Wewe Gombel

Fashion-Styles-for-Girls-Online

Penulis: R.A Dian

Pagi yang damai. Alam dusun Gunung Limo tampak membisu, bak keheningan tapa brata para “pintar” yang telah tersebar di seluruh desa itu.

Ya, Pacitan, terutama di daerah Gunung Limo ini memang terkenal dengan dukun-dukun saktinya tempat para artis dan eksekutif ternama tak pernah absen sowan kepada mereka.

Kehidupan klenik seperti selayaknya udara yang kerap dihirup dan dikeluarkan oleh paru-paru penduduk Gunung Limo ini. Banyak tempat masih dianggap wingit, angker, dan keramat. Apalagi pas malam Jumat Kliwon dan Selasa Kliwon, tempat itu menjadi seperti magnet. Menyedot para pemburu wangsit.

Banyak goa digunakan untuk menyepi, pohon-pohon tua dan batu-batu besar yang dipuja-puja, sendang atau pertemuan dua arus sungai yang sering digunakan untuk laku kungkum. Sampai-sampai tanah di sana pun beraroma kemenyan atau sekar setaman. Beginilah alam Gunung Limo. Tak peduli siang jua malam, tua muda, tiap pintu nyaris tersugesti terhadap keyakinan adanya Sang Hambaureksa atau roh penunggu.

Akan tetapi ada satu rumah yang mempunyai nuansa lain, yakni rumah Ustadz Joko, yang tak ada satu pun perangkat sesaji dan benda-benda boleh dikeramatkan, kecuali buku tebal tampak terawat/terjaga sedang ditempatkan pada rak khusus. Nuansa ini asing untuk kalangan Gunung Limo.

Rumah itu berpenghuni empat orang. Adalah Ustadz Joko dan istrinya, Mbah Marto sang mertua serta Zaki, si anak tunggal yang kelihatan sangat cerdas dan masih polos.

Pagi itu Zaki sedang sendiri, bersandar di bawah pohon sawo sembari membuat wayang-wayangan dari rumput sambil menunggu kedatangan umminya di pasar yang telah berjanji membawakan oleh-oleh berupa kue moho kesukaan Zaki. Sementara abinya, Ustadz Joko, sedang pergi ke luar desa mengikuti pengajian di kampung tetangga. Sedangkan Mbah Marto sudah pergi ke ladangnya.

Orang-orang Gunung Limo adalah masyarakat yang mayoritas bermata-pencarian sebagai penggarap ladang pertanian tempat mereka bekerja sampai larut malam. Mereka memang betah berlama-lama di ladangnya. Apalagi mendekati panen, dini hari baru pulang adalah pemandangan lumrah. Tidak mengejutkan karena banyak kera yang suka mencuri tanaman mereka. Kera-kera itu sungguh mengganggu dan meresahkan warga.

Tampaknya, wayang-wayangan yang dibuat Zaki hampir selesai. Wajahnya memancarkan sinar keceriaan dan...

“Ki, lagi ngapain?”

Konsentrasi Zaki buyar seketika. Ia segera memalingkan wajah ke arah orang yang memanggilnya. Ternyata di sana ada Tobil dan Bencok, anak kembar yang terkenal kenakalannya. Semua orang di Gunung Limo tahu siapa mereka, termasuk Zaki. Hanya, Zaki tidak tahu siapa nama asli mereka. Juga, Zaki tidak bisa membedakan keduanya. Ia hanya memanggil: Kang, sebuah panggilan kependekan dari kakang, yang artinya abang atau mas.

Panggilan itu tepat karena memang usia kedua anak itu kira-kira 3 tahun lebih tua daripada usia Zaki. Dan Zaki, anak lugu itu, baru berusia 9 tahun.

Tanpa basa-basi Tobil dan Bencok lantas melompati pagar bambu pembatas rumah Ustadz Joko. Tampaknya mereka tahu kalau tak ada orang lain di rumah itu selain Zaki.

Entah apa yang mereka perbincangkan, Zaki terlihat selalu menggeleng-gelengkan kepalanya. Kedua bocah kembar itu seperti tengah membujuk Zaki, pergi bermain ke sebuah tempat.

Dan benar. Setelah terjadi percakapan panjang, tangan Zaki akhirnya digandeng keduanya.

“Tapi aku takut, Kang, soalnya aku disuruh menjaga rumah.”

“Jadi laki-laki jangan penakut. Ayo!” Tobil menimpali seraya menarik tangan Zaki.

