URAT MALU

Fashion-Styles-for-Girls-Online

 Penulis: Riki Eka Putra

 

 Sumpah serapah mengalir deras dari mulut orang-orang yang datang. Di sudut rumah, Mardiah duduk meringkuk. Tak ubahnya seekor anjing kurap yang tertangkap basah mencuri tulang.

“Kau telah membuat aib dalam suku kita. Dasar perempuan jalang...!” bentak mak Leman dari pintu rumah. Ia turut datang setelah diberitahu oleh orang-orang kampung. Sebagai pemangku adat yang terpandang, kehormatannya kian terinjak-injak. Karena untuk kesekian kali cucu kemenakannya melakukan perbuatan terkutuk itu.

“Dasar tak tau malu. Akui saja siapa lelaki hidung belang itu! Jangan-jangan... Si Buyung Hitam beristri empat dari desa sebelah yang melakukannya?” tuding tek Yusna. Tangan perempuan bertubuh gemuk itu terkepal dan matanya melotot merah. Ingin rasanya ia lemparkan benda apa saja ke arah perempuan yang mematung di hadapannya.

Malam beranjak larut. Satu persatu orang kampung beranjak pulang. Rasa marah dan benci, berkecamuk dalam pikiran masing-masing. Rumah tua yang tadinya ramai, kembali sunyi senyap seperti sedia kala. Tinggallah Mardiah berdiri di pintu kamarnya. Tubuhnya bergetar menahan isak tangis. Hatinya teramat pedih saat caci maki dilemparkan ke tubuhnya. Dengan perasaan tak menentu, perempuan muda itu mencoba merebahkan diri. Meski sampai azan Subuh, sepicing pun ia tak dapat memejamkan mata.

* * *

“Untuk kesekian kalinya, seorang anak haram akan lahir di kampung kita,” kata tek Baidar kepada orang-orang upahan yang sedang bekerja di sawahnya.

“Sepertinya itu tak lagi jadi hal yang memalukan. Tengok saja Mariana, anak tertua pak Ali Nurdin. Dua kali sudah ia beranak tanpa jelas siapa gerangan suaminya. Begitu pula dengan Laila yang tinggal di ujung kampung. Beberapa bulan lalu ia juga melahirkan anak haram yang ia bawa dari rantau sana. Urat malu telah putus agaknya dalam tubuh mereka. Hingga merasa biasa saja melakukan perbuatan zina itu,” balas tek Linar yang setiap hari bekerja ke sawah orang.

“Seolah-olah rasa malu itu telah tertutupi dengan hanya membayar denda adat yang dijatuhkan kepada mereka. Sementara itu, Mardiah terlalu miskin untuk dapat berbuat demikian,” lanjut tek Linar lagi sambil menyeka peluh yang bercucuran di wajahnya.

Di tengah sengatan cahaya matahari, perempuan-perempuan itu tak henti membicarakan aib yang untuk kesekian kalinya terjadi di kampung mereka.

Di rumahnya, Mardiah hanya bisa menangis sepanjang hari. Makan pun ia tak ada selera lagi. Malu teramat sangat senantiasa menghantui dinding hatinya. Ingin ia bunuh diri saja, disebabkan tak kuat menanggung segala cemoohan orang-orang kampung. Lebih baik rasanya mati berkalang tanah, dari pada hidup memikul segunung rasa malu. Namun, ditahannya jua segala bisikan syetan. Seberat apapun cobaan, hidup harus tetap dilanjutkan.

Semenjak kedua orang tuanya meninggal dunia, Mardiah tinggal dengan Marzuki, adik lelaki amaknya yang paling bungsu. Tetapi mamaknya itu bukannya melindungi Mardiah dari segala fitnahan, malah semakin membuat dirinya terpuruk. Mamaknya hanya memikirkan rasa malu terhadap adat, malu memiliki kemenakan yang hamil di luar nikah dan menjadi bahan gunjingan warga. Marzuki sama sekali tak memikirkan bagaimana hancurnya perasaan kemenakannya itu.

Di semua tempat, ia selalu membicarakan kejadian bejat yang menimpa Mardiah. Seakan tak ada lagi keburukan kemenakannya itu yang patut ia sembunyikan.

“Saya teramat malu dan tak tahu lagi hendak diletakkan dimana muka ini,” katanya kepada semua orang yang bertanya tentang perkara yang menimpa kemenakannya.

