Will You Marry Me?

Fashion-Styles-for-Girls-Online

Penulis: Wafiyyatunnisa Asy Syu’lah


"Sudahlah, biarkan ikan itu pergi dengan tenang. Semoga Yang di Atas menerima segala amal ibadahnya."
  Nanang menepuk pelan pundak Damang, berlagak simpati. Sudah beberapa hari ini ia perhatikan sahabatnya itu memiliki hobi baru.  Entah hobi atau nasib, yang jelas menurut Nanang sama sekali tidak ada manfaatnya.  Sohib dekatnya itu selalu tertangkap basah saat sedang makan timun, eh, melamun.

"Aamiin. Eh, busyet dah.  Aku aja yang dari tadi di sini baru nyadar kalo' ada ikan mati!"  Celetuk Damang sembari melirik seekor ikan mengambang pasrah dalam kolam tepat di hadapannya.

"Emang beneran ada yang mati?  Padahal tadi itu aku cuman godain kamu aja kali.  Lagian kamu akhir-akhir ini hobi melamun.  Tar kesambet lho!"

Damang diam, membiarkan Nanang ikut duduk menemaninya di sisi kolam.  Cuaca tidak jelas -maksudnya nggak mendung, nggak juga panas- kian membuat suasana jadi tak menentu bagi Damang.  Taman Ganesha di waktu sore masih lumayan ramai oleh beberapa mahasiswa ITB.  Ada yang belajar kelompok, ada yang asyik berduaan sambil makan siomay, ada juga yang tertawa sendirian, ditemani note atau android kesayangan.

“Mang?”  Nanang berjuang memecah kesunyian yang tercipta.  Namum Damang bungkam, kian menampakkan kegalauan.

“Mang?”  Suara Nanang dua tingkat lebih tinggi.  Masih tanpa respon.

“Mang!”  Kini suaranya benar-benar meninggi, hingga terdengar sampai beberapa radius ke depan dan belakang.

“Eh, iya cep?  Mau beli siomay?”

Atanapi bade lumpia basah??”

“Cuanki, Cep?  Dingin-dingin gini enak makan cuanki anget.”

Nanang dan Damang terbengong-bengong.  Mendadak aneka jajanan plus penjualnya telah tersaji lengkap di hadapan dua jejaka tampan itu.

“Eh, nggak, Mang.  Makasih.”

“Lho, bukannya tadi teriak manggil-manggil Mang?”

“Ehm ini, tadi teman saya lagi tes pendengaran.  Barusan dari dokter THT.”  Jawab Nanang asal.

“Oh.”  Tiga penjual itu serempak ber-oh ria.

“Abis dari dokter biasanya laper, Cep.  Mending makan siomay.”  Pedagang siomay tetap teguh pada penawarannya.

“Tadi sebelum ke dokter makan dulu tiga piring.  Masih kenyang.”  Nanang pun masih berjuang mempertahankan uang jatah makan malam.

“Saya kasih diskon 10% deh.”  Rayu mang siomay.

Halah, dagang siomay pake’ diskon segala.  Kaya’ mall lagi cuci gudang aja.”

Muhun, Cep.  Atau saya kasih buy  two get one free, bade?”

“Punten pisan, Mang.  Kebetulan ada kuliah.”  Nanang bangkit sambil menarik tangan Damang.  Tergesa mereka berjalan menuju masjid Salman yang tak jauh dari lokasi taman Ganesha.

“Kok ke masjid, sih?  Tadi bilang ke si mang siomay mau kuliah.”  Akhirnya Damang buka suara.

“Duh, Mang.  Kita kan udah lulus setahun yang lalu.”  Nanang kian kesal.

“Terus, kenapa bilang mau kuliah?”  Damang masih memasang tampang o-on.

“Abis si mang siomay maksa-maksa buat beli.”

“Terus?”

“A-ku nggak pu-nya pulsa! Eh u-ang!”  Seru Nanang menirukan gaya salah satu iklan di televisi.

"Terus?  Kunaon tadi teriak manggil mang siomay?”  Dari tampangnya, Damang memang sungguh kebingungan.

“Woi!!  Aku tadi teriak, “MANG” itu manggil nama kamu!”  Nanang mengucek rambutnya yang keribo.  Kesal bukan kepalang.

