Wajah Penipu

Fashion-Styles-for-Girls-Online

Penulis: Abdi Putra Siregar

Gelap belum berganti sepenuhnya dengan terang. Kabut putih mengawang rendah. Udara di luar aku yakin sangat dingin.  Gemuruhnya mendesau pelan di telinga. Pelan sekali. Beberapa jenak kemudian angin dingin itu menjalar ke seisi ruang kamarku, hingga ke sudut-sudut ruangan itu. Mengelus-elus tubuhku. Tapi aku bergeming. Diam terpaku memandang keluar melalui jendela yang kubuka lebar-lebar. Mataku menerawang menatap langit yang masih terang tanah.

Assalammualaikum, bang! Boleh Arif masuk?” suara Arif, adik kosku, menyadarkanku. Melesat, aku bergegas membuka pintu dari triplek itu. Suara deritannya mengalun nada yang memilu.

“Masuklah,” pintaku. Ia masuk dengan wajah muram.

“Ada apa, Rif?” tanyaku.

“Bang, Arif mau minta tolong,” todongnya tanpa basa-basi.

“Minta tolong jangan kesini, ke kantor polisi! " jawabku sambil tersenyum canda.

“Bang, Arif serius. Arif pinjam duit Abang,” ujarnya pelan.

“Buat apa?” tanyaku penasaran.

“Untuk biaya tambahan obat Ayah,” ucapnya  sambil menunduk kepala.

Aku tersentuh, kutatap wajahnya yang menyirat sedih.

“Berapa, Rif?” tanyaku lagi.

“Seratus ribu, Bang,” jawabnya pelan.

Aku segera membuka lemari. Kuambil dompet di dalam laci. Kuberikan lembar seratus ribu untuknya. Ia menerima uang itu penuh suka cita.

“Makasih ya, Bang,” katanya.

Aku mengangguk. Sejenak kami terdiam. Aku tak punya uang lagi sekarang. Tapi tak mengapa, toh besok aku gajian.
“Kalau Abang boleh, tahu ayahmu sakit apa?” tanyaku penasaran.

“Ginjal, Bang.”

Kulihat mendung menggantung di dusut matanya. Aku terperangah.

“Sabar ya, Dik, Allah punya rencana indah buat kalian sekeluarga,” nasihatku.

“Insya Allah, Bang. Hanya dengan sabar kami mampu bertahan. Kalaupun harus marah, kecewa, sedih, kepada siapa? Kepada Tuhan? Tuhan tak salah apa-apa. Benar kan, Bang?” ucapnya penuh ketabahan.

“Kalau kamu perlu apa-apa, bilang saja. Kalau Abang bisa bantu, insya Allah Abang akan membantumu.”

“Iya, Bang. Arif ke kamar dulu ya, ada tugas yang harus Arif kerjakan,” ucapnya sambil berlalu.

“Oh ya, Bang, dua minggu lagi aku akan mengganti uang ini,” katanya dari balik pintu kamar.

Dalam hati, sebenarnya aku mengikhlaskan uang itu. Tak mengharap ia menggantinya. Aku hanya mengharapkan ridha-Nya. Bukankah Allah akan membantu hamba-Nya, apabila hamba tersebut senantiasa meringankan beban saudaranya yang sedang membutuhkan pertolongan. Aku bergumam dalam hati.

***

Perbincanganku dengan Arif meninggalkan segores perih di hatiku, mengingatkanku pada masa-masa sulit dua tahun silam.

“Dika, kamu harus pulang, Nak, ayahmu sakit keras,” ucap mamaku di balik telepon.

“Ayah kenapa, Ma?”

“Pulanglah dulu. Ayahmu meminta kalian untuk berkumpul!" ucap Mama sambil mengisak sedih.

Hari itu juga aku pulang. Perasaanku saat itu sungguh tak enak. Dalam perjalanan aku gelisah. Sampai akhirnya kegelisahanku benar-benar hilang berganti kesedihan ketika adikku menelepon dan mengabarkan Ayah telah meninggal akibat serangan jantung. Kudengar isak tangis adikku saat itu. Dan aku, seperti hampir mati berdiri. Seperti tak menginjak bumi. Kucoba menabah-nabahkan hatiku.

“Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun,” ucapku dengan air mata berlinang.