“Tak perlulah engkau merasa malu betul. Bukankah banyak juga perempuan lain di kampung ini yang berbuat demikian,” balas Asnil, preman kampung yang sepanjang hari kerjanya juga duduk di kedai-kedai kopi.

“Bagaimana saya tak malu. Di warung-warung, di tepian mandi, di jalanan, dan di setiap sudut kampung ini, semua orang tak henti membicarakan kelakuan Mardiah, tapi sampai kini ia masih tak mau pula mengakui siapa ayah anak di kandungannya itu,” kata Marzuki lagi.

“Besar kemungkinan ia takut menjadi bulan-bulanan keempat istri Buyung Hitam! Mau kuremukkan saja batang leher orang tu kalau memang benar dia pelakunya!” Sambungnya dengan geram.

Terkadang, timbul keinginan Marzuki untuk menebus malu dengan cara membayar denda adat. Namun, entah dengan uang siapa ia dapat membeli seekor kerbau yang akan disembelih, lalu dihidangkan kepada setiap orang kampung.

Menyuruh Mardiah bertaubat tak pernah terlintas dalam pikiran Marzuki. Satu hal yang ia cemaskan, dengan apa malu kepada orang kampung yang teramat sangat hendak ditebus, agar keberadaannya tetap dihormati. Meskipun hanya seorang preman kampung, ia tak sudi dikucilkan dan dianggap terbuang dari adat.

* * *

Mulut orang-orang kampung seolah tak mengenal rasa lelah. Setiap saat, dan tempat, mereka terus mempergunjingkan kejadian bejat yang menimpa Mardiah. Malahan, sebagian dari mereka semakin menyebarluaskan isu bahwa ayah dari janin dalam kandungan perempuan itu benar si Buyung Hitam. Laki-laki itu berasal dari kampung sebelah dan sudah memiliki empat istri. Beberapa bulan terakhir ia bekerja memperbaiki rumah pak Sanusi dan setiap hari selalu berjumpa dengan Mardiah yang menjadi buruh cuci di sana.

Termakan kabar angin yang kian tersebar luas, beberapa orang preman kampung segera mencari lelaki yang dimaksud. Selepas sholat Isya, Buyung Hitam yang bertubuh kecil itu dibawa paksa dari rumah istri pertamanya. Kata-kata kasar pun tak lupa dihadiahkan kepadanya, karena tetap bersikeras tak mau mengakui perbuatannya.

“Kau harus mempertanggungjawabkan segala perbuatanmu,” hardik salah seorang preman yang ikut serta menyeretnya.

“Bukan saya yang melakukan semua itu,” kilah Buyung Hitam, mukanya pucat pasi karena takut akan dipukuli orang-orang sekampung.

“Kau tak perlu bersilat lidah lagi!” bentak Marzuki yang juga ikut menggelandang laki-laki malang itu.

Ia berusaha menghakimi Buyung Hitam, laki-laki yang telah merusak harga dirinya di mata orang-orang kampung. Kalaulah tak dilerai oleh kawan-kawannya yang lain, tentu tak bernyawa lagi agaknya laki-laki itu di tangannya. Dengan tubuh kekar, tidaklah susah betul bagi Marzuki mematahkan batang leher Buyung Hitam yang kurus kering itu.

Di depan orang-orang yang terus menanyainya, Buyung Hitam tetap bersikukuh tak pernah melakukan semua tuduhan yang dialamatkan kepadanya. Ia bersumpah demi Tuhan, tak pernah berbuat sebejat yang disangkakan. Lagipula.. Mardiah pun masih tak mau buka mulut tentang ayah anaknya. Akhirnya, karena telah larut malam, Buyung Hitam terpaksa dibiarkan pulang kembali ke rumahnya.

* * *

Putaran waktu tak kuasa untuk dilerai. Kandungan Mardiah kian hari kian membesar. Perempuan yang dipergunjingkan orang tiap saat di semua sudut kampung itu terlihat mulai jarang berada di luar rumah. Pikirannya lelah setiap kali ditanya oleh orang-orang tentang siapa ayah bayi dalam kandungannya.

Ia letih mendengar ragam hinaan dan celaan. Ia hanya mampu berserah diri pada Tuhan. Setiap selesai sembahyang, ia sering menangis lirih dan memohon ampun atas segala kejadian hina yang telah meruntuhkan harga dirinya. Mengatakan siapa ayah dari janin yang ia kandung kepada orang-orang kampung juga tak kunjung kuasa ia lakukan. Berulang kali nama jahanam itu telah sampai di tenggorokannya, namun berulang kali pula seakan tersekat dan tak pernah mampu keluar dari mulutnya.

