa melantun doa semoga hidayah itu menyapa mereka jua. Berharap agar mereka juga bisa mengerti kebahagiaan sejati. Sesuatu yang tidak mesti dilambangkan dengan dengan gemilang uang, popularitas. Aku sekarang merasakan itu. Hari ini aku jauh merasa lebih bahagia, lebih damai, walau harus kembali tinggal di rumah bilik[1], makan dengan lauk seadanya, dibanding dulu ketika masih bergabung bersama Trio ASMARA. Tak masalah bagikku ketika Jhony menarik semua penghasilanku dari Trio ASMARA. Tak mengapa.

Aku bersyukur bisa menemani Ibu di akhir masa hidupnya.


Aku Astini

Hah… rasakan olehmu Dita, kau melarat lagi. Dengar-dengar kau menikah dengan si Rustam, pemuda kampung nan miskin itu. Bodohnya kau Dita. Seandainnya kau tahu dengan tubuh dan wajah cantikmu itu kau bisa saja menggaet pria tajir, bahkan mungkin menteri sekalipun. Sayang kau memilih Rustam. Kau tahu Dita. Sekarang uangku melimpah. Aku punya rumah bernilai ratusan juta. Om Rudi pejabat pemerintah itu menikahiku siri. Sepertiga kekayaannya miliku. Haha.

Aku Maharani

Aku tergolek lemah di atas ranjang putih rumah sakit. Menatap lagit-langit kosong. Dua orang duduk rapi menungguiku, Andra, adikku dan Arman, ah aku tak tahu dia siapanya aku.

“Hei… kamu sudah siuman rupanya, bagaiamana keadaanmu?” Arman yang melihatku membuka mata bertanya.

“Lumayan mendingan.” Ucapku lirih. Ia tersenyum. Mata kami beradu. Ah sorot mata itu, sorot mata keteguhan persis milik Radita.

“Teh... tangannya masih sakit?” Andra mendekat menyentuh tanganku.

“Awww! Iya masih, sedikit.”

“Oh ya, tadi saya belikan jeruk, mau dicoba?” Arman mengambil kresek di sofa. Aku mengangguk. Ia mengupas kulit jeruk. Aku menatap wajahnya lamat. Tiba-tiba slide-slide awal pertemuanku dengan Arman berputar.

Siang itu, di lobi kedatangan Bandara Soekarno-Hatta aku termenung sendiri. Trio ASMARA baru saja menyelesaikan tour Sumatra. Semua Crew sudah pulang. Entah kenapa aku ingin berdiam sejenak di lobi. Menatap lalu lalang penumpang. Tampak sebuah keluarga berjalan keluar. Mereka sumringah, dua anak kecil kejar-kejaran memperebutkan sesuatu. Disusul sepasang suami istri, perut sang istri buncit, mungkin sedang hamil. Sang suami memegang erat jemari sang istri penuh penghargaan. Aku menengguk ludah. Termenung. Ah ya, hidup mereka tampak bahagia, sementara hidupku…. hidup yang membosankan, tampil dari satu panggung ke panggung lain. Mendayu suara. Aku serasa menjadi sapi perah produser dan manajer. Aku lelah dengan segenap eksploitasi ini. Amat lelah. Aku ingin suasana yang baru.

Ups… kuseka air mata, seorang lelaki mendekatiku. Menatapku iba. Tak dinyana ia bertanya perihal keadaanku. Rupanya sedari tadi ia memperhatikkanku  yang termenung kosong. Aku balas menatap wajahnya. Mata itu….., sorot mata itu  mirip sorot mata Radita. Entah kenapa menatapnya aku mendapat kesejukan mendalam. Tanpa ragu aku bercerita. Mengungkapkan sesak di dada. Ia mendengarkan takjim, sesekali memberi komentar. Ah entahlah, aku merasa nyaman sekali berbincang dengannya. Semenjak itu aku berteman akrab dengannya. Ia ‘setia’ mendengar kelah kesahku.