Tak bisa kuceritakan bagaimana remuk redamnya hatiku. Sejak meninggalnya ayah hidupku berubah. Berbalik arah seratus delapan puluh derajat,  walau begitu aku tak putus asa. Aku tengah berada di semester 6 saat itu. Dengan usaha berliku-liku, agar bisa menyelesaikan kuliah. Aku bekerja paruh waktu. Pulang kuliah aku bekerja di warung bakso Mas Samto yang laris manis. Kontan saja teman-temanku terkejut. Mereka tak percaya aku mau melakukan itu. Jujur, saat itu sebenarnya aku terpaksa melakukannya sebab warung itu adalah salah satu tempat favoritku dan teman-teman. Tapi aku mencoba melawan gengsi. Dalam benakku, aku harus segera menyelesaikan kuliah tanpa harus menyusahkan Mama.

Mama hanyalah seorang perempuan biasa, seperti wanita kebanyakan, hanya seorang ibu rumah tangga. Laptop, sepeda motor, handpone, semua raib. Kujual untuk membantu Mama dan sekolah adikku. Itulah mengapa aku bisa merasakan pilu hati yang dialami Arif.

Sejak kepergian Papa pula Mama yang senantiasa modis dengan jilbabnya sontak berubah. Entah terpukul atau tersadar, beliau tidak punya suami lagi. Mama tak lagi suka berdandan berlebihan. Sedang adikku harus rela ke sekolah naik sepeda. Aku sempat protes pada Allah. Aku marah, mengapa Dia begitu kejam pada keluargaku? Sampai akhirnya tersibak setitik. Begitu mudahnya hidup menusia berputar, kadang di atas kadang di bawah. Memberiku pelajaran moral ; manusia tak sedikit pun layak untuk menyombongkan diri.

Tapi kini semua itu telah berlalu. Alhamdulillah sekarang aku telah bekerja di sebuah perusahaan komunikasi dan mampu membiayai hidup Mama dan adik semata wayangku.

Setelah kepergian Ayah, otomatis aku bertanggung jawab terhadap Mama dan adikku. Dengan gaji yang kupikir cukup besar, aku harus membagi antara keperluan pribadi, keperluan adik semata wayangku dan kebutuhan mamaku tersayang. Belum lagi impianku untuk segera menikah.

***

“Bang, pokoknya uang jajan Nurul harus ditambah. Sekarang semuanya mahal. Belum lagi uang kontrakan kos setiap bulan, buku kuliah, biaya makan. Uang tujuh ratus ribu yang Abang kasih. Mana cukup?” gerutu Nurul kepadaku.

“Abang ngerti, Rul, tapi bulan ini Abang banyak pengeluaran. Insya Allah bulan depan abang tambah. Seratus ribu cukup?" jelasku padanya.

“Mana cukup, Bang? Satu juta sebulan!" pintanya menekan, tak memberiku pilihan.

“Apa, satu  juta?!” ucapku dalam hati. Aku sedikit terkejut. Kulihat ekspresi wajah adikku ini. Bibirnya manyun. Ah, bagaimanapun dia adalah adikku, kepada siapa lagi ia harus meminta. Selain kepadaku, abangnya sekaligus pengganti Ayah. Lalu akupun mengiyakan permintaannya.

***

TOK! TOK! TOK!

Seseorang mengetuk pintu kamarku.

“Ucap salam dulu sebelum masuk!” kataku yang saat itu sedang asyik berkutat dengan laporan kantor yang harus aku kerjakan.

“Assalammualaikum,” ucap suara berat yang cukup aku kenal. Itu suara Arif.

“Waalaikusalam. Masuk, Rif, pintunya tidak dikunci," pintaku dari bilik kamar.

“Maaf, Bang, Arif menggangu,” basa-basinya.

“Tidak apa-apa,” jawabku enteng sambil menekuni baris demi baris huruf di layar laptopku.

“Ada apa, Rif?” aku bertanya tanpa menoleh wajahnya.

“Anu, Bang, A..arif mau pinjam uang lagi,” jawabnya malu-malu.

“Loh, kemarin yang baru Abang kasih, sudah habis ?" tanyaku, kali ini kuarahkan wajahku menatap wajahnya.

“Sudah, Bang, bayar buku.”

Kutatap wajahnya agak lama. Wajah itu polos sekali. Ia merunduk. Ah, aku teringat tentang pahit hidup anak ini. Tanpa bertanya lagi, aku melesat ringan mengambil dompet. Kusodorkan uang lima puluh ribu kepadanya. Dia mengambil malu-malu. Aku ingat selama dua minggu ini sudah 3 kali dia meminjam uangku. Sekali untuk pengobatan ayahnya (yang ini tak kuhitung sebagai pinjaman), kedua untuk bayar buku kuliah, yang terakhir aku lupa entah untuk apa.

“Makasih ya, Bang,” ucapnya  riang kemudian beranjak pergi.