Hari berganti hari, minggu berganti minggu dan kandungan Mardiah pun telah menginjak usia sembilan bulan. Di suatu pagi buta, sesaat sebelum azan Subuh berkumandang, terdengar suara jeritan minta tolong dari rumah perempuan malang itu. Tetangga sekitar rumah segera berdatangan memberikan bantuan, ketika mengetahui ia hendak melahirkan. Tek Linar bergegas memanggil bidan desa. Berkat bantuan bidan, persalinan dapat berlangsung dengan lancar. Bayi perempuan itu begitu cantik seperti ibunya.

“Dimana mamakmu, belumkah ia pulang sepagi ini?” tanya tek Yusna heran.

Mardiah yang kelelahan hanya menggeleng lemah.

Semua yang ada di rumah itu memandang iba ke arah Mardiah. Rasa kasihan menyelinap di hati masing-masing. Tanpa suami yang jelas, dengan apa gerangan akan ia besarkan anak yang baru lahir dari rahimnya. Orang tuanya telah tiada, sanak saudara pun telah menaruh benci kepadanya.

“Cepatlah beritahu siapa ayah bayi ini?” tanya tek Yusna lagi. Bayi yang masih merah berada dalam pangkuannya. Orang-orang yang berdatangan turut mendesak Mardiah agar mau memberitahu siapa sesungguhnya ayah dari bayi yang baru lahir itu. Meski terus dipaksa, Mardiah hanya diam terpaku dan menatap kosong ke arah langit-langit kamar.

“Beritahukan kepada kami, benarkah Buyung Hitam yang melakukannya? Kau tahu... mamakmu sudah sejak dulu bernafsu untuk membunuhnya,” desak tek Yusna lagi. Ia tak habis pikir, kenapa perempuan itu selalu menutupi kejadian tersebut.

Mardiah yang tergolek letih di atas tempat tidur berusaha untuk menguatkan hatinya. Ia tersenyum pahit, sepahit nama busuk yang sudah lama ingin ia muntahkan. Nama itu telah menusuk seluruh sudut jantungnya selama ini. Mungkin sekaranglah waktu yang tepat untuk ia benamkan nama jahannam itu ke dalam hati semua orang yang ada di rumah itu. Orang-orang yang tak henti mengatakan bahwa ia adalah wanita jalang, tak punya rasa malu, bejat dan berjuta kata nista lainnya.

“Ayah anak ini…,” seketika tenggorokannya terasa sakit dan perih seolah tertusuk sembilu tajam. Ia buang mukanya ke arah dinding kamar dan tak mau menatap wajah-wajah orang yang terus memohon penjelasan darinya. Dadanya terasa sesak, kepalanya sakit mengenang kejadian hina yang telah merenggut kehormatannya sebagai wanita. Jahanam itu telah menghancurkan seluruh hidupnya.

“Siapa ayah anak ini, siapa….?” desak mak Leman yang berdiri di pintu kamar. Ia terlihat tak memiliki kesabaran lagi menunggu jawaban dari perempuan itu.

“Hm….., Mak Marzuki…,” jawab Mardiah lemah dan untuk kesekian kali air mata bening kembali mengalir deras di pipinya yang putih.

Semua orang yang ada di rumah tua itu terpekik dan menjerit. Sumpah serapah dan caci maki kembali berhamburan dari mulut mereka.

 

Padang Panjang, Januari 2012

 

Riki Eka Putra. Seorang penulis dan editor. Beberapa buah cerpen, puisi dan artikel beliau telah dimuat di media lokal dan nasional. Bergiat di sanggar sastra “Rahmah Muda”, Perguruan Diniyyah Puteri Padang Panjang, Sumatera Barat.

 

 

 

Yuk, Jadi ORANGTUA ASUH (OTA) Santri Penghafal Qur'an Askar Kauny! Donasi Rp 150.000,-/bulan. Dapat Majalah Ummi (free ongkir)

Transfer ke Bank Muamalat 335-000-9175 a.n. Yayasan Askar Kauny

Konfirmasi ke 0813 8054 4843 : OTA#Nama#AlamatLengkap#Telp#jumlahtransfer#TanggalTransfer#JamTransfer

Tags:
loading...