Atas dukungannya pula aku mantap keluar dari Trio ASMARA. Keluar dengan menanggung resiko besar. Kehilangan popularitas, harta. Selain itu juga mendapat tekanan, ancaman dan teror seperti kejadian pemukulan oleh preman tak dikenal yang membuatku terkapar seperti ini. Aku yakin pihak X manajemen dalang dari ini semua. Tapi aku pantang mundur. Takkan! Sudah saatnya kuakhiri tekanan ini. Ah, lagi pula, Arman telah menunjukanku jalan yang lebih melegakan. Baru saja, ia melamarku. Bahagianya….

Aku Astini

Malam kelam. Sekelam pikiranku. Kacau. Sebagian elemen masyarakat memboikotku. Menganggapku bintang seronok, menyamakanku dengan pemain film biru. Aih, hina sekali. Om Rudi menceraikanku tepat ketika aku mengandung anaknya. Nahas! Ia tak menanggapi, menganggap jabang bayi itu bukan anaknya. Bilang aku pe**c*r.  Jhony manajer kep*r*t itu mengacuhkanku. Bilang Trio ASMARA tidak mungkin dilanjutkan lagi, sudah aus, tak laku. Bahkan sempat bilang sudah jadi nenek reyot. Bedebah! Kurang Ajar.

Pelarianku pada miras dan narkoba tak berguna. Hatiku terlampau teriris. Kali ini tak ada yang memperdulikanku. Radita dan Maharani asyik dengan kehidupan baru mereka, enggan berbagi denganku. Tapi biar, biar saja. Karena aku memang tak pantas dikasihani.


Aku Epilog

Dua orang berjalan tergesa, menekan tombol lift cepat. Rusuh. Keduanya tak lain Maharani dan Radita. Tadi, pagi-pagi mereka mendapat kiriman bunga, terselip surat pendek di dalamnya.

“Jam 09.00, di kamar  no 333 Sahid Jaya Hotel, kuharap kalian datang. Menemuiku terakhir kalinya, sebelum aku pergi jauh. Astini.”

Mereka tiba di depan kamar no 333 tepat pukul 09.00. Pintu dibuka. Mata mereka terpaku. Astini mengarahkan moncong revolver ke kepalanya.

“Kak Astini, apa yang akan Kakak lakukan?!” Radita berseru panik. Mencoba mendekat.

“Diam di sana, jangan bergerak! Aku mau mati, Dita!”

“Jangan begitu Kak, ayolah… kita masih berhak melanjutkan hidup.” Maharani ikut membujuk.

“Diam! Kalian saja sana! Aku tak sudi! Toh tak ada lagi yang peduli dengan hidupku.”

“Kami Kak… kami sangat peduli!”

“Bohong! Kalian asyik dengan kehidupan baru kalian masing-masing. Kalian meninggalkanku. Sekarang giliranku meninggalkan kalian!”

“Kak Astini…!!!”

Dorrrr… terdengar letupan keras. Gelap. Tiba-tiba langit pukul sembilan pagi itu beralih kelam. Getir. Bau amis darah menusuk hidung.

Selesai.



Rewrite, Army0511-0113
Special 4 someone who inspire me this story



1. rumah berdinding anyaman bambu


Prito Windiarto lahir di Cilacap, 25 November 1989. Penulis Novel “Tiga Matahari” dan Kontributor belasan buku Antologi. Pemimpin Umum Tabloid Lingustika. Bergiat di (KPS) Komunitas Pena Santri. www.pena-santri.blogspot.com
facebook : pritowindiarto@yahoo.com
Blog : www.pritowindiarto.blogspot.com

Yuk, Jadi ORANGTUA ASUH (OTA) Santri Penghafal Qur'an Askar Kauny! Donasi Rp 150.000,-/bulan. Dapat Majalah Ummi (free ongkir)

Transfer ke Bank Muamalat 335-000-9175 a.n. Yayasan Askar Kauny

Konfirmasi ke 0813 8054 4843 : OTA#Nama#AlamatLengkap#Telp#jumlahtransfer#TanggalTransfer#JamTransfer

Tags:
loading...