Aku melanjutkan pekerjaanku. Malam mulai mengelam larut. Sesekali aku menguap. Kantuk mulai menyerangku, tapi mengingat laporan ini harus segera diserahkan besok pagi kepada direktur utama, aku memaksakan mataku yang semakin lama kurasakan semakin meredup pelan. Aku terus awas berjaga, hingga akhirnya aku tak tahan juga. Kuhentikan pekerjaanku ini. Kutekan turn off laptop. Kubereskan berkas-berkas yang berserakan di kamar. Kantukku sudah tak mampu kubendung, tapi tiba-tiba mendadak hilang ketika mataku menangkap sebuah benda asing bukan  milikku tapi berada di kamarku. Sebuah dompet. Tapi dompet siapa? tanyaku dalam hati.

Kutimang-timang dompet berwarna merah jambu ini. Aku bingung, mau diapakan dompet ini. Hingga akhirnya kuputuskan untuk membukanya. Dengan tujuan ingin memeriksa identitas atau tanda pengenal lain pemilik dompet ini. Kuselidiki setiap ruang dalam dompet merah jambu itu. Di dalamnya ada sejumlah uang yang tidak sedikit. Aku terperangah.

Hatiku bertanya-tanya. Bagaimana mungkin ada dompet nyasar ke kamarku. Aku semakin penasaran. Tanganku menjelajah bahkan mengobrak-abrik isi dompet tersebut. Ada banyak kartu di sana. Entah kartu apa saja. Tak kupedulikan, yang terpenting aku harus segera menemukan kartu pengenal pemilik dompet ini. Dan  nama itu. NURUL MAULIDAH. Mataku terperanjat. Nama itu persis seperti nama adikku.

Penasaran. Aku mencari tanda pengenal lainnya. Kutemukan sebuah KTP. Kupastikan ini dompet adikku. Aku bingung, mengapa bisa sampai ke sini? Aku menyusun ulang semua kartu yang dikeluarkan dengan tertib. Rapi seperti sedia kala. Tapi mataku kembali menemukan selembar kertas tebal dengan ukuran dompet berwarna pink itu. Kupastikan ini foto. Tapi mengapa dibalik? pikirku . Dengan sedikit penasaran kuambil foto itu. Seketika mataku jadi mengantuk kini membelalak semakin melebar. Seseorang tengah bersama Nurul dalam foto itu di bawah temaram cahaya lampu yang sedikit redup. Aku terperangah, pemuda itu adalah Arif!

TOK! TOK! TOK!

Pintu kamarku kembali diketuk.

“Masuk!” ucapku.

Pintu terkuak.

“Bang, Abang ada lihat dompet?" tanyanya dengan suara dan wajah yang takut.

“Ini,” ucapku sambil menyodorkan dompet itu.

“Iya, Bang. Duh, untung tidak hilang. Makasih, Bang,” ujarnya lega.

Arif kembali menutup pintu kamarku. Emosiku bercampur aduk. Aku ingin tahu ada apa sebenarnya. Apa hubungan antara adikku Nurul dengan Arif. Semuanya akan aku selidiki.

***

Pagi menyeruak indah, dingin masih merayap. Hari ini setelah mengantar laporan aku izin untuk ke luar sebentar. Tujuanku ke kampus Arif untuk mengikuti aktivitas harian anak itu. Pekerjaanku kali ini persis seperti tayangan investigasi. Semacam realityshow yang sering ditayangkan oleh hampir seluruh channel teve. Rencanaku pasti. Aku akan menguak misteri ini.

Skenario telah kususun. Aku menawarkan Arif untuk berangkat bersama. Kebetulan kantorku searah dengan kampusnya. Ia menyetujui. Tanpa sadar dia telah masuk perangkapku. Dalam perjalanan aku menanyainya.

“Oh ya, Dik, jam berapa nanti kamu pulang”? tanyaku tanpa nada yang mencurigakannya.

“Jam satu, Bang,” jawabnya.

Setelah sampai didepan kampusnya. Aku mengebut laju motorku menuju kantorku. Rasa penasaran semakin berdebam-debam dalam hati.

***

Jam sebelas aku sudah kembali ke kampus Arif setelah izin dengan alasan ada urusan mendadak. Untung manajerku tidak bertanya ini itu. Aku duduk di sebuah kafe kecil depan kampus. Dengan sabar menunggu sosok yang kunanti. Tiba-tiba aku terperangah. Sosok yang amat sangat kukenal tengah berjalan menunduk dihadapanku. “Nurul...”gumamku.
Untuk apa dia ke mari? Bukankan ini jam belajar, seharusnya ia berada dikampusnya sekarang. Segera kuhubungi hapenya.

“Assalammualaikum,” sapaku.

“bla…bla…”

“Di mana, Rul?” tanyaku.