“OH...  Ha ha ha!  Jadi tadi itu? Ha ha.  Tadi itu kamu manggil aku?? Ha ha ha.”  Seakan sinyal yang baru sampai, Damang terpingkal begitu menyadari kenyataan pahit yang mau tak mau harus dihadapi oleh sahabatnya barusan.

Tampang Nanang mendadak adem, begitu melihat Damang akhirnya bisa tertawa.  Kejadian langka setelah hampir satu minggu Damang hanya diam dan mengerutkan kening.  Ia yang tadinya bersiap menumpahkan kekesalan langsung menyunggingkan senyum.

“Aduh, aya-aya wae.  Lagian kamu juga sih.  Aku kan bilang jangan panggil aku ‘Mang’.  Jadi bingung kan, bedain mana ‘mang’ yang dagang, mana ‘mang’ yang tampan.”

“Alhamdulillah.”  Lirih Nanang berucap.

“Maksudnya?”  Damang bingung.

“Kamu udah sembuh.  Dari kemaren-kemaren bengong wae.  Kaya’ orang galau.”

Wajah sumringah Damang berubah mendung.  Perkataan Nanang barusan mengusik ingatannya pada masalah yang kini tengah ia hadapai.  Perubahan mimik Damang otomatis mengundang sesal di dada Nanang.  Ia sadar sesadar-sadarnya, telah salah berucap barusan.

“Sebenernya ada masalah apa sih, Mang? Eh Dam? Eh, Damang?  Ah ribet.  Panggil Mang aja deh.”

Damang sunyi.  Hanya tangannya tampak menggosok-gosokkan kemeja lusuh yang memang tak sempat disetrika karena tadi terburu-buru.  Nanang memperhatikan, kemudian ikut menggosokkan tangannya ke kemeja Damang.

“Jadi dari kemaren kamu galau cuman karena setrikaan di kost-an rusak?”

Spontan Damang menghentikan gerak tangannya.  Kini aksinya beralih menjadi garukan kecil pada tangannya yang baru saja menjadi santapan nyamuk di taman.  Nanang kembali memperhatikan.

“Atau punya masalah dengan kesehatan kulit?”  Wajah Nanang kian prihatin.

“Nang?”

“Iya?”

“Aku....”

“Kamu?”

"Ehm, aku mau tanya.  Emangnya tadi yang habis dari dokter THT siapa gitu?”

“Hhhh!”  Nanang menghembuskan nafas sekuat-kuatnya.  Kesal.

***

Jika ada yang mengatakan bahwa galau ternyata adalah masalah serius yang juga berdampak pada kesehatan fisik, pikiran, dan konsentrasi, maka Nanang adalah orang pertama.  Ia sudah membuktikan sendiri, bagaimana serangan galau mengganggu cara kerja otak Damang.  Damang kian hari semakin tidak nyambung jika diajak berbincang.  Kekhawatiran ini akhirnya membuat Nanang mau tak mau harus memaksa Damang berkata jujur.  Jangan sampai lagi ada dusta, jika tak ingin ia ketularan galau gara-gara frustasi.

“Jadi gitu, Nang, ceritanya.”  Damang akhirnya bersedia mengeluarkan unek-unek.

“Astaga, Mang!  Emang baru pertama kali jatuh cinta?  Sampe’ segitu galaunya.”

“Bukan jatuh cintanya yang bikin resah.  Tapi perkataan ustadz Hilman.”

“Kamu curhat ke beliau?  Gimana pendapatnya?”

“No pacaran!  Nikah yes!”

Nanang menyandarkan beban tubuhnya pada dinding koridor gedung perkuliahan.  Seperti biasa, kampus saat sore menjelang maghrib masih dipenuhi mahasiswa yang berseliweran.  Ditatapnya lekat-lekat wajah sang sahabat.  Meski bukan aktifis DKM, Nanang sedikitnya memahami bahwa memang pacaran selalu menjadi masalah pelik.  Tak jarang ia melihat masih ada anak-anak rohis yang pacaran.  Tapi ia memahami, sesungguhnya memang di dalam alquran tak ada istilah pacaran.  Tak percaya?  Coba saja buktikan sendiri.

"Ya udah, Mang, nikah aja.”  Ucapan spontan Nanang barusan mengundang keterkejutan.  Bukan hanya pada Damang, tapi juga bagi Nanang sendiri.  Kok tiba-tiba bisa ngomong kaya’ gitu?

