Umah Belis*

Fashion-Styles-for-Girls-Online



Penulis: Moh. Romadlon

 

Umah Belis, begitulah orang-orang menyebut rumah megah di ujung kampung itu. Selalu sepi, sangat tak terurus. Tembok-temboknya sudah mengusam dan mengelupas di sana sini. Sekujur atap teras bolong-bolong, berhias jejaring laba-laba. Pada latar luas di balik pagar tembok yang tak tampak bercat lagi, tumbuh macam perdu, ilalang dan tetumbuhan yang sulur-sulurnya merambat di dinding. Tidak ada penerangan sama sekali. Tapi anehnya, beberapa orang mengaku pernah melihat rumah itu tampak benderang, malah ada yang pernah mendengar gelak tawa serupa pesta dari sana. Jelas ini menambah kesan angker. Saking seremnya, jangan kau bayangkan malam, di siang bolong begini saja tidak ada seorang warga pun yang berani mendekat, kalau pun terpaksa harus lewat rumah bertingkat dua itu, mereka akan mengencangkan langkah sambil siap-siap memejam dan berlari sekencang kijang.

Banyak cerita misteri yang meriap dari sana. Barok, tukang bakso keliling dari desa sebelah di suatu pagi terlihat tergeletak di pintu pagar rumah itu sementara gerobaknya jongkok di parit seberang jalan. Tidak tahu, tiba-tiba semua jalan buntu, hampir satu jam aku ternyata putar-putar di latar saja lalu mendadak datang angin kencang menerbangkan gerobak. Setelah itu tak ingat apa-apa, ceritanya setelah dibangunkan oleh seorang warga pencari rumput yang pas lewat situ.

Beda lagi pengalaman Sangkrip. Malam itu, sekitar jam sebelas, istrinya yang hamil tua minta dicarikan dukun bayi. Saking terburunya, dia ambil jalan pintas, melintas depan rumah angker itu. Dengan rasa was-was, dirapalnya semua do'a yang ia bisa, digenjotnya pedal sekuat tenaga. Saking khusuknya, mata sedikit tertutup, hingga tak tahu pedal tersangkut blarak kering yang jatuh melentang jalan, dia pun terjungkal. Dalam keakutan takut, malah pohon beringin besar yang ada di tengah halaman seolah berubah ujud mahluk hitam menjulang, dan akar-akar yang menjuntai tampak bagai seribu tangan siap mencekalnya. Dia melengking, ingin lari sipat kuping, tapi suara tersekap di tenggorokan, dan kaki kuat tertanam sebelum akhirnya ambruk hingga memeluk siang.

Sebenarnya rumah itu tidak kosong, ada seorang wanita berwajah pasi, berambut putih panjang dan berbaju rombeng yang meninggalinya. Nenek sihir, begitu orang menggunjing. Biasanya, walau hanya satu, dua kali seminggu pasti dia keluar rumah, sekedar melongok jalan, keliling latar atau belanja di warung tetangga, tapi selalu ada bisik-bisik, ada lirik benci, ada serapah tumpah dari mulut warga pada tiap tilas langkahnya. Mungkin ini yang membuat  ia lebih dua bulan sudah tak pernah ke luar. Atau, entah kenapa, betul-betul tidak ada yang peduli….

***

Menurut cerita ibu, Juminten anak semata wayang dari pasangan Sastro dan Kedasih. Dia masih berdarah biru, buyut ke 10 dari Panembahan Karya Menggala, sang abdi dalem Kerajaan Mataram. Mereka tinggal di sebuah rumah joglo tua warisan turun-temurun yang terbilang besar dan berhalaman cukup luas.

Mungkin karena masih ningrat, kecantikan Juminten sangat memikat. Sungguh, pesona gadis jawa melekat sempurna di dirinya berpadu dengan gaya gadis pada masanya. Alamak, semua mata selalu bertandang-padang saat dia berjalan. Bukan saja bujang, yang beristri pun masih curi-curi lewat bawah ketiak sang istri.

