Tuhan Telah Mati

Fashion-Styles-for-Girls-Online

Penulis: Gusrianto

Timika, Papua

Mati.

Semua orang pasti mengenal kata itu. Semua orang pasti tidak ingin kata-kata itu diperdengarkan di telinganya. Semua orang pasti takut dengan yang namanya mati. Termasuk aku. Tapi tidak dengan sosok di hadapanku.

”Aku ingin mati...” katanya seolah berbisik pada dirinya sendiri. Perkataan itu tidak ditujukan padaku. Aku kemudian duduk di sampingnya, memegang pundaknya, mencoba mengalirkan sebuah bentuk kepedulian, rasa simpati, menenangkan perasaannya.

”Apakah kau tidak takut mati?” tanyaku padanya. Dia hanya tersenyum.

”Sudah kuduga, kau akan menanyakan itu, kau bertanya, apakah aku tidak takut mati?” Pemuda tanggung itu menoleh padaku.

”Ya, aku sungguh heran, apakah kau tidak takut mati?”

”Tidak...! Aku tidak takut, aku bahkan sangat merindukannya.” jawaban itu sungguh membuatku bingung. Dia tidak takut mati? Minggu lalu, Pak Jonathan yang rumahnya di pinggir hutan -tidak jauh dari rumahku-  meninggal. Sebelum maut benar-benar menghampirinya, kulihat Pak Jonathan menjerit, mengerang kesakitan, meronta-ronta. Juga sewaktu Pak Yansen -yang sudah dua kali pergi haji- meninggal, hal yang sama juga terjadi. Pekerja bangunan yang jatuh dari lantai lima belas, sampai di bawah kepalanya pecah. Bang Radian yang kena tikam perutnya sewaktu pencuri memasuki rumahnya, menyakitkan.  Begitu mengerikan kematian. Jangankan untuk merindukan, membayangkan saja aku sudah merinding, apalagi kalau sampai mengalami.

Tapi sosok di hadapanku, malah merindukan kematian. Gila.

Sudah hampir satu jam aku menemaninya di sini. Saat pertama kali sampai, aku sungguh tidak percaya melihat keadaan di sini. Sisa-sisa kobaran api masih terlihat satu-satu. Kepulan asap. Puing-puing reruntuhan bangunan. Mayat-mayat bergelimpangan. Mayat-mayat itu, semuanya adalah mayat orang-orang yang dekat dengan pemuda di hadapanku, sudah seperti keluarga baginya.

Entah angin apa yang membawaku ke sini. Seperti ada yang mengundang. Seperti ada yang menggerakkan hatiku saat kulihat dari kejauhan kepulan asap hitam pekat bergulung-gulung ke angkasa. Hari belum begitu terang. Ketika sampai, aku mendapati Wilson -teman sekelasku- sedang berdiri termangu. Matanya menatap lurus ke depan, menatap ke arah kepulan asap itu, menatap puing-puing hitam itu, menatap mayat-mayat yang bergelimpangan. Dan kemudian, seolah berbisik pada dirinya sendiri, dia berkata dengan lirih, aku ingin mati.

”Kau tahu kenapa aku ingin mati?” dia kembali bicara. Memandang ke arahku.

”Ada apa, Wil? Apa yang sebenarnya sedang terjadi? Siapa yang melakukan semua ini?”

”Kau tahu kenapa aku ingin mati?” kembali dia mengulang pertanyaan itu.

Aku menggeleng. ”Yang aku tahu, Tuhan hanya menyediakan dua tempat bagi orang yang sudah mati, surga atau neraka. Apakah kau yakin sebuah tempat telah disediakan bagimu di surga?”

Dia tersenyum, ”Tidak ada lagi surga, tidak ada lagi neraka. Yang mati... ya mati begitu saja.”

”Semua orang beragama yakin bahwa surga dan neraka itu memang ada. Bukankah kita menganut keyakinan yang sama?”

Kembali dia tersenyum, ”Tuhan telah mati, jadi mana mungkin lagi ada surga dan neraka?”

Sungguh. Mendengar dia mengatakan ingin mati saja, aku sudah sangat terkejut. Tapi perkataannya barusan membuat diriku lebih terkejut lagi. Apa katanya? Tuhan telah mati? Dia benar-benar sudah gila.