“Sebelum kamu protes, aku kasih gambaran dulu deh.  Sekarang kita kan udah lulus.  Malah kamu sekarang lagi aktif jualan buku, bisnis coklat, sama jadi agen pulsa.  Lumayan lah buat penghasilan di awal kehidupan rumah tangga.  So what?”  Nanang membungkam mulut Damang yang mengaga, bersiap hendak melancarkan protes.

“Itu yang bikin aku galau akhir-akhir ini.  Makan nggak enak, tidur nggak nyenyak.  Suer deh, baru kali ini aku terserang virus galau.”

“Galau kunaon atuh?”

“Cara bilangnya gimana?  Dulu sih waktu SMP pernah nembak cewek.  Tapi ini beda.  Ngajak nikah, Nang.  Nikah.  Aku pengen nikah!”  Suara Damang terdengar dramatis, mirip adegan drama Korea.  Beberapa mahasiswa yang sedang berdiskusi tak jauh dari lokasi mereka duduk tampak tercengang.  Pandangan mahasiswa itu berubah, antara sinis, kasihan, jijik.  Bagaimana tidak?  Secara penampakan, jelas Damang dan Nanang keduanya sama-sama lelaki tulen.

“Ssst, ah.  Pelan dikit atuh.  Nggak enak didenger tetangga.”  Nanang yang lebih dulu menyadari reaksi mahasiswa di sekitar mereka, berusaha menetralisir keadaan.

"Ups, punten atuh.  Aku terbawa suasana.  Jadi gimana, punya cara jitu nggak?”  Damang mulai setengah berbisik.  Tanpa ia sadari, justru tindakan itu semakin mengundang curiga.  Di mata mahasiswa-mahasiswa yang tengah memperhatikan, kini perbincangan mereka justru kian tampak mestra.

“Kita lanjut di kost-an.  Hayuk pecahkan masalah ini bersama.  Setuju?”

“Setuju!”  Damang dan Nanang berjabatan tangan, kemudian saling berangkulan.  Sungguh, itu hanyalah ekspresi semangat atas perjuangan bersama.  Rasa senasib sepenanggungan dua insan yang telah lama mengikatkan diri dalam tali persahabatan.  Tapi siapa yang bisa mencegah jika akhirnya tanpa disadari, berpasang mata kini menatap mereka kian risih, bingung, juga iba.

***

“Will you marry me?”  Sesuai saran Nanang, Damang kini memberanikan diri untuk berbicara langsung pada Nafisah, wanita imut yang belakangan membuat hidupnya jadi tak wajar.  Ketar-ketir ditatapnya reaksi wanita berkerudung pink itu.

Mata Nafisah mengerjap cepat hingga beberapa kali, lalu berusaha menyunggingkan senyum yang hanya ia sendiri yang tahu maknanya.  Sunyi.  Nafisah mengerti bukan senyum yang Damang butuhkan.

“Naf?”

“Ya?”

“Ehm, ok.  Kamu nggak harus jawab sekarang.”  Damang berusaha mencairkan kebekuan.

“Oh, apa, eh, iya.”

Nafisah, pegawai Kedai Ijo di kawasan Pujasera yang terletak di belakang sebuah bank swasta.  Damang pertama mengenalnya saat tak sengaja menumpahkan jus, hingga membuat Nafisah kerepotan.  Damang dan Nanang memang terhitung sering makan di kedai yang bernuansa putih merah itu.  Entah mengapa juga dinamakan Kedai Ijo.     

“Perpaduan antara semangat kemerdekaan, juga cinta pada alam,” jawab pemilik kedai seenaknya, saat Damang iseng bertanya.  Ah, daripada dikira Mr. Kepo, mending terima saja jawabannya.

Begitulah, beberapa kali pertemuan akhirnya memunculkan rasa yang tak biasa.  Sempat terpikir oleh Damang untuk mengajak gadis manis tamatan SMP itu pacaran.  Tapi perkataan ustadz Hilman telah memaksanya untuk berpikir selangkah lebih maju.  Menikah.  Dan hari ini, di tempat ini, bagai baru saja memecahkan bisul, ia berhasil menumpahkan segala kegalauan. Asik asik joss!

“Kita pulang, yuk!”  Setelah sekian menit beku, Nafisah mengajukan ajakan untuk kembali ke tempat kediaman masing-masing.

“Eh, ok.”  Damang mengiyakan, meski masih sedikit ragu.