Maklum, kalau hatinya selalu diburu para bujang dan tempat cemburu para perawan. Sudah tak terhitung lagi bujang bertandang melamar tapi bibit, bebet, bobot selalu jadi sandungan. Melihat Juminten yang sudah beranjak dewasa, teman seusianya pun sudah banyak berkeluarga, sang ibu sedikit kawatir. Belum ada yang sepadan, belum ada yang bisa  meneruskan sejarah trah kita, selalu seputar itu yang jadi alasan ayahnya untuk tidak menggubris cinta para bujang. Sampai akhirnya suatu yang tak pernah diperhitungkan terjadi. Bagai air yang sumbat, cinta ditolak hasrat kian ledak dan mencari cara alir sendiri. Suatu hari, bujang-bujang itu nekat menculik Juminten. Atas nama cinta mereka menerabas norma, melepaskan gelora tanpa mata. Juminten hanya berlinang, menahan sakit yang kepalang. Dia yang biasanya lincah, sekarang selalu mengurung murung di kamar. Melihat kondisi anak gadisnya ditambah berita miring di sekitarnya, kedua orang tua Juminten sakit-sakitan.  Merasa hanya akan jadi tempat serapah dan beban, dengan hanya meninggalkan tilas secarik kertas, tanpa menjelaskan tujuan selain ingin melarung sial ke Jakarta, pagi itu dia pun menghilang ditelan kekecewaan. Orang tuanya yang sudah darah tinggi kontan strok. Dan hanya sebulan keduanya meninggal bergantian.

Tak ada lagi cerita tentang keluarga ini. Semua terkunci rapat di rumah tinggalan mereka sampai suatu pagi. Sebuah sedan mewah masuk ke pekarangan rumah mendiang keluarga Sastro. Narjo yang sedang merumput di situ terpana, seorang wanita modis bergaya metro yang berbalut kain serba mini berwarna darah dengan diiring dua pemuda  keluar dari sedan itu. Sejuta tanya merubung kepala Narjo. Saat sedikit dekat, mata tuanya memicing, seperti pangling dan mulutnya reflek bergumam tebak, Juminten?

“Bella. Juminten sudah mati!” timpal sang wanita itu tanpa ekspresi. Sampai di depan teras, Bella hentikan langkah. Tanpa diperintah, dua pria yang terlihat sebagai pengawal surut menjauh. Hanya Bella yang tahu, saat itu dia sedang tersungkur jauh ke masa lalu, saat sejuta paku mengoyak-ngoyak putik hingga ia tumbuh sebagai bunga yang lepas dari tuas, bebas terbang hingga hempas di dunia cadas, dunia yang tak pernah tergagas.

Narjo yang sudah pergi dari situ sejak tadi, langsung mengajak  warga mengintip pemilik sedan mewah itu. Banyak duga merebak dari mulut mereka. Kalau saja sang wanita yang mengaku Bella sedikit lama, mungkin mereka tidak pangling dengan Juminten sekarang. Sayang, tidak lebih setengah jam, sedan merah itu sudah meninggalkan rumah joglo tua itu.

Sebulan selang dari datangnya sedan merah, rumah yang lama mati itu hidup kembali. Hidup oleh deru mobil-mobil yang datang-pergi, hidup oleh derap para pekerja yang siang-malam meratakannya untuk lalu menumbuhkan kembali. Hanya butuh waktu dua bulan rumah tua itu menjelma diri jadi rumah bertingkat, bertaman sewarna kembang, berpagar beton dan kawat yang julang. Maka, rumah itu layaknya kerajaan dengan putri cantik sebagai ratunya. Begitu  megah, berdiri pongah di kaki-kaki yang berupa rumah-rumah papan. Umah Belis, begitulah warga gampang mengarang sebut untuk rumah yang tak tertakar nalar itu.

***

Sang pemilik, Bella, rajin datang. Kalau dengan mobil mewah, mungkin warga menganggap lumrah. Tapi juga dengan gonta ganti teman pria, menimbulkan setumpuk kasak kusuk, apalagi semua prianya berdasi dan Bella selalu tampak berbusana super seksi. Lama-lama bukan hanya datang, menginap dengan berganti pasangan, Bella yang sudah diyakini warga sebagai Juminten itu hampir tiap bulan dengan puluhan pasangan pria-wanita berpesta di rumah itu. Tidak kenal waktu, hingga hampir subuh  hause musik terus menghentak keras, denting gelas dan botol nyaring, saling menuang mensum  di tiap digit waktu.

Suatu siang, Kepala Kampung tampak gamang memasuki pelataran, tapi permintaan warga untuk mengingatkan Bella membuat ia tetap menegaskan langkahnya.

“Juminten…”

“Bella!” bantahnya.

“Maaf, ee…”

“Sudah, sudah..!” pangkasnya sambil mengambil sebatang lalu dinyalakan. Iya, aku lonte, mau apa? Pernyataan blak-blakan membuat Kepala Kampung kian salah tingkah. Sambil menghisap rokok, menandaskan alkohol dan mengangkat paha, dia meneruskan, “Apa kau mau mengulangi peristiwa sepuluh tahun silam?” Ada belati yang menusuk ulu hati. “Aku tahu semua pelakunya…” Bella membiarkan puntung jatuh di keramik. “Tak apa, terimakasih kau telah mengantarkan aku ke neraka yang bernikmat surga ini.” Tawanya berderai dan berujung lototan mata. “Tapi ingat, jangan sekali-kali mengganggu aku di sini!!”