”Kau jangan main-main dengan perkataanmu.”

”Kalau kau dengar ceritaku, pasti kau beranggapan lain. Kau mau duduk lebih lama lagi di sini, di neraka ini?”

Aku hanya mengangguk, penasaran.

***

Dua jam yang lalu aku masih duduk manis di depan televisi di ruang tengah. Waktu baru menunjukkan pukul setengah enam pagi. Memang hanya televisi yang selalu menjadi teman setiaku saat liburan sekolah datang. Apalagi sekarang keadaan di daerahku sangat rawan. Jika tidak ada keperluan yang sangat mendesak sekali, banyak orang lebih memilih mengurung diri di rumah mereka. Sebab tanpa disadari, sebutir peluru panas bisa-bisa saja sudah bersarang di salah satu bagian tubuh.

Aku sendirian di rumah. Papa sejak kemarin tidak pulang, pasti tidur di kantor lagi, seperti biasanya kalau dia banyak pekerjaan. Lalu ponsel di saku celanaku menjerit. Sebuah pesan.

Wilson, come here!

Pesan itu dikirim oleh Christoper. Segera aku menekan beberapa nomor, menelepon. Itu adalah pesan tersingkat yang pernah dikirim Christoper kepadaku.
”Ada apa, Chris?” tanyaku begitu dia menjawab hallo.

”Tuhan telah mati...” hanya itu yang dikatakannya, lalu kemudian dia terisak, handpone dimatikan. Seribu tanda tanya tiba-tiba menyergapku.

Secepat kilat aku segera menyambar remote TV dan mematikannya, tidak peduli film kartun favoritku yang sedang tayang, lalu seperti terbang aku meninggalkan ruangan itu, menuju ke halaman dan segera menghidupkan motor. Dengan kecepatan jauh di atas kecepatan biasa, aku melarikannya menuju rumah Christoper.

Tidak kupikirkan bahaya yang akhir-akhir ini selalu mengintai di kiri dan kanan jalan, terutama di bagian yang di kiri dan kanannya terdapat hutan lebat. Sejak tiga bulan terakhir, daerah ini memang telah menjadi daerah yang menakutkan. Sebutir peluru nyasar bisa-bisa telah bersarang di tubuh. Sejujurnya, itu bukan peluru nyasar, tapi benar-benar sengaja ditembakkan dari kedalaman hutan. Siapa pelakunya? Aku sendiri tidak tahu.

Christoper adalah sahabat terbaik yang pernah kumiliki. Dia seorang pemuda Amerika. Umurnya sebaya denganku. Saat liburan sekolah, dia selalu menghabiskan liburannya di sini. Kedua orang tuanya. Papanya adalah salah seorang yang termasuk ke dalam jajaran direksi pada sebuah perusahaan asing yang cukup terkenal di kota Timika ini. Papaku juga bekerja di sana. Jabatannya satu level di bahwa jabatan papa Christoper.

Kami sudah berkenalan saat aku masih duduk di bangku kelas satu SMP, lima tahun silam. Itulah kedatangan pertamanya ke Indonesia. Pertemuan pertamaku dengannya terjadi saat Papa mengajakku ke rumah Papa Christoper karena ada urusan kantor. Lalu kami pun berkenalan, dia punya seorang adik yang hanya berbeda satu tahun dengannya, Michelle.

Setiap hari aku mengajak Christoper dan Michelle berkeliling, menikmati keindahan alam Timika. Dan sejak perkenalan itu, hampir setiap tahun Christoper dan Michelle selalu datang ke sini, menghabiskan liburan sekolah mereka di pulau cendrawasih. Setiap mereka datang, aku selalu tidur di tempat Christoper, bukan di rumah orang tuanya, tapi di sebuah villa indah di atas sebuah bukit kecil, di salah satu pinggiran hutan kota Timika, Papua. Villa itu memang khusus dibangun untuk tempat Christoper menghabiskan liburan bersama adiknya. Tempatnya asri, jauh dari polusi, jauh dari keramaian. Hanya itu satu-satunya bangunan di situ.