Layaknya petualang, mereka berjalan menyusuri areal pegunungan yang masih perawan; pohon-pohon masih lebat, belum banyak yang ditebangi, sungai-sungai masih jernih airnya sehingga kelihatanlah ikan-ikan gabus merenanginya. Jalan itu kadang-kadang mendaki tajam dan menurun curam.

Namun, nuansa itu justru membuat Zaki terbuai. Laksana burung lepas dari sangkarnya, ia melompat kegirangan. Berteriak-teriak memecah kebisuan sambil sesekali memetik dedaunan liar yang tumbuh di sekitarnya.

Tanpa terasa matahari mulai condong sedikit di langit barat dan mereka kini sedang memanggang hasil buruannya, burung-burung kecil yang telah berhasil mereka lumpuhkan.

“Bil, cari kelapa muda sana, biar sgeer!” perintah Bencok kepada Tobil.

“Beres. Yuk, ikut aku, Ki!” Seperti kerbau dicocok hidungnya, Zaki melenggang membuntuti langkah Tobil hingga sampailah mereka di sebuah ladang sepi. Entah milik siapa dan entah di mana pemiliknya. Tobil tampak waspada sebelum memastikan keadaan aman.

“Cepat naik! Bawa pisau ini!”

“Apa? Aku? Aku tak bisa memanjat pohon!”

“Coba dulu!”

Sedikit gemetar, Zaki memberanikan diri memanjat pohon tinggi itu. Ia ragu-ragu. Sesekali ia menoleh daerah sekitarnya, semua jurang terjal. Melelehlah keringat dingin dari wajahnya. Kakinya terasa berat.

“Kang, ini ketinggian, lagian pinggir jurang pula...”

“Bawel kamu!” bentak Tobil. Zaki merasa takut dan tertekan melihat bola mata Tobil yang membulat. Akhirnya dengan hati-hati ia merangkul pohon kelapa itu. Erat. Setahap demi setahap dan, “Wah, ternyata nggak susah manjat pohon, Kang!” seru Zaki.

“Hati-hati, Ki, jangan sembrono!” Kini giliran Tobil jadi ketakutan sendiri melihat cara memanjat Zaki yang seperti monyet itu. Sungguh tidak terduga, ternyata Zaki, anak yang lugu itu, memiliki keahlian memanjat luar biasa. Ada bakat tersembunyi, mungkin diturunkan dari kakeknya, Mbah Marto. Sungguh di kampung ia terkenal sebagai pemanjat ulung.

Belum sempat tangan Zaki menggapai puncak pohon, tiba-tiba Zaki tersentak kaget.

Demikian halnya dengan Tobil.

“Haah?!” Bagai orang kesurupan, Tobil lari tunggang langgang. Ketakutan melihat sosok hitam yang tiba-tiba muncul.

***

Sore yang tegang. Seluruh penduduk dibuat gempar atas berita hilangnya Zaki, putra semata wayang keluarga Ustaz Joko.

Sejatinya, penduduk tidak begitu menyukai Ustadz Joko yang mereka anggap sebagai “pengganggu tradisi” oleh karena sikapnya yang tidak pernah kompromi dengan nilai-nilai keyakinan mereka. Ustadz Joko cenderung mengelak dan menolak bentuk-bentuk penyimpangan yang telah mendarah daging, yakni kesyirikan, begitu sebagaimana yang sering ia serukan.

Sebesar apapun rasa benci mereka, tapi kali ini mereka sedang turut berbelasungkawa dan berkeinginan membantunya. Terbukti saat ini mereka sedang terlibat dalam sebuah rapat di rumah Ustadz Joko, membahas solusi untuk masalah yang sedang dihadapi.

Hingga petang menjelma, Zaki masih belum diketahui rimbanya. Ketegangan mulai memuncak. Isak tangis keluarga Uztadz Joko semakin menambah kepiluan suasana. Begitupun seluruh warga.

Pak Mitro, kepala dusun sekaligus orang pintar di dusun Gunung Limo, dengan langkah bersahaja menghampiri Ustadz Joko.

“Maaf, Nakmas, sebagai kepala dusun saya merasa bertanggung jawab terhadap semua warga saya. Saya telah melihat dengan mata batin saya sendiri bahwa putra Nakmas dicuri Mbok Wewe Gombel. Sekarang terserah Nakmas, kalau ingin putra Nakmas kembali, Nakmas harus mau mengikuti dan menjalankan ritual yang saya sarankan. Tetapi kalau tidak mau, saya angkat tangan dan putra Nakmas sampai kapan pun tidak pernah ketemu! Nakmas harus percaya bahwa Wewe Gombel itu ada...”