Sejak itu tidak ada yang berani menyentuh lagi. Pejabat setempat sudah dilipat pake kedip mata dan selipat uang. Sejak itu pula, Bella kian gila, rumahnya jadi sarang prostitusi terbuka. Bujang-bujang pengangguran sekitar banyak yang jadi gundiknya. Perawan-perawan banyak yang dicetak jadi gelas-gelas yang dahaga cinta. Sementara para orang tua, para sesepuh kampung hanya bisa meruntuk, mengutuk, menutup mata-telinga, mengunci pintu-jendela dari aroma udara neraka yang bernikmat surga itu.

Dan, waktu terasa begitu semangat menyulap segalanya, terasa begitu cepat melipat-gelindingkan bola nasib. Belum genap setahun rumah megah itu menemukan degup hidup yang paling mabuk, tiba-tiba saja senyap dan benar-benar sekarat. Semua seperti mimpi, tandas tak bertilas. Seperti mimpi buruk, para warga pun cepat mengelapnya dari ingat, dari semua yang melipat di otak. Seminggu, sebulan dan sampai kini sudah puluhan tahun rumah megah itu beku, terkunci mati oleh sang penghuni. Saat semua melupa, di suatu subuh, seorang tua berwajah rombeng tiba-tiba membuka gerbang dan lenyap di pelataran.

Dan, sejak itu, rumah yang lama sekarat, tak terawat ini, hingga dinding-dindingnya melegam kusan dan atap-atapnya berlubang di sana-sini, walau dengan nyala nyaris redup kini kembali  hidup, kembali melanjutkan kisahnya.

Melihat berpenghuni, para warga kembali membuka lipat ingat, menoleh jejak, menitik yakin, kalau sang penghuni pasti Juminten, atau Bella atau lebih tepatnya -karena rupa, rambut dan pakaiannya- sekarang dipanggil nenek sihir. Sungguh, andai yang muncul hari itu rupa Juminten apalagi Bella bukan nenek tua ringkih, bukan saja serapah, tapi darah pun bisa tumpah. Paling hanya sekali seminggu sang penghuni keluar rumah, sekedar di teras, berputar latar atau ke luar gerbang untuk beli sedikit makanan. Tetap selalu ada tatap laknat, ada tetumpah serapah pada tiap langkahnya.

Dan, sudah dua bulan lebih sang nenek sihir itu tak lagi ke luar. Apa pergi, apa sakit atau malah sudah mati, warga sama sekali tak pernah peduli ini.

Kau tau, aku hanyalah anak dari pohon beringin besar di tengah latar rumah megah ini. Dan seandainya aku tidak nyasar, tumbuh di sela bata pondasi, seperti lainnya, aku tak tahu, tapi sungguh, untung aku tahu ini. Tubuhku terus meninggi hingga ujung-ujung daunku tak terasa sudah mencapai sedikit di bawah jendela boven yang tak lagi berkaca. Selama ini yang tercium hanya debu, bau tanah lembab dan lumut-lumut, tapi tidak pada udara arah jendela. Aku penasaran. Kujinjit-jinjitkan, kulongok-longokkan ujung-ujung daun sampai akhirnya rubai-rubai tubuhku mampu meraih bibir boven. Saat daunku sempurna melongok, aku tercekat, bau harum menusuk. Mataku membelalak. Kalau tak ingat aku hanya sebuah pohon, pasti spontan mataku rapat memejam lalu lari secepat kijang. Untuk lebih dekat, aku jatuhkan dua daunku. Bau wangi menusuk pori-pori dan, subhanalloh, sosok bermori itu tak lain tubuh sang nenek yang sedang sujud dengan berbalut mukena. Aku gigil. Dan, sebulan sebelum ini, dari kamar ini memang selalu terdengar gema takbir mengalir di sela rintih tangis. Dan, baru aku yakin, tangis itu bukan dari bibir Juminten, bukan dari Bella atau nenek sihir tapi tetangis dari nurani seorang hamba pendosa yang ingin kembali pada-Nya.

Kaligawe, 20 Romadlon 1433

 



*Umah Belis = Rumah Iblis (jawa)

Yuk, Jadi ORANGTUA ASUH (OTA) Santri Penghafal Qur'an Askar Kauny! Donasi Rp 150.000,-/bulan. Dapat Majalah Ummi (free ongkir)

Transfer ke Bank Muamalat 335-000-9175 a.n. Yayasan Askar Kauny

Konfirmasi ke 0813 8054 4843 : OTA#Nama#AlamatLengkap#Telp#jumlahtransfer#TanggalTransfer#JamTransfer

Tags:
loading...