Mataku melotot tidak percaya begitu motor kuparkir. Aku memandang berkeliling. Villa itu telah rata dengan tanah. Tinggal puing-puing hitam yang masih mengepulkan asap. Di halaman villa, beberapa tubuh tampak tergolek tidak bernyawa, bersimbah darah. Luka tembakan, luka pukulan, dan Michelle, pakaiannya robek di sana sini.

Kudekati sesosok tubuh yang tengah terduduk, bersandar pada batang pohon mangga di halaman rumah. Tangan kanan menekan erat dada kirinya, menahan semburan darah dari dadanya yang tertembus peluru. Dia menatap hampa ke depan. Menatap ke arah kepulan asap itu, menatap puing-puing hitam itu, menatap mayat-mayat yang bergelimpangan. Bagaimana perasaannya sekarang? Entahlah. Mungkin sama dengan yang kurasakan. Atau lebih. Mengapa semua ini bisa terjadi?
Kupegang pundaknya. Dia menoleh padaku.

“Tuhan telah mati!” katanya kemudian. Itu juga yang tadi dikatakannya padaku saat aku menelepon.

”Bagaimana kejadiannya?” tanyaku pelan. Ikut duduk di samping Christoper.

Dia menangis. Tidak mengeluarkan suara. Tapi air matanya mengalir. Menahan sakit di dada yang pasti terasa sangat perih.

”Saat itu masih gelap. Kami masih tidur ketika mereka masuk.” Christoper memulai ceritanya. ”Saat mataku terbuka. Kami semua sudah dikumpulkan di ruang keluarga. Tangan dan kaki terikat, mulut disumpal.”

”Siapa mereka?”

Christoper menggeleng. ”Semua tertutup kain hitam, hanya sorot mata penuh kebencian yang mereka perlihatkan pada kami.”

Christoper kemudian diam. Isaknya masih terdengar.

Entah sudah berapa orang yang mati terbunuh akhir-akhir ini, kebanyakan di sergap di tengah jalan. Tidak hanya warga asing, tapi juga penduduk asli pribumi. Apakah orang yang sama yang melakukan ini pada keluarga Chris? Juga pada mamaku sebulan yang lalu?

”Mengapa Wil? Mengapa mereka lakukan ini? Apa salah kami? Apakah karena kami orang Amerika? Lalu kenapa kalau kami orang Amerika?”

Rentetan pertanyaan itu seperti peluru yang ditembakkan tanpa henti, meluncur dari mulut Christoper. Aku hanya diam. Tidak tahu harus menjawab apa. Tapi jawabannya bukan karena Chris orang Ameirka, bukan karena itu. Bukankah mamaku asli pribumi? Dia juga mati ditembak di tengah jalan bersama tiga orang teman-temannya, sewaktu mereka pulang menghadiri arisan ibu-ibu pejabat di lingkungan perusahaan nomor satu di pulau Papua ini.

”Kenapa Wil, memangnya kenapa kalau aku orang Amerika?” Chris berkata lagi. Tiba-tiba aku ingat, di atas mobil yang ditumpangi mama, hanya dia satu-satunya warga pribumi. Apakah mama korban salah tembak? Mungkinkah Chris benar? Karena dia orang Amerika?

Saat itulah, sebuah mobil jeep meluncur cepat dan berhenti di hadapan kami. Lima orang dengan pakaian hitam membungkus seluruh tubuhnya turun. Semuanya memegang senjata. Christoper beringsut mendekatiku. Tapi belum sempat dia bergerak, sebutir peluru menembus kepalanya. Darah muncrat membasahi bajuku. Lalu orang-orang itu saling pandang, mengangguk satu sama lain, lalu masuk ke dalam jeep.

Tak akan kubiarkan. Aku meraung sekuatnya, menghambur mengejar yang berdiri paling dekat denganku. Menarik tubuhnya, dan mendaratkan sebuah tendangan di perutnya. Orang itu terjungkal, secepat kilat aku mengambil senjata yang terlepas dari pegangannya. Tapi aku kalah cepat. Empat orang yang lain sudah mengelilingiku, menodongkan moncong-moncong senapan ke kepalaku.

”Pergilah...” kata salah seorang. Suara itu seperti sangat akrab di telingaku. Aku menoleh padanya. Menatap tajam ke dalam matanya. Tatapan itu sepertinya sudah sangat kukenal. Aku tahu pasti pemilik tatapan itu. Aku mengenalnya. Tapi mengapa?