***

Jika ada pernyataan yang menyebutkan galau adalah penyakit kambuhan, maka Nananglah pencetusnya.  Entah atas dosa apa, hingga ia harus berhadapan dengan kegalauan yang berulang dari sahabat dekatnya.  Jika terus dibiarkan, bukan tak mungkin galau dapat juga menjadi penyakit menular.  Dan kini, rasa-rasanya Nanang mulai sedikit galau.

“Mang... penyakitnya kok kumat lagi, sih?”

“Siapa yang sakit?  Di mana?”  Damang menegakkan badannya.

“Udah deh.  Sekarang aku tanya.  Masalah Nafisah?”

Tubuh Damang kembali lunglai, mengkerut, ibarat kerupuk ketumpahan air.  Diaduk-aduknya segelas jus jeruk yang hanya menyisakan separuh bagian.

“Kamu ditolak mentah-mentah?”  Tuduh Nanang tanpa dosa.  Diacak-acaknya sendiri rambut kribo yang lima hari belum sempat dikeramas.  Salah-satu penyakit unik Nanang adalah alergi shampo saat kepalanya mumet karena banyak pikiran.  Dan kali ini, yang menjadi sebab penuhnya pikiran Nanang ya itu tadi, kegalauan Damang yang belum juga menemukan ujung.

“Aku ditolak?  Kenapa, Nang?”  Mendadak Damang sesenggukan.  Tangannya sibuk meraba sesuatu.  Dapat.  Lap meja yang sedang mengganggur spontan ia gunakan untuk mengeringkan air mata.

“Astaga.  Yang tadi itu pertanyaan, bukan pernyataan.”  Nanang menenangkan Damang yang kalap.  Tangannya menggambarkan bentuk tanda tanya besar-besar.

“Ya ampun, aku jadi sensitif kaya’ cewek gini.”  Sontak dilemparnya lap kucel yang telah kurang ajar sempat mampir di wajah mulusnya.

Prihatin Nanang menatap Damang.  Sahabatnya itu semakin kurus tak terurus.

“Jadi?  Apa tanggapan Nafisah?”

Damang kembali sesenggukan.  Mata redupnya seakan menyiratkan kesedihan teramat dalam.

“Beneran ditolak?”  Nanang menanti penasaran.

“Nggak.”

“Jadi, diterima?  Kamu pasti nangis karena terharu, kan?”  Nanang semakin tidak sabar.

“Nggak juga.”

“Lho?”

“Dia belum kasih jawaban.  Dua bulan berlalu, dan aku menanti dalam ketidakpastian. setiap ketemu dia seakan lupa.  Apa jangan-jangan?”  Damang kian mendramatisir, membuat Nanang menjadi demikian iba.  Pantas saja tubuh sahabatnya kini nyaris menyerupai tiang.  Lurus.

Tak ingin membiarkan ketombe di kepalanya semakin merajalela, Nanang akhirnya sepakat untuk menyelesaikan masalah Damang.  Sore ini, suka tidak suka, rela tak rela, ia harus menemui Nafisah.  Sungguh pendiaman yang tak bisa dibiarkan berlarut-larut.  Bagaimana bisa wanita imut itu menjadi demikian cuek, sedang sahabatnya nyaris tak dapat tidur hampir sepanjang malam?  Geram Nanang.

***

“Kang Damangnya nggak ikutan?”  Nafisah membuka percakapan.  Hari ini Nanang datang sendirian, dan tiba-tiba meminta Nafisah untuk duduk menemaninya santap sore.

“Kenapa?  Kamu kangen?”  Goda Nanang, memancing reaksi Nafisah.

“Bukan.  Kang Nanang sama Kang Damang itu kan mirip-mirip sepatu gitu lho.”

“Hah?!  Mirip dari segi apanya?”

“He he.  Sepasang, ke mana-mana pasti berdua.  Makanya aneh kalo sekarang datang sendirian.  Ada yang kurang.”

“Oh.”  Nanang menghembuskan nafas lega.  “Kirain wajah kita berdua sedemikian buruknya, disamain sama sepatu.”

Sunyi lagi.  Beku lagi.  Sekian menit Nanang hanya menatap wanita di hadapannya.  Benar juga, gadis ini memang manis, semanis gula.  Nanang mesem-mesem sendiri, sementara Nafisah menjadi salah tingkah.

“Kang?”