Kalimat itu benar-benar menohok Ustadz Joko, membuat hatinya semakin sarat beban yang bertambah-tambah. Mulutnya terkatup, rona kecemasan menggurat nyata.

“Wewe Gombel itu ada, Nakmas!” Kembali sang kepala dusun menegaskan pernyataannya, membuat Ustadz Joko kian sulit membahasakan isi hatinya. Masalahnya bukan ada atau tidak adanya sosok Wewe itu. Yang jadi dilema terletak pada laku ritual, hal yang selama ini ditentangnya dengan keras. Terlampau sulit menjaga keimanan di saat begini. Satu sisi ia begitu mencintai Zaki, dan sisi lainnya ia harus mengorbankan akidah.

Haruskah ia melanggar garis yang dapat mengeluarkannya dari agama yang selama ini dianutnya? “Tidak! Tidak! Semua itu tak boleh terjadi!” berontak hatinya.

Lalu serta merta terdengar pekikan dari segenap warga agar bersegera melakukan ritual. Wajah mereka sangar di bawah nyala obor yang mereka bawa. Obor yang melepaskan gigitan dingin malam serta sebagai penerang atas jalan yang mereka lalui.

Berkali-kali Ustadz Joko berkata tidak terhadap usul nyeleneh warga. Namun warga terus mendesak. Mertuanya juga ikut-ikutan merestui usul itu. Adu mulut yang atos itu membuat lidah Ustadz Joko bertambah kelu. Siapa nyana, tiba-tiba istrinya memohon, “Sudahlah, Bi, turuti saja, demi anak kita. Apa Abi tidak kasihan sama Zaki?” Dengan linangan air mata, sang istri mengharap pinta dapat balas.

“Betul, Nakmas, sebelum terlambat!”

***

Kemukus asap dupa membumbung tinggi. Bersatu dengan awan kelam, jauh di atas sana. Wanginya menyebar, menjamah segala apa hingga menerobos semak belukar. Dupa itu dibakar di atas tungku khusus yang dipegang Ustadz Joko. Sementara, di belakangnya rombongan warga menyertai dengan membawa alat-alat dapur, seperti tampah, baki yang terbuat dari anyam-anyaman bambu, biasanya berbentuk bulat. Ada yang membawa panci, sendok, dll. Seluruh alat dapur dikeluarkan sebagai ubo rampe dan syarat dilakukannya ritual.“Ting..bug..bug..ting..!”

Alat dapur ditabuh, menimbulkan nada apik layaknya alat musik. Tujuannya supaya Mbok Wewe terbius dengan alunan itu dan kemudian melepaskan anak yang dicurinya.

“Duh, si Emak...duh, siro Emak, si Zaki ono ngendi...?” Mantra itu diucapkan berkali-kali dinyanyikan. Diiringi irama musik dapur.

Berdiri paling depan, lemah gemulai kepala dusun dan Mbah Marto menari-nari khusyuk. Mereka berjalan mengitari kampung, menyinggahi daerah-daerah wingit sembari menaruh aneka sesaji di tempat itu.

Hingga subuh pun hampir dekat. Tak ada tanda-tanda Mbok Wewe mau keluar. Sudah jauhkah Mbok Wewe? Atau mungkinkah si Mbok sudah bosan dengan musik dapur? Zaman modern, semua serba modern. Barangkali si Mbok menginginkan alunan dangdut atau campursari, mengikuti arus modernisasi.

“Duh, si Emak...duh siro Emak, si Zaki ono ngendi?”

Belum tuntas mereka melaksanakan ritual itu, tiba-tiba seorang perempuan paro baya tergopoh-gopoh berusaha menerobos barisan warga dalam ritual itu. Ia menghampiri sang Ustadz.

“Maaf, Nakmas, saya baru ingat, kemarin saya sempat lihat Zaki jalan bareng Tobil dan Bencok di kampung tetangga sana. Apa Nakmas sudah menanyakan kepada keduanya?” terang perempuan tua itu sembari menuding ke sebuah arah.

“Apa? Benarkah begitu, Budhe?”

Perempuan yang dipanggil budhe itu mengangguk mantap. Ustadz Joko lalu menoleh ke belakang, mencari-cari seseorang. “Lek Gimo, di mana anakmu? Aku harus ketemu!”

***

Tobil dan Bencok tampak ketakutan dikejar-kejar pertanyaan Ustadz Joko. Pada mulanya mereka mengelak, tapi karena bapaknya pun justru ikut-ikutan memarahi, bahkan dengan pukulan pula, akhirnya diakuinya bahwa Zaki memang telah mereka ajak keluyuran jauh, berburu di hutan.