”Bunuh aku juga!” kataku.

”Pergilah...!” katanya kembali, dengan suara lebih keras.

Aku tetap berdiri, tidak bergeming. Mereka hanya menatapku, lalu sambil tetap mengarahkan moncong senapan ke arahku, mereka masuk ke mobil, pergi begitu saja meninggalkanku.

Aku mendekati Christoper, dia sudah mati.

***

Tubuhku tiba-tiba menggigil saat dia selesai bercerita. Geram sekali. Bagaimana mungkin itu bisa terjadi di negeri yang katanya gema ripah loh jinawi ini?

”Tuhan telah mati! Christoper benar, Tuhan telah mati.” perkataan itu keluar lagi, hanya kata-kata itu yang kudengar dari tadi. Aku ingin mati, Tuhan telah mati, hanya itu yang selalu diucapkannya. Aku tahu, dia sangat terluka, bahkan mungkin lebih dari itu. Tapi pantaskah mengatakan kalau Tuhan telah mati?

Aku sangat bersedia sekali jika dia mau membagi bebannya padaku, aku tidak mungkin membiarkan dia menanggung luka dan beban seberat itu sendirian. Aku ingin membantu. Tapi apa? Aku sungguh tidak tahu harus berbuat apa. Sedari tadi dia selalu mengatakan ingin mati.

Akhir-akhir ini memang sering terjadi kerusuhan di sini, aku tidak hanya mendengar, bahkan juga melihat, begitu banyak pembunuhan keji dilakukan di pulau terujung nusantara ini. Sekitar sebulan yang lalu, aku pernah melihat sebuah mobil dihentikan secara paksa di jalan, lalu tanpa ba bi bu, mereka mulai menembaki, tidak ada yang selamat, ketika aku keluar dari persembunyian dan mendekat, lima orang laki-laki asli pribumi yang ada di atas mobil itu sudah tidak bernyawa lagi.

Aku bisa merasakan kesedihan seperti apa yang kini bersarang di hati pemuda di hadapanku. Christoper adalah sahabatnya, dibunuh dengan keji di hadapannya.
“Tuhan telah mati!” lagi dia berkata. Kali ini dengan diiringi sebuah senyuman, tapi tidak tahu entah ditujukan pada siapa. Senyuman itu sangat sinis, lebih sinis dari tatapan matanya saat kutemui pertama kali tadi.

Hahahahahahah….

Tiba-tiba dia tertawa. Sangat keras. Itulah suara tawa paling keras yang pernah kudengar. Tapi siapapun juga tahu, itu bukan tawa bahagia. Itu tawa putus asa. Ah, baru kini kusadari, tidak semua orang yang tertawa itu sedang bahagia.

”Mengapa mereka tidak mengambil nyawaku juga? Mengapa?”

Suara tawa yang begitu keras dan membahana itu mendadak terhenti, dengan cepat. Dan sungguh, kejadian berikutnya sama sekali di luar dugaanku. Lelaki muda di sampingku menangis. Betul-betul menangis, meraung-raung, lalu terisak, air matanya bercucuran. Aku biarkan saja. Kata orang, tertawa atau menangis keras-keras bisa membuat beban yang kita rasakan sedikit berkurang. Ya, semoga  begitu juga yang terjadi padanya.

“Izrail, ada di mana kau sekarang? Tolong jemput aku...,” lanjutnya di ujung tangis yang sekarang masih menyisakan isak. Dia sama sekali tidak menghapus air mata di wajahnya yang terus jatuh menuruni pipi dan akhirnya lebur di atas pasir.

“Jika Tuhan belum mati, tidak akan ini terjadi,” lanjutnya lagi.

Isaknya kini tidak terdengar lagi. Mata itu kini menatap dengan sendu, sangat pilu. Entah apa yang sedang dipandangnya. Hanya kepulan asap dan puntung-puntung kayu hitam yang sebagian masih menyimpan bara, sebagian sudah padam ditepis gerimis. Tapi bara itu belum apa-apa dibandingkan bara yang kini terpendam di hatinya.