“Eh, astaghfirullah.”  Cepat Nanang tersadar akan misi mulianya.  Tujuannya kemari hanyalah untuk menyelamatkan seorang anak manusia yang sedang menderita galau akut. Tak seharusnya ia menikmati wajah manis Nafisah, pujaan hati sahabatnya.  Damang sedang menanti penuh harap, antara hidup dan mati.  Dan Nanang bertekad untuk memperjuangkan kehidupan bagi Damang.

“Kamu, punya hutang sama Damang.”  Kata itulah yang akhirnya berhasil Nanang muntahkan.  Tanpa basa-basi.  Nafisah bengong, berusaha mengingat-ingat.

“Hutang?  Eh, apa waktu makan bareng dulu itu ya?”  Tanya Nafisah ragu.

“Bu-bukan.  Maksudnya, kamu nggak kelupaan sesuatu?”  Makin kikuk.

“Lupa?  Apa ya?”  Nafisah semakin tak mengerti.

“Lupa anu.  Eh.  Itu.  Aduh, masa’ nggak ngerasa sih?”

“Aduh, saya bener-bener nggak ngerti, lho.”

“Oh, itu.  Kamu punya janji sama Damang.  Waktu itu dia bilang sesuatu, dan kamu janji mau kasih jawaban.  Gimana, sekarang inget?”

“Bilang apa ya?”

Nanang kesal sekaligus takjub.  Nih cewek pinter banget aktingnya, atau beneran mendadak amnesia?  Apa aku tinggalin aja ya?  Pikiran singkat Nanang menjelma.  Tapi bagaimana dengan Damang?  Ah, bayangan wajah pias dan lugu dari sahabatnya itu membuat hatinya pilu.

“Will you marry me?  Tah, eta.  Inget nggak Damang pernah bilang gitu?”

Nafisah diam, mengingat, menimbang, memperhatikan sekeliling, menunduk, mengingat lagi, lalu memutuskan.

“Aku, inget-inget lupa.  Inget waktu itu pernah ngomong pake bahasa Inggris, tapi lupa bilang apa.”

“Aduh, jadi kamu beneran lupa??”

“Heu euh.”  Nafisah menyeruput Capucinonya tanpa dosa.

“Ok.  Jadi, apa jawaban kamu?  Langsung aja deh.”  Kali ini Nanang mendesak, menuntut Nafisah untuk sesegera mungkin memberikan keputusan.

“Jawaban?”  Masih tanpa beban.

“Iya.  Ya ampun.  Gini deh, kita ulang adegannya.  Aku sebagai Damang dan bilang ke kamu, ‘will you marry me?’  So?”

“Hhm.”

“Ayo dong Nafisah, berikan jawaban.  Ini untuk hidup mati Damang.”

“Apa?  Aku harus jawab apa?”

“Jawab aja sesuai hati nurani, karena ini landasannya JURDIL.”

“Makin bingung.” Nafisah mengucek-ngucek ujung kerudungnya yang tak berdosa.  Apa hubungannya sama pemilu?

“Kamu masih butuh waktu?”

“Bukan.”

“Terusss?”  Nanang berusaha menahan emosi.

“Itu, anu,  aku mau tanya.  Tadi apa itu, hhm, pertanyaannya apa ya?”

“Astaghfirullah.  Naf, ini pengulangan terakhir.  Kamu simak baik-baik, pasang telinga kanan telinga kiri.  Siap?”

“I-iya.  Siap.”  Kali ini Nafisah yang tampak gugup.

“Will you marry me?”

“Ehhm”

“Ayo, Naf.  Jawab dong, demi Damang.”

“Ehhm.  Punten, mau tanya.  Itu artinya apa ya?”  Gubrakkk! Wajah Nafisah menunduk kian dalam.  Bukan salahnya jika bahasa Inggris terasa begitu asing bagi gadis polos tamatan SMP seperti dirinya.  Sementara Nanang menghempaskan tubuh kuat-kuat pada sandaran kursi, prihatin.

Nafisah, oh, Nafisah...

Selesai. 

 

Yuk, Jadi ORANGTUA ASUH (OTA) Santri Penghafal Qur'an Askar Kauny! Donasi Rp 150.000,-/bulan. Dapat Majalah Ummi (free ongkir)

Transfer ke Bank Muamalat 335-000-9175 a.n. Yayasan Askar Kauny

Konfirmasi ke 0813 8054 4843 : OTA#Nama#AlamatLengkap#Telp#jumlahtransfer#TanggalTransfer#JamTransfer

Tags:
loading...