“Sekarang Zaki di mana?”

“Masih di atas pohon. Tadi, ketika dia manjat pohon, tiba-tiba yang punya ladang datang. Zaki gugup terus cepat-cepat naik dan bersembunyi di atas pohon. Sedangkan saya buru-buru lari, takut ketahuan.” Tanpa merasa bersalah Bencok menjelaskan.

Bagai disengat petir, tak pernah Ustadz Joko mengalami perasaan setakut ini. Ia lantas hengkang secepat anjing terkena sabetan rotan, menuju ladang yang dimaksud. Ia menangis keras-keras. Kekhawatiran bercampur penyesalan mendalam.

“Ya Allah...!”

Maka setelah lama menempuh perjalanan, sampailah ia ke tempat tersebut. Di sana pemilik ladang tengah memandangi tanaman miliknya. Gemeretak suara langkah kaki menginjak dedaunan dan ranting kering terdengar jelas olehnya. Belum sempat sapa dipersembahkan, orang yang datang tersebut terus berteriak-teriak, “Zaki...Zaki..Zaki!”

“Pak, maaf, saya sedang mencari anak saya. Pohon kelapa, Pak. Pohon kelapa!”

Pemilik ladang itu maki tidak paham maksud lelaki yang ternyata Ustadz Joko itu. Ia jadi bengong melihat tingkah polah orang di hadapannya. Pemilik ladang mengira, orang ini pasti gila. Namun ia tetap tenang. Pakaiannya yang serba hitam kian membuat sikap tenangnya penuh wibawa.

Ustadz Joko masih mencari-cari anaknya di antara pepohonan kelapa yang tumbuh.

“Nah, itu! Itu anak saya, Pak! Zaki..Zaki..!” Ustadz Joko tersenyum getir.

***

Seorang lelaki tua berdiri mematung, menatap tiga orang yang berjalan kian menjauh. Mereka membawa barang bawaan yang tidak sedikit. Di antara mereka adalah anak perempuannya, cucunya serta menantunya. Tubuh lelaki tua itu masih kelihatan perkasa. Tegap, karena ia memang seorang pemanjat ulung. Kendati demikian, keperkasaan tubuhnya tidak menutupi kepiluan hatinya. Tubuh itu bergetar. Tumpah ruah air matanya seperti menghadapi sebuah perpisahan untuk selamanya. Sungguh terkesan cengeng.

Bukan karena tidak diajak, tetapi tangisan itu ada makna lain karena sulit baginya membeberkan dengan lisan: ada rasa kasihan, sedih, malu, juga kagum akan kebulatan tekad anak menantunya yang hendak benar-benar memasuki wilayah tobat yang sesungguhnya lantaran kebodohan pada malam ritual itu, ritual pencarian bocah hilang.

Demikian halnya dengan menantunya yang barusan berpamitan itu, yaitu Ustadz Joko, perasaan sama berkecamuk dalam dada. Tobat dan hijrah telah diputuskan, demi menjaga akidahnya. Ya, ia mesti hijrah, sebab di tanah ini ia telah gagal mewarnai warga. Yang terjadi justru sebaliknya.“Aku memang tidak pantas dipanggil Ustadz! Aku ini lemah, aku malu pada-Mu, ya Rabbi.”

Langkah Ustadz Joko gontai. Terseok-seok, nyaris jatuh. Akan tetapi niatannya telah bulat. Perjalanan diteruskan. Lumayan jauh langkah mereka.

Mbah Marto hanya mampu memandangi mereka, sosok mereka lama-kelamaan terlihat mengecil, saking jauhnya jarak mereka. Ia masih terpaku diam, air matanya tambah deras, dadanya berdegup kencang, spontan tangannya terangkat dan lalu dilambaikannya tinggi-tinggi. Dan sekeras pekikan burung gagak, suaranya parau menggaung.

“Zaki! Simbah ikut!”

Gading Santren, Klaten

Yuk, Jadi ORANGTUA ASUH (OTA) Santri Penghafal Qur'an Askar Kauny! Donasi Rp 150.000,-/bulan. Dapat Majalah Ummi (free ongkir)

Transfer ke Bank Muamalat 335-000-9175 a.n. Yayasan Askar Kauny

Konfirmasi ke 0813 8054 4843 : OTA#Nama#AlamatLengkap#Telp#jumlahtransfer#TanggalTransfer#JamTransfer

Tags:
loading...