Tiba-tiba tangannya memegang pundakku erat. Bukan memegang, lebih tepatnya, mencengkeram. Mencengkeram erat, seperti elang yang baru saja menyambar seekor anak ayam. Aku menatapnya sambil meringis. Sakit.

Pandangannya sekarang berubah. Mata yang tadi menangis, menatap sangat sendu, sangat pilu, sekarang terlihat sangat mengerikan. Mata itu dipenuhi dendam. Ya. Setan-setan bernama dendam menari-nari di pelupuk matanya.

“Ini ujian.” Akhirnya keluar juga kata-kata itu dari mulutku. Sudah dari tadi aku ingin mengucapkan kata itu. Tapi lidahku terasa kelu.

Kata-kataku ternyata memberi reaksi terhadapnya. Dia melepaskan cengkeraman tangannya, lalu kemudian tertawa. Membahana.

“Hahahahahahaha……”

Dan persis seperti tadi. Suara tawa yang memang bukan tawa bahagia itu tiba-tiba terhenti, sama cepatnya dengan saat dia memu lai tawa itu. Kini suara isak tangisnya kembali terdengar. Dia kembali menangis. Benar-benar menangis. Meraung-raung. Air mata bercucuran menuruni pipinya. Kembali, aku hanya membiarkan saja. Aku masih menunggu saat yang tepat. Saat dimana beban berat dan luka yang menganga itu perlahan meredup, walau tak mungkin akan mati. Ya… tak mungkin luka itu bisa sembuh.

“Tidak! Ini bukan ujian.” Dia membalas ucapanku. Bagus. Walau perkataanku tidak bisa diterima akal sehatnya, setidaknya dia sudah mulai berkomunikasi denganku. “Tuhan telah mati, sehingga membiarkan ini terjadi. Jadi jelas ini bukan ujian. Sungguh, bukan ujian.” Kali ini dia menatapku. Aku membalas tatapan itu, mencoba mengartikan perkataan yang disampaikan lewat matanya. Bagaimana mungkin Tuhan memberikan ujian seperti ini kepadaku? Begitu yang diisyaratkan matanya.

“Tetapi Tuhan memang selalu menguji setiap hambanya, dan kadarnya, berat atau ringannya ujian itu tergantung kepada keimanan orang itu. Yang jelas, hal apapun yang menimpa kita, itu adalah bentuk ujian dari-Nya bagi kita.”

“Tapi mengapa ujian untukku begitu berat? Apakah itu artinya aku mempunyai keimanan yang cukup tinggi?” dia melontarkan pertanyaan itu padaku. Nadanya sangat sinis, “aku saja jarang menghadap-Nya.”

“Tapi Dia selalu memberikan ujian yang dapat dipikul oleh hamba-Nya.” Kataku lagi, mencoba menenangkan hatinya yang sejauh ini masih panas, sangat panas, itu terpancar dari sinar matanya.

“Hahahahhaha………….”

Kembali suara tawa itu terdengar. “Aku dapat memikul semua ini? Hahahahah… kau pikir aku akan bisa melalui semua ini? Kau tahu siapa lelaki yang tadi menyuruhku pergi? Kau tahu lelaki yang menembak kepala Christoper tepat di ubun-ubunnya? Kau tahu mengapa dia tidak menembakku? Karena dia adalah papaku.”

Lalu dia bangkit, berlari sekencangnya meninggalkanku.

”Kau mau ke mana?” kataku.

”Mencari Izrail,” jawabnya sambil terus berlari. Meninggalkan kobaran merah di belakangnya. Meninggalkan mayat Christoper dan orangtuanya. Meninggalkan mayat Michelle yang tadi diperkosa. Dia berlari sekencang yang dia bisa. Tangannya menggenggam belati, hatinya dipenuhi dendam.

Aku berlari mengejar, tiba-tiba kakiku tersandung, aku terjatuh.

Yuk, Jadi ORANGTUA ASUH (OTA) Santri Penghafal Qur'an Askar Kauny! Donasi Rp 150.000,-/bulan. Dapat Majalah Ummi (free ongkir)

Transfer ke Bank Muamalat 335-000-9175 a.n. Yayasan Askar Kauny

Konfirmasi ke 0813 8054 4843 : OTA#Nama#AlamatLengkap#Telp#jumlahtransfer#TanggalTransfer#JamTransfer

Tags:
loading...