“bla…bla…”

Aku terkejut, terbukti ia berbohong. Dari hapenya dia bilang dia sedang di rumah temannya. Diskusi kelompok. Bohong. Sejak kapan adikku jadi pembohong? Aku semakin penasaran, ingin tahu permainan selanjutnya.

Setengah jam kemudian.

Mataku menangkap kembali dua sosok yang amat sangat akrab di retinaku. Mereka berjalan beriringan. Dan, astagfirullah, keduanya bergandengan tangan. Ingin segera kutarik adikku itu. Buat malu saja! Tapi kutahan, sebab aku masih penasaran. Ke mana mereka akan pergi? Jawaban atas penasaranku mulai tersingkap sedikit.

***

“Jadi seperti ini, minta tambahan uang, buat hura-hura, bolos kuliah, makan ditempat-tempat mahal!” ucapku keras kepada Nurul dan Arif yang saat itu terperangkap olehku sedang asyik menyantap menu hebat di sebuah restoran siap saji mall mewah.

“Bang Dika!” Keduanya terperangah. Spontan bersamaan menyebut namaku.

“Nurul, pulang!” bentakku. Aku merasa seluruh orang menatap kami bertiga.

“Arif, kamu ikut saya!” ucapku lantang.

Keduanya ketakutan. Adikku Nurul terus menunduk malu. Kusuruh ia pulang. Sedang Arif segera kugelandang untuk kuinterogasi. Dan Nurul, perbuatannya kali ini akan aku laporkan pada Mama.

“Abang tidak menyangka dengan apa yang telah kamu lakukan,” ucapku pada Arif ketika sampai di kamar kos.

“Maaf, Bang, Arif tidak tahu kalau Nurul adalah adik Abang...”

"Sudah berapa lama kau berhubungan dengan Nurul?" tanyaku membentak.

Ia terkejut dengan pertanyaanku. Diam tak menjawab. Ia bahkan tak bergeming, wajahnya menunduk dalam.

“Dan dompet itu, mengapa ada padamu? Jawab!" ucapku lebih kuat.

Dia gugup dan tetap diam.

Tiba-tiba hapenya berteriak. Sebuah panggilan masuk. Ia melihat layar hapenya. Ia menatapku. Hape itu terus berteriak.

“Maaf, Bang, ada panggilan...” ucapnya pelan.

Aku membiarkannya pergi, kekhawatiran muncul dalam diriku. Jangan-jangan yang menelepon adalah Nurul, pikirku. Lalu diam-diam aku mengikuti, mencoba memastikan kalau itu bukan adikku. Aku mencuri dengar isi pembicaraan. Tiba-tiba terdengar dari luar, sebuah salam sedikit kuat.

“Assalammualaikum”.

“Waalaikusalam,” jawabku dari dalam.

Aku melesat menuju arah suara. Seorang pria paroh baya berpakaian rapi dengan senyum tersungging menjabat tanganku.

“Silakan masuk, Pak,” sapaku hangat.

“Terima kasih,” balasnya.

“Oh ya, nak, Arifnya ada ?" tanyanya.

“Ada, Pak, sebentar akan saya panggilkan.” Aku membalik badan,

“Tapi kalau boleh tahu bapak ini siapa ?” tanyaku sebelum memanggil Arif.

“Oh iya,  saya lupa mengenalkan diri. Saya ayahnya,” jawabnya pelan sambil tersenyum.

“A..a..ayahnya?” ulangku gugup.

Seketika dunia seperti berhenti berputar. Memutar ulang waktu mengorek ingatanku. Bukankah Arif mengatakan ayahnya sedang sakit parah? Apa sekarang sudah sembuh.

“Sudah sembuh, Pak?”tanyaku penasaran.

“Sembuh?” Bapak itu terheran-heran dengan pertanyaanku.

“Saya sehat-sehat saja,” jawabnya semangat.

Ya Allah, aku merasa palu godam sedang dihentakkan ke kepalaku. Aku telah ditipu mentah-mentah oleh orang yang sudah kuanggap adikku sendiri, orang yang telah kupercaya. Penipu itu berwajah polos.

Medan, akhir tahun 2009
Teruntuk seluruh saudaraku    

Yuk, Jadi ORANGTUA ASUH (OTA) Santri Penghafal Qur'an Askar Kauny! Donasi Rp 150.000,-/bulan. Dapat Majalah Ummi (free ongkir)

Transfer ke Bank Muamalat 335-000-9175 a.n. Yayasan Askar Kauny

Konfirmasi ke 0813 8054 4843 : OTA#Nama#AlamatLengkap#Telp#jumlahtransfer#TanggalTransfer#JamTransfer

Tags:
loading...